Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
38. Aku Mau Menikah Denganmu


Setelah dua hari merasakan mual yang membuat perutnya terasa sangat tak enak, kini akhirnya Alina bisa terbebas dari rasa tak nyaman itu. Dia juga sudah kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Kuliah di pagi hari dan bekerja sebagai supervisor di sebuah restoran kecil saat malam hari.


Setiap malam di ruang kerjanya yang ada di restoran, Alina selalu menyempatkan diri untuk mengerjakan skripsinya yang harus dia selesaikan paling lambat bulan depan. Dengan sangat harap Alina bisa mencapai target wisudanya dalam waktu dekat tanpa ada kendala apapun.


Karena saking sibuknya mengerjakan skripsi hingga mengurus segala macam urusan lainnya hingga wisuda ini, pertemuannya bersama Rico pun sangat terbatas. Rico yang mengerti situasi Alina sangat mendukung keputusan pacarnya itu. Dia tidak mau mengganggu Alina dengan urusan kuliahnya, namun dia juga meminta Alina untuk meluangkan sedikit waktunya untuk mereka bertemu. Setidaknya seminggu sekali di saat hari libur.


Pertemuan satu kali dalam seminggu itu sungguh membuat pertemuan mereka terasa sangat berkesan. Banyak hal yang harus diceritakan dan setiap detik yang mereka lewati juga terasa sangat menyenangkan. Rico juga lebih banyak mendengar keluhan Alina mengenai lelahnya menatap lembaran kertas dan juga layar laptop.


Sama seperti minggu-minggu sebelumnya, hari ini sejak sore hari Alina dan Rico sudah menyibukkan diri dengan berkeliling kota. Melepas rindu setelah satu minggu berjibaku dengan kesibukannya masing-masing. Dan menikmati waktu berdua di sore hari yang cerah sambil bernyanyi santai dengan diiringi musik jazz dari speaker mobil.


"Oh ya, Al. Jadi kapan waktu tepatnya kamu wisuda?" tanya Rico.


"Kalau nggak ada halangan bulan depan. Doakan semuanya lancar ya," ucap Alina.


Rico mengiyakannya. Tentu saja dia akan mendoakan yang terbaik untuk wanitanya itu. Tanpa disuruh pun dia akan selalu mendoakannya.


"Al?"


"Ya?" ucap Alina dengan menatap sekilas kearah Rico.


"Gimana pendapat kamu mengenai hubungan kita?"


Alina yang saat itu masih bernyanyi mengikuti suara musik yang berputar kini menghentikan nyanyiannya, namun tak mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan. Dia tahu maksud dari pertanyaan Rico karena selama tiga bulan ini, hampir setiap mereka bertemu, Rico pasti menyelipkan sedikit pembahasan mengenai hal tersebut dalam perbincangan mereka. Membuatnya juga memikirkan hal itu saat sedang sendirian di kamar.


"Apa kamu begitu ingin menikah denganku?" tanya Alina yang terdengar aneh di telinga Rico.


"Tentu saja, Al. Untuk apa kita berpacaran kalau nggak ada niatan untuk menikah?"


Alina hanya diam saja mendengar perkataan Rico. Ya, sebuah jawaban yang sangat masuk akal, pikirnya.


"Al, aku berencana mau melamar kamu setelah kamu wisuda nanti. Apa kamu keberatan?" tanya Rico kemudian.


Alina menatap ke arah Rico dengan seketika saat mendengar perkataan pacarnya itu. Melamarnya? Secepat itu kah?


Alina tampak terkejut mendengarnya. Dia sangat heran dengan pria itu, sejak perkataan Irfan di apartemen beberapa bulan lalu, Rico jadi sering sekali membahas masalah pernikahan bersamanya. Pria itu terlihat sangat tertarik dengan sebuah pernikahan, entah apa alasannya karena Rico tak pernah mengatakan padanya. Pria itu hanya berkata jika dia sangat ingin menjalin hubungan yang serius dengannya.


Sebenarnya juga, bukannya Alina tidak mau melanjutkan hubungannya ini ke jenjang pernikahan. Dia justru sangat ingin, apalagi berpacaran dalam waktu yang panjang bukanlah sesuatu yang dia inginkan.


Alina pernah berharap jika kisah percintaannya nanti akan sama seperti kisah Alfian dan sang istri. Bertemu dengan sang kekasih idaman di waktu yang tepat, berpacaran kurang dari enam bulan, setelah itu menikah. Meski terdengar simple dan tidak menarik, tapi Alina sangat menyukai itu. Alina juga berharap mendapatkan sosok pria yang bertanggung jawab seperti sang abang.


Dari apa yang dia lihat, sejujurnya saja Rico tak jauh berbeda dengan abangnya, Alfian. Meski baru mengenal pria itu kurang lebih lima bulan, tapi Alina bisa menilai sedikit banyaknya tentang pria itu. Sifat, sikap, rasa tanggung jawab, dan bagaimana perasaan pria itu terhadapnya.


