
Seusai perdebatan tadi Alana memilih untuk pamit ke toilet, setelah selesai bukannya kembali ke ruangan itu. Perempuan itu lebih memilih berdiam diri di gazebo yang berada di taman samping rumah itu. Menatap Tamanan kaktus yang hanya diterangi oleh temeram lampu.
Tiba-tiba ia terkejut saat tubuhnya hampir terhuyung ke belakang akibat tarikan kuat oleh seseorang. Pekikan keras hampir keluar, jika orang itu tak sigap menutup mulut Alana dengan cepat.
"Apa yang kau lakukan di sini Alana?!" Edo bertanya setelah berhasil menyudutkan tubuh perempuan itu ke dinding pilar.
Alana berusaha memberontak dengan sekuat tenaga, bahkan tak segan ia mengigit kecil tangan lelaki yang masih membekap mulutnya itu.
"Aaa... Sialan kau!" teriak Edo mengumpat marah, kala gigi Alana mampu meninggalkan bekas luka di telapak tangannya.
Alana tersenyum kemenangan, sisi asli dari lelaki itu keluar. Perempuan itu melipatkan tangannya di dada. Edo menatap Alana marah. "Jawab pertanyaanku! Apa yang kau lakukan di sini Alana?" tanya Edo ulang.
"Melihat taman," jawab Alana singkat.
"Maksudku, kenapa kau tiba-tiba datang di hadapan keluargaku?"
Alana memandang Edo sinis. "Kenapa? Keluargamu kan keluarga suamiku. Bukankah tidak ada yang salah jika aku pun tiba-tiba hadir di sini!"
"Omong kosong apa itu?!" sergah Edo menatap Alana dengan pandangan marah. Alana mengangkat kedua bahunya acuh. "Kau pasti telah menggoda kakak ku, dan menjebaknya. Perempuan seperti dirimu itu bukan selera Kak Dave," sambung Edo.
Alana terkekeh geli, menikmati raut kesal bercampur marah di wajah mantan kekasihnya itu. "Oh ayolah Edo. Empat tahun kita menjalin hubungan, kau pasti tau lebih jelas sifatku. Aku bukan perempuan yang sembarangan menjajakan tubuhku pada sembarang lelaki. Please... Jangan samakan aku dengan dirimu!" tukasnya.
Edo mendengus tak percaya. "Karena gelap mata, orang bisa melakukan apa saja Alana. Bahkan mungkin itu termasuk dirimu. Kau merasa marah padaku, kemudian mencari tau keluargaku. Akhirnya, kau menjebak Dave untuk menikahi dirimu!"
Alana menatap Edo dengan pandangan remeh, ia tersenyum kala melihat Tisa tengah melangkah ke arahnya dengan wajah bertekuk kesal. "Aku bukan orang yang kurang kerjaan, mengurusi sampah seperti dirimu. Pernikahan aku dan Dave, murni terjadi karena... Tentu saja karena aku sudah move on dari lelaki penghianat seperti dirimu. Kau lihat meski ibuku mempunyai penyakit, masih ada lelaki yang mau denganku, bahkan ia jauh lebih baik darimu!" ucap Alana bangga.
"Setidaknya aku jauh lebih bermartabat dari dirimu Tisa, kalaupun memang apa yang kau katakan itu benar. Tidak ada salahnya, yang terpenting Dave menikahiku. Tidak seperti dirimu? Apa yang kau dapatkan dengan tidur dengan mantan kekasihku?" tanya Alana memandang keduanya sinis, lalu tertawa. "Gratis kan? Murahan sekali ternyata anda," sambungnya membuat wajah Tisa memerah karena merasa kalah telak. Edo mengepalkan kedua tangannya marah.
"Lancang sekali kamu!" Tisa mengangkat tangannya hendak menampar pipi Alana. Namun, detik berikutnya ia terkejut lantaran tangannya terasa kaku tak dapat bergerak, saat sebuah lengan kekar menahan tangannya.
"Jangan berani menyentuh istriku!" ucap Dave seraya menyentak tangan Tisa dengan kasar, hingga membuatnya hampir terhuyung ke belakang, beruntung Edo sigap menahan tubuhnya. Ketiganya merasa terkejut lantaran kemunculan Dave secara tiba-tiba. "Jika kau berani menyentuh Alana. Akan ku pastikan kau mendapatkan balasan yang setimpal. Suatu hal yang tidak akan pernah kamu lupakan Nona!" ancam Dave membuat wajah Tisa memucat.
Dave menatap ke arah Alana. "Kau tidak apa-apa?"
Alana menggeleng dengan rasa terkejut.
"Kalau gitu kita pulang!" ajak Dave seraya menggandeng Alana.
Ketika baru dua langkah berjalan, lelaki itu kembali menoleh menatap Edo dan Tisa. "Kau akan menyesali pilihanmu itu Edo. Karena kau telah membuang sebuah berlian, demi batu kerikil di jalanan!" sinis Dave. Sebelum kemudian ia meninggalkan gazebo taman mansion itu.
Edo terkejut tak mengerti maksud ucapan kakak tirinya itu. Apakah lelaki itu hubungannya dengan Alana. Lelaki itu masih terdiam mengamati kepergian Alana yang digiring keluar oleh Dave.
"Tutup matamu?! Kenapa kau menatap Alana dengan seperti itu?" ujar Tisa kesal seraya mengusap pergelangan tangannya yang memerah, akibat cengkraman tangan Dave tadi. "Jangan katakan jika kau baru saja menyesali keputusanmu memutuskan Alana!" lanjutnya.
Edo berdecak kesal. "Kau mengacaukan segalanya!"
"Apa maksudmu?" tanya Tisa.
"Aku tengah berbicara dengan Alana baik-baik. Kenapa kau malah tiba-tiba datang mencari masalah. Kau tau jika sampai masalah ini berlarut, kakak ku bisa mencabut investasi di showroom mobilku!" pungkas Edo khawatir.