Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
101. Honeymoon l


Tiket pesawat pertama yang didapatkan Alina dan Rico ialah menuju negara yang sangat mereka ingin kunjungi yaitu, Swiss. Setelah berjam-jam berada di dalam pesawat, kini mereka telah tiba di negara yang akan terkenal akan keindahan panorama alam yang sangat memanjakan mata.


Alina sangat senang sekali mendapatkan hadiah yang akan memberikan momen indah pada awal pernikahannya. Semoga saja dia dan Rico bisa memberikan apa yang diinginkan orang tua mereka sehingga apa yang telah mereka dapatkan saat ini bisa membalas semuanya dengan rasa bahagia.


Anak? Ya itu yang orang tua mereka inginkan. Dengan senang hati akan mereka penuhi permintaan orang tua mereka karena sejujurnya Alina juga sangat menyukai anak kecil. 


Rico dan Alina kini telah tiba di sebuah wisma di pegunungan. Alina dan Rico bukanlah pecinta ketinggian, namun tempat tinggal yang telah disediakan oleh orang tua mereka ini sungguh membuat suasana hati mereka tampak tenang akan kesunyiannya.


Tempat ini dibangun di sisi gunung tepat di bawah puncak salah satu pegunungan yang ada di sebelah selatan dataran tinggi Swiss. Penginapan asrama tampaknya duduk genting di tebing vertikal, tapi terlihat bisa menipu. Akses menuju ke sana bisa melalui kenaikan menantang dan mobil kabel. Terdapat wisma-restoran, dengan pemandangan yang menakjubkan. Mungkin saja, bagi yang tidak menyukai ketinggian pasti akan melupakan ketidaksukaannya itu karena di sini siapapun pasti akan sangat merasa tenang dan nyaman.


Karena saat itu waktu hari sudah menggelap, jadi Rico dan Alina memutuskan untuk istirahat lebih awal agar besok pagi mereka bisa melihat pemandangan yang indah sebelum matahari terbit dengan semangat baru.


"Sayang, kamu mandilah lebih dulu  aku mau merapikan pakaian kita," ucap Alina sembari mendekati koper milik mereka berdua.


Tak ada sahutan dari Rico, pria itu hanya berjalan ke arahnya tanpa mengeluarkan suara. Alina yang melihat suaminya itu berjalan ke arahnya lantas mengernyitkan keningnya.


"Kenapa? Apa ada yang dibutuhkan?" tanya Alina.


"Aku membutuhkan sesuatu," ucap Rico.


"Apa?" tanya Alina lagi.


"Kamu."


Alina kembali mengernyitkan keningnya, namun belum 2 detik berpikir dia sudah mengerti akan maksud dari perkataan suaminya itu.


"Sa-sayang, kamu nggak serius 'kan mau melakukannya di kamar mandi?"


"Hah?"


Sejenak Rico masih tak paham akan maksud istrinya itu, namun sedetik kemudian dia langsung tertawa begitu mengerti maksud dari ucapan istrinya itu.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Rico yang masih menahan geli. 


Alina pun yang ditanya seperti itu dengan reaksi Rico yang menyebalkan terlihat malu dan mengusap leher belakangnya dengan tak enak hati. Apakah dia salah mengartikan perkataan suaminya itu?


"Maksud kamu gimana? Kamu bilang tadi membutuhkan aku, aku nggak ngerti loh, Sayang," ucap Alina.


"Kamu nggak ngerti, tapi kenapa bisa berasumsi seperti itu?" tanya Rico yang kembali membuat Alina merasa malu.


"Aku, aku…"


Alina tergagu, tak bisa menjawab pertanyaan suaminya itu. Jujur saja dia memang tidak mengerti apa maksud dari perkataan suaminya itu, namun entah kenapa pikirannya menjadi kotor seperti ini. Apakah ini efek dari awal pernikahan mereka? 


Alina menundukkan kepalanya, dia benar-benar malu kepada suaminya itu.


Rico yang melihat istrinya malu pun lantas meletakkan jari telunjuknya ke bawah dagu Alina, membuat mereka bertatapan satu sama lain 


"Kenapa malu? Nggak ada yang salah dengan pikiran kamu sebagai manusia kok. Aku justru suka kalau kamu berpikiran terbuka seperti itu terhadapku."


