
Di kehamilan pertama Alina ini, semua orang terlihat begitu hebohnya. Meskipun Zara sudah mengalami hal serupa kepada menantunya, Marissa, namun untuk hal ini putri kandungnyalah yang sedang mengandung. Dia dan Santi benar-benar sangat excited dengan kehamilan Alina ini. Terlebih Santi yang sejak awal tidak memiliki anak, dan saat mengangkat Rico sebagai putranya, hari ini putranya itu juga akan segera memberikannya seorang cucu.
Seperti yang sudah diketahui, setelah mengetahui gender dari cucu mereka, Santi dan Zara terlihat kompak untuk mempersiapkan kehadiran cucunya itu dengan berbagai macam perlengkapan seperti, pakaian, alat makan, dan mandi, serta berbagai macam kebutuhan bayi lainnya. Mereka telah mempersiapkan itu dengan semangat membara dan membiarkan Alina untuk beristirahat di rumah.
Alina tak keberatan dengan permintaan kedua mamanya itu. Dia justru terlihat sangat senang sekali mengingat jika orang-orang terdekatnya sangat menyayangi dan antusias terhadap kehamilannya.
Di usia kehamilannya yang menginjak 32 minggu ini, Alina juga sudah tidak diperbolehkan lagi untuk bekerja. Dia akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya karena permintaan keluarganya, sekaligus janjinya yang ingin fokus mengurus anak daripada melanjutkan karirnya. Bagi Alina sendiri, tidak ada pekerjaan yang lebih berarti daripada menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anaknya. Alina sangat ingin menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya dengan memberikan perhatian sepenuhnya kepada darah dagingnya itu.
Saat itu Alina tengah berada di dalam kamarnya. Dia sedang melakukan panggilan video bersama Rena. Sejak mengetahui jika kandungannya lemah, temannya itu sudah tidak diperbolehkan untuk bekerja oleh keluarganya. Apalagi Dokter pribadinya juga menyarankan untuk lebih banyak beristirahat sehingga membuat Rena terpaksa harus memundurkan diri di tengah masa jayanya itu dan berjanji akan kembali berkarir setelah anak-anaknya berusia tiga tahun. Dia adalah anak tunggal keluarga Varick, yang di mana hanya dirinya seoranglah yang akan menjadi menerus semua usaha orang tuanya.
Kedua wanita itu kini tengah melakukan chit chat ringan seputar kondisi kehamilannya. Jika Alina sudah tidak sabar akan kehadiran anaknya dalam waktu dekat ini, berbanding terbalik dengan Rena yang mengkhawatirkan kondisi kehamilannya. Dokter mengatakan jika penyebab kandungan Rena yang lemah ini mungkin terjadi karena adanya ketidaknormalan atau kelemahan dari bentuk serviks. Hal itu sangat dikhawatirkan oleh Rena dan keluarganya jika kandungannya tidak bisa bertahan hingga waktunya tiba.
"Al, aku takut banget. Gimana kalau apa yang aku takutkan benar-benar terjadi?"
"Ren, kamu nggak boleh bicara begitu. Kita harus tetap positif thinking dengan apa yang akan terjadi. Meski sekalipun dokter mengatakan kalau kamu nggak akan bisa punya anak, tapi kamu nggak boleh nyerah gitu aja, kamu harus berusaha dengan keras dan memasrahkan semuanya kepada Yang Di Atas. Karena bagaimanapun juga, yang memberi kita hidup tak lain adalah Allah yang Maha Esa, bukan dokter. Dokter hanya menjalankan pekerjaannya saja di dunia medis, tapi mereka nggak bisa menentukan kehidupan seseorang," ucap Alina yang sedikit menasehati.
"Tapi, Al, aku benar-benar takut. Saat aku mengetahui jika aku sedang hamil, saat itu aku sangat senang sekali dan aku sekarang nggak bisa begitu saja jika harus melepaskan kepergian anakku ini."
