Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku Menginginkan Mu


Jessica membawa Dave yang terus bergerak dengan gelisah ke dalam sebuah kamar hotel berbintang.


“Sabar Dave. Tenang saja, kita akan menghabis malam yang panjang penuh syahdu malam ini. Sebuah malam panas yang tidak akan pernah kamu lupakan,” ucap Jessica mana kala memasuki id card untuk membuka kunci kamarnya.


Setelahnya terbuka, Jessica membawa Dave masuk ke dalam. Ia tersenyum menatap sebuah kamera yang sudah ia persiapkan untuk merekam adegan erotis keduanya nanti.


“Panas sekali,” racau Dave.


Jessica meletakkan Dave di ranjang dengan sprei berwarna putih bersih. “Tenanglah sayang, sebentar lagi aku akan membebaskan mu dari rasa panas itu. Tentunya setelah kita bercinta.”


Tawa kemenangan menggelegar di ruangan itu. “Maafkan aku kekasihku. Jika aku terpaksa melakukan hal kotor seperti ini. Karena aku berpikir hatimu sekarang sudah berpaling ke istrimu itu. Aku tidak terima, jadi satu-satunya jalan adalah dengan menjeratmu.”


Jessica mulai naik ke atas tubuh Dave. Bersiap memulai adegan demi adegan yang sering ia lakukan sebelumnya. Tangannya bergerak mengusap dada Dave secara sen su al. Kemudian ia mulai bersiap untuk membuka kancing kemeja Dave, juga memajukan wajahnya untuk mencium bibir Dave. Namun, tiba-tiba Dave membuka kedua matanya, mana kala bayangan wajah Alana terlintas, seketika kedua tangannya dengan cepat mendorong tubuh Jesicca hingga terjatuh dari atas ranjang.


“Dave!” pekik Jessica.


Dengan mencoba melawan reaksi obatnya, ia mencoba mengembalikan kesadarannya. Ia berdiri menatap Jessica dengan tatapan nyalang.


“Ayo Dave. Kita habiskan malam panas kita. Tenang saja, kau pasti akan ketagihan, dan tidak akan pernah bisa melupakan malam ini,” ajak Jessica mendekati Dave.


Dave berdiri dengan wajah memerah. “Kau menjebak ku, sialan!” umpatnya marah.


Jessica terkejut, tidak menyangka jika Dave masih sadar. “Dave?”


”Tunggu pembalasanku,” ancamnya. Setelahnya ia langsung membuka pintu kamar itu berjalan dengan cepat, tak memperdulikan teriakan Jessica.


Dave berjalan dengan sangat cepat. “Siapkan mobil di depan lobi Zain!" perintahnya di balik telpon.


Dave menahan hawa panas dari tubuhnya, karena pengaruh obat perangsang yang Jessica berikan. Ia masih ingat terakhir kali ia meneguk minuman dari seorang pelayan, setelah itu tubuhnya terasa sangat panas.


“Tuan apa yang terjadi?” tanya Zain ketika Dave sudah masuk ke dalam mobil. Zain langsung melajukan mobilnya meninggalkan area hotel.


“Jessica menjebak ku dengan memberikan obat perangsang.”


Zain terkejut mendengarnya.


“Jadi, ini nanti–”


“Hanya Alana yang bisa membantuku. Kau pikir aku mau melakukannya dengan sembarang wanita.”


Mobil tiba di pelataran rumah Dave.


“Tapi Tuan...”


“Apa lagi? Kau banyak bertanya? Alana itu istriku.”


“Saya cuman mau berpesan, tolong pelan-pelan,” cicitnya.


“Kau pikir aku masokis!” dengus Dave membuka pintu mobilnya, lalu berjalan masuk ke dalam dengan cepat. Bahkan Salma yang tengah membersihkan ruang tamu pun sampai terkejut, melihat langkah kaki sang majikan terburu-buru.


Sementara itu, Alana yang sudah selesai membereskan pakaiannya ke dalam koper, pun kini juga baru selesai membersihkan diri. Dengan balutan handuk berwarna putih yang membalut tubuhnya setengah dada. Alana pun mengambil piyamanya, berniat memakainya setelah itu ia akan istirahat.


Tok! Tok!


Namun, ketukan pintu yang terdengar cukup keras mengurungkan niatnya. Ia menduga jika itu Salma, karena sebelumnya Salma sudah memanggil dirinya untuk makan malam, jadi tidak salah jika ia membukakan pintu lebih dulu.


Ceklek!


“Salma, sudah ku katakan jika.... Dave!” desisnya terkejut mendapati suaminya berdiri di depan kamarnya dengan penampilan yang acak-acakan, matanya memerah.


Sejenak tatapan keduanya saling bertemu. Dave menatap penampilan Alana yang hanya berbalut handuk putih setengah dada, dengan buliran air menetes di rambutnya. Sesuatu dalam dirinya bergejolak membuatnya menelan ludahnya secara kasar.


“Tunggu sebentar Dave. Aku ganti pakaian dulu.” Alana hendak kembali menutup pintunya, menyadari tatapan sang suami padanya. Namun, Dave menahannya.


“Dave?” Alana menelan ludahnya mana kala suaminya justru ikut masuk ke dalam kamarnya.


Krek! Pintu kembali tertutup dengan rapat, membuatnya terkejut.


Keterkejutan Alana kian bertambah, saat tiba-tiba Dave langsung merengkuh tubuhnya, lalu berbisik pelan di telinganya. “Maaf Alana, aku menginginkanmu. Tolong aku, seseorang berniat menjebakku.”