Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
114. Emosi Keluarga Wilson


Di kediaman Renaldi, Santi masih tak terima jika Angel dibiarkan begitu saja tanpa hukuman. Sementara di kediaman Wilson, tiga orang pria di sana pun tak kalah emosinya dari Santi. Alfian dan Thomas yang memperlihatkan dengan jelas emosinya di depan anggota keluarganya, sementara Morgan terlihat santai. Namun dari sorot matanya, semua orang bisa melihat dengan jelas jika pria itu pun juga memiliki emosi yang sama dengan papa dan abangnya.


Alina yang saat itu sudah ada di sana bersama suaminya hanya diam saat menyaksikan ketiga orang itu meluapkan emosinya. Dia tidak bisa membela diri juga karena sadar jika dirinya memang salah.


"Kalau saja Papa ada di sana, mungkin bukan surat peringatan saja yang akan Papa berikan, tapi juga skors selama dua minggu tanpa digaji," ucap Thomas.


"Skors? Memangnya ini sekolah apa," gumam Morgan menyahut.


Thomas lantas menatap tajam ke arahnya. Tak menyangka dalam situasi yang sedang tegang seperti ini, anaknya itu malah sempat-sempatnya bercanda.


"Tega banget kamu ya, ada karyawan kamu yang menggosipi adik kamu, tapi kamu malah bercanda," ucap Thomas.


Morgan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Dia pikir gumamannya itu tak terdengar, namun ternyata dia salah, rupanya papanya itu peka sekali telinganya.


"Aku 'kan juga sudah memberi hukuman untuk mereka," gumam Morgan lagi. Kali ini volume suaranya diperkecil, berharap tak ada yang mendengar suaranya. Namun lagi-lagi dia salah, kini Alfian yang mendengar suaranya itu karena memang jarak mereka yang sangat dekat.


"Kamu memberi hukuman sangat tanggung sekali. Benar kata Papa, kalau aku pun ada di sana, mungkin aku juga akan memberinya skors," ucap Alfian dengan nada suara yang terdengar kesal.


Saat semua orang emosi dengan karyawan ZW Corps yang menggosipi Alina, Alina dan Rico sendiri hanya diam di sana. Sejak awal Alina jelas tak mau membesarkan masalah, apalagi dia sadar akan kesalahannya. Beruntung tempatnya bekerja ini adalah milik keluarganya, jika dia bekerja dengan orang lain, pasti dia sudah mendapatkan surat peringatan sejak awal.


Sementara Rico, di satu sisi dia merasa bersalah karena tidak tegas terhadap orang yang sudah berasumsi buruk kepada istrinya. Dia benar-benar merasa tidak enak hati kepada keluarga Alina yang baru mendengar satu kali saja sudah melakukan tindakan, sementara dia yang sudah lama mengetahui ini hanya diam saja sampai sekarang.


Rico juga terlihat sangat takut jika keluarga Alina sampai mengetahui apa yang telah terjadi sore tadi saat Angel datang ke kantornya. Membayangkan mereka mengetahui itu, Rico sangat takut jika keluarga Alina akan mengira jika dirinya tak becus menjaga Alina. Dia juga takut karena tindakan papanya yang hanya memberi ancaman saja akan membuat keluarga Alina kecewa dan mengira jika mereka tak serius menjaga Alina.


"Rico, Alina, kenapa kalian diam saja?"


Perkataan Zara kala itu membuat ketiga pria yang ada di sana menatap pada adiknya.


"Al, apa kalian sudah mengetahui jika ada karyawan di kantor yang bergosip tentang kamu?"


Kini pertanyaan Alfian tersebut berhasil membuat Alina dan Rico kesulitan untuk membuka mulutnya. Mereka saling pandang dengan raut bingung, membuat semua yang ada di ruang tamu itu menebak jika mereka memang sudah tahu akan hal itu.


"Al, Co, kenapa kalian diam saja? Jangan-jangan kalian memang sudah mengetahui jika ada yang bergosip di kantor?"


Alina yang seolah sudah terpojok itu lantas menggigit bibir bawahnya sembari mengangguk kecil.


"Astaga, Al. Jadi benar, kamu sudah tahu? Kenapa kamu nggak bilang sama kita, Sayang?" ucap Alfian. 


