
Malam itu Rico mencoba menghubungi Alina dengan nomor ponsel yang diberikan kemarin. Sejak malam Rico mengantar Alina pulang dari cafe, dia memang belum sempat menghubungi wanita itu karena pekerjaan yang menumpuk.
Satu panggilan yang dilakukan Rico tak membuat Alina segera menjawab. Rico tak tahu apa yang sedang dilakukan wanita itu saat ini, namun dia kembali berusaha menghubungi wanita itu untuk kedua kalinya. Dan pada panggilan kedua, tanpa menunggu lama Alina langsung menjawab panggilannya.
"Halo?" ucap Alina lebih dulu dari seberang sana.
"Hi, Al," sapa Rico.
"Maaf, siapa?" tanya Alina penasaran.
"Aku Rico. Maaf baru menghubungimu sekarang."
Mengetahui jika pria itu yang meneleponnya, Alina di seberang sana membulatkan mulutnya membentuk huruf o.
"Its okay. Ada apa, Co?"
"Nggak papa. Apa kamu sibuk?"
"Em, aku lagi ngerjain tugas kuliah. Kenapa? Mau ngajak keluar?" tanya Alina dengan menebak asal. Dan hal itu berhasil membuat Rico tersenyum.
"Tadinya sih begitu, tapi kamunya lagi sibuk, sebaiknya lain kali saja kalau kamu luang," ucap Rico.
"Besok aku luang," sahut Alina kembali.
Dan lagi-lagi Rico tersenyum mendengarnya. Sepertinya Alina cukup percaya diri dengan situasi yang sedang berlangsung. Entah wanita itu hanya bercanda, sungguh-sungguh, atau hanya asal saja, yang pasti Rico senang mendengarnya.
"Em, kalau begitu boleh deh besok."
"Oke," sahut Alina singkat.
Hening, membuat Rico mengernyitkan keningnya. Dia menatap ke arah layar ponselnya dan saat merasa panggilan masih terhubung, dia menempelkan kembali ponsel itu ke telinganya. Tak ada yang berubah, masih tak ada suara pada speaker ponselnya. Rico jadi bingung mau mengatakan apa lagi karena sejak tadi Alina selalu menjawab pertanyaannya dengan kalimat akhiran. Seolah wanita itu ingin menyudahi panggilannya.
Mengingat Alina yang juga sedang sibuk dengan tugas kuliahnya, Rico akhirnya memilih untuk mengakhiri panggilannya. Dia tidak mau mengganggu Alina yang sedang belajar, lebih baik dia menghubungi wanita itu esok hari saja.
Dan keesokan harinya sebelum jam makan siang berlangsung, Rico kembali menghubungi Alina untuk mengingatkan kembali tentang perbincangan singkat mereka semalam. Tak butuh waktu lama untuk Alina menjawab panggilan Rico karena wanita itu saat ini memang sedang berkutit dengan ponselnya.
"Halo?" ucap Alina lebih dulu setelah panggilan terhubung.
"Hai, Al."
"Maaf, siapa?"
Baiklah, sebuah awal percakapan yang sama dengan saat semalam mereka lakukan. Rico mengernyitkan keningnya, merasa dejavu dengan kalimat yang Alina layangkan.
"Al, kamu nggak save nomorku?" tanya Rico tanpa menjawab pertanyaan Alina.
Alina yang mendengar pertanyaan itu lantas tertawa geli.
"Bercanda, Co. Ada apa?" tanya Alina.
"Hem, aku kira kamu beneran nggak save nomorku."
"Walaupun aku belum menyimpan nomormu, tapi aku tahu suaramu, Co. Katakan, ada apa kamu nelepon aku?" tanya Alina.
"Semalam kamu bilang kalau hari ini ada waktu luang."
"Benar. Apa kamu mau ngajak aku lunch bareng?" tanya Alina dengan menebak. Sepertinya Alina memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, pikir Rico. Terbukti sejak semalam wanita itu yang selalu memberi tebakan sekaligus berbasa-basi pada pertanyaannya. Dan dia menyukai itu.
"Kalau kamu nggak keberatan," ucap Rico.
"Tentu tidak. Kebetulan aku juga belum makan. Apa kamu ada rekomendasi tempat makan yang enak?" tanya Alina kemudian.
Rico menyebutkan salah satu tempat makan favorite-nya yang biasa dia kunjungi bersama Santi atau Andi. Dia ingin mengajak Alina ke sana untuk ikut mencicipi makanan favorite-nya di sana. Setelah Alina mengiyakan ajakannya, Rico segera bergegas merapikan meja kerjanya dan pergi menuju restoran kecil yang berada tak jauh dari lokasi kantornya berada.
Dia berniat menjemput Alina yang katanya masih berada di kampus, namun sayang wanita itu menolak tawarannya karena memang lokasi restoran yang akan mereka datangi ini berada di antara kedua lokasi mereka berada saat ini.
