
Alina memandang Rico dalam diam dengan cukup lama.
"Di manapun tempatnya, jika bang Fian masih sering keluar masuk rumahku, orang-orang di tempat tinggal baruku nanti juga akan melakukan hal yang sama, Co. Lalu apa bedanya?" ucap Alina dengan suara datar.
"Kali ini nggak akan ada yang mengosipi kamu lagi, meski kamu membawa sepuluh pria sekaligus ke tempat tinggalmu," ucap Rico dengan yakin. Membuat Alina mengernyit heran.
"Apa maksud kamu, Co? Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Alina.
"Hutan."
Alina membelalakkan matanya mendengar jawaban Rico yang sangat singkat itu. Hutan? Apa Rico sudah gila mau membawanya ke hutan. Karena kesal dengan bercandaan garing pacarnya itu, sontak Alina memukul lengan kiri Rico dengan keras, sehingga membuat pria itu mengaduh.
"Aw, sakit, Al. Kamu kok kasar banget sih."
Alina seketika menjadi panik sendiri saat Rico mengatakan dirinya kasar. Apa sesakit itu, pikirnya.
"Ma–maaf. Maaf, aku nggak sengaja. Apa sakit?" tanya Alina cemas. Dia meraba sekitar lengan Rico untuk mencari titik sakitnya, namun raut wajahnya berubah saat melihat Rico yang menahan tawanya.
"Kenapa ketawa?" tanya Alina heran. "Kamu ngerjain aku ya?" lanjutnya demikian.
Seketika tawa Rico lepas begitu saja melihat wajah kesal Alina. Dia terkekeh cukup lama sehingga membuat Alina melempar tubuhnya ke punggung kursi, melipat tangannya di depan dada dengan wajah ditekuk karena kesal.
"Sorry-sorry," ucap Rico yang masih dengan sisa tawanya.
Alina semakin menekuk wajahnya karena Rico tak juga menghentikan tawanya. Namun setelah merasa cukup mengerjai pacarnya itu, barulah Rico menghentikan tawanya dan tersenyum lembut ke arah Alina.
"Sayang, sudah ya ngambeknya. Aku hanya bercanda, maafin aku ya," ucap Rico dengan suara lembut.
Alina masih tak merespon ucapan Rico, sampai pria itu menepikan mobilnya di sisi jalan, barulah dia menatap ke arahnya.
"Kenapa berhenti?"
Akhirnya Alina membuka suara dan menatap ke arahnya, membuat Rico tersenyum.
"Kamu masih ngambek?"
Alina menghela nafasnya. "Ayo jalan, nanti aku terlambat loh."
"Tapi kamu masih ngambek sama aku," ucap Rico yang membuat Alina kesal.
"Astaga, aku nggak ngambek, Rico Sayang. Lagian kamu juga sih, ngeselin banget," ucap Alina dengan wajah yang kembali ditekuk.
Mendengar kalimat sayang dari wanita kesayangannya itu, seketika senyum Rico melebar dengan sempurna. Kemudian dia segera melajukan kembali mobilnya menuju kampus tempat pacarnya itu menimba ilmu.
Setiba di kampus, Alina segera keluar dari mobil dan berpamitan kepada Rico.
"Al," panggil Rico sebelum Alina pergi.
"Kenapa?"
"Aku serius dengan perkataanku tadi."
Alina mengernyitkan keningnya dengan heran.
"Perkataan yang mana?"
"Soal tempat tinggal. Aku akan mencarikan tempat tinggal yang lebih baik untuk kamu. Paling lama, minggu depan kamu sudah bisa pindah oke."
Alina hendak menyahuti perkataan Rico, namun pria itu yang menyadarinya lebih dulu lantas kembali berucap.
"Please, jangan menolak. Semua ini demi kebaikan kamu juga, Al. Aku akan mengurusnya untuk kamu, kamu nggak usah pikiran yang lainnya."
Karena Rico memaksa dan Alina juga yakin jika pria itu sudah sangat bulat dengan keputusannya, akhirnya Alina hanya bisa mengiyakan perkataannya saja. Terserah Rico mau bagaimana, dia sedang tidak mau berdebat untuk kedua kalinya setelah perdebatan kecil di dalam perjalanan tadi.
***
Pukul tiga sore Alina selesai dengan kegiatannya di kampus. Dia segera meraih ponselnya untuk menghubungi Alfian agar segera menjemputnya di kampus. Sebelumnya abangnya itu memang sudah berjanji akan menjemputnya dan mengajaknya dinner nanti malam.
