Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Bibirmu Manis


Dave menarik tangannya, dari pinggang ramping Alana lalu berkata, “Ku pikir pinggangmu terlalu kecil. Ada baiknya kau lebih berisi sedikit.”


“Benarkah?” seru Alana.


“Hem.. seperti Salma misalnya,” jawab Dave tergelak.


Alana tertawa kecil, menepuk pelan dada lelaki itu. “Jangan seperti itu. Dia bahkan sudah stress dan sering mengeluh untuk menurunkan berat badannya.”


“Hem, begitu. Untuk itu kau jangan suka melewati sarapanmu. Cepatlah mandi, aku akan menunggu mu di bawah,” kata Dave seraya menggerakkan tangannya untuk mengusap rambut Alana yang tampak berantakan. Sejenak, perempuan itu merasa tersentuh. Alana paling suka di bagian saat Dave mengusap rambutnya. Meski terasa seperti seorang anak kecil, namun hal itu pun mampu membuat tersenyum mana kala jantungnya berdetak kuat.


“Iya Dave,” sahutnya.


Usapan tangan Dave kini berpindah pada pipi perempuan itu, kemudian beralih pada bibir Alana yang terlihat sedikit membengkak akibat ciumannya tadi. Keduanya masih bergeming, Alana bahkan tak ada niat untuk menghindar.


Namun, ucapan Dave selanjutnya mampu membuat Alana terkejut, sekaligus merasa senang. “Ngomong-ngomong bibirmu sangat manis. Aku suka, terima kasih.”


Alana melongo, hingga bibirnya terbuka secelah, seiring dengan usapan tangan Dave yang berakhir. “Jangan lupa aku menunggumu sarapan di bawah. Jadi, bergegaslah mandi,” sambung Dave seraya kembali mengecup pelan bibir Alana, lalu berbalik meninggalkan kamar istrinya.


Ketika Dave sudah berlalu pergi, Alana langsung menutup pintunya dengan cepat. Masih berada di belakang pintu, Alana bersandar, memegang bibirnya.


Bayangan ciuman tadi terlintas, seketika membuat Alana merona, jantungnya berdegup lebih kencang. “Dave Menciumku pagi-pagi,” ucapnya. Seketika ia mengetuk pelan kepalanya, kala menyadari bahwa ia baru bangun tidur. “Bisa-bisanya aku dicium belum sikat gigi, ya ampun jorok sekali.” sambungnya. Tapi, kenapa Dave tidak ilfil, bahkan lelaki itu justru memuji bibirnya terasa manis. Bahkan sampai mengucapkan terima kasih.


Hati Alana menghangat kala pujian itu meluncur dari bibir Dave. Jujur dibandingkan dengan ia di beri sejumlah uang, meskipun ia membutuhkannya. Alana jauh lebih suka di puji atau ucapan terima kasih. Karena sejatinya ia jadi seperti merasa seorang istri sesungguhnya, tidak seperti perempuan ja Lang yang hanya di gaji demi memberi kepuasan.


Masih tersenyum menepuk bibirnya. Tangan Alana berpindah pada dadanya yang berdegup kencang. Seketika ia baru tersadar dengan pakaian tidur yang ia kenakan.


“Ya ampun. Pakaianku kenapa seperti ini!” pekiknya. Pantas saja tadi Dave melihatnya tak berkedip. Alana meneguk ludahnya kasar, merutuki kebodohannya karena tak mengecek pakaiannya lebih dulu, saat hendak membuka pintu. Kira-kira Dave berpikir jika ia sengaja menggoda apa tidak, pikirnya.


Alana menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikirannya itu. Ia beranjak menuju kamar mandi.


🦋🦋


“Jadi, nanti ada pertemuan dengan siapa?” tanya Dave pada Zain. Keduanya tengah berada di meja makan menikmati secangkir teh. Baik Dave dan Zain, belum menyentuh makanan apapun, mereka menunggu Alana. Dave tidak ingin Alana melewatkan sarapan paginya, karena bagaimanapun ia bertanggung jawab akan kesehatan perempuan itu.


“Dari PT Adiyaksa, Tuan!”


“Menurutmu siapa yang akan mewakili kali ini. Apakah Tuan Aslan sendiri, atau putranya. Karena yang ku dengar Tuan Arfa kini beralih memimpin perusahaan Day Rio Skin.”


“Mereka bilang, Tuan Arfa yang akan datang.”


Dave mengangguk, sedikit kagum dengan kecerdasan lelaki itu. “Keren. Aku salut, dia masih muda. Tapi sanggup mengendalikan beberapa perusahaan orang tuanya. Makanan kesukaan dia apa?”


“Tidak ada. Dari yang saya dengar dia hanya menyukai kopi hitam yang sedikit pahit.”


“Pagi Alana.”


“Pagi Nona.”


“Kemarilah duduk, ayo kita sarapan,” ujar Dave menepuk kursi di sebelah kirinya. Karena sebelah kanan sudah terisi Zain.


Alana mengangguk, menurut perkataan suaminya. Entahlah pagi ini ia merasa senang seperti mendapatkan imun baru.


“Biar ku ambilkan nasinya,” tawar Alana ketika Dave hendak beranjak mengambil nasi sendiri.


“Oke.”


“Wah enaknya yang punya istri. Saya juga dong Nona,” seru Zain dengan bercanda.


“Boleh. Kemarikan piringnya,” pinta Alana. Zain tentu terkejut kala istri atasannya itu menanggapinya serius. Ia pun mengulurkan piringnya.


“Ya, kasihanilah Asisten ku yang jomblo itu, Alana.”


Zain berdecak kesal. Namun, ia memilih diam. Alana hanya menanggapinya dengan tertawa.


Sarapan pagi itu terlihat hikmat, ketiganya makan dengan lahap. Sesekali akan terdengar obrolan. Hingga makan malam usai, Dave pun berniat untuk berangkat.


“Dave, apakah nanti aku boleh main ke kantormu?” tanya Alana saat melihat suaminya itu bersiap.


“Tentu saja! Datanglah kapanpun kau mau,” sahutnya seraya beranjak pergi.


.


.


.


.


Likenya, jangan lupa sayang-sayangku.


Kalau belum ditekan, balik lagi di like ya.


Terima kasih ^^