Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
79. Ziarah


Hari ini Thomas beserta istrinya dan juga Santi bersama suaminya akan pergi mengunjungi makam Zaki. Karena rasa bersalah Thomas dan Zara akan kepergian Zaki, membuat mereka ingin berziarah ke makam pria itu sekaligus untuk meminta maaf dan berdoa. 


Mereka berjanji akan bertemu di depan pemakaman dan saat itu Santi tiba lebih dulu di sana bersama sang suami. Sepuluh menit kemudian terlihat Thomas dan Zara tiba di sana. Tanpa menunggu lama mereka langsung masuk ke dalam pemakaman dan segera menuju makam Zaki.


Tepat di samping makam milik Zaki Aditya, Thomas dan Zara berjongkok di sana. Mereka mengelus nisan berwarna hitam itu sembari meneteskan air matanya. Terlebih untuk Thomas, dia sangat tidak menyangka jika tangganya ini harus membuat pria yang selama ini mengejar-ngejar istrinya berada di bawah tanah yang saat ini mereka pijaki.


"Zaki, maafkan aku. Maaf karena emosiku harus membuatmu berbaring di sini. Seandainya aku tahu kalau kamu memiliki riwayat penyakit jantung, mungkin aku nggak akan sekeras itu padamu saat itu."


Hening beberapa saat sebelum Thomas kembali berucap. 


"Seharusnya saat itu aku memenjarakanmu, bukannya malah menghakimi kamu seorang diri. Jika saja saat itu aku melaporkanmu ke pihak yang berwajib, mungkin saat ini kamu nggak akan ada di sini. Kamu akan masih tetap hidup bersama keluargamu. Maafkan aku, Zaki," seru Thomas dengan lirihnya.


Zara yang berada di sampingnya tak bisa berkata-kata, dia hanya diam sembari menyesali keputusan yang mereka ambil beberapa puluh tahun silam.


Setelah puas mengutarakan maafnya di depan makam Zaki, Thomas dan yang lain kini melantunkan doa bersama-sama sebelum meninggalkan makan tersebut. Setelah selesai berdoa, barulah mereka pergi dari sana untuk pulang.


"Kak Thomas, Zara, di mana makan Aura? Apa kita boleh mengunjunginya?" tanya Santi saat mereka sudah berada di depan gerbang pemakaman.


"Aura kami makamkan di dekat makam keluarga mas Thomas," ucap Zara menjawab pertanyaan Santi. "Apa mau ke sana sekarang?"


Santi menatap ke arah Irfan terlebih dahulu, setelah Irfan menganggukkan kepalanya barulah dia mengiyakan ucapan Zara.


Kini mereka masuk ke dalam mobilnya masing-masing dan bergegas menuju makam Aura dengan beriringan.


***


Dua hari lagi acara peresmian ZW corps, kini Alina dan keluarganya hendak pergi ke sebuah mall untuk berbelanja untuk mempersiapkan penampilan mereka di acara perusahaannya nanti. 


Alfian dan Morgan saat itu tidak bisa ikut bersama keluarganya karena mereka berdua sedang mengurus sesuatu di kantor sembari melihat pembangunan rumah untuk orang tua mereka. Mereka hanya mempercayakan Alina dan Marissa untuk memilihkan pakaian mereka.


Setiba di sebuah mall, Alina dan keluarganya langsung menuju ke salah satu butik. Di sana Alina dan Marisa terlihat sedang memilih pakaian untuk diri mereka, sementara kedua orang tua mereka sedang duduk di kursi yang disediakan pihak butik sembari menjaga anak Marissa yang sedang aktif berjalan. 


Mereka akan bergantian memilih pakaian karena akan sangat merepotkan jika Lala mengikuti kegiatan mereka.


"Kak, dress ini bagus nggak kalau aku pakai buat malam lusa?" tanya Alina sembari memperlihatkan salah satu dress berwarna abu-abu kepada Marissa.


"Kamu yakin mau pakai dress ini, Al? Punggungnya terlalu terbuka loh, bukannya Rico nggak suka kamu pakai pakaian terbuka ya?" ucap Marissa mengingatkan. 