Alina menghela nafasnya dengan berat. Dia menjadi sangat bersalah karena telah membicarakan kebahagiaan karena akan segera melahirkan nanti. Kini dia jadi tidak enak hati dengan Rena yang tengah mengalami kesulitan pada kehamilannya. Namun Alina yang tidak bisa apa-apa, dia hanya bisa menyemangati temannya itu agar kuat dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan yang menciptakan mereka.
Di tengah obrolan kedua wanita itu, saat itu tiba-tiba ponsel Alina terdapat bunyi aneh. Dia melihat pada layar ponselnya dan menampilkan jika Rico saat ini sedang menelponnya. Dengan berat hati Alina harus menyudahi obrolannya bersama Rena untuk menjawab panggilan dari suaminya itu.
"Kamu banyak istirahat ya. Turuti semua perkataan dokter karena mereka pasti akan mengusahakan semuanya sebaik mungkin. Aku yakin kamu dan bayimu bisa bertahan hingga 6 bulan ke depan."
Setelah Rena mengiyakan, Alina pun menutup panggilannya dan beralih menjawab panggilan dari suaminya.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Rico lebih dulu.
"Waalaikumsalam. Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Alina saat melihat suaminya itu sedang berada di dalam mobil.
"Aku mau pulang. Kamu sudah makan?" tanya Rico.
"Belum. Aku baru saja telepon dengan Rena. Mungkin sebentar lagi aku akan turun untuk makan. Kamu ngapain pulang? Apa sudah nggak ada kerjaan lagi?"
"Aku sengaja ingin makan siang sama kamu. Tunggu aku pulang ya, nanti aku yang jemput ke kamar," ucap Rico dan Alina pun tersenyum mengiyakan.
Tak lama dari itu, tibalah Rico di kediaman Wilson. Dia langsung masuk ke dalam rumah dan segera menuju ke kamar untuk menghampiri istrinya.
"Ayo turun. Apa kamu sudah lapar?" tanya Rico saat dia sudah berada di dalam kamar.
"Aku sudah lapar sekali, apa makan siang sudah tersedia di bawah?" tanya Alina.
"Sudah kok, tapi nggak ada siapapun di meja makan. Mama dan papa ke mana?" tanya Rico sembari membantu istrinya untuk bangkit dari duduknya ya.
"Ada di kamarnya. Mungkin memang belum keluar saja."
Rico mengiyakan, kemudian mereka pun berjalan menuju lantai 1 dengan Rico yang memegang tangan dan juga pinggang istrinya, untuk membantunya menuruni anak tangga.
Sebenarnya Rico sangat takut melihat istrinya naik turun anak tangga seperti ini. Namun dia juga tidak bisa memaksa Alina yang ingin tetap berada di kamarnya. Istrinya itu bilang, jika dirinya hanya merasa nyaman saat berada di kamarnya.
Karena tidak mau terjadi sesuatu dengan istrinya, Rico dan keluarganya pun sepakat untuk Alina tidak keluar kamar jika tidak ada dirinya atau orang tuanya yang membantunya untuk turun ataupun naik ke lantai dua.
Alina tentu saja menuruti perkataan keluarganya itu, karena memang itu yang terbaik untuknya jika dia masih ingin terus berada di kamarnya. Sebenarnya Alina juga bukannya tidak khawatir dengan kandungannya saat menaiki atau turun tangga, namun entah kenapa akhir-akhir ini dia tidak bisa tidur selain di kamarnya yang berada di kediaman orang tuanya. Alina selalu merasa gelisah jika tidur di kamar selain kamarnya ini. Bahkan satu bulan sebelum melahirkan ini, Alina sudah menetap di kediaman orang tuanya dan hal itu juga yang membuat Santi dan Irfan merasa kesepian karena anak dan menantunya tidak ada di rumah.
Di meja makan, Zara dan Thomas sudah mendudukkan tubuhnya di sana dan bersiap untuk makan, namun mereka belum memulai makan siangnya karena mereka ingin menunggu anak dan menantunya untuk makan bersama. Saat melihat Alina menuruni anak tangga, kedua orang tuanya itu menatapnya dengan tak berkedip. Fokusnya tertuju pada kaki dan juga setiap baris anak tangga yang dilewati oleh putrinya itu. Mereka harus berantisipasi jika tangga yang akan dipijak oleh putrinya tidak terdapat sesuatu yang akan menghambat langkahnya. Saat Alina berhasil menginjakkan kakinya ke lantai dasar, saat itu juga Zara dan Thomas bernafas lega.
