
Alana tengah membantu putranya memakai sepatu. Sementara itu Dave keluar dari kamar Gala kepalanya mengapit ponsel yang tegah tersambung dengan seseorang, sementara tangannya mencoba bergerak kesusahan memakai dasinya.
“Jika tidak salah berkasnya ada di ruang kerjaku Zain.”
“Tidak ada, Tuan!” sahut Zain dari balik telpon.
“Hah! Tidak ada? Di mana ya?” Dave bergumam sambil berpikir, menghentikan gerakan tangannya memasang dasi, mengambil ponselnya.
“Sepertinya ada di—”
Dave menghentikan ucapannya sejenak. Mana kala tiba-tiba Alana datang membantunya memasang dasi di lehernya. Ia tersenyum menatap wajah istrinya dari jarak dekat. “Cantiknya...”
“Hah! Apa Tuan? Saya bertanya berkas Tuan?” pertanyaan Zain menyadarkan ia jika telpon masih tersambung. Alana menahan tawanya geli.
“Oh iya. Coba kamu cari di kamar istriku dulu. Kayaknya aku kerjakan di sana kemarin.”
Hening, sejenak. Dave masih menatap wajah istrinya dari jarak dekat. Hingga terdengar suara Zain di balik telpon lagi.
“Bagaimana?” tanya Dave.
“Ketemu Tuan.”
“Hemm...” Dave hanya berdehem mematikan teleponnya. Alana menepuk dada suaminya, ketika dasinya sudah terpasang rapi. “Sudah. Tinggal berangkat!” ujar Alana hendak berlalu. Namun, dengan cepat Dave merengkuh pinggang istrinya. Setelah sebelumnya meletakkan ponselnya di saku.
“Lepas, Dave.” Alana berusaha memberontak. Namun, sang suami semakin mengeratkan tangannya.
“Cium dulu!” pintanya.
Alana melotot mendengarnya. “Jangan aneh-aneh ada Gala.”
Dave menatap ke arah putranya yang tengah mencoba menghabiskan segelas susu. “Gala sayang, bisakah kamu tutup mata lima menit aja. Terus jangan menoleh ke arah Mami dan Papi ya? Jika kamu menurut, Papi akan memberimu hadiah apapun yang kau mau.”
“Oke Papi.”
“Hemm anak pintar!” puji Dave lalu menatap ke arah istrinya kembali, yang merenggut kesal. “Buruan,” pintanya menaik turunkan alisnya.
“Besok saja kalau udah di rumah," kilah Alana.
“Pengennya sekarang kok di suruh nanti,” dumel Dave.
Cup!
“Apaan begitu doang gak berasa.”
Alana mendelik tak percaya. Bukan karena ia merasa keberatan melakukan hal semacam itu, hanya saja rasanya kurang pantas bermesraan tapi di depan putranya. “Ya kalau kamu mau emmhhhh....” Alana terbelalak saat dengan cepat suaminya langsung mencium bibirnya, ********** sejenak, lalu melepaskannya.
“Kenapa pipimu malah merona,” goda dengan gemas ia kembali menghujani kedua pipi Alana dengan kecupan.
“Papi, Mami apakah ini belum ada lima menit?” pertanyaan Gala membuat keduanya tersadar. Mereka baru ingin membuka mulutnya untuk bersuara. Namun, suara pintu yang terbuka mengurungkan niatnya.
Ibu Ratmi datang dengan membawa kantong kresek yang entah isinya apa. “Ibu?” Alana langsung beranjak menghampiri Ibunya.
Sementara Ibu Ratmi masih hanya diam menatap wajah Dave dengan sendu. Hal itu membuat Dave merasa heran.
“Bu, bisakah saya berbicara sebentar? Ini tentang saya dan Alana,” pinta Dave hati-hati.
Ibu Ratmi mengerjapkan matanya berulang kali, lalu mengangguk. “Iya. Mari kita bicara. Alana bawa ini ke dapur. Ibu akan menunggu kamu di sini.”
Alana mengambil alih kantong kresek Ibunya, yang ternyata berisi sayuran. Ia hendak berlalu ke dapur.
Tok! Tok!
Suara pintu di ketuk dari luar mengurangkan niatnya.
“Biar Alana yang buka, Bu.”
Ibu Ratmi menggeleng. “Biar Ibu saja!”
Perempuan setengah baya itu berlalu memutar tubuhnya, berniat membuka pintu.
Ceklek!
Pintu terbuka, sosok lelaki setengah baya berdiri di depannya, hal itu membuatnya terkejut, emosinya langsung meledak.
“Ratmi?”
Plak!!
Tanpa di sangka Ibu Ratmi mendaratkan tangannya di pipi lelaki itu, lalu mendorong sekuat tenaganya. “Di mana putraku??!!”