Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
15. Gosip Murahan


Panggilan yang masih terhubung, mengharuskan Alina lebih banyak berinteraksi bersama Santi di sepanjang perjalanannya pulang bersama Irfan. Sementara pria paruh baya itu hanya menjadi pendengar dan fokus pada kemudinya.


"Al, kenapa kamu nggak minta temani Rico saja ke toko buku? Bahaya loh naik angkutan umum sore-sore begini," ucap Santi di seberang sana.


"Saldo ojek online Alina tadi habis, Bibi, jadi terpaksa cari angkutan umum. Lagi pula Rico 'kan masih bekerja dan Alina juga sudah biasa kok pergi sendirian."


"Yaampun Alina, kalau gitu lain kali harus hati-hati ya, Sayang. Bibi takut sekali loh sama angkutan umum, soalnya dulu Bibi pernah naik angkutan umum dan sering sekali digodain sama pria-pria di dalam sana."


Bukannya takut, Alina justru terkekeh mendengarnya.


"Itu karena Bibi terlalu cantik, makanya sering digodain."


"Ih, kamu bisa aja ya. Kamu nggak kalah cantiknya sama Bibi, jadi harus hati-hati ya, Alina."


"Iya, Bi. Bibi tenang saja, Alina jarang kok naik angkutan umum kalau nggak terpaksa banget."


"Bagus deh kalau gitu. Oh ya, kapan mau main ke sini lagi, Al?" tanya Santi.


"Em, nanti Alina cari waktu yang pas dulu ya, Bi. Soalnya masih sibuk sama skripsi dan juga kerjaan."


Obrolan mengalir begitu saja tanpa menghiraukan Irfan yang setia dengan diamnya. Hingga sampailah Irfan di depan rumah kontrakan Alina, saat itu juga Santi memutuskan panggilannya karena baterai ponselnya juga sudah malai habis.


"Makasih banyak ya, Paman. Alina pamit dulu, sekali lagi maaf telah merepotkan," ucap Alina sebelum dia turun dari mobil.


Irfan tersenyum mengiyakan.


"Oh ya Alina, di warung itu apa menjual permen pedas?" tanya Irfan sembari menunjuk ke arah warung yang berjarak dua rumah dari rumah Alina.


"Ada, Paman. Paman mau Alina belikan permen di sana?"


"Nggak usah. Biar Paman beli sendiri saja. Terima kasih ya, kamu masuklah ke dalam rumah, ini sudah mau maghrib. Nggak baik anak gadis mandi maghrib-maghrib atau malam hari."


Alina mengiyakan dan segera turun dari mobil. Setelah Alina terlihat masuk ke dalam rumah, barulah Irfan melajukan mobilnya sedikit kedepan, berhenti tepat di depan sebuah warung yang tadi dia tanyakan kepada Alina. Irfan turun dari mobil dan kehadirannya langsung disambut dengan tatapan penuh tanya oleh beberapa ibu-ibu yang ada di sana.


"Permisi, apa di sini ada permen pedas?" tanya Irfan kepada ibu-ibu di sana.


"Ada, Pak. Mau permen jenis apa?" tanya salah satu ibu-ibu di sana sembari menyebutkan nama merek permen yang dia jual.


Irfan menunjuk salah satu permen yang terpajang di dalam toples. Setelah itu dia segera membayarnya dengan satu lembar uang seratus ribuan.


"Tunggu sebentar kembaliannya ya, Pak."


Irfan mengangguk dan menunggu dengan santai sambil membuka satu buah permen yang baru saja dia beli.


"Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, bapak tadi yang mengantar Alina pulang ya?" tanya salah satu ibu-ibu di sana.


Irfan menoleh ke arah penanya. "Em, betul, Bu."


"Bapak siapanya Alina?"


Belum juga menjawab pertanyaan wanita berambut panjang, seorang wanita dengan rambut pendek menyerupai seorang lelaki sudah lebih dulu memberinya pertanyaan yang sangat mengejutkan.


"Apa benar kalau Bapak ini simpanannya Alina?"


"Heh, nanyanya yang mudah dulu dong. Jangan langsung ke intinya bego," ucap salah satu temannya yang lain.


"Iya, kita juga penasaran, tapi nggak gitu amat nanyanya."