"Sayang, Mama benar-benar takut kamu menuruni tangga seperti itu. Pindah ke kamar bawah dulu saja ya, sampai kamu melahirkan, setelah itu kamu bisa kembali lagi ke kamar kamu," ucap Zara untuk kesekian kalinya menasehati putrinya itu.
"Alina nggak papa, Ma. Bukankah bagus jika menjelang lahiran kita harus banyak berjalan? Apalagi menurun di anak tangga."
"Mama tahu Sayang, tapi 'kan ini tangganya terlalu tinggi. Mama jadi khawatir dengan kondisi kamu loh."
"Mama tenang saja ya, Alina nggak akan turun sendirian kok. Alina bener-bener nggak nyaman tidur di kamar lain selain kamar Alina sendiri."
"Sudahlah, Ma. Biarkan saja Alina tidur di kamarnya. Selagi dia nggak macam-macam dengan dirinya, kita turuti saja kemauannya," ucap Thomas kemudian yang membuat istrinya itu menghela nafasnya dan panjang.
"Baiklah," ucapnya pasrah. "Oh ya, nanti malam orang tua Rico akan datang ke sini. Kita sepakat untuk membicarakan nama anak kamu nanti."
Alina mengernyitkan keningnya mendengar perkataan mamanya itu. Kenapa mereka tidak tahu tentang hal ini sebelumnya jika mau ikut memilih nama untuk putranya?
"Kalian mau membicarakan nama anak Alina?"
"Tentu saja. Apa nggak boleh?" tanya Zara
"Bukan gitu, Ma, tapi kami sudah menetapkan sebuah nama untuk anak kami satu minggu yang lalu," ucap Alina yang membuat kedua orang tuanya terkejut.
Yang benar saja, anaknya itu telah memikirkan nama untuk cucunya tanpa memberitahu mereka?
"Sayang, kenapa kalian nggak bilang? Padahal kami ingin berpartisipasi untuk namanya cucu kami loh. Apalagi orang tua Rico, kamu tahu sendiri 'kan bagaimana mertua kamu itu sangat excited dengan cucu pertamanya. Yang mengusulkan untuk menyumbang nama ini saja adalah dia."
Alina menatap Rico dengan tidak enak hati. Dia tidak tahu harus bagaimana karena memang dua minggu sebelum ini dia dan Rico sudah memikirkan nama untuk anak mereka. Dan tepat satu minggu yang lalu, mereka sudah menetapkan nama untuk putra mereka nanti.
"Maaf, Ma, kami nggak tahu kalau kalian mau melakukan itu juga."
Mereka terdiam sejenak selama beberapa detik, kemudian setelah itu Rico mulai bersuara untuk memberikan usul untuk keluarganya itu, agar tidak ada yang merasa kecewa karena tidak diizinkan untuk berpartisipasi dalam pemberian nama.
"Sebenarnya kita sudah memiliki dua suku kata untuk nama anak kita. Bagaimana kalau Mama dan Papa memberikan satu nama untuk diletakkan di bagian tengah saja? Apakah itu cukup adil?" tanya Rico memastikan.
Santi dan Irfan saling pandang sejenak.
"Baiklah," ucapnya kemudian. "Nanti malam kita bicarakan lagi dengan orang tuamu ya."
**
Malam hari pun tiba. Setelah menyelesaikan makan malamnya, kini keluarga Rico dan Alina mendudukkan tubuhnya di taman samping. Saat itu Alfian dan istrinya sedang tidak hadir karena Marissa tengah hamil muda, yang di mana Alfian tak mengizinkan istrinya untuk keluar malam jika hal itu tidak sangat penting.
Tak banyak basa-basi yang mereka lakukan, kini mereka segera membahas topik utama dari terkumpulnya mereka semua di sini malam ini.
