Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Mari Kita Menikah


“Silvi, aku—”


Plak!!


Tanpa diduga gadis itu melayangkan tamparan ke pipinya, membuat Zain terkejut sampai memejamkan kedua matanya.


“Lepas!!” Silvi kembali berusaha memberontak. Namun, Zain tetap mengunci tubuhnya.


“Tidak!!” tegas Zain dengan pandangan tajam.


“Kau ini sebenarnya mau apa, Tuan? Setelah dengan seenak lidahmu kau bersilat menghina diriku. Kenapa kau tiba-tiba kembali datang, lalu menciummu secara paksa. Kau menganggap aku benar-benar murahan! It's okay! Aku memang murahan. Tetapi, aku sama sekali tidak menyukai caramu,” cecar Silvi memukul kencang dada lelaki itu. Nafasnya memburu antara rasa marah dan malu. Berharap Zain akan mundur. Namun, nyatanya laki-laki itu hanya bergeming menatap dirinya, seolah tengah membiarkan gadis itu melampiaskan amarahnya.


“Silvi, aku benar-benar minta maaf untuk yang tadi aku sebenarnya—” Zain merasa gugup tak dapat melanjutkan ucapannya, mana kala gadis di depannya menatapnya tajam.


“Minggir!" sentak Silvi mencoba melepaskan kedua tangan Zain.


“Tidak! Aku mau bicara!" Jawab Zain tetap menahannya. Dalam sejenak mereka seperti adu kekuatan, Zain mendesak sementara Silvi memberontak. Hingga perempuan itu merasa frustasi, nyaris gila, ia berpikir di luar logika.


Tanpa di duga, Silvi meraih kepala Zain lalu dalam hitungan detik berikutnya, ia mencium bibir lelaki itu dengan kuat-kuat. Bukan perihal sebuah rasa suka, Silvi menciumnya dengan rasa kemarahan yang nyaris meledak dalam dada, sangat tak mengerti dengan jalan pikiran lelaki itu.


Zain melototkan kedua matanya, tak menyangka jika tadi perempuan itu menamparnya perihal ciuman yang ia berikan secara tiba-tiba. Sejenak tubuhnya menegang, sebelum kemudian ia cepat bereaksi, membalas ciuman Silvi. Ia mulai mengimbangi ciuman Silvi yang disertai amarah yang menggebu-gebu. Hal itu membuat Silvi merasa geram, lantaran bukannya melepaskan, Zain justru menikmatinya. Bukan hanya itu kali ini lelaki itu justru meraih pinggang rampingnya, merapatkan tubuhnya hingga jarak keduanya terasa sangat lebih intim. Tanpa di duga, Silvi mengigit bibir lelaki itu dengan kencang, membuatnya berdarah, dan dalam sekejap ciuman pun terlepas.


“Ishh!” desis Zain merasakan bibirnya perih. Sementara Silvi masih terdiam mengatur nafasnya yang memburu, dengan tatapan nyalang pada lelaki itu. Ia pikir setelahnya Zain akan melepaskan rengkuhan pinggangnya. Namun, lelaki itu justru menyatukan keningnya, lalu berkata. “Berhentilah bekerja di tempat seperti itu.”


Silvi mendesis sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Zain, yang menurutnya sudah kelewat batas. Merasa tangan Zain telah mengendur, ia dengan cepat mendorong tubuh lelaki itu menjauh. “Untuk apa kau mengaturku.”


Silvi merapikan rambutnya yang sempat berantakan, mengambil sepatu miliknya. “Kau bisa bekerja di kantor suami sahabatmu bukan. Berhentilah dan bekerja di sana itu jauh lebih baik.”


“Aku calon suamimu!” tegasnya tanpa keraguan, dia memandang punggung gadis di hadapannya, yang ia pastikan tengah terkejut.


Sejenak, Silvi terdiam nyaris tak percaya dengan ucapan lelaki itu, namun detik berikutnya ia terkekeh kecil. “Aku tidak pernah memiliki calon suami. Apalagi berpikir untuk terikat pada seorang lelaki. Jadi, ku pikir anda hanya tengah berhalusinasi, Tuan!”


“Kalau begitu mari kita menikah!” ungkap Zain kemudian.


Blugh!


Tanpa di duga Silvi berbalik dan melempar sepatu miliknya di tubuh lelaki itu. Namun, meleset karena Zain sigap menghindar. Ia tak menduga jika gadis di hadapannya memiliki sifat yang bar-bar.


“Omong kosong apa, yang anda katakan, huh! Pulanglah dan jangan lupa minum obat!” ucapnya kembali berbalik dengan cepat membuka handle pintu, kemudian masuk.


Brak! Dia menutup pintunya dengan keras. Membuat Zain sedikit terlonjak, mengusap dadanya. Tak di duga jika gadis itu memiliki sisi yang bar-bar. Bisa-bisanya ia meminta dirinya tak lupa minum obat? Apakah ia berpikir jika dirinya sedang sakit.


💕


💕


💕


💕


Piye sih, Zain. Melamar anak gadis kok seperti itu🤦.


Hallo, apa kabar semua. Maaf ya telat update ada acara di rumah. Tetap jangan lupa tinggalkan jejak, like', komentar, hadiah dan votenya. Yuk yang punya poin lempar yang banyak. hehe