Ya, Alina sadar jika tidak seratus persen yang dia lihat itu benar, tapi setidaknya begitu yang dia nilai terhadap Rico. Lalu, apa yang membuatnya ragu mengiyakan ajakan Rico untuk segera menikah? Apalagi beberapa bulan belakangan ini Rico selalu saja mengutarakan niatan baiknya itu padanya. Dan abangnya juga sudah lebih dulu memberi restu secara pribadi padanya saat dia bertanya atas rasa bingungnya itu.


"Al?"


Lambaian tangan dan suara Rico yang memanggilnya membuat Alina tersadar dari lamunannya. Dia mengerjapkan matanya, kemudian Alina menatap ke arah sekitar dan tampak terkejut saat menyadari jika Rico telah menghentikan mobilnya di pinggir taman.


"Kenapa kita berhenti di sini, Co?" tanya Alina dengan bingung.


"Kamu kenapa melamun, Al?" tanya Rico tanpa menyahuti pertanyaan Alina.


"Ah?" Mendengar itu, Alina seketika terdiam.


"Kamu kenapa, Al? Apa kamu keberatan dengan keputusanku yang ingin melamarmu? Atau kamu terganggu dengan pembahasanku mengenai pernikahan? Al, aku benar-benar minta maaf kalau kamu–"


"Co," ucap Alina menyela perkataan Rico yang belum selesai. "Aku mau menikah denganmu."


"Tapi…," Alina menjeda kalimatnya sejenak.


"Tapi kenapa, Al?"


"Aku harus menyelesaikan kuliahku terlebih dahulu, memantaskan diri, dan juga meminta izin kepada keluargaku."


Rico tersenyum mendengarnya. Tentu saja ketiga hal itu harus diselesaikan sebelum mereka benar-benar melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.


"Satu bulan lagi, bukan?" ucap Rico dengan tersenyum senang.


"Ya, tapi 'kan–"


"Al," sela Rico cepat. "Hanya lamaran saja kok. Untuk menikah, tentu saja kita harus memantapkan diri masing-masing sampai benar-benar siap."


Rico berusaha meyakinkan Alina. Sebenarnya juga, bukannya dia ingin terburu-buru menikah, hanya saja dia tidak mau menjalin hubungan tak pasti lebih lama lagi. Dan Rico sendiri pun tidak tahu sejak kapan pemikiran itu datang.


Selagi Alina mempersiapkan itu semua, Rico juga tentunya tak ingin diam saja. Dia juga harus meyakinkan dirinya sendiri sampai benar-benar yakin jika dirinya tak salah dalam melangkah. Dia juga harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk biaya pernikahannya bersama Alina.


Meski statusnya saat ini adalah anak dari seorang Irfan Renaldi, tapi semua itu tak membuat Rico melupakan siapa dirinya yang sesungguhnya. Dia cukup tahu diri untuk menggunakan uang orang tua angkatnya sebagai biaya pernikahannya. Walaupun tak akan semegah seperti pernikahan anak-anak orang kaya kebanyakan, tapi menurut Rico tak akan jadi masalah selagi itu menggunakan uang pribadinya sendiri dan tidak merepotkan orang lain.


Untungnya Alina mengerti akan perasaannya saat itu. Ternyata pacarnya itu pun tak terlalu berharap akan acara pernikahan yang sangat megah. Hal itu sungguh membuat Rico sangat bersyukur dan juga semakin yakin jika dia tidak salah dalam memilih pasangan hidup.


*


Di hari yang berbeda, siang itu Rico sedang makan siang bersama Andi dan Rena. Tak ada Alina di sana karena seperti biasa, wanita itu sedang sibuk dengan urusan perkuliahannya yang mendekati hari wisudanya.


Siang itu Rico harus menjadi obat nyamuk antara Andi dan Rena yang terkadang mencuri waktu untuk bermesraan. Seperti saat ini, Rico memutar bola matanya malas saat melihat Andi mengusap ujung bibir Rena yang terdapat noda sambal. Jika saja ada Alina, mungkin saja rasanya akan berbeda meski sepasang kekasih di hadapannya itu berc1um4n sekalipun.


"Kalian bisa biasa saja nggak? Alina lagi nggak ada di sini, jadi jangan sok romantis di depan aku."


Akhirnya rasa kesalnya akan pemandangan yang mengganggu itu berhasil dia utarakan.


"Kita nggak ngapa-ngapain kok, Co. Kamu lebay banget sih," ucap Rena dengan suara khasnya yang terdengar menyebalkan.


Rico pun yang mendengar itu hanya bisa memutar bola matanya jengah. Dia tidak mau meladeni Rena dengan mode menyebalkan seperti itu. Lebih baik dia diam saja dari pada telinganya panas akan perkataan menyebalkan wanita itu yang akan lebih banyak lagi.


"Aku ke toilet dulu," ucap Rico kemudian.


Saat dirinya hendak bangkit dari duduknya, dia tidak menyadari jika ada sepasang kekasih yang berjalan dari arah belakangnya. Saat Rico mulai berdiri dan akan berbalik, dia tidak sengaja menabrak tubuh wanita yang sedang bersama pasangannya itu.


"Aw!"


Mereka sama-sama terkejut akan kejadian tak terduga itu. Saat pandangan mereka bertemu, rasa terkejut itu menjadi sedikit lebih besar.


"Rico?" ucap wanita itu yang ternyata mengenal Rico.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.