Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
122. Latihan Memiliki Anak


Weekend siang itu Alina dan Rico sedang mengajak Lala untuk bermain di salah satu wahana bermain yang ada di mall kota itu. Karena sebentar lagi mereka akan memiliki anak, Alina dan Rico berencana untuk meminjam anak dari abangnya untuk melatih mereka menjadi orang tua kelak. Dan untungnya Marissa dan Alfian mengizinkan mereka untuk membawa Lala, sementara mereka memanfaatkan waktunya berdua untuk berpacaran kembali. 


Untung saja keponakannya itu sudah mulai dekat dengan Alina, sehingga membuat mereka lebih mudah mengajak Lala bepergian tanpa didampingi orang tuanya.


Baru setengah jam menemani Lala di area wahana permainan, Alina sudah mulai terlihat lelah. Tubuhnya yang sedang berbadan dua itu membuatnya mudah sekali merasa lelah. Rico yang menyadari hal itu lantas meminta Alina untuk menunggu di kursi tunggu yang tersedia di area permainan itu.


"Kamu tunggu di sini dulu saja ya. Biar aku yang ngajak main Lala. Kamu nggak papa, 'kan?" tanya Rico.


"Mas apa kita nggak istirahat dulu saja di restoran?"


"Kamu lapar?" tanya Rico lagi.


Alina menggelengkan kepalanya.


"Nggak. Mungkin saja Lala sudah lapar atau mulai lelah. Kasihan dia Mas." 


Mendengar perkataan istrinya itu, Rico pun menatap ke arah Lala yang saat ini sedang berada dalam gendongannya.


"Lala, apa Lala sudah mulai lelah?"


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, yang mengatakan jika dirinya masih sanggup untuk bermain lagi.


"Apa Lala nggak lapar?" tanyanya lagi.


"No," jawab Lala sambil menggelengkan kepalanya. 


"Kalau Lala sudah lelah dan lapar, beritahu Om Rico ya. Nanti kita makan bersama."


Lala yang seolah mengerti dengan perkataan Rico pun menganggukan kepalanya dengan cepat. Kemudian dia menunjuk pada salah satu permainan yang membuat Rico harus segera pergi dari sana untuk menuruti kemauan gadis kecil itu.


"Sayang, aku ke sana dulu ya.Kamu tunggu di sini sebentar. Jangan lupa minum air putihnya."


Alina menganggukan kepalanya dengan tersenyum. Setelah itu Rico segera pergi dari sana menuju permainan yang tadi ditunjuk oleh Lala.


Dari kejauhan Alina tersenyum senang melihat suaminya bermain dengan Lala dengan begitu bersemangat. Dia sangat senang sekali suaminya itu ternyata mau berusaha untuk menyenangkan hati gadis kecil itu yang bukanlah dari dagingnya. Melihat pemandangan menyenangkan itu, Alina jadi sudah tidak sabar untuk memiliki anak dan melihat mereka bermain dengan anak-anaknya. Pasti akan jauh lebih menyenangkan jika mereka bermain dengan anaknya sendiri nanti.


Sepuluh menit Alina masih tersenyum menatap pada Lala dan suaminya di ujung sana. Dia juga mencoba membuka seluruh aplikasi yang ada di ponselnya untuk mengusir rasa bosan. Namun saat menit telah menunjukkan angka tiga puluh, Alina kini mulai merasa bosan. Dia merasa jika Rico dan Lala sudah terlalu lama bermain sehingga melupakan dirinya yang seorang diri kita duduk di kursi ini. Karena juga sudah mulai lelah terduduk di sana sendirian, Alina pun berjalan menghampiri Lala dan suaminya.


"Sayang, kenapa kamu ke sini? Istirahat saja di kursi itu," ucap Rico sembari memangku Lala yang sedang bermain mobil-mobilan.


"Aku lelah duduk di sana sendirian. Apa kalian masih lama bermainnya?" tanya Alina.


"Semua permainan sudah hampir kita mainkan, mungkin setelah ini kita bisa pergi makan. Apa kamu sudah mulai lapar?" tanya Rico.


"Iya. Aku sangat lapar sekali sejak tadi."


Rico mengernyitkan keningbya mendengar perkataan istilah itu.


"Sayang, kenapa kamu nggak bilang kalau sudah lapar sejak tadi? Kita makan sekarang ya," ucap Rico dengan cemas.


Dia hendak keluar dari area permainan itu, namun Alina mencegahnya lebih dulu.


"Selesaikan dulu permainannya, nanti Lala menangis."


Mengingatkan karena permainan tersisa satu menit lagi, Rico pun mengiyakannya. Setelah permainan berakhir, Rico segera memberi pengertian kepada Lala untuk menghentikan kegiatan menyenangkannya itu.


"Lala, mainnya sudah cukup ya. Sekarang waktunya kita makan. Bibi Alina dan adik bayi di dalam perut sekarang sudah lapar. Apa Lala mau makan juga?" tanya Rico dengan perlahan agar gadis kecil itu mengerti dengan perkataan nya.


"Lala lapar," ucap Lala dengan suara cadelnya.


