
"Em, doakan saja ya, Ma. Kita masih sama-sama memantaskan diri untuk itu," jawabnya dengan tak pasti.
"Jangan lama-lama loh, Bang. Kalau kamu memang serius dengan dia, segera putuskan mau dibawa ke mana hubungan kalian ini. Kalian sudah setengah tahun lebih loh pacaran, nggak baik kalau terlalu lama menjalin hubungan yang nggak pasti seperti ini. Mama yakin kalau banyak pria di luar sana yang menginginkan posisi kamu saat ini untuk menjadi pendamping Alina, jadi jangan sia-siakan kesempatan yang sudah ada," ucap Santi memberi nasehat.
Dia berkata seperti itu bukan hanya karena ingin menjadikan Alina sebagai menantunya. Namun dia juga tidak mau jika putra kesayangannya itu sampai menyakiti hati seorang wanita sebaik Alina. Bagaimanapun juga, dia yang juga merupakan seorang wanita sangat tidak membenarkan sebuah hubungan tanpa sebuah tujuan yang jelas. Ya, meskipun dulu dia dan Irfan sempat menjalani hubungan yang cukup lama, namun dia tidak ingin anaknya seperti itu.
"Mama tenang saja ya. Rico sangat serius kok dengan Alina. Semua hanya masalah waktu saja, Ma. Orang tua Alina juga masih di desa, mereka akan pindah ke sini sekitar satu atau dua bulan lagi. Setelah mereka datang ke sini, Rico akan menemui mereka dan memutuskan semuanya," ucap Rico dengan yakin.
Memang dia akan segera menemui keluarga Alina begitu mereka tiba di kota ini dan membicarakan semuanya dengan jelas. Hanya saja dia belum bisa cerita mengenai niatnya yang ingin melamar Alina dalam waktu dekat. Dia belum bisa cerita karena ingin memberi kejutan kepada kedua orang tuanya.
Santi tersenyum mendengar perkataan putranya itu. Melihat keyakinan yang dikatakan Rico, Santi sangat yakin jika putranya itu bersungguh-sungguh atas setiap perkataannya. Dan saat ini dia hanya bisa berdoa agar kabar baik segera datang dari putra satu-satunya itu.
...**...
Sesuai niatnya semalam, siang ini Rico mendatangi kantor milik orang tua Andi yaitu, Chris A group. Ya, kantor itu masih sepenuh milik orang tua Andi dan sebentar lagi perusahaan itu akan menjadi milik Andi sepenuhnya setelah tender besar yang mereka jalankan berhasil. Tak lama, hanya menunggu waktu dalam beberapa minggu terakhir.
Setiba di Chris A group, Rico langsung turun dari mobil dan masuk menuju kantor temannya itu. Lift berhenti di lantai yang menjadi letak ruangan Andi berada. Dia segera keluar dari kotak berjalan itu menuju ruangan teman baiknya.
Saat melewati meja sekretaris Andi, dia hanya tersenyum ramah, kemudian melanjutkan langkahnya dan membuka pintu ruangan tanpa berniat mengetuknya terlebih dahulu.
Di dalam sana, terlihat Andi sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan mata terpejam. Rico masuk ke dalam sambil menggelengkan kepalanya. Semalam pria itu mabuk hingga petang, tak heran jika keadaannya saat ini terlihat jauh dari kata elegan.
Rico berjalan mendekati Andi. Melihat gelas berisi air di atas meja, dia pun dengan iseng memercikkan air di dalam gelas tersebut ke muka Andi. Dan tanpa menunggu jeda, Andi pun terbangun dengan terkejut. Dia berteriak marah, namun saat melihat sosok Rico di sana, umpatan langsung keluar dari mulutnya.
"**1*!"
"Nggak ada kerjaan di kantor?" tanya Rico tanpa rasa bersalah.