Alina memang sempat cerita kepada Marissa mengenai Rico yang tidak menyukainya menggunakan pakaian terbuka seperti di pantai beberapa minggu lalu. Dengan terpaksa, Alina meraih kembali dress yang dipegang Marissa. Memang benar jika dress itu sedikit terbuka bagian punggungnya, namun Alina sangat menyukai model depan dress tersebut. Tapi daripada nanti Rico memakaikan jas ke tubuhnya seperti saat di pantai beberapa minggu lalu, lebih baik dia mencari dress model lain saja. 


"Padahal aku suka banget modelnya. Kenapa juga Rico nggak suka dengan pakaian seperti ini, padahal 'kan cantik. Seharusnya dia bangga dong kalau pacarnya memakai pakaian yang indah seperti ini," gumam Alina dalam hati. 


"Al, kalau Kakak pakai dress ini gimana, bagus nggak?" tanya Marissa yang menunjukkan salah satu dress berwarna peach di atas lutut kepada Alina.


Baru melihatnya sekilas saja Alina sudah mengernyitkan keningnya. Dress tersebut sangat pendek dan memiliki model membentuk tubuh, mereka saat ini bukan berada di London jelas saja pakaian seperti itu akan mengundang banyak mata para pria.


"Kak, Kakak nggak usah aneh-aneh ya. Kalau Kakak di London kemarin mungkin bisa memakai pakaian seperti itu karena nggak ada bang Fian. Sekarang 'kan ada bang Fian, Kakak mau bang Fian marah karena melihat Kakak berpakaian seksi seperti itu? Lagian 'kan Kakak sudah menjadi ibu-ibu, bukan gadis lagi, ngapain pakai pakaian seperti itu. Pakaian itu lebih cocoknya jika aku yang memakainya. Cari yang lain saja deh," ucap Alina memberi saran.


"Kam pun nggak akan diizinkan oleh Rico, karena pacarmu itu posesif," ucap Marissa yang tak setuju dengan perkataan Alina mengenai dirinya yang seorang ibu-ibu. Meski pun yang dikatakan adiknya itu benar, namun kalimat ibu-ibu seolah menggambarkan jika dirinya sudah tua. Padahal 'kan dia masih muda meski sudah memiliki anak.


Alina terkekeh mendengar perkataan kakak iparnya itu. "Kita sama dong berarti. Yaudah ayok cari yang lain, Kak."


Marissa menghela nafasnya, memikirkan perkataan Alina mengenai suaminya yang mungkin saja tidak menyukainya memakai pakaian seperti itu dia pun dengan terpaksa meletakkan kembali pakaian tersebut. Setelah satu jam lamanya mereka mencari dress, akhirnya pilihan Alina tertuju pada sebuah dress selutut dengan lengan pendek. Dress tersebut memiliki model yang mengikuti bentuk badan dan untuk tubuh Alina yang ideal pasti akan sangat cocok jika dia memakainya. Model dress tersebut hampir sama dengan yang diambil Marissa tadi, namun tak akan jadi masalah jika dia yang memakainya.


Sementara Marissa sendiri, dia memilih dress tanpa lengan dengan panjang selutut. Setelah mendapatkan pilihannya, mereka segera mencari pakaian untuk Alfian dan Morgan. Lima brlas menit mencari, namun mereka tak juga mendapati satu pakaian pun yang cocok untuk kedua pria itu. Akhirnya Alina dan Marissa memutuskan untuk mencari pakaian untuk Morgan dan Alfian di tempat lain.


Saat ini giliran Thomas dan Zara yang akan memilih pakaian, sementara Alina dan Marissa bergantian menjaga Lala yang saat ini sedang tertidur. 


"Kalian kenapa lama sekali memilih pakaian begitu saja, sampai satu jam lebih nih," ucap Thomas yang mulai kelelahan karena hanya diam menunggu kedua anaknya yang tak ingat waktu jika sudah berbelanja. 


"Namanya juga wanita, Pa, pasti lama kalau belanja. 'kan harus dipilih dulu mana yang cocok atau enggak, Papa sendiri 'kan tahu karena sering menemani Mama belanja," ucap Alina beralasan.


"Itu 'kan dulu, saat Mama masih muda. Kalau sekarang ta nggak selama ini dong," ucap Zara kemudian.


"Ya kita 'kan masih muda, Mama sayang," ucap Alina kembali dengan terkekeh.


Thomas dan Zara menggelengkan kepalanya, sementata Marissa hanya tersenyum geli melihat adik iparnya itu yang terus mengelak.