Rico pun tersenyum dan segera membawa Lala dan juga istrinya menuju restoran terdekat yang ada di sana. 


"Sayang, kalau kamu sudah lapar sejak tadi, seharusnya bilang. Aku nggak mau loh kamu menahan lapar seperti itu," ucap Rico mengingatkan. Dia sangat khawatir karena istrinya itu menahan lapar.


"Tapi 'kan kamu lagi ngajak main Lala. Aku nggak enak kalau harus mengusik kesenangan keponakanku ini."


"Mainnya bisa ditunda, Sayang. Kita bisa makan dulu dan lanjut bermain lagi setelahnya."


"Kalau Lala nggak mau gimana? Tadi dia lagi semangat-semangatnya loh."


"Kalau begitu aku bisa minta seseorang untuk membelikan kamu makanan. Aku nggaknmau kamu menahan lapar lagi ya, apapun itu alasannya."


"Iya, maaf. Aku nggak kepikiran ke situ," ucap Alina yang kini merasa bersalah kepada anaknya yang ada di dalam perut. Dia memang tidak terpikir akan hal itu, yang dia pikirkan saat itu hanyalah tidak mau mengganggu kesenangan keponakan kecilnya itu saja.


**


Di tengah waktu makan siang mereka, saat itu Alina tidak sengaja melihat seorang pria dan wanita yang sangat dia kenali. Dia melihat abangnya yaitu, Morgan, sedang masuk ke dalam restoran yang sama dengan mereka bersama seorang gadis. Seorang gadis tak asing bagi Alina, yang tak lain adalah Calista. 


Dia menatap ke arah kedua orang itu dengan heran. Kenapa abangnya bisa datang ke restoran ini dengan wanita itu yang tak lain adalah mantan pacar suaminya. 


"Kenapa bang Morgan sama Calista ada di sini? Ada hubungan apa mereka?" gumam Alina dalam hati.


Rico yang melihat istrinya melamun lantas melambaikan tangannya ke depan wajah istrinya.


"Sayang, kamu kenapa melamun?" tanya Rico dengan heran.


"Aku melihat Calista," ucap Alina yang membuat Rico mengernyitkan keningnya. 


Karena merasa jika yang disebut Alina tidak terlalu penting, Rico pun hendak mengabaikannya. Namun perkataan istri selanjutnya itu ternyata berhasil membuat dia menjadi sangat heran dan terpaksa menoleh ke arah yang saat ini sedang ditatap oleh Alina. 


"Dia bersama bang Morgan."


Rico yang melihat mantan pacarnya itu sedang berada di restoran yang sama dengannya bersama kakak iparnya lantas dibuat bertanya-tanya. Apakah mereka memiliki hubungan?


"Sayang, kenapa Morgan bersama Calista?" 


"Apa mereka punya hubungan?"


Alina menatap ke arah suaminya itu dengan heran. 


"Apa benar begitu?" tanya Alina balik. 


"Ya nggak tahu, aku 'kan nanya sama kamu."


A pandangan Alina tertuju kembali kepada abangnya dan Calista yang saat ini telah duduk dengan jarak yang cukup jauh dari mereka. 


"Dulu Calista pernah mengejek kamu dan memintaku untuk menjauhimu. Apa menurutmu aku akan senang kalau mereka memiliki hubungan?" tanya Alina tanpa melirik kepada suaminya.


"Sayang, sama orang berhak untuk berubah menjadi lebih baik. Tapi nggak semua orang juga bisa berubah menjadi lebih baik. Sebenarnya Calista wanita yang baik, dia berasal dari keluarga yang terhormat juga. Tapi sangat disayangkan dia harus kalah dengan egonya yang terlalu tinggi."


Mendengar perkataan Rico, Alina pun kembali menatap ke arah suaminya itu.


"Kamu mengenal Calista dengan baik ya," ucap Alina dengan nada tak ramah, membuat Rico jadi salah tingkah. Sepertinya dia sudah salah bicara sehingga membuat istrinya salah paham.


"Maaf, bukan begitu maksudku. Aku hanya memberi sedikit gambaran tentang Calista, jika benar dia memiliki berhubungan dengan Morgan."


Alina menghela nafasnya. Tak tahu harus merespon apa karena dia juga tidak tahu apakah abangnya saat ini memang sedang menjalin hubungan dengan Calista atau tidak.


**


Saat sedang makan malam bersama di kediaman Wilson, saat itu Alina menatap penuh arti kepada Morgan. Dia yang masih penasaran dengan hubungan abangnya itu dengan mantan Rico membuatnya hendak menanyakan hal itu. Kebetulan semua keluarga lagi berkumpul dan Alina juga berniat ingin menjahili abangnya itu. Tepat sekali waktunya, pikirnya.


"Ma, Pa, sepertinya sebentar lagi Mama dan Papa akan memiliki menantu baru deh," ucap Alina yang memecah keheningan pada malam hari itu.


Semua orang pun yang mendengar perkataan Alina lantas menatap pada wanita itu.


"Menantu baru? Apa maksud kamu, Sayang?"  tanya Thomas.


