
Seseorang mengulurkan sapu tangan padanya. Membuat Alana mengangkat wajahnya.
“Silvi?” serunya, mengambil sapu tangan dari sahabatnya itu. ia dengan cepat menghapus air matanya.
Gadis itu membalasnya dengan tersenyum. “Apa sesuatu telah terjadi denganmu, Alana? Hingga kamu menangis?” tanya Silvi, seraya mendudukan dirinya di sisi Alana.
“Aku hanya–”
“Jangan berbohong denganku, Alana. Meski bibirmu bisa berdusta. Aku tahu raut wajahmu tidak bisa berbohong.” Silvi segera menyela ucapan Alana dengan cepat.
Alana menatap ke arah sahabatnya itu dengan kedua bola mata uang mengembun. “Kamu tadi–”
“Aku melihat dan mendengar semuanya, Alana.” Silvi mendekap sahabatnya itu. Mengusap punggungnya, ia tahu saat ini yang Alana butuhkan hanyalah sandaran.
“Sudah ku katakan dari awal, Alana. Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar. Kau tidak mendengarkan ku Alana. Hanya kau ingin membalaskan rasa sakit hatimu, kau justru mengambil keputusan yang salah dengan menikahi Dave, yang tak lain adalah kakak tiri Edo. Itu sama saja kau seperti keluar dari kandang singa lalu masuk ke kandang macan.”
Alana menggeleng. “Vi, Dave tidak seperti itu. Dia itu baik.”
“Tidak ada laki-laki yang baik, jika dia mempermainkan pernikahan, Alana. Sekarang bagaimana. Nyawamu terancam.”
Sesaat Alana bungkam mendengarkan ucapan sahabatnya, tentang permainan pernikahan. Jika dipikir lagi memang benar ia dan Dave sama saja telah mempermainkan pernikahan, sebuah janji suci yang sudah terikat dengan Tuhan, keduanya justru menyalahkan gunakan. Tapi, mau bagaimana lagi, Alana sungguh terpaksa. Semua sudah telanjur ia jalani.
“Tidak Vi. Aku yakin Papanya Dave tidak akan mungkin mencelakaiku,” kekeh Alana yakin.
“Kenapa kau begitu yakin? Orang kaya dan memiliki kekuasaan tinggi, itu bisa melakukan apa saja Alana. Come on, Alana. Berpikirlah secara logis. Tinggalkan Dave Alana,” sergah Silvi.
Alana menggeleng. “Aku tidak bisa!”
Silvi mendengus kesal. “Kenapa tidak bisa?”
“Karena ibu masih–”
“Apakah hanya karena ibumu. Atau karena sesuatu yang lain?” tanya Silvi penuh selidik.
“Apa maksudmu?”
“Kau mencintai lelaki itu, Alana.”
Alana menatap sahabatnya itu, menelan ludahnya sendiri kasar. “Ti–tidak!” dustanya.
Silvi terkekeh geli. “Apakah aku harus mempercayaimu, Alana?”
“Tentu saja! Sudah ku katakan jika aku sudah membentengi diri, aku tidak mungkin mencintai Dave.”
“Ku harap apa yang kau katakan ini benar. Aku paham berdekatan dengan lelaki seperti Dave itu akan susah mengendalikan perasaanmu. Aku pikir kau akan mudah terjerat dengan pesonanya.”
Silvi menyeringai, karena telah menemukan jawabannya. “Dia baik, royal, pintar, cerdas, dan–”
“Dan ternyata kamu mulai mencintainya,” pungkas Silvi telak.
“Aku–”
“Aku hanya tidak ingin kamu kembali terluka, Alana. Tinggalkanlah sebelum perasaanmu semakin dalam Alana.”
Alana menggeleng dengan kuat. “Tidak, Vi.”
“Kenapa?” desak Silvi.
“Aku sudah terikat janji dengannya. Satu-satunya jalan hanyalah menjalani pernikahan ini sebagai mana mestinya. Kau tahu, isi perjanjian itu kan. Jika aku memutuskan kontrak ini secara tiba-tiba, aku akan kena denda finalty, atau jika aku tidak bisa membayarnya aku akan mendekam di penjara.”
“Ya Tuhan, Alana. Kenapa serumit ini.”
“Biarkan aku menjalani pernikahan ini, Vi. Aku tidak masalah terluka, aku akan menanggung segala resiko. Aku hanya ingin ibu sembuh, Vi. Dan lagi aku sudah melangkah setengah jalan. Tidak ada yang aku inginkan selain kesembuhan ibu saat ini. Perasaanku sudah tidak berarti lagi,” ucap Alana.
🦋🦋🦋
Pukul sepuluh malam, Dave baru tiba di kediamannya. Ia langsung beranjak ke kamarnya, membersihkan diri. Seperti biasa, setelah selesai ia turun ke bawah menuju meja makan. Biasanya di sana sudah ada Alana yang menunggunya. Perempuan itu pasti akan melayani dirinya, dengan mengambilkan nasi. Tanpa Dave sadari ia mulai terbiasa dengan aktivitas yang Alana lakukan padanya. Bahkan beberapa dari pelayan, merasa senang setelah majikannya itu menikah dengan Alana. Dave jadi sering makan malam di rumah.
“Salma, di mana Alana?" tanya Dave begitu tidak mendapati istrinya di meja makan seperti biasanya.
“Nona sedang berada di danau, Tuan.”
“Malam-malam begini?” tanya Dave dengan sedikit terkejut.
Salma mengangguk. “Nona bilang sedang ingin sendiri. Dia juga berpesan, kalau anda mau makan, tidak perlu menunggunya.”
“Apa dia sudah makan?” tanya Dave.
Salma menggeleng. “Belum. Semenjak kembali dari rumah sakit, Nona belum menyentuh makanan apapun, Tuan.”
Dave menyugar rambutnya ke belakang, merasa aneh dengan tingkah Alana yang tiba-tiba seperti itu.
“Apakah sesuatu telah terjadi dengannya?”
“Saya kurang mengerti, Tuan.”
Dave menyentak nafasnya. “Kalau begitu siapkan makanannya. Biar aku yang mengantarkan makanan padanya.”
Salma mengambil piring, mengambil nasi, lauk dan lainnya. Juga tak lupa satu gelas air mineral.