"Ngapain sih, Co, ke sini. Ganggu orang tidur saja. Sudah tahu ini jam makan siang," ucap Andi yang masih tak terima akan kehadiran Rico yang mengganggu waktu istirahatnya.
Andi menyandarkan tubuhnya, namun dengan mata yang lagi-lagi terpejam. Dia sangat mengantuk sekali karena pukul empat pagi tadi baru pulang dari klub dan pada pukul tujuh sudah harus pergi ke kantor karena ada rapat dadakan dari papanya. Kepalanya terasa sangat pusing, dia baru bisa memejamkan matanya dengan tenang sekitar setengah jam lalu. Namun dengan seenaknya Rico mengganggu waktu berharganya itu dengan percikan air. Jika sudah begini, dia tidak akan bisa lagi tertidur meski kantuk sangat mendominasi.
"Mau sampai kapan mabuk-mabukan, Ndi? Apa kamu nggak kasihan dengan Rena?" ucap Rico yang membuat Andi heran mendengarnya. Kenapa tiba-tiba Rico menyebut nama Rena, pikirnya.
"Kenapa dengan Rena?" tanyanya.
"Ya aku kasihan saja dengan dia. Selama ini dia hidup dengan sangat sehat dan dimanja oleh orang tuanya. Tapi pacarnya malah sukanya mabuk-mabukan. Apa anak papa itu akan kuat menghadapi kamu yang seperti ini jika kalian sudah menikah nanti?"
Rena memang wanita yang sangat sehat, dia juga selalu dimanja oleh kedua orang tuanya selama hidupnya. Jika dia terus seperti ini hingga mereka menikah nanti, apa Rena akan bisa bertahan dengan kelakuannya ini?
Selama ini Rena memang tidak tahu jika dirinya suka pergi ke klub malam dan mabuk-mabukan. Itu kenapa Rena tak pernah marah kepadanya selain kedekatannya bersama Alina. Dia tidak bisa membayangkan, betapa kecewa dan marahnya Rena jika mengetahui semua ini. Kedekatannya bersama Alina saja sudah membuatnya cemburu buta, bagaimana jika wanita itu sampai tahu jika dirinya selalu mabuk-mabukan dan dikelilingi wanita malam?
Andi memang sudah tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun selain pacarnya dan juga Alina, namun saat dia sedang mabuk, dia tidak akan sadar jika para wanita di sana selalu menempel padanya. Andi menghela nafasnya panjang. Kini kantuknya dengan perlahan mulai menghilang begitu memikirkan pacarnya itu.
Kenapa juga dia harus jatuh hati kepada wanita yang sifat dan gaya hidupnya berbanding terbalik dengan dirinya?
Andi membuka matanya, dia menatap ke arah Rico dengan tatapan kesal. Ingin memaki pria itu, tapi Andi menyadari jika secara tidak langsung Rico sudah membantunya memikirkan sesuatu yang belum dia pikirkan sebelumnya. Untuk berterima kasih pun dia tidak mau karena dia masih merasa kesal karena pria itu sudah mengganggu tidur nyenyaknya.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Andi dengan nada menyebalkan. Namun tak sampai membuat Rico tersinggung karena dia sudah terbiasa dengan tingkah menyebalkan temannya itu. Apalagi jika Andi baru bangun tidur, hal menyebalkan seperti ini pasti terjadi dan Rico sudah terbiasa untuk itu.
"Mau ngobrol saja," ucap Rico dengan santai.
Andi berdecak, kemudian dia bangkit dari posisi nyamannya.
"Ayo," ucapnya kemudian.
"Ke mana?" tanya Rico heran.
"Makan. Kamu nggak lapar apa?"
Rico menarik kedua sudut bibirnya, kemudian dia segera bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Andi yang sudah lebih dulu berjalan keluar dari sana.
Dia sampai terlupa untuk makan siang hanya karena memikirkan bagaimana cara untuk melamar Alina nantinya.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.