"Ya, sebentar lagi anak kedua Papa akan segera memberikan menantu untuk Papa dan Mama," ucap Alina lagi sembari menarik salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Morgan yang merasa jika dirinya disindir oleh Alina lantas terlihat bingung. Terlebih saat itu orang tua dan abangnya langsung menatap ke arahnya dengan berbagai pertanyaan.


"Morgan, kamu sudah punya pacar?" tanya Thomas kepada putranya itu. 


"Aku? Kata siapa? Aku nggak punya pacar kok," ucap Morgan mengelak.


"Lalu, apa maksud perkataan Adik kamu tadi?"


"Aku nggak tahu, Pa. Papa tanya saja dengannya langsung. Dasar aneh," seru Morgan sambil melirik Alina pada kalinat terakhirnya. 


"Alina, apa maksud kamu, Sayang? Siapa yang akan memberi menantu pada kita?"


"Siapa lagi kalau bukan bang Morgan. Bukankah hanya dia di sini yang belum menikah," ucap Alina dengan tersenyum tipis sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya, seolah terlihat santai dengan pertanyaan orang tuanya itu.


Keluarganya pun kembali bertanya-tanya tentang perkataan Alina. Mereka terlihat bingung karena Alina mengatakan jika Morgan akan memberi mereka menantu, namun Morgan sendiri mengatakan bahwa dia tidak memiliki pacar. Lalu siapa yang benar?


"Alina, kamu ngomong apaan sih. Kenapa bicara ngelantur seperti itu," ucap Morgan kepada adiknya.


Dia bahkan ikut merasa bingung dengan tuduhan adiknya itu terhadapnya. 


"Abang, akui saja kalau sudah punya pacar, jangan malu. Kenalin kek sama Mama dan Papa, jangan sembunyi-sembunyi kayak anak SMA."


Perkataan Alina tersebut kembali membuat Morgan semakin heran. Sebenarnya siapa yang dimaksud oleh adiknya itu? Dia benar-benar tidak mengerti karena memang saat ini dia belum memiliki pasangan untuk dikenalkan kepada orang tuanya.


"Kamu kenapa sih, Al? Siapa yang punya pacar? Abang belum punya pacar loh," elak Morgan lagi.


"Oh ya? Lalu siapa yang di mall tadi kalau bukan pacar?" tanya Alina yang membuat mereka mengernyitkan keningnya.


Dia terdiam memikirkan perkataannya adiknya itu. Di mall? Hari ini dia memang pergi ke mall, tapi hanya sendirian. Lalu kenapa Alina berkata seperti itu?


Setelah beberapa detik berpikir kembali, akhirnya Morgan pun teringat jika dirinya sempat bertemu dengan seorang wanita bernama Calista dan makan bersama di salah satu restoran. Apa jangan-jangan yang dimaksudoleh Alina adalah Calista?


Astaga, jika benar begitu, ternyata adiknya tadi siang melihat dia bersama Calista di restoran dan mengira jika dirinya berpacaran dengannya. 


"Maksud kamu Calista?" tanya Morgan memastikan. 


"Nah itu mengaku. Bener 'kan apa kata Alina, Pa," ucap Alina sembari melirik ke arah Thomas. 


"Jadi pacar kamu bernama Calista?" tanya Thomas pula kepada putranya itu.


"Bukan, Pa. Dia bukan pacar Morgan. Astaga…. Al, kamu melihat Abang bersama Calista di mall dan mengira kalau kami pacaran?"


Alina mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Al, Abang ke mall sendirian. Tadi Abang nggak sengaja ketemu Calista di toko jam dan melihat dia kebingungan karena dompetnya tertinggal saat ingin membayar, jadi Abang membantunya saja."


"Lalu kenapa sampai harus makan bersama?"


"Memangnya salah kalau Abang ajak dia makan? Saat itu sudah jam makan siang dan dia nggak bawa dompet. Ya Abang sebagai pria baik hati hanya berusaha untuk menawarkan dia makan siang. Tapi siapa sangka dia mau menerima tawaran Abnag," ucap Morgan dengan diakhiri edikkan pada bahunya. 


"Bukannya zaman sekarang sudah canggih ya? Membayar apapun nggak harus menggunakan kartu ATM ataupun uang cash. Bisa melalui transaksi virtual di ponsel."


Kini celetukan Alfian berhasil membuat keluarganya menoleh ke arahnya. Hal itu juga membuat Alina membenarkannya dan kembali melempar dugaannya kepada Morgan. 


Morgan yang seolah memiliki jalan buntu lantas terlihat gagu untuk menyahut. Karena merasa sudah tak ada yang bisa dia lakukan untuk membela diri, akhirnya pria itu mengiyakan saja dugaan keluarganya tentang dia yang memiliki pacar. 


"Terserahlah kalian mau bicara apax yang penting pada kenyataannya sampai saat ini aku belum punya pacar."


Pandangan Morgan pun kini tertuju kepada Alina yang sedang tersenyum mengejek kepadanya. Morgan menajamkan pandangannya kepada Alina dan setelah itu dia melanjutkan kembali makannya yang tertunda gara-gara adiknya yang usil kepadanya.