Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
69. Paket Lengkap Dari Tuhan


"Apa kamu menganggap aku seperti itu juga?" tanya Rico.


Alina tersenyum mendengar pertanyaan Rico dan senyumnya tersebut ternyata berhasil membuat Rico bingung.


"Jangan tersinggung. Selain Andi, sekarang aku memiliki dua orang teman lagi yaitu, Rena dan kamu."


"Teman? Jadi kita hanya berteman?" tanya Rico lagi. "Saat keluarga kamu bertanya kemarin juga, kamu bilangnya hanya teman. Padahal aku sudah melamar kamu 'kan, Al."


Lagi-lagi perkataan Rico membuat Alina tersenyum geli.


"Ya ampun, kenapa kamu jadi lebay begini sih. Aku hanya bercanda, Sayang. Untuk apa aku menerima lamaran kamu kalau aku hanya menganggap kamu teman biasa seperti Andi dan Rena,"ucapnya.


Meski ada sedikit perasaa lega atas jawaban Alina, namun kini wajah Rico tiba-tiba terlihat menjadi serius. Tangannya yang menggenggam kedua tangan Alina membuat wanita itu merasa heran.


"Sekarang aku tahu bagaimana kondisi keluarga kamu dan kamu juga tahu gimana aku di keluarga Renaldi. Apa setelah ini kamu masih mau menjalin hubungan denganku, Al?" 


Alina terdiam beberapa saat sembari menatap lurus kepada pria yang ada di depannya. Dia paham betul apa yang Rico maksud karena sejak lama Rico selalu mencemaskan hal ini yang juga membuatnya trauma akan kegagalan cintanya yang sudah-sudah. 


"Bukankah sejak awal aku sudah mengatakan padamu kalau aku menerima kamu apa adanya, bukan karena kamu anak dari pebisnis hebat, Irfan Renaldi."


"Apa kamu yakin dengan perkataanmu itu, Al? Al, kamu sadarkan kalau selama ini hidupmu selalu bergelimang harta. Semua keinginanmu selalu didapat meskipun saat kamu sedang jauh dari keluarga kamu. Sementara aku? Aku hanya anak angkat dari keluarga kaya raya itu, Al. Aku sangat ingin menjadikan kamu istriku, tapi bagaimana jika suatu saat aku harus keluar dari keluarga itu? Mungkin saat itu hidupku nggak akan seperti saat ini yang bergelimang harta."


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Co? Sudah berapa kali aku bilang kalau aku menerima kamu apa adanya, meskipun kamu bukan keluarganya Irfan Renaldi."


"Tapi, Al, untuk kamu yang sudah terbiasa hidup mewah, apakah bisa hidup denganku yang tidak memiliki apa-apa nantinya? Aku tidak takut untuk hidup miskin, tapi kamu? Kalau kamu memutuskan untuk hidup bersama denganku, aku takut kamu tidak akan bahagia. Kamu nggak akan bisa berbelanja barang mewah seperti saat bersama keluargamu dengan ekonomiku yang berkecukupan, dengan rumah yang seadanya, dan dengan gaji kecil di pekerjaanku yang baru."


"Co." Alina menegaskan ucapannya. Bahkan dia menggenggam tangannya Rico lebih erat karena kekesalannya.


"Apa kamu menganggap aku serendah itu? Apakah aku terlihat semanja itu di mata kamu? Aku nggak nyangka kalau kamu berpikiran buruk seperti itu sama aku, Co."


Mata Alina berkaca-kaca, air matanya yang hendak tumpah saat itu langsung disadari oleh Rico.


"Co." Suara Alina kini sudah kembali melembut. "Kamu adalah orang pertama yang mampu membuat aku yakin untuk menjalin sebuah hubungan. Ketulusan kamu selama ini, kejujuran kamu, kesabaran kamu atas semua rahasia yang aku tutupi, dan juga ketulusan keluarga kamu yang mau menerimaku dengan keadaanku yang seperti saat ini, semua itu sudah cukup untuk membuat aku yakin akan menjalani hidup bersama denganmu kelak, Co. Semua itu bahkan lebih berarti daripada semua harta kekayaan yang kita miliki."