Bisik-bisik para ibu-ibu yang lain karena pertanyaan sarkas temannya itu membuat Irfan seketika menjadi tak nyaman.


"Maaf ya, Pak. Kita cuma penasaran saja, soalnya Alina itu sering banget ngajak cowo ke rumahnya. Mana cowonya kaya-kaya lagi," ucap wanita berambut panjang.


Irfan masih tak memberi komentar akan pertanyaan atau perkataan lainnya orang-orang di sana. Pikirannya tiba-tiba menjadi tak tenang setelah mendengar perkataan para ibu-ibu di sana mengenai Alina. Apa benar Alina sering mengajak pria kaya ke rumahnya?


Namun karena tidak mau berburuk sangka mengenai pacar putranya itu, apalagi mereka baru bertemu dua kali, Irfan lebih memilih untuk tak menanggapi gosip murahan itu dan meninggalkan warung itu tanpa berniat untuk menunggu uang kembaliannya diberikan. Sepanjang perjalanan pulang, Irfan sangat kesal karena perkataan para ibu-ibu di warung tadi benar-benar mengganggunya.


Setiba di rumah, Irfan mencari keberadaan putranya untuk menanyakan apa yang baru saja dia dengar dari tetangga Alina. Gosip murahan itu sangat mengganggunya sehingga dia tidak bisa fokus dengan hal yang lain. Karena Rico belum pulang dari kantor, Irfan akhirnya menahan rasa penasarannya itu hingga malam tiba.


Setelah selesai makan malam, Irfan meminta Rico untuk menemuinya di ruang kerjanya. Dia sudah tidak sabar untuk menuntaskan rasa penasarannya akan perkataan para tetangga Alina saat di warung sore tadi.


"Ada apa, Pa?" tanya Rico setelah dia mendudukkan tubuhnya di kursi hadapan Irfan.


"Papa tadi sore nggak sengaja bertemu Alina di jalan. Dia sedang menunggu angkutan umum dari toko buku."


"Lalu?"


"Saat itu Papa masih telponan sama Mama kamu. Mama minta Papa untuk mengantar Alina pulang. Saat Papa sedang membeli permen di warung dekat rumahnya, beberapa tetangganya mengatakan sesuatu yang nggak baik tentang Alina."


Rico mengernyitkan keningnya mendengar perkataan papanya yang membuatnya curiga. Jangan bilang jika apa yang dia dengar saat menjemput Alina kemarin juga didengar oleh papanya?


"Mereka bilang Alina sering mengajak pria kaya ke rumah kontrakannya. Bahkan mereka menyangka jika Papa adalah pria kaya simpanannya."


Rico membelalakkan matanya mendengar apa yang dikatakan papanya. Apa serius, para tetangga Alina mengatakan yang demikian kepada papanya? Rico benar-benar terkejut sampai tak tahu harus merespon apa dari perkataan papanya. Dia tidak menyangka jika mulut ibu-ibu di sana sangatlah menyeramkan.


"Co, kamu sudah sering ke kontrakan Alina, bukan?" tanya Irfan.


"I–iya, Pa."


"Kamu masuk ke dalam rumahnya?" tanya Irfan lagi.


"Nggak, Pa. Rico hanya sebatas menjemput Alina dan menunggunya sampai depan pintu saja. Mana berani Rico masuk ke rumahnya dengan kondisi lingkungan seperti itu," ucap Rico.


Dia mana berani masuk ke dalam rumah wanita yang hanya tinggal seorang diri tanpa kepentingan khusus, apalagi dengan lingkungan yang seperti itu. Dia tidak mungkin tega merusak nama baik keluarganya hanya dengan melakukan kecerobohan kecil.


"Kamu tahu kalau ada pria lain yang keluar masuk rumah Alina?" tanya Irfan lagi.


"Yang Rico tahu, saudara laki-laki Alina sering berkunjung ke rumahnya, Pa. Mungkin yang Papa maksud adalah saudaranya yang berkunjung," ucap Rico.


"Dia punya saudara laki-laki?"


"Yang Rico tahu seperti itu. Andi juga mengatakan kalau Alina memang punya saudara laki-laki, Pa."


"Kamu benar-benar sudah memastikannya?"