Dua puluh menit di perjalanan, kini mobil yang Rico kemudikan telah tiba di depan resto yang menjadi lokasinya makan siang hari ini. Sebelum turun, dia menghubungi Alina terlebih dahulu untuk menanyakan keberadaan wanita itu.
"Halo, Al. Kamu sudah di mana?" tanya Rico setelah panggilan terhubung.
"Aku masih di jalan. Kamu sudah sampai?" tanya Alina balik dan diiyakan Rico.
"Tunggulah aku di dalam, sebentar lagi aku sampai kok."
Rico menutup panggilannya setelah mengiyakan perkataan Alina. Dia meletakkan ponselnya ke dalam saku jas bagian dalam dan turun dari mobil untuk masuk lebih dulu ke dalam restoran.
Ramainya pengunjung di sana membuat Rico sedikit kesulitan untuk mencari tempat duduk. Memang itu bukanlah restoran mahal, namun rasa dari masakannnya yang sangat lezat membuat tempat makan itu selalu ramai, apalagi di jam makan siang seperti ini. Setelah mendapatkan meja yang kosong, Rico segera menuju ke sana dan mendudukkan tubuhnya.
Saat sedang memesan makanan pada pramusaji yang bertugas, bersamaan saat itu Alina masuk ke dalam resto. Rico yang melihat sosok wanita itu lantas melambaikan tangannya agar Alina melihat dan setelah itu Alina segera menghampirinya.
"Maaf aku terlambat. Ojolku tadi kehabisan bensin, jadi harus ikut mampir ke pom bensin dulu," ujar Alina sembari mendudukkan tubuhnya di depan Rico.
"Nggak papa kok. Kamu mau pesan apa? Aku baru saja memesan punyaku," ucap Rico.
Alina meraih buku menu yang masih di tangan Rico, kemudian dia menyebutkan beberapa makanan yang menjadi seleranya untuk makan siang hari ini.
"Apa ada tambahannya, Mas, Mba?" tanya pramusaji itu kepada Alina dan Rico.
"Nggak ada," ucap Rico dan Alina hampir bersamaan.
"Oh ya, Mas, untuk minumnya bisa minta diantar sekarang?" pinta Rico sebelum pegawai restoran itu berlalu dari sana. Dia sengaja meminta minuman untuk diantar lebih dulu karena melihat wajah Alina yang terlihat lelah setelah berpanas-panasan di jalan. Jika tidak request seperti itu, bisa-bisa minuman pesanan mereka akan datang lebih lama dan dia tidak tega melihat wajah wanita di depannya itu menahan lelah lebih lama.
Di meja yang terdapat angka seratus empat puluh, Rico dan Alina tampak berbincang santai sembari menunggu pesanan mereka datang. Mereka terlihat mulai akrab meski baru beberapa hari menjalin pertemanan. Entah itu karena mereka yang satu frekuensi atau karena memang mereka yang mudah berbaur dengan lingkungan baru. Yang pasti mereka berdua enjoy satu sama lain tanpa paksaan.
"Malam ini kamu ke mana?" tanya Rico.
"Kerja."
"Katanya kamu kerja sebagai supervisor, kenapa malam? Bukannya kerja seperti itu biasa di siang hari seperti jam kantor pada umumnya?" tanya Rico dengan heran.
"Harusnya sih begitu, tapi sejak pertama interview kita sudah bernegosiasi terlebih dahulu. Dan hasil negosiasi itu berakhir dengan mereka yang mengikuti jadwal kuliahku."
"Hah?" Rico tampak bingung dengan penjelasan Alina.
Sangat aneh menurutnya jika sejak awal pihak owner yang sengaja mengikuti jadwal calon pegawainya. Apalagi untuk pekerja reguler yang posisinya sebagai supervisor, bukan freelance atau pekerja part time. Kecuali, jika Alina memiliki orang dalam yang posisinya sangat tinggi seperti, owner. Yang di mana dia bisa sesuka hati dengan jam kerja yang dibuat atau membuat ulang jam kerja sesuai keinginannya.
"Kenapa?" tanya Alina saat melihat wajah bingung Rico.
"Em, aku merasa aneh saja. Kenapa pihak restoran mau mengikuti jadwal kuliah kamu, sementara saat interview itu kamu masih sebagai calon pegawai, bukan?" tanya Rico. Dia benar-benar penasaran kenapa Alina bisa bekerja di jam kerja yang sangat aneh itu.
"Sebenarnya anak pemilik resto itu kebetulan teman baikku saat di Oxford. Aku cukup dekat dengan orang tuanya karena dia memang sering ngajak aku main ke rumahnya. Saat aku kembali ke Indo, dia menawarkan pekerjaan ini untukku. Dan ... beginilah keadaannya, aku bekerja di restoran orang tuanya dengan posisi sebagai supervisor," seru Alina menjelaskan.
Rico terlihat masih ada yang mengganjal pikirannya. Rasanya seperti kurang masuk akal saja jika seorang teman bisa sampai diistimewahkan sebegitunya. Persis seperti cerita di film-film saja, pikirnya.
"Kalau kamu kerja malam, bagaimana kamu memantau keadaan di restoran?" tanya Rico lagi.
