
Setelah selesai makan siang. Alana beranjak ke kamar mandi yang berada di ruangan suaminya. Dave berlalu ke meja kerjanya, setelah memakai kembali jas miliknya. Keningnya mengerut mendapati tiga toples kue nastar di atas meja. Ia baru ingat jika istrinya tadi yang membawanya.
“Kau membuatnya lagi Alana?” tanya Dave begitu melihat istrinya kembali dan duduk di sofa.
“Ya Dave.”
“Boleh ku bawa satu, untukku klien ku nanti!” tawar Dave.
Alana mengangguk. “Silakan saja. Itu kan sudah menjadi milikmu. Jadi terserah kamu saja.”
“Baiklah. Tuan Arfa itu kan sikapnya dingin. Ku pikir dengan dia makan kue buatanmu yang manis dan gurih ini, sifatnya akan berubah manis,” ucapnya tertawa kecil, menyadari kekonyolannya.
Alana yang duduk di atas sofa pun melongo. Namun, ia juga merasa takjub dengan tawa lelaki itu, terlihat semakin tampan.
🦋🦋
Siang menjelang pukul dua. Mobil yang dikemudikan Zain membelah jalanan ibu kota itu menuju restoran hotel Santika, lalu lintas sedikit renggang. Alana sibuk menatap luar jendela. Sementara Dave sibuk dengan iPad di tangannya.
“Alana, apa mobilmu juga rusak?” tanya Dave membuka obrolan.
“Aku tidak mengecek. Tapi, ku pikir lecet sedikit.”
“Pulanglah bersamaku. Jadi, nanti mobilmu biar di bawa Zain ke bengkel,” titah Dave.
“Ya Dave.”
“Mungkin nanti aku akan sedikit lama rapatnya. Tapi, fasilitas restoran itu cukup bagus. Kau bisa jalan-jalan ke tamannya, atau ke kolam ikan.”
“Kau tidak berniat memintaku untuk memancing kan?” tanya Alana bercanda. Dave hanya tertawa kecil. “Kalau kau mau boleh saja.”
Mobil tiba di pelataran hotel bintang lima. Dave dan Alana keluar, sementara Zain memarkirkan mobilnya.
Keduanya langsung memutuskan menuju restoran yang terletak di hotel itu. Tiba di sana seorang lelaki tampan berbadan tinggi, kulit dengan mata yang sedikit sipit, dalam balutan jas rapi telah menunggu kedatangannya. Dengan ditemani seorang perempuan cantik dengan blazer berwarna grey. Keduanya terlihat sangat cocok, Alana mengira perempuan itu mungkin sekretarisnya.
Keduanya langsung menghampiri mereka, saling berjabat tangan memperkenalkan diri.
“Kalian sangat cocok,” puji Alana tiba-tiba. Namun, hal itu membuat Arfa dan Bella tersenyum canggung. “Aku sempat berfikir kalian itu sepasang kekasih,” sambungnya.
“Ternyata aku harus menelan rasa kecewa, karena kalian ternyata hanya sebatas rekan kerja seorang atasan dan karyawan. Tapi, ku pikir itu tidak masalah. Bukankah cinta lokasi dalam dunia pekerjaan itu sudah biasa,” kata Alana lagi.
Manis sekali. Alana menyukai momen ini, meski ia tahu hanya sandiwara, tapi bolehkah ia menikmatinya.
Bella hanya tersenyum canggung, begitupun dengan Arfa yang tersenyum datar. Sejenak Alana jadi membayangkan jika sifat Dave sama seperti Arfa, akan membosankan keadaannya. Pasti kaya kutub Utara dan Selatan. Beruntunglah meski pernikahan keduanya pura-pura, Dave tipikal pria yang hangat sedikit humoris.
“Tidak apa-apa, Tuan Dave. Saya mengerti. Sebenarnya saya hanya mewakili Papa saya di sini. Kebetulan saya dan Bella habis mengecek produk perusahaan kami di mall sebelah,” ujar Arfa.
“Saya dengar anda sudah merilis produk baru. Keren saya salut, anda memang hebat, bisa mengendalikan beberapa perusahaan orang tua anda,” puji Dave.
“Ah tidak saya tidak sebanding dengan anda Tuan Dave. Iya! Kebetulan kami membawanya. “ Arfa memberi kode pada Bella yang langsung di sambut respon yang baik. Bella mengeluarkan satu set produk kecantikan perusahaannya.
“Ini untuk anda Nona.”
“Buat aku,” tunjuk Alana pada dirinya sendiri.
“Iya Nona. Sengaja kami bawa memang untuk anda. Karena Tuan Dave tadi mengirim pesan jika ia akan mengajak istrinya,” timpal Arfa.
“Terima kasih,” ucap Alana.
“Sama-sama, Nona.”
Tak lama Zain pun datang dengan membawa berkas di tangannya. Bersamaan dengan itu pelayan pun datang menawarkan makanan. Mereka langsung memesan minuman beserta cemilan. Karena Alana dan Dave sudah makan siang lebih dulu. Zain juga memberikan satu toples nastar buatan Alana. Arfa langsung mencoba dan memuji kue buatan Alana.
“Jadi, anda dan Tuan Aslan berniat membangun mall di area Jawa barat?” tanya Dave membuka obrolan.
“Iya Tuan. Dan saya percayakan proyek ini pada perusahaan anda. Karena saya tahu anda pasti kompeten. Papa saya bilang begitu karena melihat sisi hangat anda istri anda,” ujar Arfa menoleh ke arah Alana.
Dave tersenyum canggung, begitupun dengan Alana. Ternyata selain untuk membatalkan perjodohan, di sana peran perempuan itu juga menarik untuk para klien suaminya, yang tergolong suka rekan bisnis yang sudah menikah. “Terima kasih, sudah percayakan proyek ini pada kami,” sahut Dave, menoleh pada istrinya yang tengah menikmati jus jeruknya. Tangannya terulur untuk mengusap rambut Alana. “Istri saya ini memang luar biasa, membawa keberuntungan,” pujinya.
Uhuk! Uhuk!
Alana tersedak minumannya. Zain menatap atasannya melongo.
“Pelan-pelan sayang. Jangan gugup gitu.”
“Dave aku mau ke toilet,” pamit Alana.
“Biar Bella antarkan,” ujar Arfa.