
Alina saat ini tengah berdandan di depan cermin yang ada di dalam kamarnya. Malam ini dia akan menghadiri undangan dari Rico untuk makan malam bersama keluarganya di kediaman Renaldi. Alina terlihat ragu untuk datang ke sana karena itu artinya dia akan bertemu seorang pebisnis sukses yaitu, Irfan Renaldi dan istrinya. Namun meski begitu Alina mengiyakan saja ajakan pacarnya itu.
"Semoga saja tuan Renaldi nggak tahu siapa aku," gumam Alina pelan.
Merasa dirinya sudah siap untuk pergi, Alina berlalu dari depan cermin dan meraih ponselnya yang ada di atas kasur. Dia mengirim pesan kepada Rico untuk mengatakan bahwasanya dirinya telah siap.
Dan tidak sampai setengah jam Rico telah tiba di depan rumah kontrakan Alina. Pria itu terlihat sangat rapi dengan celana dan kemeja hitam panjangnya, sangat cocok untuk warna kulitnya yang putih langsat.
Alina tersenyum melihat ketampanan pacarnya itu, dan Rico pun juga tersenyum manis saat melihat wanita yang dia cintai itu terlihat begitu anggun dengan long dress peach-nya. Rico merasa kecantikan Alina semakin bertambah dengan dress itu, bahkan Alina terlihat seperti wanita berkelas di matanya. Benar-benar tidak akan menyangka jika Alina hanyalah gadis desa yang hidup seorang diri di kota yang besar ini, pikirnya.
"Kamu cantik banget dengan dress ini," ucap Rico memuji saat Alina sudah duduk manis di sampingnya.
"Hanya dress murahan. Aku nggak sengaja melihatnya di pinggir jalan minggu lalu."
"Kamu benar-benar seperti wanita berkelas, Al. Pakaian apapun yang kamu pakai, selalu terlihat seperti pakaian mahal. Aku baru menyadari itu saat ini."
Ya, Rico baru menyadari jika penampilan Alina selama ini selalu terlihat seperti wanita yang berasal dari kalangan atas. Pakaian jenis apapun yang dipakainya pasti selalu terlihat menarik dipandang. Padahal banyak orang-orang di luar sana yang memakai pakaian mahal justru terlihat biasa saja.
Bahkan sikap Alina yang sangat sopan dan memiliki attitude yang baik pun menjadi nilai tambah untuk wanita itu terlihat lebih berkelas. Mungkinkah ini didikan dari orang tua dan lingkungannya di desa?
"Berlebihan banget sih," ucap Alina dengan tertawa geli. "Ayok, mau ke rumah kamu atau stay di sini dengan gombalan receh kamu itu."
"Sudah nggak sabar bertemu orang tuaku ya?" tanya Rico dengan nada menggoda. Membuat Alina seketika tersenyum malu.
"Apaan sih. Kalau nggak jadi, aku turun nih."
Alina mengancam karena dia tidak tahan digoda oleh Rico. Meski gombalan dan rayuannya terdengar biasa saja, namun Alina tetap saja malu dibuatnya.
Rico terkekeh pelan, kemudian dia mengiyakan perkataan Alina dan segera melajukan mobilnya untuk menuju rumahnya. Orang tuanya juga pasti sudah sangat tidak sabar menunggu kedatangannya bersama Alina. Karena saat tadi sore Rico bilang ingin mengajak Alina dinner di rumah, Santi terlihat sangat excited.
Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai Rico telah memasuki halaman sebuah rumah yang cukup megah. Rumah miliki Irfan Renaldi yang merupakan papa angkatnya.
Rico mengajak Alina turun dari mobil, mereka berjalan menuju pintu utama rumah tersebut sambil bergandeng tangan. Baru saja hendak membuka pintu, tiba-tiba seorang wanita paruh baya lebih dulu membuka pintu rumah tersebut. Rico dan Alina tersenyum ke arah bu Ipah yang merupakan pembantu rumah tangga di sana, kemudian mereka segera masuk ke dalam rumah.
