Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
96. Hari Pernikahan


Gaun indah telah melekat ditubuh ideal Alina. Riasan di wajah dan rambutnya membuat penampilan Alina menjadi semakin bersinar. Sebenarnya tak perlu diberi sentuhan apapun, wajah dan penampilan Alina sudah terlihat memukau. Namun hari ini sangat istimewa baginya, dia harus terlihat berbeda dan tentunya jauh lebih daripada biasanya.


Alina tersenyum menatap dirinya di depan cermin. Zara yang melihat sang putri sudah terlihat luar biasa dengan penampilannya, berjalan menghampirinya.


"Sayang, kamu cantik banget," ucapnya.


"Makasih, Ma." Alina menatap ke arah mamanya. "Makasih untuk segalanya ya, Ma. Berkat Mama, Alina bisa menjadi seperti sekarang. Mama dan Papa sangat luar biasa."


Zara menyentuh pipi putrinya. "Sayang, salah satu semangat kami untuk terus menjalani hari tak lain karena kalian. Kalian bertiga adalah satu-satunya kenikmatan yang selalu kami syukuri, jadi nggak perlu adanya kata terima kasih untuk semua yang telah kami lakukan pada kalian."


Alina tersenyum haru mendengar perkataan mamanya. Betapa besar kasih sayang seorang orang tua kepada anaknya. Setelah ini dia akan menjadi seorang istri dan setelah itu akan menjadi seorang ibu. Entah kenapa dia jadi tidak sabar untuk menjadi seorang ibu. Apakah dia bisa menjadi seorang ibu seperti mamanya?


"Alina sayang, Mama," ucap Alina sembari memeluk tubuh mamanya.


Zara mengusap pelan bahu putrinya, kemudian dia segera melepasnya.


"Jangan lama-lama peluknya, nanti riasannya rusak," ucap Zara kemudian.


Cklekk!


Suara pintu yang terbuka terdengar, membuat Zara maupun Alina menatap ke arahnya.


"Rena?" ucap Alina saat melihat temannya yang muncul dibalik pintu.


Rena tersenyum sumringah. "Hai, apa aku terlambat?"


"Kamu dari mana? Acaranya sudah mau dimulai," ucap Alina.


"Sorry, kita harus putar balik karena baju Andi tak sengaja terkena noda jus-ku," ucap Rena sembari berjalan masuk ke dalam.


"Yasudah, kamu temani Alina ya, Sayang. Bibi mau ke depan dulu. Paman pasti sudah menunggu Bibi."


Rena dan Alina mengiyakan. Setelah Zara keluar dari sana, Rena terlihat loncat-loncat kecil. Dia nampak mengagumi penampilan Alina yang sangat luar biasa. Temannya itu terlihat seperti penampakan seorang puteri di negeri dongeng yang pernah dia baca kisahnya.


"Kamu benar-benar cantik banget sih, Al. Rico nggak salah sudah memilih kamu sebagai pasangannya. Ah, aku jadi ingin menikah agar bisa terlihat cantik seperti ini," ucap Rena dengan hebohnya.


Alina tertawa karenanya. Meskipun Rena selalu bertingkah berlebihan, namun wanita itu selalu jujur dengan perkataannya. Bahkan dia selalu apa adanya dalam setiap tingkah menyebalkannya.


*


Satu jam kemudian, suara akad mulai terdengar di aula ballroom hotel tempat Alina melangsungkan pernikahannya. Suara Rico yang begitu tegas membuat hati Alina bergetar. Saat kata sah mulai terdengar dari para saksi, saat itu juga Alina langsung bernafas lega. Dia tersenyum lebar menatap Rena, begitupun Rena yang mulai terlihat berkaca-kaca matanya.


"Al, kamu sudah menjadi istri Rico," ucap Rena dengan tak kuasa menahan tangisnya.


Alina menganggukkan kepalanya. "Kenapa kamu menangis?" tanya Alina kemudian.


Dia yang tadinya terharu kini ingin tertawa saat melihat Rena yang hendak menangis.


"Aku terharu. Aku nggak nyangka kita bisa berteman sejauh ini. Yang awalnya aku nggak suka sama kamu, tapi kini aku yang paling bahagia melihat kamu menikah."


Ckleekk!


