
Saat Rico menjemput Alina ke kantornya, pria itu masih sama dengan tingkahnya tadi pagi, bersikap cuek dan tak ada ramah-ramahnya sama sekali kepada istrinya. Alina yang sudah mengetahui alasan di balik tingkah laku suaminya itu tak lagi berpikiran yang aneh, dia hanya bisa menuruti rencana Rena tadi siang untuk balik mengerjai suaminya itu.
Seperti saat ini, Alina masih berpura-pura tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi. Dia berusaha untuk tetap ramah kepada suaminya dan mengajaknya ngobrol di sepanjang perjalanan pulang.
Rico pun masih dengan pendiriannya yang bersikap cuek kepada istrinya. Dia masih tetap menyahuti apa yang istrinya dikatakan, namun tak seperti biasanya yang terlihat ramah dan ceria. Pria itu hanya sesekali memberi tanggapan singkat yang sangat menyebalkan.
Sesuai dengan rencananya pada Rena tadi siang, Alina kini berpura-pura kesal karena suaminya itu yang terus mengabaikannya. Kini dia terus berakting persis seperti apa yang suaminya itu lakukan. Dia berpura-pura kesal dan merajuk kepada Rico atas sikapnya. Meski Rico terlihat tak peduli dengan aksi merajuknya itu, namun Alina tetap dengan rencananya. Dia tidak boleh menyerah begitu saja walaupun hatinya sangat merasa tidak nyaman dengan situasi mereka berdua saat ini.
Saat mereka tiba di rumah, Alina segera turun dari mobil tanpa menunggu Rico membukakan pintu untuknya. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah dan bertegur sapa dengan Santi dan Irfan yang saat itu sedang duduk di ruang tamu. Meski Alina terlihat cuek kepada Rico dan begitupun sebaliknya, namun mereka tetap bersikap normal kepada kedua orang tuanya. Mereka menegurnya dengan ramah, menyalaminya, dan berpamitan untuk segera membersihkan tubuhnya setelah menjalani aktivitas hari ini.
"Alina," seru Santi saat itu yang membuat Alina menghentikan langkahnya. Namun untuk Rico sendiri, pria itu terus berjalan meninggalkannya.
Alina hanya menghela nafasnya pelan melihat suaminya yang sudah keterlaluan itu. Namun untuk marah sekarang pun dia tidak bisa karena jika benar pria itu ingin memberikannya kejutan, maka mereka harus memastikan siapa yang akan terkejut nantinya.
"Awas aja kamu ya. Kalau benar ini rencana kamu, aku nggak akan membiarkan kamu tidur di kasur malam ini," gumam Alina dalam hati.
"Ada apa, Ma?" tanya Alina kemudian kepada Santi.
"Sayang, nanti malam kalian ada kegiatan nggak?"
"Em, nggak ada, Ma. Memangnya kenapa?"
"Kita sudah lama nggak makan malam di luar bersama. Kita dinner di luar yuk, kamu mau 'kan, Sayang?" tanya Santi penuh harap.
Alina terdiam sejenak. Sebenarnya dia sangat malas untuk makan di luar dengan situasi mereka yang sedang seperti ini. Meskipun tahu jika semua hanya pura-pura, namun mood Alina benar-benar sedang tidak baik-baik saja karena tidak tahan dengan situasi yang membuatnya bad mood ini. Namun untuk menolak ajakan mertuanya itu pun rasanya Alina tidak akan pernah bisa, mereka terlalu baik untuk ditolak setiap ajakannya. Akhirnya Alina pun dengan terpaksa mengiyakannya begitu saja. Lagi pula dia curiga jika ajakan makan malam ini bukan hanya sekedar makan malam biasa.
"Ya sudah, kalian Istirahatlah di kamar dan bersiap. Setelah maghrib kita akan langsung pergi. Nanti biar Mama yang pilih tempatnya.*
Alina mengiyakan dan segera berjalan menuju kamarnya yang terdapat di lantai dua. Alina berjalan pelan menaiki anak tangga, ini pertama kalinya dia menaiki anak tangga seorang diri dengan kondisi tubuhnya yang sedang berbadan dua. Biasanya Rico yang akan selalu menuntunnya untuk mencegah hal buruk yang diluar kendali, namun sayang sekali saat iji pria itu entah ke mana. Mungkin saja sudah berada di kamarnya sejak tadi.