Rico dan Alina berjalan menuju meja makan berada dan dari kejauhan terlihat sepasang kekasih paruh baya yang masih terlihat gagah dan cantik tersenyum ke arah mereka.
"Assalamu'alaikum, Ma, Pa," ucap Rico setelah berada di meja makan.
"Wa'alaikumsalam, Nak."
Rico mencium kedua pipi mamanya dan diikuti Alina di sampingnya untuk memberi salam kepada kedua orang paruh baya itu juga.
"Selamat malam, Nyonya Santi."
"Panggil Bibi saja, Sayang. Nggak perlu seformal itu," ucap Santi dengan ramah.
"Baik, Bibi."
"Selamat malam…"
"Panggil Paman saja," ucap Irfan ketika Alina terlihat bingung ingin menyapanya.
"Iya, Paman. Selamat malam," ucapnya ulang.
Ifran menganggukkan kepalanya dan segera meminta Alina untuk duduk bersama Rico di hadapan mereka.
"Ayo kita mulai makan. Rico, ambilkan makanan untuk Alina ya, Sayang," ucap Santi kemudian.
"Em, nggak perlu, Bibi. Alina bisa ambil sendiri kok," ucap Alina dengan cepat. Dia tidak merasa seistimewah itu sampai harus meminta Rico untuk mengambilkan makanan untuknya.
"Nggak papa, Al. Biar aku ambilkan saja."
Alina hendak menolak perlakuan istimewah Rico padanya, namun ternyata pria itu lebih dulu mengisi piring miliknya dengan berbagai menu makanan dan memberikannya padanya. Alina terlihat tidak enak hati dengan perlakuan Rico, dia merasa malu karena Rico bersikap manis di depan kedua orang tuanya. Seharusnya pertemuan pertama mereka tidak harus secanggung ini, pikir Alina.
"Terima kasih," ucap Alina sembari menerima piring dari Rico.
Rico mengangguk dan kembali mengisi piring kosong dengan berbagai menu yang kini diambil untuk dirinya sendiri.
Santi tersenyum melihat kedua pasangan di hadapannya itu. Dia tersenyum ke arah suaminya yang juga ikut menatapnya dengan tersenyum, setelah itu mereka segera memulai makan malamnya dengan khidmat.
"Bagaimana rasanya Alina? Apa enak?" tanya Santi ketika Alina baru saja menelan suapan keduanya.
Alina menatap ke arah Santi. "Enak, Bi. Apa ini Bibi yang memasaknya?"
"Nggak, Sayang. Bibi nggak bisa masak. Semua makanan ini dimasak oleh Rico dengan bantuan pegawai di sini."
Mendengar jika Rico ikut andil dalam semua masakan yang ada di atas meja, Alina membuka mulutnya tak percaya.
"Oh ya?"
"Dia bilang, makanan spesial untuk wanita spesial," ucap Santi lagi sembari tersenyum menggoda. Membuat Alina yang mendengarnya menjadi salah tingkah dan malu.
"Ma, sudahlah. Alina jadi malu tuh, 'kan," seru Rico kemudian.
Dia tersenyum ke arah Alina yang baru saja menatap ke arahnya. Mereka saling lempar senyum sejenak sampai Alina tersadar dan terlihat malu karena sejak tadi Santi dan Irfan melihat ke arah mereka. Dia kembali melanjutkan makan malamnya, semantara yang lain juga melakukan yang sama. Tak lagi menggoda Alina karena takut membuat wanita cantik itu merasa tidak nyaman.
Sekitar sepuluh menit mereka menghabiskan makan malamnya, kini Santi dan Irfan mengajak Rico dan Alina untuk bersantai di ruang keluarga. Sambil berbincang santai, sepotong kue matcha telah tersaji di hadapan mereka masing-masing bersama dengan teh hangat sebagai pelengkap waktu santi mereka.
"Sudah berapa lama kalian berpacaran, Alina?" tanya Santi yang memulai percakapan setelah meneguk sedikit teh hangatnya.
"Em, baru dua bulan, Bi."
"Wah, lumayan lama ya. Kenapa baru di bawa ke sini, Bang?" tanya Santi kepada Rico.