"Andi yang tau bagaimana susahnya aku selama di Oxford. Dia yang tahu bagaimana awal mula penyakitku kambuh saat di depan umum. Dia yang tahu betapa giatnya aku menghemat hanya demi bertahan hidup di negara orang seorang diri dan mengabaikan kehidupan sosialku di saat semua teman-temanku asik shoping dan berpesta. Aku sudah terbiasa hidup susah hingga saat ini, Co. Jadi please, jangan memikirkan materi dan sulitnya bertahan hidup dengan uang seadanya karena aku sudah pernah mengalami itu. Kita berdua punya skill yang bisa membuat hidup kita bahagia kedepannya nanti dan jangan takut miskin juga karena semua rejeki sudah ada yang mengatur. Syukuri saja apa yang diberi Tuhan pada kita, selagi kita menjalaninya bersama dan terus berusaha, aku yakin kita bisa melewati semua itu dengan mudah."


Perkataan Alina yang terdengar lembut namun tegas itu membuat Rico seketika terdiam. dia tahu maksud dari perkataan Alina, namun bukan ke sana maksudnya.


Dia tidak masalah dengan hidupnya yang miskin, tapi dia hanya tidak mau jika wanita yang dia cintai hidup susah karenanya. Dia sangat ingin membuat Alina bahagia dengan memberikan semua kebahagiaan padanya. Sebagai seorang pria yang sangat mencintai wanitanya, Rico jelas saja tidak mau jika wanita tercintanya sampai harus hidup susah dengannya. 


Ditemani oleh seseorang yang mencintainya dalam mencapai sebuah kesuksesan memanglah sangat menyenangkan, tapi rasanya dia tidak tega jika harus melihat Alina bersusah payah membantunya merangkak dari bawah. Apalagi sekarang dia tahu bagaimana kondisi keluarga Alina. Dia tidak mau mengambil seorang wanita dari keluarga kaya dan mengajaknya untuk hidup susah. Dia tidak mau setega itu hanya demi perasaan cintanya, membuat seorang wanita yang menjadi kesayangan keluarganya hidup seadanya. 


"Aku akan bahagia kalau kamu selalu ada di samping aku, sampai kita tua nanti dan menyayangi anak-anak kita kelak. Keluargaku juga pasti mengerti, kamu nggak perlu khawatir, Co. Tolong jangan samakan keluargaku dengan orang-orang yang pernah kamu temui sebelum ini. Materi tidak menjamin sebuah kebahagiaan dan keluargaku hanya menginginkan anak-anaknya bahagia di manapun mereka berada, jadi kamu jangan takut jika hanya karena materi."


Mata Rico tampak berkaca-kaca mendengar semua penuturan Alina yang menurutnya sangat dewasa. Usia Alina yang mungkin berada di bawahnya membuat Rico sangat bangga karena wanita itu bisa berpikir lebih dewasa daripada dirinya. Dia heran, dari sekian banyaknya orang-orang egois yang pernah dia temui, kenapa Tuhan baik sekali mempertemukan dia kepada wanita seperti Alina.


Air matanya yang hendak tumpah segera dia seka sebelum hal itu terjadi. Meskipun dia sangat ingin menangis bahagia, namun dia tidak mau terlihat lemah di hadapan Alina karena air matanya.


"Sayang, aku nggak tahu lagi gimana caranya bersyukur karena Tuhan mengirimkan kamu di sisi aku hingga saat ini. Aku benar-benar nggak tahu bagaimana caranya berterima kasih kepada-Nya atas semua yang telah aku dapatkan selama ini."


"Ketulusan hati kamu yang membuat Tuhan memberikan yang terbaik untuk kamu, Sayang. Teruslah berbuat baik dan jangan pernah lupakan Tuhan yang sudah memberi kamu semuanya," sahut Alina dengan tersenyum.


"Tentu. Aku juga mau mengucapkan terima kasih sama kamu karena sudah mau menerima aku apa adanya."


"Aku juga. Aku mau berterima kasih sama kamu karena sudah mau menemuiku saat Andi meminta waktu itu."


Mendengar perkataan Alina mengenai Andi, Rico pun tersenyum geli.


Ya, sepertinya mereka harus berterima kasih kepada Andi karena melalui temannya itulah mereka bisa bertemu dan menjalin hubungan seperti sekarang. Jika saja saat itu dia terus menolak untuk dikenalkan pada teman wanita Andi, mungkin saat ini dia tidak akan merasa seberuntung ini karena sudah mendapatkan pasangan dengan paket lengkap dari Tuhan.