
Dari balkon kamarnya, Alina sangat merasa puas dengan pemandangan yang sangat indah di depannya itu. Sebuah cahaya berwarna yang menari di atas sana, membuat mata Alina hampir saja tak berkedip.
Benar saja jika Norwegia termasuk ke dalam daftar negara dengan aurora terindah. Karena memang seindah itu pemandangan ciptaan Tuhan ini. Tidak sia-sia mereka pergi ke negara ini dengan perjalanan yang sangat panjang. Semua telah dibayar tunai oleh pemandangan yang kini sangat memanjakan mata.
"Apa kita bisa menetap lebih lama di sini? Pemandangan malamnya sangat indah sekali, Sayang. Rasanya enggan untuk pulang," ucap Alina dengan pandangan yang tak berpaling dari langit berwarna yang indah itu.
"Tentu saja, kita 'kan masih ada waktu empat hari di sini. Kalau kamu mau, empat hari terakhir kita menetap di sini saja," ucap Rico memberi saran.
Tanpa berniat untuk menegosiasi pendapat suaminya, Alina langsung mengiyakannya. Tak masalah empat hari berada di hotel ini, asalkan setiap malam dia bisa melihat fenomena yang sangat cantik bersama seorang pria yang dicintai.
"Sayang," panggil Alina. Kini pandangnya teralihkan kepada Rico.
"Ada apa?" tanya Rico.
"Apa kita boleh menelpon mama? Aku ingin sekali bicara dengan mama, sekaligus memperlihatkan keindahan aurora di sini pada mereka. Mereka pasti sangat menyukainya dan ingin datang ke sini juga suatu saat nanti," ucap Alina.
Rico pun langsung mengiyakannya, dia meraih ponselnya yang ada di sampingnya, lalu mencari kontak mertuanya untuk melakukan panggilan video.
Tut tut tut …
Tiga kali panggilan yang Rico lakukan tak mendapat jawaban dari mertuanya. Bahkan panggilan untuk orang tuanya pun juga tak ada jawaban. Rico dan Alina semakin heran kenapa kedua orang tua mereka tidak pernah menjawab panggilan yang mereka lakukan, sementara beberapa hari lalu orang tua mereka sempat menelepon meskipun hanya sebentar. Jika alasannya karena tidak mau mengganggu, tapi mereka tidak merasa terganggu dengan komunikasi di antara mereka dengan dua orang tuanya.
"Ya sudah, nanti kita telepon lagi saja. Sekarang kamu nikmati pemandangan ini sampai puas," ucap Rico setelah menyerah.
Alina pun mengiyakan dan kembali melakukan kegiatannya memandang pemandangan kesukaannya.
"Sayang," panggil Alina lagi setelah beberapa saat terdiam.
"Ada apa?" tanya Rico.
"Bagaimana jika tebakanku benar."
"Tebakan apa?" tanya Rico heran.
"Tebakan tentang kondisiku saat ini. Bagaimana jika aku benar-benar terlambat mengandung?"
"Sayang, kenapa kamu berkata seperti itu," ucap Rico yang sedikit terkejut akan perkataan istrinya itu. Dia sangat heran kenapa istrinya itu tiba-tiba membahas hal ini di tengah rasa bahagianya saat menikmati keindahan alam kesukaannya.
"Aku hanya penasaran saja dengan pendapat kamu. Bagaimana jika aku benar-benar tidak bisa memiliki anak dalam waktu dekat."
Kini Alina benar-benar merasa pesimis akan kondisi dirinya yang mungkin saya tidak normal. Dia yang awalnya terlihat biasa saja kini menjadi kepikiran akan hal itu sejak Rico mengatakan jika kedua orang tuanya sudah menanyakan akan kondisinya saat ini.
"Sayang, aku 'kan sudah bilang, aku nggak masalah kalau kamu belum bisa memberikan keturunan dalam waktu dekat. Ingat ya Sayang, semua yang terjadi pada hidup kita ini telah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Mungkin saja Allah belum memberi kita kepercayaan untuk memiliki keturunan karena alasan tertentu yang nggak kita ketahui," ucap Rico memberi pengertian.
"Tapi orang tua kita pasti akan kecewa kalau aku belum bisa memberi mereka keturunan."
Rico yang saat itu masih berbaring di atas sofa santai lantas mendudukan tubuhnya. Dia menghadap ke arah istrinya dan meraih tangan kirinya.