Dia sedikit cemas, takut jika adiknya itu selama ini memendam emosinya. Adiknya itu saat ini sedang hamil, tidak boleh banyak berpikir yang akan membuat kondisinya menurun. Apalagi yang dia tahu kondisi Alina saat ini sedang kurang fit, dia takut jika terjadi apa-apa dengan adik tersayangnya itu. Pandangan Alfian saat itu tertuju pada Rico. 


Dan Rico yang ditatap oleh pria itu pun mengerti jika saat ini Alfian tengah menyalahkannya karena hanya diam saja tanpa bertindak atas apa yang terjadi pada istrinya.


"Rico, apa kamu juga mengetahui jika ada beberapa karyawan yang menggosipi Alina?"


Rico yang merasa bersalah kini tak ingin mengulangi kesalahannya dengan berbohong. Dia pun dengan tegas menjawab pertanyaan Thomas.


"Maaf, Pa, Rico memang sudah mengetahui itu saat mengantar Alina."


"Kamu mengetahui itu, tapi kamu justru nggak berbuat apa-apa pada mereka? Bahkan kamu nggak memberitahu kami jika ada orang di kantor yang bergosip tentang Alina," ucap Alfian dengan cepat.


"Abang, jangan menyalahkan Mas Rico. Sejak awal mas Rico sudah ingin menegur mereka, tapi Alila yang melarangnya. Alina nggak mau mencari ribut di kantor dan membuat malu Abang."


Mendengar ucapan istrinya itu, Rico pun menggenggam tangan Alina sembari menggelengkan kepalanya.


"Sayang, kamu jangan bilang begitu. Aku memang salah, seharusnya walaupun kamu melarang, aku harus tetap tegas untuk menegur mereka," ucap Rico.


"Benar. Kamu memang nggak tegas dalam bertindak. Seharusnya kamu jangan memperdulikan perkataan Alina dan segera mengambil keputusan dengan tegas. Begitu yang dimaksud seorang pria sejati, melindungi keluarganya apapun yang terjadi," ucap Thomas kemudian yang menyahuti perkataan Rico.


Rico kini merasa terpojokan, semua keluarga Alina menyalahkannya dan dia menerima itu karena memang dia sadar jika dirinya salah. 


"Papa, sudahlah  jangan terus menyalahkan mas Rico. Di sini Alina juga yang salah  bukan hanya mas Rico. Kalau Papa mau menyalahkan Mas Rico, seharusnya Papa juga menyalahkan Alina."


"Ya, kamu juga memang salah. Sudah tahu ada yang menjelekkan kamu, tapi kamu kenapa diam saja."


Bukan Thomas ataupun Alfian yang mengucapkan kalimat itu, melainkan Morgan. Dia tiba-tiba saja menyahuti perkataan adiknya itu. Jika Alfian dan Thomas tak berani menyalahkan Alina, maka dia tidak dengan dirinya. Selain karena sifatnya yang usil dan ingin mencairkan suasana, Morgan juga ingin Alina sadar jika tidak seharusnya dirinya diam saja saat ada orang lain yang sedang menjelekkannya.


Perkataan Morgan itu tak disukai keluarganya. Terlebih Thomas yang selalu tak setuju dengan Putra keduanya itu lantas kembali melainkan protesnya. Kini ayah dan anak itu menjadi saling melempar debat yang membuat semua orang yang ada di sana pusing karenanya. 


Kedua orang itu memang tidak bisa disatukan. Jika disatukan sebentar saja, maka semua hal akan berujung pada perdebatan, seperti saat ini yang tengah mereka lakukan.


Di tengah perdebatan antara Thomas dan Morgan, hanya Zara lah yang bisa membuat perdebatannya itu berakhir. 


Dan benar saja, saat wanita paruh baya itu bersuara, Thomas dan Morgan pun langsung terdiam secara bersamaan.


"Kalian ini kenapa jadi ribut? Apa sebenarnya yang sedang kalian bahas? Kalau kalian masih mau ribut, pergi ke belakang saja zana, jangan di sini," omel Zara.


"Sayang, kenapa kamu marah? Anak kamu itu yang lebih dulu memulai," ucap Thomas seolah mencari pembelaan.


"Kalian berdua itu sama saja. Apa nggak bisa fokus pada apa yang sedang dibahas saja, hah?"


"Maaf, Ma," ucap Thomas dan Morgan yang hampir bersamaan.