Belum juga setengah jalan, tiba-tiba saja Alina mendengar suara langkah kaki yang berada di belakangnya. Dia mengernyitkan keningnya dan sedikit menoleh ke belakang. Di sana Alina melihat Rico berjalan di belakangnya sembari mengutak-atik ponselnya. Melihat itu Alina tersenyum tipis, ternyata meskipun pria itu bersikap acuh padanya, namun ternyata pria itu masih memikirkan keselamatannya dan juga calon anak mereka. Alina tersenyum penuh arti, namun dia tak menunjukkannya kepada suaminya itu dan terus berjalan pelan menaiki anak tetangga hingga tiba di kamar mereka.
**
Malam hari saat Alina dan keluarganya hendak pergi untuk melaksanakan makan malam di sebuah restoran, Santi sempat menegur dirinya yang memakai pakaian rumahan. Tak biasanya Alina acuh dengan penampilannya saat akan pergi keluar. Meskipun wanita itu tidak selalu memakai pakaian mewah, namun pakaian rumahan seperti ini tak pernah Alina pakai untuk keluar rumah.
"Sayang, kenapa kamu memakai pakaian seperti itu? Kita 'kan mau dinner di luar," ucap Santi dengan selembut mungkin agar Alina tak tersinggung dengan perkataannya.
"Maaf, Ma, tadi Alina sempat mencoba beberapa gaun, tapi Alina merasa nggak nyaman dan hanya pakaian ini yang membuat Alina nyaman menggunakannya."
Mendengar alasan menantunya itu, Santi terlihat salah tingkah. Dia ingin Alina mengenakan pakaian yang lebih pantas digunakan, namun dia juga tidak bisa memaksanya jika menurutnya hanya pakaian ini yang membuatnya nyaman. Karena tak mau ambil pusing, Santi pun akhirnya mengizinkan Alina keluar dengan pakaian rumahan itu. Lagi pula meskipun Alina memakai pakaian seperti ini, wanita itu tidak akan terlihat seperti gembel dan mempermalukan mereka.
Rico yang berjalan di samping istrinya itu hanya bisa menghela nafas sembari mengusap leher belakangnya. Entah apa yang dipikirkan pria itu, namun Alina hanya tersenyum tipis dengan apa yang dia lakukan saat ini.
Hampir satu jam di perjalanan, kini mereka telah tiba di sebuah restoran berbintang yang berada di tengah kota. Restoran tersebut tidak terlalu ramai dan hanya beberapa orang yang ada di dalam sana. Mereka masuk ke dalam dan segera menempati tempat yang telah dipesan oleh Santi tadi sore. Mereka memesan makanan terlebih dahulu karena sebelumnya Santi memang belum memesan makanan. Saat mereka sedang menunggu makanan pesanan mereka datang, tiba-tiba saja saat itu listrik yang ada di dalam restoran itu padam seketika.
Alina mengernyitkan keningnya saat tiba-tiba ruangan itu menjadi gelap gulita. Tak ada pencahayaan sama sekali yang membuatnya tak bisa melihat apapun kecuali cahaya dari luar jendela yang menampilkan lampu jalan yang masih menyala,.
"Aneh, listrik yang padam kenapa hanya di restoran ini saja ya?" ucap Alina yang tak mendapatkan respon apapun dari mertua dan juga suaminya.
"Sayang, kamu di mana? Mama, Papa?"
Alina terus memanggil keluarganya itu, namun dia tak juga mendapatkan respon apapun. Hal itu jelas saja membuat Alina curiga jika saat ini ketiga orang yang tadi datang bersamanya sudah tak lagi berada di tempatnya. Apalagi saat Alina meraba kursi di sampingnya, ternyata sudah tak ada sosok Rico yang duduk di sana. Mengingat jika tebakan Rena tadi siang memang benar, Alina pun lantas menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ternyata begini surprise yang kalian berikan padaku?" gunan Alina dalam hati.
