
Saat itu pintu ruangan diketuk dari luar dan muncullah seorang pelayan yang tadi tak sengaja menumpahkan makanan panas ke arah Rico. Pelayan itu datang untuk memberikan kemeja bersih kepada Rico untuk mengganti pakaiannya yang kotor. Meski hanya kemeja murah miliknya yang tak bisa mengganti pakaian bermerek Rico, namun tak membuat Rico merendahkannya. Dia bahkan berterima kasih karena setidaknya pelayan itu mau bertanggung jawab atas kelalaiannya. Bahkan pelayan itu juga membawakan salep untuk mengobati luka bakarnya.
Thomas yang saat itu mengetahui jika pelayan tersebutlah yang membuat anaknya hampir terkena makanan panas yang kini berimbas kepada menantunya hendak memarahi pelayan tersebut. Thomas termasuk seorang pria yang perfeksionis, kelalaian seperti ini tidak akan dia biarkan jika terjadi pada karyawannya. Maka tak heran jika dia tak suka akan kelalaian pelayan itu yang membuat anggota keluarga menjadi korban.
Namun karena Rico yang tak mau memperpanjang masalah, dia pun akhirnya mencoba memberi pengertian kepada papa mertuanya itu.
"Pa, dia nggak sengaja melakukan itu. Lagipula Rico nggak apa-apa kok."
"Walaupun nggak sengaja, tapi dia sudah lalai dalam tugasnya, Co."
"Pa, sudahlah. Setidaknya dia mau bertanggung jawab atas kelalaiannya, jangan diperpanjang ya."
Kini Zara pun ikut bersuara karena dia merasa jika pelayan itu memang tidak sengaja melakukan kesalahan ini.
Thomas pun yang sudah mendengar istrinya berbicara, lantas terdiam. Dia sebenarnya hendak menyahuti perkataan Zara karena masih kesal dengan pelayan itu yang bekerja dengan tidak becus, namun sepertinya dia harus mengalah untuk saat ini. Tidak mau berdebat dan juga sepertinya luka pada punggung Rico juga tidak begitu parah.
Dengan perasaan yang masih kesal kepada pelayan itu, Thomas kembali mendudukkan tubuhnya dan mengabaikan pelayanan itu yang masih ada di sana.
"Tuan, Nyonya, sekali lagi maafkan saya," ucap pelayan itu sembari menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah yang mendalam. Dia baru menyadari jika orang yang baru saja terkena tumpahan makanan yang dia bawa tadi bukanlah orang sembarangan. Kini dia menjadi takut jika kelalaiannya itu akan menjadi ancaman atas pekerjaannya di restoran ini.
"Sudahlah. Kamu boleh pergi," ucap Rico kemudian.
Setelah pelayanan itu pergi dari sana, Alina mengambil alih salep yang diberikan oleh pelayan itu dan mengoleskannya ke punggung Rico.
"Tahan sebentar," ucap Alina saat suaminya itu berdesis menahan perih pada punggungnya yang tersentuh oleh tangannya.
Rico mengangguk patuh, meskipun sedikit perih namun dia harus menahannya agar tak membuat istri serta keluarganya khawatir.
**
Setelah salep yang dioleskan Alina pada punggung Rico mengering, Alina pun meminta suaminya itu untuk segera memakai kemeja yang tadi diberikan oleh pelayan restoran. Setelah itu keluarga mereka kembali melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda bersama Alina dan Rico yang juga ikut makan bersama mereka. Sambil menikmati makanannya yang sebagian baru saja datang, mereka pun mengisi suasana dengan obrolan yang belum sempat mereka bicarakan. Terlebih mereka masih tidak percaya jika Alina dan Rico saat ini sudah pulang dari liburan mereka
"Sayang, kenapa kalian cepat sekali pulangnya? Bukannya seharusnya kalian masih di Norwegia? Dan juga kenapa kalian meminta kami untuk berkumpul? Louis bilang kalau kalian akan menelpon untuk mengatakan sesuatu yang penting? Apa itu?" tanya Santi dengan berturut-turut.
Sama seperti yang lain, dia juga masih tidak menyangka jika saat ini kedua anak mereka sudah ada di hadapannya.
"Kita sengaja mau memberi kejutan buat kalian," ucap Alina.
"Kalian ini, kenapa harus memberi kejutan seperti ini. Kami 'kan jadi nggak bisa menjemput kalian di bandara," ucap Thomas kemudian.
"Iya, kita 'kan jadi nggak bisa menjemput kalian di bandara," ucap Santi juga yang saat itu setuju dengan perkataan besanya.
"Nggak papa, Ma, Pa. Kita sengaja mau memberi kalian kejutan, makanya kami meminta kalian untuk berkumpul," ucap Rico sedikit menjelaskan tanpa memberitahu kejutan sesungguhnya yang akan mereka berikan kepada keluarganya itu.
"Baiklah-baiklah, kejutan kalian berhasil," ucap Santi.
"Yah, kalian memang berhasil. Berhasil membuat kami terkejut dengan kepulangan dan juga insiden pada punggung Rico," ucap Thomas lagi.
"Papa, kita 'kan juga nggak tahu musibah yang akan terjadi. Siapa juga yang mau punggungnya terkena makanan panas seperti ini," ucap Alina kepada papanya.
"Ya sudah, jangan dibahas lagi soal itu. Sayang, gimana honeymoon kalian? Apa kalian menikmatinya?" tanya Zara kemudian kepada kedua anaknya itu. Daripada membicarakan sesuatu yang tidak menyenangkan, lebih baik mereka membicarakan sesuatu yang menyenangkan saja.