"Sayang, kenapa kamu jadi memikirkan hal ini? Walaupun orang tua kita menginginkan seorang cucu secepatnya, tapi keterlambatan ini nggak akan membuat rasa sayang mereka kepada kamu berkurang sedikitpun. Mereka juga seorang wanita sekaligus seorang istri dan juga ibu, mereka pasti mengerti dengan apapun yang terjadi pada kamu, termasuk mengenai hal ini."
"Aku hanya takut saja kalau sampai mengecewakan mereka. Mereka sudah memberikan kita hadiah yang tidak main-main, bagaimana aku bisa mengecewakannya, Sayang?"
Terlihat jelas di wajahnya jika saat ini Alina tengah memikirkan akan kondisinya. Rico jadi takut karena hal ini akan membuat istrinya itu jadi banyak pikiran dan merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri.
"Kamu nggak akan mengecewakan mereka, Sayang. Semua yang terjadi sudah atas kehendak Tuhan dan nggak akan ada yang bisa menentangnya."
Alina hendak menyahuti kembali perkataan suaminya itu, namun belum juga bersuara tiba-tiba dia merasakan pusing seperti orang yang sedang mabuk.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rico saat melihat istrinya memegang kepalanya dengan mata memejam.
"Sayang, kepalaku tiba-tiba pusing banget."
"Pusing? Apa tadi pagi kamu salah makan?" tanya Rico.
Alina menggelengkan kepalanya tak tahu.
"Aku nggak tahu. Perasaan sejak tadi aku hanya makan roti dan juga buah. Nggak ada yang salah kok."
"Mungkin kamu terlalu lelah. Lebih baik kita istirahat di dalam saja."
Rico hendak bangkit dari duduknya untuk mengantar istrinya ke dalam kamar, namun Alina yang masih ingin melihat pemandangan di luar sana lantas menolaknya.
"Tapi katanya kepala kamu sedang pusing. Ayo Istirahat di dalam saja, masih ada hari esok untuk melihat aurora lagi."
"Sebentar lagi ya. Aku benar-benar belum puas menikmati pemandangan ini," tolak Alina lagi.
"Tapi kita sudah hampir 3 jam di sini, Sayang."
"Tapi 'kan puncaknya baru beberapa menit, Sayang. Aku benar-benar belum puas loh. Sepertinya pusingnya juga sudah mereda kok. Mungkin hanya efek kecapean saja dan aku di sini 'kan nggak ngapa-ngapain, hanya duduk sambil menikmati pemandangan yang ada saja."
"Apa kamu yakin sudah nggak pusing lagi?" tanya Rico memastikan. Dia benar-benar khawatir dan tidak mau membuat istrinya menahan sakit hanya karena ingin melihat sesuatu yang mungkin bisa mereka nikmati di lain hari.
"Iya, Sayang, tenang aja. Kalau pusing datang lagi, aku pasti ngomong kok sama kamu," ucap Alina meyakinkan.
Rico pun menghela nafasnya, tak bisa lagi membujuk istrinya dengan berdebat. Dia tidak mau melakukan perdebatan yang akan membuat kesalahan di antara mereka. Dan dengan terpaksa Rico menuruti kemauan istrinya itu untuk terus berada di sana.
"Baiklah, kamu tunggu di sini ya. Aku akan minta Louis untuk membawakan obat pusing."
"Sayang, aku udah nggak pusing lagi loh. Nggak perlu minum obat."
"Minum obat atau masuk ke dalam kamar," ucap Rico memberi pilihan. Meskipun rasa pusing yang dirasakan Alina tidak parah dan sudah menghilang, namun dia tetap harus antisipasi terhadap kesehatan istrinya. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu dengan istrinya karena tidak memperhatikan kondisinya.
Karena tak rela jika harus masuk ke dalam kamar sekarang, akhirnya Alina menganggukan kepalanya dan setelah itu Rico bangkit dari duduknya untuk menelpon Louis agar dibawakan obat pusing untuk istrinya.
