
“Nona Alana, anda mau ke mana?” tegur Zain ketika mendapati istri atasannya itu keluar dari gedung acara hanya seorang diri.
”Aku... Zain, aku ada janji dengan Silvi,” dustanya tersenyum palsu.
“Apakah Tuan Dave tahu?” tanya Zain penuh selidik.
“Emm... Tentu saja. Tapi, Dave lagi sibuk di dalam. Kamu tahu kan beberapa rekan bisnisnya memintanya untuk berfoto dengannya. Kau tunggulah Dave di sini. Aku pergi dulu.” Alana langsung berlalu pergi tanpa menunggu Zain menjawab.
Alana menyusuri trotoar pejalan kaki seorang diri. Lalu lintas terlihat ramai, malam itu adalah malam Minggu. Banyaknya pasangan muda mudi yang berlalu lalang menghabis kencan bersama. Gemerlap lampu ibu kota nampak indah. Namun, tak mampu menyamarkan suasana hati Alana yang terasa pedih. Ia bahkan tidak sadar, sudah sejauh mana ia melangkah. Saat ini pikirannya hanya ingin menjauh dari gedung itu. Tanpa ia sadari, dirinya bahkan tak membawa apapun. Tas, uang dan ponselnya ia tinggalkan di mobil Dave. Lalu bagaimana ia bisa menghentikan taksi untuk ke rumah sahabatnya, sementara ia tak memiliki uang sepeserpun.
Alana menggeleng, ini malam hari Silvi pasti berangkat ke bar untuk bekerja. Jadi, jika ia pergi ke sana pun semua akan percuma. Mendatangi bar itu juga bukan pilihan yang baik. Malam Minggu pasti akan sangat ramai, dan Silvi hanya akan marah bila ia datang ke sana. Sahabatnya itu selalu melarang Alana datang ke tempat seperti itu.
“Aduhh!”
Karena berjalan tanpa memperhatikan jalan, high heels tersangkut di antara sela-sela jalan yang berlubang. Alana berjongkok berusaha mengambil high heelsnya. Namun, ia merasa kesusahan, seperti tidak ada tenaga. Pada akhirnya ia memilih melepaskannya sepasang high heelsnya saja. Alana kembali berjalan dengan kaki tanpa alas. Sejenak ia merasa seperti anak jalanan, kluntang-klantung tidak jelas.
“Ya Tuhan. Kenapa nasibku jelek sekali,” ucapnya pedih. Alana memandang ke atas langit, lalu kembali bersuara. “Ayah, apa kau ingat? Kau bilang kau sengaja memberiku nama Alana, karena artinya berharga. Kau ingin aku menjadi orang yang sangat berharga bagi-bagi orang di sekitarku, kan. Tapi, saat ini aku menjadi orang yang sangat buruk. Nasibku tak seberharga itu, Ayah.”
Tangis Alana meluruh, wajahnya terlihat sembab. Meski beberapa kali ia menghapusnya, air matanya tak kunjung reda. Hatinya terasa sakit, melebihi rasa sakitnya ketika ia melihat Edo tidur bersama Tisa. Mungkinkah karena Dave adalah suaminya? Sementara Edo hanyalah kekasihnya saat itu.
Sebuah mobil sport berwarna hijau berhenti tepat di sisinya. Seorang lelaki tampan dalam balutan jas rapi turun menghampirinya.
“Alana,” tegurnya.
Alana menoleh, melihat mantan kekasihnya yang datang ia berdecih. “Mau apa? Kau mau menertawakan ku kan. Tertawa saja aku tidak akan melarang. Kau pasti sangat puas melihat aku seperti ini.”
Edo menggeleng. “Untuk apa? Aku tidak seperti itu Alana.”
“Alana. Sudah ku katakan sebelumnya kan, akhiri sebelum perasaanmu pada kakakku semakin dalam. Dan sekarang lihatlah dia kembali dengan Jessica lalu membuangmu begitu saja,” kata Edo.
“Diam kau!” Alana menghentikan langkahnya menatap Edo dengan wajah tak suka. “Aku tidak membutuhkan saranmu,” sambungnya kembali melangkah.
“Alana aku berkata demikian bukan berarti aku senang kamu seperti ini. Percayalah aku juga tidak ingin seperti ini. Kak Dave bukan orang yang baik.”
“Lalu menurutmu siapa yang lebih baik? Apakah dirimu? Kau bahkan lebih brengsek darinya. Permasalahanku dimulai darimu!” tukas Alana tanpa menghentikan langkahnya.
Edo terhenyak sesaat. “Untuk itu aku menyesal. Ikuti denganku Alana. Aku akan mengantarmu.”
“Penyesalanmu tidak berguna, aku tidak membutuhkan apapun darimu, pergilah jangan menggangguku!” sentak Alana. Ia mempercepat langkahnya demi menghindari Edo.
Brugh! Alana terjatuh mana kala kakinya tersandung, hingga jempolnya kakinya mengeluarkan darah.
“Alana!” pekik Edo melangkah mendekat.
“Diam di tempat!” seloroh Alana.
Edo menghela nafasnya, sementara Alana mulai menangis bukan hanya merasa sakit pada ujung kakinya. “Alana aku tidak bermaksud buruk. Baiklah aku tidak akan berkata apa-apa soal kakakku. Kakimu terluka, ayo aku antar kamu ke klinik, biar segera diobati.” Ia mengulurkan tangannya berniat menolong Alana.
“Pergilah, kau tak perlu mengasihani aku.”
Edo tersenyum getir, melihat keadaan mantan kekasihnya seperti ini. Sejenak ia jadi menyalahkan dirinya sendiri, benar semua berawal darinya yang tak bisa setia. Seandainya saat itu ia bisa menahan diri untuk tak berselingkuh. Nasib Alana mungkin tak semenyedihkan ini. Kakaknya tak akan mungkin memanfaatkan kerapuhan Alana akibat ditinggalkan dirinya saat itu. “Aku tulus membantu. Tidak ada niat apapun.”
Edo menekuk kedua kakinya di depan Alana. Namun, Alana memilih beranjak menghindari Edo. Membiarkan tertatih meski kakinya terluka.