Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Kau Licik, Dave


“Alana.” Dave beranjak dari tempat duduknya berniat menghampiri Alana. Namun, perempuan itu terus beringsut mundur. Hingga tubuhnya tersudut di tembok.


“Jangan mendekat!!” teriak Alana menggerakkan tangannya meminta Dave untuk berhenti.


Dave memalingkan wajahnya, setelah menatap Alana dengan senyum getirnya. “Alana a–aku...”


“Apa yang kau lakukan di sini Dave?” tanya Alana nafasnya memburu. Luka yang lelaki itu beri lima tahun lalu masih terasa membekas. Lantas mengapa tiba-tiba mereka kembali bertemu.


“Aku di sini. Tentu saja karena ini perusahaanku. Dengarkan aku dulu Alana...” Lelaki itu masih menatap Alana dengan penuh kerinduan. Namun, yang ia dapatkan justru tatapan kebencian dari sang istri. Alana yang sekarang bukan yang dulu, perempuan itu seperti menyimpan luka yang belum kering.


“Bagaimana mungkin?” desisnya tak percaya. “Dan tidak ada yang perlu kau jelaskan! Aku tidak mau mendengarkan apapun darimu,” sambungnya. Seingatnya perusahaan Dave itu Dirgantara Karya perusahaan yang bergerak di bidang bonafit. Lalu ini?


Dave terhenyak sebelum kemudian menjawab. “Tidak ada yang tidak mungkin. Karena memang itulah faktanya.”


Alana menelan ludahnya, tubuhnya terasa lemas. Ia tahu keputusannya untuk kembali ke Jakarta pasti akan mengantarkan ia kembali bertemu dengan Dave. Namun, mengapa harus secepat itu.


“Kalau begitu aku berubah pikiran. Aku memutuskan untuk tak mau bekerja di sini? Aku akan mengundurkan diri hari ini juga!” tegas Alana.


Dave sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. Tidak akan semudah itu ia berbicara dengan Alana secara baik-baik.


“Tidak semudah itu Nona Alana!"


“Apa maksudmu?” desis Alana bingung.


Dave menyipitkan matanya sejenak, lalu melengos mengambil berkas yang berada di atas meja.


“Ambil ini, dan bacalah kontrak kerjamu dengan teliti. Segala isi yang tertulis dari kontrak yang kamu tanda tangani kemarin,” suruh Dave pada Alana. “Kau masih sama ternyata begitu ceroboh, dan cepat mengambil keputusan,” sambungnya.


Alana menutup berkas itu, lalu melemparkannya ke tubuh Dave. “Kontrak kerja macam apa ini Dave? Kau mau menipuku, kembali memanfaatkan aku? Kau sangat licik Dave,” teriak Alana menggebu-gebu, kedua matanya berkaca-kaca.


Dave memalingkan wajahnya tersenyum getir, saat merasa Alana kini justru membencinya. Harusnya pertemuan pertama adalah hal yang terkesan. “Aku tidak pernah memanfaatkanmu.”


Alana berdecih. “Dave hubungan kita sudah berakhir. Tapi, mengapa kamu masih terus-menerus menjerat aku. Tolong lepaskan aku.”


Dave menggeleng. Sudah lima tahun yang lalu, ia menunggu kedatangan Alana. Tidak peduli cara apapun, akan ia tempuh demi mendapatkan istrinya kembali. Dan kemarin saat ia sedang memantau karyawan yang melamar kerja di perusahaannya itu, tak sengaja ia melihat Alana dalam rekaman cctv, untuk itu ia meminta Sena untuk langsung menerimanya, sekaligus menandatangani kontrak kerja, yang terlihat memang aneh. Karena membubuhkan poin pribadi di sana. Sungguh bukan maksud Dave untuk memanfaatkan Alana. Hanya saja ia tahu tidak akan semudah dulu untuk mendapatkan Alana. Setidaknya Alana harus berada dalam jangkauannya lebih dulu, dan pelan-pelan ia bisa kembali merebut hati istrinya. Dave hanya terlalu takut Alana pergi lagi. “Tidak ada yang berakhir. Aku masih suamimu Alana.”


“Tidak! Aku tidak mau lagi,” teriak Alana.


“Biarkan aku pergi, Dave. Kita jalani kehidupan masing-masing. Anggap saja...”


”Tidak akan!” pungkas Dave kesal.


Alana terhenyak.


“Hanya ada dua pilihan Alana. Kembali padaku atau kau tetap bekerja di perusahaan ini!” tegas Dave memalingkan wajahnya ke arah jendela. “Pikirkanlah baik-baik permintaanku, Alana.”


“Dasar egois!” maki Alana sebelum keluar meninggalkan ruangan Dave dengan membanting pintu dengan kasar. Hal itu membuat Nara yang tengah duduk di ruangannya terkejut. Perempuan itu bahkan sampai mengusap dadanya.


Alana berjalan menuju toilet dengan wajah pucat. Masih tak menyangka jika ia akan kembali bertemu dengan Dave.


‘Ya Tuhan! Sudah lima tahun aku mencoba pergi dari sisinya. Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya. Aku tahu ini akan terjadi, tapi mengapa secepat ini. Sungguh aku masih membencinya.’


Kini Alana menyandarkan punggungnya di dinding sembari memegang dadanya yang masih saja berdetak lebih kencang. Luka itu masih membekas, namun tak dipungkiri rasa rindu pun masih menyelip dalam relung hatinya.