
Hari terus berlalu, tanpa terasa dua bulan telah berlalu. Ini merupakan bulan ke sebelas. Artinya hanya tinggal satu bulan lagi Alana menjadi istri bayaran bagi Dave, setelah itu kontrak pernikahan itu akan usai. Tidak akan ada lagi ikatan di antara keduanya. Mereka akan kembali menjadi perannya masing-masing, yaitu kembali menjadi orang asing, dalam status yang berbeda.
Seperti perkataan Dave waktu itu saat Alana, di mana Dave membawakan burger mekdi padanya. Lelaki itu mengatakan beberapa hari ke depan mungkin akan lebih sibuk. Ternyata semua itu benar, dua bulan ini Alana jarang bertemu dengan lelaki itu. Entah Dave yang terlalu sibuk, ataukah dirinya yang memang sedikit menghindar. Alana tak mengerti? Seandainya Dave di rumah pun, Jessica akan selalu datang. Hal itu membuat Alana merasa kehadirannya tak diperlukan lagi. Meskipun keduanya selalu mengatakan untuk bergabung saja. Namun, Alana merasa enggan, sebisa mungkin ia selalu mencari alasan untuk mengelak.
Jessica memang terlihat baik. Namun, hati siapa yang tahu. Contohnya beberapa kali perempuan itu pernah menemui dirinya lalu bertanya.
“Alana, nanti setelah perjanjian kalian selesai. Kamu akan pergi kan dari rumah ini?” tanyanya yang mampu membuat Alana terluka.
“Tentu saja Nona. Aku bukan orang yang ingkar janji,” jawab Alana mantap.
Memang untuk apalagi ia bertahan, jika memang sudah tidak ada kepastian. Kehadirannya di sana lantaran hanya sebatas perjanjian di atas kertas.
“Aku memegang janjimu,” seru Jessica sebelum berlalu meninggalkan dirinya.
Kehadiran Jesica mampu membuat jarak antara Dave dan Alana. Mereka seperti kembali menjadi orang asing yang berada dalam satu rumah. Sempat beberapa kali Alana merasakan sangat merindukan lelaki itu. Namun, beberapa kali juga ia kerap menjumpai Dave pulang bersama Jessica. Hal itu membuat rasa rindunya berganti menjadi luka dan kecewa, bahkan untuk mengobrol berdua saja hampir tidak pernah. Alana merutuki diri, mengapa dirinya harus sedih. Mengapa dirinya harus terluka.
Dua bulan ini Dave tak pernah mengajaknya bertemu rekan bisnisnya, seperti bulan-bulan sebelum kehadiran Jessica. Entah memang tidak ada undangan, atau memang kehadirannya yang tak diperlukan lagi. Kemungkinan besar mungkin ada, dan Dave membawa Jessica, itu juga Alana tidak tahu.
Sempat berfikir untuk bertanya ke hal yang lebih pribadi. Namun, beberapa kali juga ia mengurungkan niatnya. Untuk apa? Jika pun ia sudah tahu jawabannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan, selain bertahan sampai hari itu tiba.
Malam ini, hingga pukul satu dini hari Alana belum bisa memejamkan kedua matanya. Akhir ini memang dirinya sangat susah untuk tidur nyenyak. Hasilnya kadang jam tiga baru tidur, dan bangun kesiangan. Seperti seorang pengangguran saja, kegiatannya akhir-akhir ini. Paling ia hanya akan keluar ke rumah sakit menjenguk ibunya, berkunjung ke rumah Silvi, atau ke bengkel kecil Andi.
Ia melirik ke arah pintu kamar Dave, yang sedikit terbuka. Kemungkinan lelaki itu baru tiba di rumah.
Alana melanjutkan langkahnya untuk turun ke bawah, menuju dapur. Membuat kopi untuk dirinya.
“Kau sedang membuat apa, Alana?”
“Aduh!” Alana terlonjak begitu mendengar suara Dave di belakangnya, hingga air panas yang mau ia tuangkan di cangkirnya meleset ke tangan kirinya.
Mendengar Alana menjerit, Dave langsung menghampirinya. “Astaga. Maaf-maaf, kamu pasti terkejut,” pekik Dave. Spontan ia memegang tangan Alana, menggiringnya ke wastafel. Dengan kedua tangan yang berada di sisi kanan dan kiri perempuan itu, Dave membantu Alana mengguyur tangannya, dengan air yang mengalir di kran.
Alana merasa dadanya semakin tak karuan, jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Nafasnya memburu, karena merasa sangat gugup, karena Dave yang berdiri di belakangnya hingga seperti tengah memeluk dirinya dari belakang.
Bahkan ia bisa merasakan nafas panas yang menyapu lehernya, karena lelaki itu sedikit membungkuk hingga kepalanya tepat di atas bahunya. Hingga pipi keduanya nyaris bersentuhan. Aroma parfum Dave menguar, mampu membuat tubuh Alana terasa memanas.
Dave menarik sedikit kepalanya. Namun, fokusnya justru terpatri pada leher jenjang Alana yang terlihat putih bersih, dengan anak rambut yang bergelantungan di sana. Tak sadar ia menelan ludahnya secara susah.