Setelah menghubungi Louis, Rico kembali menghampiri istrinya yang masih di balkon sedang menikmati pemandangan aurora yang begitu cantik di luar sana. Dia memperhatikan kepada istrinya itu, takut jika Alina tiba-tiba merasa pusing dan menahannya karena tidak ingin masuk ke dalam kamar. Namun saat melihat istrinya yang begitu tenang, sepertinya Alina benar-benar tidak merasa pusing lagi. Rico pun merasa sedikit tenang, namun tak membuatnya menghentikan niatnya untuk meminta istrinya itu meminum obat pusing yang saat ini sedang diurus oleh Louis dan Sasha.
Tak sampai 10 menit menunggu, suara ketukan pintu dari kamarnya membuat Rico segera bangkit dari duduknya.
"Apa itu Louis?" tanya Alina.
"Mungkin. Aku akan melihatnya, jangan kemana-mana."
Alina hendak menyahuti perkataan suaminya itu, namun ternyata Rico lebih dulu berlalu untuk membuka pintu. Saat suaminya itu telah kembali, benar saja suaminya itu membawa sebuah kantong plastik yang berisi sebuah obat berbentuk pil.
"Sayang, aku beneran sudah nggak pusing lagi loh," ucap Alina. Dia benar-benar enggan meminum obat itu yang mungkin rasanya pahit. Sejak dulu Alina paling anti meminum obat. Lebih baik dia disuntik dari pada harus meminum obat.
"kamu memang sudah nggak pusing lagi, tapi ini untuk antisipasi saja, takutnya nanti pusingnya tiba-tiba datang lagi. Ayo minum, aku nggak mau kamu sampai sakit. Nanti kalau sampai mama dan papa tahu, aku bisa-bisa dimarahi oleh mereka karena nggak becus mengurus kamu."
"Astaga, Sayang, kenapa kamu begitu banget sih. Nggak mungkin mama dan papa marah sama kamu. Aku hanya pusing biasa dan mungkin saja perubahan cuaca yang membuat aku tiba-tiba merasa pusing seperti ini. Lagipula pusingnya juga nggak lama kok, buktinya saat ini aku sudah nggak merasakan apa-apa lagi."
"Tapi tetap harus minum obat, Sayangku. Kamu 'kan sudah janji tadi, atau kamu mau masuk ke dalam saja?"
Alina memanyunkan bibirnya mendengar suaminya itu yang lagi-lagi memberinya pilihan.
Melihat istrinya yang seperti merajuk, Rico pun tersenyum lembut dan membelai pipinya dengan lembut.
"Sayang, aku nggak mau kamu jatuh sakit hanya karena aku lalai menjaga kamu. Bukan hanya takut karena dimarahi mama dan papa saja, tapi aku juga nggak mau melihat kamu sakit. Aku ingin kamu terus ceria, jadi harus jaga kesehatan dengan baik ya."
Dari perkataannya yang penuh kasih sayang, Alina merasa jika suaminya itu memang hanya ingin berniat baik padanya. Akhirnya Alina pun menuruti apa kata suaminya itu. Dia membenarkan posisi duduknya dan meraih pil yang di bawa oleh suaminya itu.
"Aku ambil air hangat dulu," ucap Rico.
Alina menganggukan kepalanya, setelah itu Rico masuk ke dalam kamar untuk mengambil air hangat yang telah dia panaskan melalui kompor listrik yang tersedia di kamar hotel itu. Setelah mendapatkan yang dia butuhkan, Rico kembali ke balkon dan memberikan segelas air hangat kepada istrinya.
Sebelum menelan obat itu, Alina memejamkan matanya terlebih dahulu. Meyakinkan dirinya jika obat itu tidak berada. Ada yang bilang apa yang kita pikirkan sangat berpengaruh pada apa yang kita lakukan. Alina mencoba untuk mempercayai itu meskipun sedikit sisi di hatinya tak mempercayai itu.
"Sudah," ucap Alina setelah dia menelan obat pusing dari suaminya. Tak terasa di lidah karena dia langsung menelan obat itu begitu memasukkannya kedalam mulut dengan air.
"Good girl" ucap Rico sembari mengusap pelembut kepala istrinya.
"Apa masih mau di sini?" tanya Rico sambil mendudukan tubuhnya di samping Alina.
"Tentu saja. Aku 'kan sudah meminum obatnya."
Rico terkekeh pelan mendengar itu.
"Nanti kita makan malam di sini saja ya. Minta pengurus hotel untuk mempersiapkan dinner kita di sini."
"Baiklah Tuan Putri. Aku akan menghubungi Louis dan Sasha sekarang."