
Jonas keluar dari ruangan dengan perasaan kesal. Harusnya ini menjadi momen yang membahagiakan atas kelahiran anaknya. Namun, sikap istrinya yang tak menginginkan putrinya hanya demi harta membuat keadaan kacau dan buruk.
Ia melangkah ke arah taman rumah sakit. Di sana ia melihat seorang lelaki yang ia kenali tengah duduk di rumah sambil menangis. Langkah kakinya membawanya mendekat.
“Arman?” tegurnya. Arman merupakan salah satu mandor dalam pembangunan hotel miliknya, yang di bawah perusahaan Dirgantara.
“Tuan.” Arman mengangkat wajahnya menatap sang atasan.
“Ada apa? Kau berada dalam masalah?” tanya Jonas. Ia mengenal baik Arman, dia salah satu mandor yang cukup handal dan bisa di percaya.
Lelaki itu mengangguk. “Istri saya baru melahirkan.”
“Bukankah itu kabar yang bagus. Kenapa kau justru bersedih?” Jonas menepuk pundak karyawannya itu.
“Istri saya mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan, dan harus menjalankan proses pengangkatan rahim. Belum lagi putra kami yang mengalami infeksi paru-paru. Saya sedih Tuan. Bagaimana saya mengobati putra saya, dan membayar administrasi rumah sakit ini.” Arman menoleh ke arah atasannya dengan tatapan melas. “Bisakah saya meminjam uang pada anda lebih dulu, Tuan. Saya akan bayar dengan mencicilnya,” sambungnya.
Jonas menghela nafas berat mendudukkan dirinya di sisi lelaki itu. “Bukan saya tidak mau membantu kamu, Arman. Bahkan nasib saya juga di ujung tanduk. Entah berapa jam lagi saya masih menjadi atasan kamu.”
“Kenapa Tuan?”
“Istri saya baru melahirkan ternyata bayinya perempuan. Sedangkan Papa mertua saya menginginkan anak kami laki-laki sebagai penerus keluarga kami. Saya bingung harus apa Arman? Saya menyayangi putri saya. Tapi, melihat kesedihan istri saya yang tidak menerima anaknya, saya juga merasa sakit. Kenapa dia seegois itu Arman. Bukankah anak adalah anugerah. Kenapa dia begitu takut jatuh miskin.”
Arman terdiam. “Jadi, harus anak laki-laki?”
Jonas mengangguk. Lalu keduanya terdiam sejenak sibuk dengan pemikirannya masing-masing. “Saya bisa membantumu tapi dengan satu syarat. Dan mungkin kamu juga akan merasa keberatan.”
“Apa Tuan? Saya akan lakukan apapun asal istri dan anak saya sembuh,” desak Arman.
Jonas menghela nafasnya sejenak, sebelum kalimat yang terasa berat akhirnya ia keluarkan. “Kita tukarkan anak kita.”
Arman menggeleng, menurutnya itu alasan yang konyol. “Bagaimana...”
“Saya tahu. Kamu mungkin berpikir saya gila. Tapi saya juga tidak ada pilihan lain Arman. Percayalah jika kau memberikan putramu, saya akan menganggapnya seperti putra saya sendiri, saya akan memberikan apapun maunya, dan saya pastikan putramu akan sembuh. Begitupun dengan kamu, anggaplah putri saya sebagai anakmu sendiri.”
Hening!
Kedua lelaki itu kembali sibuk dalam pemikirannya. “Istri saya mengetahui jika anak kami itu laki-laki, Tuan. Dan bagaimana saya menjelaskan jika nanti ia sadar, kalau anak kami tiba-tiba berubah perempuan."
“Katakan saja sebenarnya. Namun, secara pelan-pelan. Kelak diusia sepuluh tahun saya akan menemui kalian, dengan membawa anak-anak kita.”
💞💞
Alana menutup mulutnya mendengar cerita Papanya. Ia terisak sambil memeluk suaminya. Dave senantiasa mengusap punggung Alana. Ada perasaan kasihan menyusup dalam relung hatinya, artinya apa yang selama ini ia dapatkan seharusnya menjadi milik Alana.
“Namun, kami tidak menepati janji. Harusnya di usia kamu yang sepuluh tahun. Kami membawa kamu bertemu dengan kedua orang tua kamu, Dave. Mamamu begitu kekeh tidak ingin memberikan kamu pada orang taumu. Hati Papa sakit Dave. Setiap melihatmu Papa merasa bersalah karena telah memisahkan kamu dengan orang tuamu. Hingga akhirnya, Papa memilih untuk tidak peduli dengan kehadiranmu. Membiarkan kamu membenci Papa. Dan juga Papa memikirkan putri Papa yang entah bagaimana nasibnya.”
Sekarang Dave mengerti mengapa Ibu Ratmi mengatakan jika Papanya itu pembohong dan penipu. Dan juga ia pun paham mengapa dulu saat mendiang Mama Erlin masih hidup, Papanya memilih bersikap dingin hingga akhirnya selingkuh. Laki-laki itu ternyata memendam kesakitan hatinya yang luar biasa, atas keegoisan Mamanya dulu.
“Di usia lima belas tahun Papa mencoba mencari keberadaan orang tua kamu, Dave. Namun, tidak berhasil Papa temukan. Lalu—” pandangannya mengarah pada Alana.
“Enam tahun yang lalu tiba-tiba kamu datang membawa Alana. Papa terkejut ketika melihatnya, ketika pertama kalinya Papa menatap matanya Papa merasa sesuatu yang tak asing. Diam-diam Papa juga mencari tahu tentang dirinya. Lagi-lagi hasilnya nihil.”
Alana mengerti, setelah pernikahannya dengan Dave. Lelaki itu memang merahasiakan jati diri Alana, termasuk keadaan Ibu Ratmi yang ternyata mengalami depresi.
“Maafkan Papa Dave, Alana. Setelah ini kalian pasti akan sangat membenci Papa. Belum lagi perbuatan Papa yang sempat menghalangi kedekatan kalian. Papa membenci diri Papa, yang tak berdaya untuk melakukan apapun. Termasuk mempertahankan kamu di sisi Papa. Bahkan Papalah penyebab kematian Ibumu Alana.”