
Dave mencoba konsentrasi mengerjakan pekerjaannya di kamar. Namun, keberadaan Alana yang tak ia ketahui tengah berada di mana, membuat lelaki itu tak bisa bekerja dengan leluasa. Ia pun beranjak keluar dari kamarnya, menatap pintu kamar Alana yang masih tertutup rapat.
“Dia kemana memangnya,” keluhnya. Dave kembali ke kamar, mengambil laptop miliknya. Ia memutuskan untuk mengerjakannya di sofa ruang tamu, sambil menunggu Alana pulang.
Hampir tiga puluh menitan ia berada di sofa. Namun, tak kunjung melihat Alana kembali. Seketika pikirannya terganggu, mencoba mengira-ngira kemana kepergian perempuan itu. Entah bagaimana otaknya justru terpusat pada arena hiburan malam tempat di mana Dave menawarkan kontrak perjanjian pernikahan – Lucy Bar. Dengan cepat Dave mengambil ponselnya, lalu menghubungi rekannya yang kebetulan pemilik tempat itu.
“Tidak ada. Emm... Baiklah terima kasih ya.” Dave menutup panggilannya. Mencoba dengan tenang, kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Tepat pukul sebelas malam. Ia mendengar deru mobil. Dave tersenyum tipis menyadari jika itu Alana. Hingga beberapa saat kemudian, dugaannya sama sekali tidak meleset.
Ia yang tengah duduk memangku laptopnya, hanya menatap ke arah Alana yang baru saja masuk ke rumahnya. Perempuan itu terlihat begitu ceria. Hingga membuat Dave tak tahan jika tak menegurnya.
”Kau baru pulang, Alana?” tegurnya dari tempatnya duduk.
Alana langsung memutar tubuhnya, tampak perempuan itu terkejut. “Dave?” desisnya.
“Kau belum tidur?” sambungnya bertanya, kedua matanya melotot terkejut.
Dave menutup laptopnya, lalu menghampiri Alana. “Iya. Ada beberapa pekerjaan yang belum ku selesaikan.”
Alana mengangguk, sebenarnya ia sendiri merasa aneh. Kenapa lelaki itu mengerjakannya di ruang tamu. Padahal seingatnya Dave mempunyai ruang kerja pribadi, tapi untuk apa. Urusan pribadi Dave sama sekali bukan urusannya, jadi ia tidak perlu bertanya.
“Oh begitu. Ya sudah aku mau ke kamar istirahat.” Alana berbalik hendak berlalu ke kamarnya. Namun, tiba-tiba ia tersentak saat Dave menahan pergelangan tangannya.
“Tunggu,” cegahnya.
“Ada apa, Dave? Bukankah kau sedang bekerja. Aku tidak ingin menganggumu, lagian aku juga merasa lelah,” ucap Alana berpura-pura menguap.
Dave mengerutkan keningnya, menatap perempuan itu. “Aku hanya ingin bertanya. Kamu dari mana?”
“Silvi!”
“Di rumah sahabatmu itu sejak pagi?” seru Dave heran.
Alana menarik tangannya dari genggaman Dave, dan menggeleng. “Ya tidak! Aku ke rumah sakit jenguk ibu juga.”
“Lalu?” Dave melangkah mendekati Alana. Membuat perempuan itu bergerak mundur.
“Lalu?” desak Dave.
Alana menggeleng. “Hanya itu.”
“Kenapa bisa sampai selarut ini?” tanya Dave bergerak maju, kedua tangannya masih berada di kedua saku pinggangnya.
“Emm itu–” Alana merasa gugup saat jarak tubuhnya dengan Dave sangat dekat. Ia sudah berusaha untuk menghindar dengan cara memundurkan langkahnya. Namun, sialnya bukannya mundur ke arah tangga agar ia bisa segera lari. Punggungnya justru membentur tembok, hingga membuatnya tak bisa lagi bergerak.
Bahkan, Dave langsung sigap mengunci tubuhnya, dengan kedua tangan kekarnya. Membuat Alana menelan ludahnya secara gugup.
“Kenapa Alana?” desak Dave.
“Ya tentu saja untuk menghibur diri, Dave,” tandas Alana setelah mencoba menguasai diri, akibat perasaannya yang membuncah. Dan sialnya jantungnya justru berdegup kencang.
Dave terkekeh kecil. “Hanya itu?"
“Ya. Memangnya kau berfikir apalagi!”
“Aku pikir kau memang tengah sengaja menghindari diriku,” pungkas Dave.
Alana melototkan kedua matanya, saat mendengar ucapan lelaki itu, tebakannya sama sekali tidak meleset. Namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Untuk apa?” tanyanya berpura-pura bersikap biasa.
“Entahlah.” Dave menatap wajah Alana yang berada tepat di hadapannya. Tatapannya, justru terpatri pada bibir ranum Alana yang terlihat menggoda, apalagi saat itu perempuan itu tengah mengigit bibir bawahnya. Seperti tengah menahan kegugupannya. Namun, menurut Dave itu seperti gerakan sen su al.
“Dave?” tegur Alana membuyarkan lamunan Dave akan bibir perempuan itu.
“Tidak apa-apa. Ku pikir kau marah padaku, karena tak membalas pesanku,” sahut Dave pelan seraya menarik kembali tangannya.
“Tidak Dave. Tadi, hanya lupa saja,” kilahnya.
Dave menghela nafasnya. “Baiklah. Ya sudah pergilah istirahat.”
Lelaki itu berlalu pergi ke sofa. Alana masih bergeming menatap ke arahnya. Sempat berfikir jika Dave akan kembali menciumnya.
Alana memutuskan untuk berlalu ke kamarnya.