"Waktunya belum ada yang pas saja, Ma. Kita berdua juga jarang bertemu karena kesibukan masing-masing," ucap Rico menjelaskan.
"Memangnya kamu kerja di mana, Sayang?" tanya Santi lagi kepada Alina.
"Em, Alina kerja di restoran di malam hari sebagai supervisor, Bi."
"Loh, kok jam kerjanya malam?" tanya Santi yang sama herannya seperti Rico saat pertama mengetahui pekerjaan Alina.
"Sayang, tidak semua jam kerja seorang supervisor itu mengikuti kerja orang kantoran. Apalagi di restoran, pasti mereka ada kerja shif-nya."
Santi menganggukkan kepalanya mengerti dengan penjelasan singkat suaminya itu. Kemudian dia kembali memandang Alina.
"Lalu kesibukan kamu di siang hari apa, Sayang?"
"Alina kuliah semester akhir, Bi. InsyaaAllah sekitar lima bulan lagi lulus, kalau nggak ada halangan."
"Kamu masih kuliah?" tanya Santi terkejut.
"Alina terlambat kuliah, Ma. Dia sekarang melanjutkan S2 di sini," ucap Rico sembari menyebutkan nama kampus tempat Alina menimba ilmu.
Santi kembali menganggukkan kepalanya mengerti.
"Alina."
Semua menatap ke arah Irfan yang membuka suaranya dengan memanggil Alina.
"Ya, Paman?" ucap Alina.
"Apa orang tua kamu pebisnis di kota ini juga?"
Rico yang mendengar pertanyaan papanya itu terlihat sedikit kaget. Dia takut Alina tersinggung dengan pertanyaan papanya karena yang dia tahu, orang tua Alina hanyalah seorang petani di desa asalnya.
"Pa, orang tua Alina bukan pebisnis," ucap Rico dengan suara pelan dan terdengar ragu.
"Hah, kamu serius?" ucap Irfan dengan raut wajah yang terlihat heran dan diiyakan Rico dengan anggukan kepala.
Irfan kemudian menatap ke arah Alina dengan tidak enak hati.
"Alina, maafkan Paman."
Alina tersenyum kepadanya. Wajahnya tidak terlihat jika wanita itu tersinggung dengan pertanyaan Irfan.
"Nggak papa, Paman."
"Paman benar-benar minta maaf ya, Alina. Paman nggak bermaksud menyinggung kamu dengan pertanyaan itu. Hanya saja Paman seperti nggak asing dengan wajah kamu. Wajah kamu itu mirip sekali dengan wajah anaknya teman Paman saat dia masih kecil dulu," ucap Irfan lagi.
Dia benar-benar tidak enak hati karena sudah menanyakan pertanyaan yang lancang. Seharusnya dia bertanya terlebih dahulu kepada Rico tentang siapa Alina agar tidak salah bertanya seperti tadi.
"Nggak papa, Paman. Alina sudah biasa disamakan dengan orang lain kok," ucap Alina dengan santainya.
"Anak siapa, Pa?" Santi justru penasaran dengan perkataan suaminya tentang anak temannya yang mirip dengan Alina.
"Itu loh, Sayang. Anak Thomas yang kecil, si Aura. Dulu saat kita masih sering berkunjung ke rumahnya, anaknya yang kecil mirip sekali dengan Alina yang sekarang. Nggak tahu deh sekarang gimana rupa Aura. Pasti sangat cantik seperti Alina. Papa jadi rindu dengan teman lama kita itu," ucap Irfan yang mengingatkan istrinya dengan anak dari teman mereka saat masa kuliah dulu.
"Mama lupa wajahnya, Pa. Terakhir kita bertemu mereka saat Aura masih berusia satu tahunan. Mereka juga sepertinya masih di luar negeri sekarang."
"Dengar kabar sih, katanya Thomas akan kembali ke sini beberapa bulan lagi. Perusahaannya di sini akan diambil alih oleh anak lelakinya. Aih, papa lupa siapa namanya. Kalau nggak salah sih Fian."
"Oh ya? Papa masih berkabar dengan kak Thomas ya?" tanya Santi sedikit bersemangat, membuat Irfan tak suka mendengarnya.
