Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
124. Rencana Rena


Menjelang magrib Rena baru saja tiba di kediaman Wilson. Dia datang dengan satu buah koper berukuran kecil di tangannya. Wanita itu datang ke sana seolah ingin melakukan pindahan. Bahkan Alina yang melihat temannya itu membawa koper lantas merasa sangat heran.


"Kamu mau nginap berapa hari di sini?" tanya Alina.


"Semalam saja. Memangnya kenapa?" tanya Rena pula.


"Trus, kenapa harus bawa koper? Kamu seperti mau pindahan tahu nggak."


"Apa berlebihan? Aku hanya bawa piyama, pakaian ganti untuk besok, dan juga alat make up serta juga skin care."


"Hanya itu saja, kenapa nggak bawa ransel saja?" ucap Alina yang masih mempermasalahkan koper yang dibawa oleh temannya itu.


"Ransel harus disandang, sedangkan koper 'kan tinggal di mendorong saja. Lagi pula kenapa kamu mempermasalah koperku sih, Al. Setahuku, tamu itu diajak masuk, bukannya malah diintrogasi di depan rumah," ucap Rena dengan gayanya yang khas. 


Alina terkekeh mendengar omelan temannya itu. Memang sedikit berlebihan membawa koper untuk menginap satu malam, namun begitulah Rena. Bukan Rena jika tidak melakukan hal yang berlebihan menurut Alina. Karena takut jija temannya itu yang akan mengomel lagi, Alina pun mengajak temannya itu untuk segera masuk ke dalam rumah. Dia langsung ngajak Rena menuju lantai dua, di mana kamarnya berada.


Saat mereka hendak menaiki anak tangga, saat itu Morgan tak sengaja lewat dengan dada tel4nj4ng dari arah dapur, membuat Rena yang tak sengaja melihatnya lantas membelalakkan matanya dengan terkejut. 


"Astaga," pekiknya membuat Alina menatapnya heran. 


"Ada apa, Ren."


Belum Rena menjawab, pandangan Alina langsung tertuju kepada abangnya yang saat itu sedang tak memakai pakaian.


"Astaga, Abang. Kenapa nggak pakai pakaian di depan temanku?" ucap Alina. 


"Ya Abang mana tahu kalau ada teman kamu di sini. Lagian ngapain dia ngeliatin Abang," ucap Morgan dengan santainya.


"Siapa yang ngeliatin kamu? Kamu yang berdiri di depan aku, dasar nggak tahu malu."


"What? Nggak tau malu? Wah, Al, temen kamu bener-bener ya–"


"Sudahlah. Abang masuk kamar sana, jangan berdiri di situ terus. Ayo, kita naik, Ren," ajak Alina pada Rena sembari menggandeng tangannya.


Rena pun mengiyakannya dan segera naik ke lantai atas sembari menuntun temannya yang berjalan dengan pelan. 


"Al, kenapa kamu nggak pindah di kamar bawah saja? Apa kamu nggak kerepotan dengan tubuh kamu yang seperti ini harus naik turun tangga?" tanya Rena yang terlihat cemas melihat temannya itu menaiki anak tangga dengan perut buncitnya.


"Santai saja, ada Rico yang membantu aku turun naik tangga kok. Lagi pula hitung-hitung sebagai ganti olahraga, aku 'kan memang nggak pernah olahraga selama ini."


Mendengar jawaban temannya itu, Rena mengernyitkan keningnya sembari menelan ludah. Dia sedikit bergidik saat temannya itu menjadikan hal yang berbahaya sebagai alat ganti olahraga seperti ini. Alina benar-benar sudah gila, pikirnya.


**


Satu jam sebelum tidur, Alina dan Rena terlihat sibuk dengan ponselnya masing-masing. Saat ini mereka tengah melakukan panggilan video bersama pasangannya yang berada di luar kota. Jika dua hari ini Alina akan melakukan panggilan video dengan Rico sampai dia tertidur, maka tidak dengan malam ini. Malam ini dia memiliki seorang teman yang akan tidur bersamanya, jadi dia tidak mau mengabaikan tamu spesialnya itu untuk mengobrol panjang dengan suaminya melalui panggilan video.  Selain itu, Alina juga ingin suaminya segera beristirahat dan tidak menunggunya untuk tidur terlebih dahulu, agar besok pagi dia bisa segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke sini. 


Beberapa menit sebelum tidur, Alina dan Rena menutup panggilannya pada pasangan mereka. Sambil menunggu kantuk menyerang, mereka pun melakukan obrolan singkat dengan kondisi lampu utama yang telah mati. Hanya satu lampu tidur saja yang menyala. Semenjak menikah, Alina lebih suka tidur dengan keadaan gelap, begitupun Rena yang memang sudah terbiasa tidur dengan lampu padam. 


Obrolan yang seharusnya berlangsung dengan singkat kini membuat mereka lupa waktu. Sebuah alarm di ponsel Alina menyadarkan mereka jika waktu telah menunjukkan pukul 12.00 malam. 


"Astaga, sudah jam dua belas, Ren. Rico pasti marah besar kalau tahu aku belum tidur jam segini," ucap Alina sembari menggigit bibir bawahnya. 


