
"Dave?" desisnya kaget. Jantungnya nyaris berdetak saat melihat sang suami kini berada di bawahnya. Berarti benar dugaannya sejak tadi, jika perusahaan ini adalah milik suaminya. Bagaimana ia bisa tidak mengetahui info itu.
"Jangan turun." Suara bariton Dave terdengar tenang. "Ini bohlamnya." Ia mengulurkan bohlamnya pada Alana.
Alana meringis malu, kemudian ia pun turun sedikit untuk mengambil bohlamnya, dan memberikan bohlam yang mati pada Dave. Setelah berkutat lebih satu menit memasang bohlam, Alana pun berteriak. "Risa, tolong nyalakan saklar!"
Risa menurut, tak lama lorong kembali terang, Alana mulai turun perlahan. Namun, di ujung anak tangga paling bawah ia merasa kesulitan untuk menginjakkan kakinya ke lantai, akibat terhalang Dave.
"Maaf Dave, aku mau turun," ucap Alana dengan wajah malu-malu. Namun, sedetik kemudian ia terkesiap kala menyadari ucapannya yang terdengar kurang sopan, ia baru ingat di mana ia kini. Dave mengangkat kedua alisnya. "Maksud saya, Tuan Dave saya mau turun," ralatnya kemudian.
Dave mengangguk, dan menggeser tubuhnya. Lalu, tanpa disangka lelaki itu mengulurkan tangannya pada Alana, membuat gadis berkulit putih, pipi chubby dan rambut di kuncir ekor kuda itu terbelalak kaget.
"Ulurkan tanganmu, biar saya membantumu," titah Dave.
Mau tak mau Alana menerima uluran tangan laki-laki di depannya, lantas menunduk begitu kakinya menyentuh lantai.
"Siapa namamu?"
Alana terkejut, dan mendongak begitu mendengar pertanyaan yang ditujukan untuknya. Lelaki itu bertanya seolah belum mengenalnya.
"Alana, Tuan."
"Apa kamu seorang OB di sini?"
Alana menggeleng. "Bukan Tuan. Saya bagian administrasi, pindahan dari kantor cabang."
Dave menghela nafasnya. "Lalu, kenapa bisa kamu yang memasang lampunya?"
"Karena yang lain sibuk," ucap Alana sambil mengigit bibir bawahnya dengan perasa canggung, bahkan ia pun tak berani menatap ke arah Dave.
Dave mengangguk sekilas. Namun, tanpa disangka ia justru mengusap kepala Alana dengan lembut, lalu berkata. "Jangan diulangi lagi, ini berbahaya."
"Iya Tuan," jawab Alana dengan gugup.
Setelahnya Dave pun berlalu melanjutkan langkahnya, menuju kantor yang berada di bagian belakang. Alana masih menatap kepergian lelaki itu dengan perasaan tak menentu. Setelah sosoknya menghilang dibalik belokan, Risa merapatkan tubuhnya pada Alana.
Alana hanya mendengus sebal melihat tingkah Risa.
"Alana bagaimana perasaanmu diusap kepalanya, bahkan kau sempat memegang tangannya. Kalau itu aku... Aku pasti sudah pingsan saat ini," seru Risa.
"Biasa aja," jawab Alana datar. Jangankan hanya di genggam tangannya, makan semeja berdua bahkan sudah ia lakukan.
"Masa sih? Aku yang melihatnya tadi merasa seperti tengah menonton adegan romansa secara langsung. Aku jadi membayangkan jika tadi itu aku yang di gandeng tangannya.... Tapi, aku heran kenapa Pak Direktur begitu peduli padamu Alana. Padahal kau kan pegawai baru di sini. Apakah jangan-jangan Direktur itu menaruh rasa padamu?"
"Tidak mungkin. Kamu kalau membayangkan sesuatu jangan disangkut pautkan. Tuan Dave melakukan tadi kan hanya sekedar membantu," kilah Alana.
Risa mengangguk. "Iya sih. Lagian itu mana mungkin Tuan Dave menyukaimu. Soalnya yang ku dengar, kekasih Tuan Dave itu saat tengah berada di luar negeri. Yang pasti lebih segalanya dari kita ya."
Deg!
Alana menghentikan niatnya untuk melipat tangga, menatap ke arah Risa dengan pandangan bingung. "Kamu tahu tentang kekasihnya?" tanya Alana yang tiba-tiba merasa penasaran.
"Hanya sekilas Alana. Karena aku kan sibuk memikirkan penjualan. Yang jelas perempuan itu sangat cantik dan sangat cocok untuk Tuan Dave, kalau tidak salah seorang artis.”
Alana menelan ludahnya. Berusaha mengenyahkan pikirannya. "Aku akan mengembalikan tangga ini. Kamu kembalilah bekerja," ujar Alana mengalihkan pembicaraan.
Setelah mengembalikan tangga di gudang, Alana kembali berjalan melewati lorong itu, sesekali matanya akan menoleh ke arah samping di mana kaca terbentang memperlihatkan gemuruh hujan yang semakin deras. Hujan-hujanan seperti ini rasanya akan sangat enak memakan mie instan di beri telur dan sawi, kemudian di tambahkan sedikit cabe rawit. Alana berlalu hendak memesan keinginannya itu menuju kantin.
Sore hari, terjadi kegemparan di kantor. Karena Direktur mengamuk kepada para lelaki yang dianggap tidak tahu diri. Tidak ada yang berani menyahut, para karyawan hanya menunduk pasrah. Dalam hati mereka mengeluh hanya karena lampu mati, mereka sampai terkana marah oleh Direktur.
"Bagaimana bisa. Kalian membiarkan seorang perempuan memasang lampu. Sementara kalian malah asyik-asyikan bekerja."
"Saya paling tidak menyukai lelaki yang tidak tidak tahu diri."
"Jika sampai kejadian ini terulang, saya pastikan akan memecat kalian semua!"
Dave sendiri tak mengerti kenapa ia bisa semarah ini, hanya karena perkara lampu mati. Benarkah hanya karena lampu? Atau karena melihat istrinya yang justru menaiki tangga mengganti lampunya.