Alina dan Rico saling pandang dengan tersenyum. Terlihat dari raut wajahnya, sepertinya kedua anaknya itu menyukai waktu honeymoon mereka selama di Eropa. Hal itu pun membuat semua orang yang ada di sana ikut bahagia karenanya.
"Jadi gimana, apa kalian pulang karena membawa kabar bahagia?"
Semua orang menatap ke arah Santi. Celetukannya tersebut berhasil membuat anggota keluarga yang lain pun ikut bertanya-tanya. Mereka baru menyadari itu apakah Alina pulang karena akan membawa kabar bahagia untuk mereka?
Alina dan Rico kembali tersenyum dengan penuh arti saat mendengar perkataan mamanya itu. Seperti dugaan mereka, saat ini memang benar jika alasan Alina pulang lebih awal karena dia ingin memberikan kabar bahagia kepada keluarganya itu yang di mana saat ini dirinya sedang berbadan dua. Namun Alina dan Rico yang belum membuka suara membuat keluarganya itu masih diliputi rasa penasaran. Apakah benar dugaan mereka tentang hal ini?
Alina dan Rico lagi-lagi kembali tersenyum.
"Kalian benar."
"Benar apanya?" tanya Santi memotong perkataan menantunya itu.
"Ma, Pa, sebenarnya alasan kepulangan kami lebih cepat, tak lain karena memang ingin memberikan kabar bahagia kepada kalian."
Mendengar kalimat singkat itu, semua yang ada di sana l, terutama Santi dan Zara, begitu sangat heboh. Mereka mulai yakin akan tebakannya jika Alina saat ini tengah mengandung anak pertamanya.
"Sayang, jadi benar kalau saat ini kamu sedang hamil?" tanya Santi yang kini beranjak mendekati putrinya itu.
"Iya, Ma, Alina saat ini sedang mengandung. Kata dokter yang didatangkan Louis kemarin, usia kandungan Alina baru masuk sekitar 3 minggu."
"Apa kalian belum memeriksakannya ke rumah sakit?" tanya Zara.
"Belum, Ma. Rencananya besok kita mau ke rumah sakit," ucap Alina.
"Baiklah, besok kita pergi bersama-sama ke rumah sakit ya, Sayang," ucap Santi yang sangat bersemangat tentang kehamilan anak pertamanya itu.
Untuk seorang yang tidak memiliki anak, saat pria yang dia anggap sebagai anaknya itu sebentar lagi akan memiliki anak, jelas saja Santi sangat bersemangat karenanya. Walaupun anak yang dikandung Alina itu bukanlah cucu kandungnya, namun dia dan Irfan akan tetap menganggap anak itu sebagai cucu dari keluarga Renaldi.
"Hey, kalian kenapa curang sekali?"
Semua orang menatap ke arah Morgan yang tiba-tiba bersuara. Pria itu yang sejak tadi terdiam kini akhirnya membuka suaranya juga.
"Curang apanya?" tanya Alina heran.
"Kenapa kalian nggak memberitahu aku kalau maksud dari kepulangan kalian itu untuk memberikan kejutan tentang kehamilan kamu."
"Nggak semua rahasia harus Abang ketahui. Abang mengetahui kepulangan kami saja itu sudah membuat aku kesal," ucap Alina kepada abangnya itu.
"Morgan, kamu tahu kalau hari ini Alina pulang ke Indonesia?" tanya Thomas kepada putranya itu.
Dari nada suara Thomas, semua orang yang ada di sana pun kini curiga jika Thomas dan Morgan akan kembali bertengkar seperti Tom and Jerry. Namun sayangnya kali ini mereka mengabaikan itu karena fokus mereka saat ini hanya kepada perkataan Morgan yang ternyata telah mengetahui kepulangan Alina dan Rivo lebih dulu dari mereka.
"Tadi sore aku melacak lokasi di ponselnya Alina." Morgan mengedikkan bahunya. "Tapi siapa sangka kalau aku berhasil mengetahui jika Alina dan Rico sudah ada di sini."
"Kalau kamu sudah tahu, kenapa nggak bilang sama kami?" ucap Thomas lagi.
"Alina 'kan mau memberikan kejutan, ngapain aku kasih tahu sama kalian?" ucap Morgan tanpa beban.
"Setidaknya kamu memberitahu Papa walaupun Alina akan memberi kejutan. Kita 'kan bisa berakting untuk pura-pura terkejut."
Morgan hendak menyahuti perkataan papanya itu namun Alina lebih dulu bersuara.
"Papa, ngapain harus acting sih. Justru Alina akan sedih kalau kalian berpura-pura terkejut, padahal sudah mengetahui itu."
"Benar, Pa. Mama juga pasti akan kesal kalau Papa berpura-pura senang di depan Mama. Sudahlah, yang Morgan lakukan itu sudah benar, dia merahasiakan kepulauan Alina karena memang ingin membantu adiknya untuk memberi kita kejutan," ucap Zara kemudian yang menyetujui perkataan kedua anaknya.
"Dengerin tuh, Pa, yang aku lakukan itu sudah benar," ucap Morgan kemudian dengan tersenyum miring, mengejek papanya karena telah dibela oleh adik serta mamanya.
Lagi-lagi Thomas tak bisa berkutik jika istri serta anak bungsunya itu sudah berbicara. Dia langsung terdiam dan tak berniat untuk melanjutkan protesnya.
Satu jam berada di ruangan itu, kini mereka memutuskan untuk segera pulang. Rico dan Alina akan pulang ke rumah Santi dan Irfan karena mereka memang tinggal di sana sebelum menemukan rumah untuk mereka tempati sementara.
Makan malam pada malam hari ini sangat membuat semua orang yang berada di sana sangat bahagia, apalagi setelah mendengar kabar bahagia yang Rico dan Alina sampaikan.