"Kamu sih dari tadi ngomong terus, ya aku ikut saja."


"Kamu juga kenapa nggak ngingetin aku, kalau kita sudah ngobrol lebih dari 3 jam?"


"Aku sudah terbiasa tidur malam dengan Andi. Aku pikir kamu sengaja nggak tidur karena belum mengantuk."


"Yaudah, ayo tidur cepat. Jangan sampai suamiku tahu kalau aku belum tidur."


Rena pun mengiyakan, kemudian mereka aegera memejamkan matanya. Namun belum 2 detik berlangsung, kini Alina kembali membuka matanya dengan rasa terkejut, yang membuat Rena merasa heran. 


"Astaga, aku lupa."


"Lupa apa?" tany Rena lagi. 


Tanpa berniat menyahuti perkataan temannya itu, Alina meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Dia membuka pengaturan alarm dan melihat keterangan pada alarm yang baru saja berbunyi tadi. 


"Tuh, 'kan benar," ucap Arina yang membuat Rena kembali merasa heran.


"Benar apanya sih, Al? Kamu kenapa?"


"Ren, ternyata besok hari ke ulang tahun Rico. Yang berbunyi tadi itu alarm pengingat hari ulang tahun Rico," ucap Alina memberitahu.


Memang Alina sengaja men-setting alarm di ponselnya untuk mengingatkannya akan hari ulang tahun suaminya itu. Saat alarm berbunyi tadi, dia tidak sempat melihat nama pengingat yang tampil di layar ponselnya, karena yang dia lihat hanyalah jam yang telah menunjukkan pukul 12.00 malam. 


"Rico ulang tahun?"


Alna menganggukan kepalanya.


"Iya. Besok 'kan dia pulang, aku harus memberi dia apa untuk dia ya? Besok kamu adalah kegiatan nggak? Temenin aku cari kado untuk suamiku yuk," ucap Alina dengan begitu hebohnya. 


"Rico pulang jam berapa?" tanya Rena terlebih dahulu.


"Aku nggak tahu, tapi sepertinya siang deh. Jadi kita pagi-pagi sekali sudah harus pergi."


"Apa kamu yakin? Waktunya mepet banget loh, Al. Tokoh-tokoh buka jam sepuluh pagi, kita nggak akan sempat."


Alina terdiam mendengar perkataan Rena. Benar sekali, waktunya tidak akan sempat, apalagi dia takut jika Rico akan pulang lebih awal. Bukannya memberi kejutan, yang ada dia malah akan diomeli oleh suaminya itu karena keluar tanpa izin.


"Jadi bagaimana dong? Aku pengen banget kasih surprise buat dia," ucap Alina.


"Gimana ya…?" 


Rena menopang dagunya dengan tangannya, dia terlihat berpikir untuk membantu temannya memberi kejutan kepada suaminya. Tak sampai 10 detik, Rena pun telah menemukan ide untuk membantu temannya itu.


"Bagaimana kalau kamu pura-pura merajuk saja dengan Rico?"


"Pura-pura merajuk? Maksud kamu seperti apa yang dia lakukan waktu aku ulang tahun kemarin?"


"Ya, kurang lebihnya begitu. Tapi kali ini kamu harus marah dengan sebuah alasan." 


"Contohnya?" tanya Alina. 


"Kamu harus telepon dia sebanyak 10 kali. Aku yakin Rico pasti sudah tidur dan nggak akan mungkin mengangkatnya. Nah, besok pagi kamu harus pura-pura marah karena panggilan kamu nggak direspon oleh dia. Besok pagi aku akan menghubungi bakery langgananku untuk mengirim kue ulang tahun. Saat Rico pulang,  kamu baru bilang sama dia kalau sebenarnya kamu hanya pura-pura menjahili dia."


"Tapi, masa aku hanya memberi dia kue doang? Hadiahnya apa?" tanya Alina meminta saran. 


"Untuk hadiah, 'kan bisa menyusul, Al. Yang penting kejutannya dulu, gimana?" ucap Rena sembari menaik turunkan alisnya.


"Terus, kalau tiba-tiba Rico mengangkat teleponku malam ini, gimana? Gagal dong rencananya."


"Dia nggak akan mungkin tahu kalau kamu menelpon. Kamu cukup miscall saja, saat panggilan mulai masuk, saat itu juga langsung kamu matikan. Lakukan sebanyak 10 kali, seolah kamu sedang membutuhkan dia malam ini."


Alina menaikkan salah satu alisnya kepada Rena. 


"Kamu sudah terbiasa ya memberikan kejutan-kejutan seperti ini pada Andi?" tanya Alina. Dia heran, kenapa temannya itu sangat banyak sekali ide-ide untuk hal seperti ini. 


"Kita pacaran sudah bertahun-tahun, Al. Hal seperti ini sudah sering kami lakukan. Dan sebelum sama Andi juga aku sering melakukannya dengan mantan pacarku."


Alina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ternyata temannya ini benar-benar sangat berpengalaman di dunia percintaan. Tidak salah jika dia meminta sedikit trik ataupun cara untuk memberikan kejutan kepada suaminya.