Rico terdiam sejenak. Dia memang belum memastikannya karena kesibukan yang membuatnya sulit untuk bertemu Alina jika tidak dipaksakan mengosongkan sedikit waktu mereka.


"Rico belum sempat bertemu dengan saudaranya, Pa. Tapi Rico yakin jika itu benar-benar saudara Alina, Pa."


Irfan menghela nafasnya sejenak.


"Co, Papa bukannya mau ikut campur urusan percintaan kamu. Tapi Papa nggak mau kalau kamu sampai salah memilih wanita hanya karena perasaan yang semu. Papa nggak peduli bagaimana status keluarga dari wanita yang kamu sukai, asalkan dia wanita baik, itu sudah cukup."


Dia benar-benar takut jika papanya itu sampai terpengaruh dengan perkataan para tetangga Alina yang belum tentu benar. Dia sangat mempercayai Alina dan tidak mau jika kedua orang tuanya sampai terpengaruh dengan gosip murahan itu.


Meski Rico juga sempat memikirkan gosip murahan itu, namun dia terus berusaha untuk tetap mempercayai Alina. Tidak ada alasan untuk dia mencurigai Alina meski rasa curiga itu sempat terbesit di hatinya.


"Kamu yang paling mengenal Papa, Co. Papa nggak akan percaya begitu saja dengan gosip murahan seperti itu. Tapi karena Alina adalah pacar kamu dan mama kamu juga sepertinya sudah sangat menyukai dia, Papa hanya takut jika gosip itu benar."


"Papa tenang saja. Rico pastikan jika semua itu hanyalah gosip. Alina wanita yang baik, Pa. Walaupun Rico baru menganalnya beberapa bulan, tapi Rico bisa merasakan jika Alina adalah wanita yang baik. Dia nggak mungkin membohongi Rico atau mengecewakan Rico," ucap Rico dengan begitu percaya diri.


Sebelum memastikan kebenarannya, dia harus lebih dulu membuat papanya percaya jika Alina bukanlah seperti apa yang digosipkan para tetangganya. Rico tidak mau jika papanya memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu dia pikirkan dan membuatnya curiga dengan Alina. Lagi pula dia sangat yakin jika Alina tidak seperti yang tentangganya itu gosipkan.


Setelah merasa cukup berbicara dan meyakinkan papanya, Rico masuk ke dalam kamarnya dan segera menghubungi pacarnya. Dia yang berusaha untuk percaya namun tetap harus meluruskan apa yang sedang terjadi agar tidak ada kecurigaan lagi di antara mereka.


"Halo, Co?" ucap Alina lebih dulu setelah panggilan terhubung.


"Sayang, kamu lagi di mana?" tanya Rico.


"Di resto. Aku lagi kerja, Co. Kenapa?" tanya Alina balik.


"Em, kamu lagi sibuk ya?"


Alina yang saat itu sedang berkutat dengan laptopnya lantas meninggalkannya dan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.


"Nggak kok. Ada apa, Sayang?" tanya Alina lagi.


"Nggak papa, aku cuma kangen saja sama kamu."


Alina terkekeh sejenak. "Baru juga bertemu tadi siang. Lebay banget sih."


"Orang kangen kok dibilang lebay. Kamu nggak kangen gitu sama aku?"


"Mau bilang kangen, tapi bohong. Mau bilang nggak, nanti kamu marah. Jadi bilang apa ya?" ucap Alina seolah berpikir. Membuat Rico di ujung sana tersenyum geli.


Rasanya tidak tega menanyakan sesuatu yang akan merubah mood baik mereka saat ini. Namun jika tidak ditanyakan, dia tidak akan puas sampai membuat orang tuanya yakin kepada Alina. Sebaiknya dia tidak membahas masalah itu di sini, lebih baik dia mengajak Alina untuk bertemu saja agar semuanya bisa lebih jelas jika dibicarakan secara langsung.


"Oh ya, Sayang. Besok kamu ada waktu nggak? Aku mau ngajak kamu bertemu."


"Besok aku di kampus sampai sore, malamnya harus kerja. Gimana kalau weekend nanti saja?"


"Begitu ya," ucap Rifo. Kemudian dia terdiam, membuat Alina curiga dengannya.