Tak butuh waktu lama untuk Alfian menjawab panggilan dari adik kesayangannya itu dan kini panggilan mereka telah terhubung.
"Abang sudah di depan kampus kamu. Kamu sudah selesai?"
"Sudah. Aku juga sudah jalan ke depan ini."
"Baiklah, hati-hati."
Setelah mengiyakan perkataan abangnya, Alina segera memutuskan panggilannya. Dia berjalan menuju gerbang kampus dan sesekali membalas sapaan para mahasiswa/i yang mengenalnya.
"Ali."
Alina memutar bola matanya malas saat mendengar suara tak asing dengan nama panggilan yang khas untuknya itu. Dia menoleh ke belakanh dan menemukan sosok pria dengan lesung pipi yang membuat senyumannya terlihat lebih manis di wajahnya sedang berlari kecil ke arahnya.
"Hei," sapanya ketika telah berada di hadapan Alina.
"Ali itu nama cowo, Dre. Namaku Alina," ucap Alian dengan kalimat yang sama jika pria bernama Andre itu memanggilnya dengan sebutan 'Ali'.
"Tapi itu panggilan kesayanganku padamu, Al."
Alina kembali memutar bola matanya malas. Begitu juga jawaban Andre setiap dia protes akan nama panggilan itu.
"Mau apa?" tanya Alina kemudian.
"Pulang sama pacar kamu lagi?"
"Sama abangku."
"Yaa, padahal aku mau ngajakin pulang bareng kalau pacar kamu nggak jemput," ucap Andre dengan sedikit kecewa.
Meski sudah mengetahui jika Alina telah memiliki pacar, pria itu tetap saja selalu mencari cela untuk mendekati Alina. Seolah hubungan antara Alina dan pacarnya bukanlah sebuah penghalang untuknya berjuang mendapatkan hati wanita pujaaannya itu.
"Maaf Ndre, aku buru-buru. Abangku sudah menunggu di depan," ucap Alina kemudian. Dia tak berniat meladeni tawaran pria itu dan lebih memilih untuk segera pergi dari sana.
Andre pun tak bisa melarang Alina untuk segera pergi. Dia mengiyakan begitu saja kepergian Alina, meski rasanya sangat ingin hanya sekedar mengantarnya pulang dan mengetahui tempat tinggalnya. Alina begitu sulit digapai, bagai bintang nun jauh di angkasa yang amat tinggi. Sangat heran kenapa tiba-tiba wanita itu memiliki pacar, padahal baru tiga bulan lalu Alina mengatakan sedang tidak ingin berpacaran saat dia menembaknya.
Di depan sana, saat sosok Alina sudah terlihat berjalan ke arahnya, Alfian segera membuka kaca mobilnya. Mereka saling lempar senyum singkat sampai Alina masuk ke dalam mobil.
"Abang lagi nggak sibuk? Ini masih jam tiga loh," ucap Alina.
"Kesibukan Abang untuk saat ini hanya menjaga adik Abang tersayang ini," ucap Alfian sembari mengusap pelan kepala Alina.
Alina hanya tersenyum geli mendengar jawaban abangnya itu.
"Abang sudah makan?" tanya Alina.
"Sudah tadi siang. Kamu belum makan?" tanya Alfian balik.
"Sudah juga tadi siang, tapi masih lapar. Mampir ke toko kue saja yuk," ajak Alina dengan girang. Sudah sangat lama dia berpuasa makan makanan manis, sekarang tiba-tiba dia sangat ingin makan kue cokelat.
"Perut kamu gimana?" tanya Alfian.
Adiknya itu memang disarankan untuk mengurangi memakan makanan manis karena perutnya yang tidak bersahabat. Setiap Alina memakan makanan manis, terutama cokelat, perutnya pasti akan merasa mual namun tak sampai membuatnya muntah.
"Sudah dua bulan aku nggak makan makanan manis loh, Bang. Kata dokter 'kan nggak papa kalau hanya sedikit," ucap Alina dengan tatapan memohon.
Alfian menghela nafasnya sembari tersenyum lembut. "Baiklah, tapi jangan banyak-banyak ya."
Alina langsung mengiyakan dengan sangat girang. Kemudian Alfian segera melajukan mobilnya menuju toko kue yang menjual kue cokelat yang terkenal akan rasanya yang sangat enak.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.