Suara pintu terbuka membuat interaksi dua orang sahabat itu terputus. Mereka menatap ke arah seorang panitia yang meminta mereka untuk segera keluar.


Alina menatap kembali ke arah Rena sebelum beranjak dari sana.


Bukannya berhenti, Rena justru semakin terharu mendengar perkataan Alina. Membuat Alina semakin heran dibuatnya.


"Hey, kamu kenapa? Kenapa tambah nangis?" tanya Alina.


"Aku hanya terharu saja sama kamu, Al. Kamu satu-satunya teman yang paling baik yang pernah aku kenal. Aku nggak tahu bagaimana lagi harus memujimu, Al."


"Ren," ucap Alina cepat. "Kalau mau masih begini, aku tinggal ke depan ya. Aku sudah ditunggu oleh orang-orang loh."


Rena pun memanyunkan bibirnya, kemudian setelah itu dia beranjak dari duduknya dan mengajak Alina untuk segera keluar dari sana. Dia mengiring Alina dengan perasaan yang bahagia. Begitu sudah berhadapan dengan Rico, dia segera menyerahkan Alina kepada suaminya itu dan Rena berjalan menuju meja kosong di samping Andi.


"Kamu mau juga?" tanya Andi dengan nada menggoda.


"Mau apa?" tanya Rena yang berpura-pura tidak tahu.


"Menikah."


Rena melirik sekilas kepada Andi, kemudian dia langsung mengerlingkan matanya menatap pada Alina dan Rico di depan sana. Dia terlihat acuh dengan perkataan Andi karena menurutnya, pacarnya itu pasti hanya omong kosong dengan perkataannya. Dia sangat malas meladeninya dan lebih memilih untuk mengacuhkannya saja.


"Sayang," ucap Andi.


Rena masih tak merespon panggilan Andi. Dia tetap bersikap acuh padanya.


"Sayang," panggil Andi lagi. Kini dia merangkul pinggang Rena, sehingga membuat wanitanya iru terlihat kesal dan akhirnya menatap ke arahnya.


"Apa sih," ucap Rena dengan kesal.


"Kamu kenapa cuekin aku sih, aku 'kan nanya sama kamu," tanya Andi.


Rena menghela nafasnya.


"Kamu mau jawaban apa memangnya hem?" tanya Rena dengan wajah malasnya.


"Kamu kenapa?" tanya Andi heran.


"Sudahlah, aku malas membahas hal ini sekarang. Jangan membuat mood aku rusak di pernikahan sahabatku."


Andi semakin heran dengan pacarnya itu. Kenapa juga moodnya memburuk gara-gara pertanyaannya? Memangnya apa yang salah dari pertanyaannya, pikirnya.


Andi yang tak bisa mendiamkan ketidakpahamannya ini lantas kembali memanggil pacarnya itu dan bertanya.


Rena pun semakin terlihat kesal, entah pacarnya itu kenapa sangat tidak peka.


"Kamu nanya apa aku ingin menikah? Ya, jawabannya iya, aku mau. Itu sajakah yang mau kamu ketahui, em?"


Andi terdiam melihat Rena yang menjawab pertanyaannya dengan emosi. Apa jangan-jangan Rena marah karena dirinya yang belum juga mengajaknya ke jenjang serius?


Andi menghela nafasnya, jika memang itu benar, lalu dia harus bagaimana? Bukannya dia tidak mau menghalalkan Rena dengan segera. Dia mau, sangat mau, namun ada sesuatu yang harus dia lakukan sebelum memulai rumah tangga bersama wanita yang dia cintai itu. Dia tidak mau jika keputusannya untuk buru-buru menikah justru akan membuat rumah tangganya yang terutama istrinya terluka karenanya.


"Kenapa diam saja? Kamu bertanya hanya iseng saja, 'kan? Bukan karena memang ingin menikahiku," ucap Rena lagi yang kini membuyarkan lamunan Andi.


"Maaf," ucap Andi kemudian. Hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan saat ini.


Rena pun tersenyum sungging mendengar kata maaf itu. Tak mau melanjutkan obrolannya mengenai pernikahan karena diah tahu jika obrolan tentang hal itu tidak akan pernah ada ujungnya. Dari pada hanya akan membuat moodnya rusak, lebih baik dia fokus pada pernikahan sahabatnya yang kini sedang berjalan.