"Pagi dan malam sama saja, nggak ada bedanya. Justru yang harus dipantau adalah kondisi di malam hari yang pengunjungnya jauh lebih ramai."
Di situ Rico mulai membenarkan perkataan Alina. Pengunjung di malam hari memang selalu lebih ramai dibanding siang hari. Rico menganggukkan kepalanya dan memilih untuk mempercayai perkataan Alina, meskipun dia sendiri masih sedikit merasa aneh dengan jam kerja wanita itu yang tidak biasa.
Tak lama dari itu makanan pesanan mereka pun datang. Mereka mulai menikmati hidangan yang telah tersedia di atas meja sambil ditemani obrolan santai agar suasana tak begitu sunyi.
"Oh ya, Co. Kalau boleh tahu, kamu kerja di mana?" tanya Alina.
Dia memang belum banyak bertanya mengenai pribadi Rico karena memang sejak awal Alina tidak ada niatan untuk mengenal Rico lebih jauh. Dia hanya menuruti kemauan Andi yang ingin mengenalkan dirinya kepada teman prianya yaitu, Rico. Namun setelah merasa cukup nyaman berinteraksi dengan Rico, Alina jadi mulai penasaran dengan kehidupan pribadi teman barunya itu.
"Di RR Corps."
"RR Corps?" ucap Alina dengan wajah terkejut, namun tak terlihat excited. "Waw, keren sekali. Itu perusahaan yang sangat besar loh, Co. Apa posisimu di sana?"
Rico diam sejenak sebelum menyebutkan nama jabatannya di RR Corps kepada Alina. Rico memerhatikan ekspresi wanita itu saat dia menyebutkan jabatannya di sana.
Dari apa yang dia lihat, sepertinya Alina cukup terkejut dengan jawabannya itu. Namun yang aneh dipandangannya, Alina seperti tak terlihat excited saat bereaksk. Apa itu karena Alina sudah sering berjumpa dengan seorang teman yang memiliki jabatan tinggi?
"Kamu siapanya pak Irfan, Co?"
"Kamu kenal dengan pemilik perusahaan itu?" tanya Rico dengan heran. Kenapa Alina bisa mengenal papanya?
"Siapa yang nggak kenal dengan pak Irfan. Pria yang sangat baik dan ramah. Istrinya juga cantik dan lembut sekali."
Ya, Rico lupa jika kedua orang tuanya itu cukup terkenal di beberapa kota, apalagi di kotanya. Tak heran jika Alina juga mengenal kedua orang tuanya. Apalagi wanita itu bersahabat dengan Andi, seorang calon pemimpin perusahaan ternama di kotanya. Bisa saja dengan menjadi teman Andi, Alina juga memiliki banyak teman lainnya yang merupakan pemilik suatu perusahaan.
Tapi yang menjadi pertanyaannya, kenapa dia tidak mengenal wanita ini sebelumnya? Padahal Alina sudah lama berteman dengan Andi. Tapi sudahlah, lebih baik dia melupakan hal tidak penting ini.
"Ya, mereka memang sangat baik," sahut Rico akan pujian Alina yang dilayangkan untuk orang tuanya.
"Tunggu dulu." Alina tampak berpikir. "Kalau nggak salah, anak pak Irfan namanya juga Rico. Apa itu kamu, Co?" tanya Alina yang kemudian sangat penasaran.
"Ya, itu aku," jawab Rico dengan santai.
Alina menutup mulutnya dengan buku tangannya karena terkejut. Rico anak dari pengusaha sukses Irfan Renaldi?
"Kamu serius, Co?" tanya Alina dan langsung diiyakan Rico.
"Oh, ternyata ini toh yang namanya Rico Renaldi. Anak tunggal seorang Irfan Renaldi yang rumornya sangat tampan dan baik."
Rico menarik salah satu alisnya saat mendengar kata 'rumor' dalam kalimat yang diucapkan Alina.
"Rumor doang?" tanyanya.
Alina menaikkan kedua alisnya, kemudian dia tertawa geli. "Iya deh, bukan hanya rumor, tapi beneran tampan dan baik hati."
"Nggak ikhlas banget," ucap Rico dengan usilnya. Dan hal tersebut berhasil membuat Alina memutar bola matanya jengah. Dia hendak melayangkan protesnya, namun Rico lebih dulu tertawa, sehingga membuatnya mengernyitkan keningnya.
"Sorry, aku cuma bercanda kok. Jangan marah ya," ucap Rico dengan suara lembut di akhir kalimatnya.
Membuat siapapun yang mendengarnya akan seketika tersenyum, termasuk Alina saat ini. Dia tanpa sadar menampilkan senyumnya yang polos dan manis itu kepada Rico. Dan saat menyadari apa yang dia lakukan, Alina seketika membuang wajahnya ke arah sembarang karena malu ditatap Rico dengan intens.
Rico tersenyum senang melihat wanita itu yang tersipu malu. Alina lucu juga jika sedang tersipu, pikirnya.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.