"Jadi kita hanya bisa memberi satu nama untuk bagian tengah saja?" tanya Santi setelah Thomas dan Zara menceritakan obrolannya siang tadi bersama Rico dan Alina.
"Iya, Ma," sahut Alina.
"Baiklah. Kalau begitu, apa nama yang telah kalian sepakati?" tanya Santi kemudian yang membuat Alina dan Morgan saling pandang.
Semua orang yang mendengar perkataan Rico lantas menghela nafasnya.
"Lalu bagaimana kami bisa memberi saran sebuah nama kalau kami nggak tahu apa nama depan dan belakang dari anak kalian?" tanya Thomas.
"Benar. Bukankah akan aneh kalau namanya nanti nggak cocok," sahut Santi pula.
"Begini saja, Ma. Gimana kalau kalian mengumpulkan beberapa nama tengah dan biarkan kami berdua yang memilihnya nanti. Gimana?" tanya Alina memberi saran.
Mereka terdiam dan saling pandang. Sepertinya apa yang Alina sarankan merupakan ide yang bagus. Kini para orang tua itu mulai berembuk untuk mencari nama yang memiliki makna indah untuk cucu laki-laki mereka yang akan datang ke dunia beberapa hari lagi.
"Bagaimana jika nama tengahnya Nazar saja? Seperti nama artis muda kesukaan Mama dulu," ucap Zara.
"Siapa? Nazar penyanyi dangdut itu?" tanya Morgan yang membuat semua orang tertawa karenanya.
Zara yang merasa kesal lantas menatap tajam ke arah putranya itu.
"Enak saja,memangnya kamu mau keponakan kamu menjadi penyanyi dangdut?" tanyanya dengan nada tak ramah.
"Ya kalau duitnya banyak, kenapa tidak," ucap Morgan lagi dengan bercanda, namun Zara justru menanggapinya dengan serius.
"No. Mama nggak mau ya cucu mama jadi penyanyi. Dia harus menjadi pengusaha sukses seperti orang tua dan juga Kakek mereka."
"Kalau ternyata rezekinya di situ gimana, Ma?"
Kini pertanyaan Thomas tersebut berhasil membuat Zarah kembali merasa kesal. Dia sangat heran kenapa tumben sekali ayah dan anak satu itu kompak mengerjainya. Biasanya mereka yang selalu berdebat dan dia yang akan menjadi penengah. Namun kini perkataan kedua pria itu terdengar sangat menyebalkan di telinganya.
"Bagaimana kalau Aditya, yang memiliki arti sang matahari. Kelak dia akan menjadi seperti matahari yang berpengaruh penting pada semua orang," usul Santi yang mengakhiri perdebatan keluarga Wilson itu.
"Aditya juga bagus, Ma," ucap Alina.
"Bagaimana dengan Brandon? Yang artinya pedang, dia akan menjadi pedang untuk keluarganya, membela dan menjadi perisai paling depan untuk orang tua dan juga adik-adiknya nanti."
"Keren," ucap Morgan menanggapi perkataan papanya yang mulai serius.
"Brian juga bagus, yang artinya kuat dan bertenaga. Dia akan menjadi anak yang kuat dalam menghadapi semua situasi," ucap Zara yang kini ikut memberi saran.
"Tadi katanya Nazar, kenapa sekarang Brian? Perbedaannya jauh banget," ucap Morgan yang kini kembali menjahili mamanya.
"Morgan, kamu benar-benar mau Mama marah ya?? ucap Zara kepada putranya itu, membuat Morgan seketika menyengir kuda dan segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Maaf, Ma, bercanda," ucapnya kemudian dengan suara tak jelas.
"Apa ada lagi selain Aditya, Brian, dan Brandon?" tanya Alina.
Semua saling pandang, sekiranya tak ada lagi yang ingin memberi saran nama untuk cucunya, akhirnya Alina dan Rico mengambil saran dari tiga nama yang disebutkan tadi untuk menjadi nama tengah anak mereka nanti.