"Kamu masih memanggil dia dengan sebutan kakak?"
Santi tersenyum menyadari jika suaminya sedang cemburu. Thomas adalah kakak angkat Santi saat dia masih duduk di bangku SMP dan Irfan selalu cemburu dengan panggilan mereka yang terdengar sangat akrab, meski dia dan Thomas akhirnya berteman saat di bangku kuliah.
Alina dan Rico yang menyaksikan perbincangan kedua pasangan paruh baya itu hanya saling pandang sembari tersenyum geli. Jika biasanya sepasang kekasih terlihat menakutkan dengan setiap perkataan akan rasa cemburunya, maka Irfan dan Santi justru terlihat lucu dengan perdebatannya. Mereka bahkan tak sadar jika sedang menjadi tontonan Rico dan Alina. Sampai pada saat Rico berdehem, barulah Irfan dan Santi menghentikan perdebatannya dan menatap ke arah kedua pemuda di depannya.
"Ya ampun," ucap Santi dengan terkejut.
"Alina, maafin Bibi ya, Sayang. Kita nggak bermaksud bertengkar didepan kalian berdua," lanjutnya dengan tidak enak hati. Kemudian dia mengalihkan pandangannya kepada suaminya.
"Papa juga sih, cemburu nggak lihat situasi. Malu tuh dilihatin anak-anak," ucapnya lagi kepada Irfan.
"Mama yang mulai, kok malah nyalahin Papa sih."
"Papa jadi nyalahin Mama?"
Irfan hendak menyahuti ucapan istrinya yang seperti sedang memberi rambu-rambu. Namun baru saja dia meraih tangan istrinya, Rico lebih dulu memanggil mereka.
"Ma, Pa."
Mereka berdua lantas menatap kembali ke arah Rico.
"Mama sama Papa kenapa bertengkar?"
"Ah, ya ampun, Sayang. Maafin Mama ya," seru Santi dengan tidak enak hati.
"Papa sudah sangat lama nggak lihat Mama kamu marah, Co." Di susul dengan ucapan Irfan yang membuat Santi harus melotot kearahnya. Irfan hanya menyengir, kemudian menutup mulutnya rapat-rapat.
Obrolan kembali berlanjut dan kini pembahasan hanya meliputi keseharian Alina sebagai mahasiswi dan juga pekerja restoran.
Santi tampak begitu senang saat berinteraksi bersama Alina. Tampaknya mereka sangat menikmati obrolan yang mendominasi di antara mereka berempat. Bahkan tak sampai dua jam duduk santai di sana, mereka sudah terlihat sangat akrab satu sama lain. Benar-benar seperti orang yang sudah saling mengenal sejak lama.
Rico sangat senang melihat pemandangan yang tak pernah dilihatnya sebelumnya itu. Ini pertama kalinya dia memperkenalkan pacarnya secara terbuka kepada kedua orang tuanya dan mereka langsung terlihat akrab. Karena sebelumnya, Rico tidak pernah memperkenalkan pacarnya kepada Irfan maupun Santi jika bukan karena mereka anak dari rekan kerja di perusahaan. Dan itu juga, mereka selalu tahu dengan sendirinya karena dulu ex-girlfriend-nya selalu mengunjunginya ke kantor.
Waktu telah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Saking asiknya mengobrol bahkan mereka tidak menyangka jika jarum jam sudah mendekati angka sepuluh.
Rico berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk mengantar Alina pulang. Tak lupa Santi meminta Alina untuk lebih sering berkunjung jika ada waktu luang.
"InsyaaAllah ya, Bi. Alina pamit dulu, selamat malam."
Setelah melakukan salam perpisahan, Rico segera melajukan mobilnya keluar dari kediaman Renaldi. Dia sedikit menambah kecepatan mobilnya agar lebih cepat tiba di kontrakan Alina. Hari yang berat membuat pacarnya itu mengantuk lebih cepat. Untungnya hari ini Alina mengambil cuti kerja, jadi dia bisa beristirahat lebih awal setelah melewati kesibukan di kampus seharian ini.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.