Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Gaun Mahal


“Jadi, kau serius ingin berhenti kerja Alana?” tanya Risa ketika melihat rekan kerjanya itu membereskan barang-barang miliknya ke dalam kardus.


“Iya. Aku dipecat.”


Risa melongo. “Kau itu istrinya Tuan Direktur. Memang lebih pantas kalau kau diam saja di rumah ongkang-ongkang kaki. Tidak usah bekerja, karena uang suamimu bahkan sudah tumpah melimpah.”


Alana berdecak menatap ke arah rekan kerjanya, yang sejak tadi berisik menanyakan perihal yang sama. Seandainya, ia tahu apa yang melatarbelakangi pernikahan itu. Risa pasti akan jauh lebih terkejut. Dalam hitungan bulan ke depan, pernikahan itu akan berakhir.


“Aku bahkan belum minta traktiran mu,” cicitnya sedih. Kemudian teman-teman yang lainnya pun mengangguk.


Alana menghela nafasnya, ketika barang miliknya sudah masuk ke dalam kardus kecil itu. “Aku pasti akan datang kemari. Menemui kalian, untuk makan bersama. Sekarang aku harus pulang dulu.”


“Kami menunggumu," seru Risa yang diangguki oleh teman-temannya.


🦋🦋


Ketika Alana baru selesai membersihkan diri. Terdengar suara ketukan pintu, ia mengurungkan niatnya untuk mengambil pakaian ganti, dan melangkah ke arah pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka, sedikit terkejut mendapati Dave yang berdiri di depannya, dengan membawa paper bag.


“Dave,” sapanya lirih.


Namun, Dave hanya bergeming saat tatapannya justru terpatri akan penampilan Alana, yang saat itu hanya menggunakan bathrob, salah satu tangannya juga memegang handuk putih, yang Dave duga untuk mengeringkan rambutnya. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat tetesan air yang berasal rambut Alana yang basah. Tak sadar ia menelan ludahnya kala aroma sabun dan shampo menguar dan begitu menggairahkan.


“Dave.” Alana kembali menegurnya, kali ini dengan melambaikan tangannya tepat di depan wajahnya, hingga membuat lelaki itu tersentak dalam lamunannya.


“Oh iya.. Maaf,” kata Dave salah tingkah.


“Kau melamun Dave?”


Dave tersenyum tipis, dan tanpa sadar hal itu juga membuat Alana terkesima.


“Apa ini?” tanya Alana begitu menerima paper bag itu.


“Gaun, untuk nanti malam. Jangan lupa dipakai ya.”


“Tapi Dave. Untuk apa? Gaun yang waktu beli bersama Salma aja masih banyak,” ujar Alana.


“Emm... Ya untuk koleksi kamu saja. Tolong nanti itu di pakai,” sahut Dave berlalu dari kamarnya.


Sepeninggal Dave. Alana kembali menutup pintunya kamarnya. Membawa paper bag itu ke ranjang, ia juga membuka isi dalamnya. Sebuah gaun berwarna kuning madu, tampak begitu indah. Alana mengusap permukaan gaun itu, memandangnya dengan takjub. Namun, fokusnya terhenti pada bandrol harga di sana. Mulutnya seketika menganga, ketika membaca nominal harga gaun itu.


“Mahal sekali!” pekiknya menelan ludahnya susah. “Satu gaun bisa dapat mobil. Sayang sekali uang segitu banyaknya hanya untuk satu gaun,” sambungnya kemudian.


Ia kembali membuka paper bag itu, tak di sangka di dalamnya juga masih ada lagi. Seperti sebuah kotak perhiasan. Pelan ia membukanya, mulutnya terbuka ketika melihat satu set perhiasan yang sangat indah berkilau di sana. Sangat cantik bila dipadukan dengan gaun itu. Sesaat Alana merasa begitu beruntung bisa mendapatkan kemewahan itu semua.


Segera ia berlalu, mempersiapkan diri untuk menemani Dave makan malam dengan rekan kerjanya. Sudah saatnya Alana harus mencoba menikmati segala apa yang Dave berikan, menjadi seorang istri kontrak lelaki itu, ternyata bukan sesuatu yang buruk.


.


.


.


.


.


Udah tiga bab ya seperti biasanya.


Oh ya, kalian udah tekan tombol likenya Belo ? Kalau belum balik lagi gih. hehee


Oh ya jangan lupa, beri bintang lima ya kalau kalian suka cerita Dave dan Alana ini. Terima kasih.^^