Dia kini terlihat santai dengan posisi duduknya. Tak lagi memanggil suami ataupun mertuanya yang saat ini entah ke mana. Dia masih terlihat santai hingga sebuah nyanyian ulang tahun yang diucapkan dalam bahasa Inggris membuat Alina menoleh ke belakang tubuhnya. Di sana dia melihat sedikit cahaya dari beberapa lilin yang berjajar di atas sebuah kue. Dari cahaya itu Alina bisa melihat beberapa orang di sana. Alina tak begitu yakin siapa saja orang-orang yang berada di belakang suaminya itu, namun Alina curiga jika keluarganya pun ikut berada di sana karena dari jumlah kepala yang Alina lihat, terdapat lebih dari lima orang di sana.
Alina harus berpura-pura untuk memasang wajah datarnya, seolah tidak menyukai kejutan yang diberikan oleh suaminya itu. Saat cahaya lilin itu semakin mendekatinya, saat itu juga listrik yang ada di restoran itu kembali menyala dan membuat ruangan tersebut menjadi terang kembali.
Di sana mulai terlihat semua anggota keluarganya yang hadir tanpa terkecuali. Ternyata bukan hanya Rico yang merencanakan surprise ulang tahunnya ini, tapi semua keluarganya juga ikut merencanakannya.
Alina menatap ke arah Morgan yang berdiri paling belakang. Dia menatap abang keduanya itu cukup lama, tak menyangka jika pria itu terlibat dalam rencana suaminya ini. Pantas saja tadi siang tumben sekali abangnya itu mengajak Alina makan siang bersama dan hanya sekedar berbasa-basi menanyakan keberadaan suaminya tanpa menanti jawaban darinya. Ternyata pria itu sudah mengetahuinya dan berpura-pura berbasa-basi padanya agar dia tidak curiga.
Semua orang masih bernyanyi dan bersorak akan hari bahagia Alina malam itu. Namun tak lama dari itu mereka menghentikan nyanyiannya saat melihat Alina yang tak memberi respon sama sekali. Bahkan tak ada senyum sedikitpun di wajah wanita itu atas kejutan ini.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rico dengan heran.
Dia meletakkan kue ulang tahun itu di atas meja dan menghampiri istrinya.
"Sayang, ada apa dengan kamu? Kamu sakit kah?" tanya Rico.
Alina menggelengkan kepalanya tanpa bersuara
"Sayang, aku memberi surprise ke kamu loh. Apa kamu nggak senang dengan kejutannya?" tanya Rico lagi.
Dia tahu jika Alina sedang kesal dengannya karena telah mendiamkannya sejak pagi tadi. Dan kini dia menjadi takut jika Alina masih marah padanya dan tidak menyukai kejutan yang dia berikan.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu diam saja?"
"Alina, ada apa? Kamu kenapa diam saja?"
Semua pertanyaan tertuju kepada Alina. Mereka semua sangat heran saat melihat raut wajah wanita itu yang tidak memberikan ekspresi senang ataupun haru dengan kejutan yang mereka berikan.
"Sayang, ayo bicara. Kamu kenapa? Kamu nggak suka ya dengan kejutannya, atau kamu sedang sakit?" tanya Rico lagi untuk kesekian kalinya.
Kini Alina menghela nafasnya.
"Makanan kita mana? Masih lama nggak, aku sudah lapar banget nih," tanya Alina yang seolah tak berniat untuk menanggapi pertanyaan ataupun kejutan dari keluarganya itu.
Dia saat ini masih dengan akting merajuknya, sehingga membuat keluarganya menjadi sangat heran dan merasa bersalah. Kini mereka mendudukan tubuhnya pada kursi masing-masing, sementara Rico masih setia berjongkok di samping istrinya yang sedang merajuk itu.
"Sayang, kamu marah sama aku ya?"
"Sayang, jangan marah ya. Maafin aku, kalau sejak tadi aku menyebalkan sekali. Aku nggak serius kok untuk cuek sama kamu, aku melakukan semua ini hanya karena ingin memberi kejutan untuk kamu."
Alina masih tak menanggapi perkataan suaminya itu.