"Baiklah kalau sudah nggak ada lagi. Dari ketiga nama ini, kami akan memilih salah satu untuk dijadikan nama tengah anakku," ucapkan Alina kepada keluarganya.
Saat waktu telah menunjukkan pukul 08.00 malam, kini Rico segera mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Istrinya itu harus menjaga kesehatannya dengan beristirahat lebih awal.
Setelah membersihkan wajahnya dan berganti pakaian, Rico dan Alina segera naik ke atas kasur. Saat itu Rico memandang wajah Alina dengan penuh maksud, membuat istrinya itu mengernyit heran.
"Kenapa kamu melihat aku seperti itu?" tanya Alina.
"Sayang, apa saat ini anakku sedang merindukan aku?" tanya Rico yang membuat Alina tersenyum tipis.
"Kalau mau bilang saja, nggak usah memberi alasan dengan mengatasnamakan anak kita," ucap Alina yang seolah paham akan maksud suaminya.
"Apa kamu nggak lelah?" tanya Rico berbasa-basi.
"Tapi aku lebih nggak bisa menolak, bukan?" ucap Alina yang membuat suaminya itu tersenyum senang. Namun meski begitu, Rico tak ingin egois dan lebih memilih memastikan jika istrinya benar-benar tidak lelah.
"Aku serius, Sayang. Aku takut kamu sedang lelah saat ini."
"Aku lelah beristirahat. Sejak pagi kamu terus menyuruhku untuk beristirahat. Tidur, makan, tidur, makan. Ya … semua kegiatanku selama ini hanya itu itu saja. Asal kamu tahu, aku merasa bosan banget tahu nggak. Seharusnya kita melakukan baby moon untuk mengusir rasa bosanku, tapi nggak mungkin dilakukan saat ini karena sebentar lagi aku akan melahirkan."
Mendengar perkataan istrinya, Rico jadi merasa bersalah.
"Sayang, maafkan aku karena nggak peka dengan perasaan kamu. Setelah anak kita lahir nanti, aku janji akan mengajak kamu melakukan baby Moon bertiga ya."
Alina kembali mengernyitkan keningnya mendengar perkataan suami itu.
"Maksud kamu …?"
"Ya, setelah anak kita lahir dan kamu hamil kembali, kita akan melakukan baby moon seperti keinginan kamu."
"Sayang, kamu serius mau aku langsung hamil lagi setelah melahirkan ini?"
Rico menyengir kuda.
"Bercanda, Sayang. Aku nggak tega melihat kamu yang terus muntah setiap pagi demi keinginanku yang ingin memiliki anak. Apa kita hanya cukup memiliki satu anak saja?" tanya Rico dengan tidak yakin.
"Kenapa?"
"Ya aku nggak tegas saja melihat kamu muntah-muntah setiap hari seperti sebelum ini karena kehamilanmu. Aku selalu khawatir tau nggak, Sayang."
"Sayang, setiap kehamilan itu gejalanya beda-beda. Mungkin di kehamilan pertama akan sulit bagiku, tapi belum tentu di hamil kedua juga akan sama. Lagi pula bukankah kamu ingin punya banyak anak?" tanya Alina yang membuat Rico heran.
"Memangnya kamu mau?"
"Setelah dipikir-pikir, nggak masalah kalau kita punya anak lima."
Rico begitu terkejut mendengar perkataan istrinya itu. Lima? Apa dia tidak salah dengar?
"Sayang, kamu nggak lagi bercanda, 'kan?" tanya Rico yang masih tidak percaya dengan perkataannya.
"Kita lihat saja nanti. Berapapun yang diberi Tuhan, kamu harus menerimanya. Tapi … aku butuh waktu satu tahun dulu untuk hamil kembali. Aku ingin fokus mengurus anak pertama kita sebelum siap untuk menyambut anak kedua kita, gimana?"
"It's oke. Apapun yang kamu mau, Sayang. So, apa sekarang kita akan tidur atau …?"
Alina terkekeh pelan. Tanpa suaminya itu menyelesaikan perkataannya, dia sudah mengerti dan mengambil inisiatif untuk bangkit dari rebahannya.