Alina mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan suaminya itu. 


"Kalau kamu suka, kenapa kamu menertawakanku?"


"Aku hanya nggak nyangka saja kalau kamu bisa berpikir seperti itu."


Alina kembali mengerucutkan bibirnya, 


"Its oke, nggak papa. Jangan merajuk dong istriku yang paling cantik," ucap Rico sembari memuji.


"Apaan sih, tumben banget muji kayak gitu," ucap Alina.


Rico terkekeh kecil melihat ekspresi menggemaskan istrinya. 


"Ya sudah aku mandi dulu ya."


Rico hendak bangkit dari duduknya, namun sebelum itu Alina lebih dulu menahan tangannya sehingga membuat pria itu kembali duduk di sampingnya.


"Kenapa?" tanya Rico. 


"Kamu bilang tadi membutuhkan aku, memangnya kamu membutuhkan aku untuk apa?" tanya Alina yang kini penasaran dengan ucapan suaminya beberapa menit lalu.


"Enggak aku hanya bercanda saja," jawaban Rico yang berhasil membuat Alina terheran. 


"Bercanda? Kamu sengaja menggodaku ya?"


Rico kembali terkekeh, kemudian mengusap lembut kepala istrinya dan membenamkan kecupan singkat pada keningnya.


"Maaf ya."


"Kenapa sih iseng banget, aku 'kan malu. Sebaiknya kamu jangan sering-sering berteman dengan bang Morgan deh, begini 'kan jadinya kalau suka bergaul dengan bang Morgan," ucap Alina yang berujung menyalahkan abang keduanya atas keisengan Rico padanya. 


"Kenapa jadi nyalahin Morgan?" tanya Rico heran. 


"Bang Morgan sering banget mengisengiku dan kini kamu yang mengisengiku. Pasti sifat iseng bang Morgan sudah tertular sama kamu, 'kan."


Lagi-lagi Rico harus terkekeh mendengar perkataan istrinya. Memang benar jika Morgan suka sekali mengisengi Alina dan dia pun belajar sedikit dari keisengan kakak iparnya itu untuk mengisengi Alina. Sepertinya mengisengi Alina adalah salah satu kesukaannya karena Alina akan terlihat sangat menggemaskan jika sedang kesal.


**


Karena waktu Swiss dan Indonesia sangat jauh berbeda, baru saja memejamkan matanya dua jam lalu kini alarm pengingat waktu sholat sudah berdering. Mau tak mau Alina dan Rico harus bangkit dari tidur singkatnya.


selimut tebal yang menghangatkan tubuh sepasang kekasih itu terpaksa harus dilepas. Menyisakan tubuh mereka yang nyaris tanpa busana karena baru saja melewatkan malam indah sebagai pengantin baru.


Alina merentangkan kedua tangannya ke atas, mengusir kantuk yang benar-benar membuat tubuh sangat merasa nyaman untuk terlelap. Saat dirinya tersadar akan tubuhnya yang tanpa mengenakan pakaian dalam selimut, seketika itu juga dia teringat akan apa yang telah dia lewatkan semalam. Alina menelan ludah, melirik ke arah belakang tubuhnya yang terdapat seorang pria tampan yang juga tanpa busana sedang menatap ke arahnya.


Alina terdiam sejenak, pandangan mereka menyatu cukup lama sampai saat senyuman pria tampan di depannya itu berhasil membuat Alina tersadar. Alina terlihat salah tingkah, dia berusaha untuk tersenyum meskipun dengan terpaksa.


"Morning my wife," seru Rico dengan suara serak khas bangun tidur.


"Em, mo-morning," sahut Alina.


"Gitu aja?" ucap Rico yang membuat Alina menaikkan kedua alisnya.


"Maksudnya?" tanya Alina yang masih belum mengerti.


"You are my wife, and me?"


Alina tersenyum geli, dia baru mengerti akan maksud ucapan suaminya itu.


"Morning too my boo."


Rico seketika tersenyum lebar mendengar sahutan istrinya itu. Boo?