"Sayang, please, jangan buat aku khawatir begini. Kamu kenapa sebenarnya, katakan, jangan diam saja?" tanya Rico lagi. Kini dia menjadi sangat khawatir kepada istrinya itu.
"Sayang, kamu beneran marah sama aku?"
Rico menelan ludahnya, kemudian menggigit bibir bawahnya dengan salah tingkah.
"Bailah, Sayang, kamu boleh marah sama aku, karena aku yang sudah merencanakan semua ini. Tapi tolong jangan marah dengan keluarga kita yang lain juga ya. Mereka nggak bersalah, mereka hanya mengikuti kemauanku yang ingin mengusili kamu."
Akting Alina yang begitu natural membuat mereka semua tak ada yang menyadari jika semua itu hanya pura-pura. Mereka kini benar-benar merasa bersalah karena telah merencanakan sesuatu yang membuat ibu hamil itu kehilangan moodnya.
"Sayang, please aku beneran nggak ada maksud untuk mendiamkan kamu seharian. Aku hanya mau mengusili kamu saja, nggak lebih kok. Itu juga aku harus menahan sesak karena nggak menegur kamu seharian dan menghubungi kamu. Sayang, mohon maafkan aku, jangan seperti ini, please. Maafkan aku. Apa yang kamu mau, katakanlah, aku akan mengabulkannya asalkan kamu memaafkan aku dan nggak mendiamkan aku seperti ini."
Mendengar kalimat terakhir yang suaminya itu ucapkan, Alina pun menatap ke arahnya dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Kamu serius ingin mengabulkan semua permintaanku?"
"Tentu. Apapun itu," ucap Rico tanpa terpikir.
"Kalau begitu, baiklah."
"Apa yang kamu mau?"
"Nanti di rumah saja, saat ini aku sudah sangat lapar. Mana makanannya, pasti kalian menundanya, 'kan?" ucap Alina menembak.
Semua orang yang ada di sana merasa jika Alina benar-benar marah kepada mereka, jadi mereka semua tak banyak bicara dan segera memanggil pelayan untuk mengantarkan makanan mereka yang telah dipesan. Saat semua hidangan telah tersedia di atas meja, mereka pun memulai menyantap makan malamnya. Namun beberapa dari mereka terlihat ragu karena situasinya yang canggung seperti ini.
"Kenapa kalian nggak bersemangat? Ayo makan," ucap Alina dengan sifatnya yang kembali normal, membuat keluarganya dan menatap ke arahnya dengan heran.
"Sayang, kamu nggak marah sama kami?" tanya Zara pada putrinya itu dengan heran.
"Marah? Siapa yang marah?" tanya Alina pura-pura.
"Tapi tadi …?"
Alina menyengir tiada beban.
"Oh, aku nggak marah kok. It's a prank," ucap Alina dengan sedikit berteriak pada akhir kalimatnya. Membuat anggota keluarganya menjadi bingung dan setelah itu mereka masalah nafasnya dengan lega.
"Sayang, kamu …?"
Sebelum Rico melanjutkan perkataannya, Alina sudah mengangguk terlebih dahulu.
"Y,a aku sudah tahu rencana kalian. Lain kali kalau mau buat rencana yang lebih berkelasnya ya. Jangan seperti remaja yang masih berpacaran," ucap Alina menyindir.
"Dan jangan mendiamkanku lagi. Aku nggak suka," lanjut Alina dengan tatapan penuh peringatan pada suaminya.
Rico sedikit merasa kecewa karena rencananya untuk membuat istrinya terharu itu gagal total. Ternyata dia yang dikerjain balik oleh istrinya.
Sepertinya besok dia harus memberi pelajaran kepada Andi karena ide noraknya ini membuat rencananya yang ingin memberi kejutan kepada istrinya gagal total.
Ya, benar, Rico memang mendapat ide tersebut dari Andi. Dia pikir rencananya akan berhasil seperti yang sudah sudah, namun siapa yang menyangka jika siang itu Rena menemui Alina dan dengan mudah membongkar rahasia para lelaki itu dan mendukung Alina untuk membalas dendam.