"Ada apa, Sayang? Apa ada hal penting sampai ingin bertemu besok?"


"Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu, tapi kalau kamu sedang sibuk nggak papa kok. Kita bertemu weekend nanti saja," ucap Rico.


"Kenapa nggak langsung bertanya sekarang saja?" tanya Alina yang mulai penasaran.


"Nggak papa, kita bicara nanti saja ya biar enak."


Meski begitu penasaran akan apa yang ingin Rico tanyakan padanya, namun Alina mengiyakannya saja. Dua hari lagi, tidak masalah baginya. Dia akan menunggu meski sangat penasaran karena sepertinya Rico hendak menanyakan hal yang cukup serius sampai tidak mau berbicara di telepon.


"Oh ya, Co. Tadi sore papa kamu ngantar aku pulang loh."


"Iya, papa baru saja cerita sama aku. Lain kali, kalau nggak bisa naik ojek online, telepon aku saja ya, Sayang. Jangan naik angkutan umum."


"Nggak papa, Sayang. Aku sudah biasa naik angkutan umum kok."


"Tapi tetap saja aku cemas, apalagi mama. Kalau sampai kamu kenapa-napa gimana?"


Alina tersenyum tipis. "Iya-iya, Sayang. Yaudah aku mau lanjut kerja dulu ya."


"Baiklah, maaf sudah mengganggu waktu sibukmu," ucap Rico.


"Its okay. Ucapakan terima kasih juga untuk orang tua kamu ya karena sudah mau repot-repot mengantarku pulang."


"Iya, Sayang. Yasudah, bekerjalah. Sampai jumpa dua hari lagi."


Alina terkekeh kecil setelah itu dia memutuskan panggilannya. Dia berpikir sejenak mengenai apa yang akan Rico tanyakan padanya, namun sedetik kemudian dia mengedikkan bahunya dan kembali fokus pada laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya.


*


Dua hari kemudian…


Alina berjalan memasuki sebuah restoran untuk menemui Rico yang sudah menunggunya di sana sejak tadi. Mereka terpaksa bertemu di sana dan pergi sendiri-sendiri karena Alina yang meminta, padahal Rico sudah bersikeras ingin menjemputnya di rumah, namun karena Alina yang baru bangun tidur membuatnya tak enak jika harus meminta Rico menunggunya di rumah.


"Hei. Kamu sudah dari tadi di sini?" tanya Alina sembari mendudukkan tubuhnya di kursi depan Rico.


"Belum setengah jam, santai saja. Kamu mau makan dulu?" tanya Rico pula.


Alina melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul lima, tapi dia belum makan siang karena terlalu lelap tidur dari jam 11 siang hingga tiga sore.


"Iya, aku laper banget."


Rico memanggil pelayan restoran dan Alina segera menyebutkan pesanannya untuk dicatat oleh petugas di sana. Mereka mengobrol santai sambil menunggu pesanan datang dan hingga makanan pesanan Alina datang pun, obrolan masih terdengar santai karena Rico tidak ingin mengganggu makan siang Alina yang terlambat itu dengan pertanyaannya.


"Kamu malam ini ke cafe?" tanya Rico.


"Iya. Ini malam terakhirku mengisi live music di sana."


"Terakhir? Kenapa?" tanya Rico dengan heran.


"Aku harus fokus dengan skripsiku, Co. Pekerjaanku di restoran saja sudah cukup membuang waktuku. Aku juga butuh istirahat agar pikiranku bisa lebih jernih untuk dipakai mengerjakan semua kegiatan kampus. Aku ingin lulus sesuai tergetku."


Mendengar perkataan Alina, entah kenapa Rico tiba-tiba menjadi sedih. Begitu berat kehidupan yang Alina jalani. Dia harus bekerja di dua tempat pada waktu yang seharusnya dia gunakan untuk beristirahat.


"Maaf ya, Sayang. Selama ini aku nggak peka dengan kegiatan kamu. Kamu pasti sangat lelah menjalani hari dengan begitu beratnya," ucap Rico dengan suara rendahnya. Membuat Alina terheran mendengarnya.


"Kenapa jadi melow begini sih?" tanyanya dengan sedikit geli.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.