
Keesokan hari sesuai dengan apa yang dikatakannya semalam, pagi ini Santi akan menemani menantunya untuk pergi ke rumah sakit. Wanita paruh baya itu terlihat sangat bersemangat sekali, bahkan pagi-pagi sekali dia sudah meminta sopir suaminya untuk memanaskan mobil agar bisa segera dipakai jika Alina telah siap.
Tak hanya bersemangat untuk pergi ke rumah sakit, sarapan pagi ini pun Santi terlihat lebih cerewet kepada pegawainya. Dia meminta para koki yang memasak di dapurnya untuk membuatkan makanan sehat untuk Alina. Santi sangat mewanti-wanti kesehatan ibu dari calon cucunya itu.
Bahkan Irfan dibuat geleng kepala oleh tingkah istrinya yang berlebihan itu. Dia tidak bisa mencegah rasa semangat yang berlebih itu karena tak ingin merusak mood istrinya yang sedang bahagia.
Saat hidangan sarapan selesai dibuat, Santi dan Irfan lebih dulu duduk di meja makan. Jika biasanya mereka akan memulai sarapannya lebih dulu, namun kali ini Santi terpaksa harus menunda makannya untuk menunggu anak dan menantunya yang saat ini masih berada di dalam kamar.
"Sayang, mau sampai kapan kita menunggu mereka? Sebentar lagi aku sudah harus ke kantor loh," ucap Irfan kepada istrinya itu
Sudah hampir 10 menit mereka menunggu, namun Alina dan Rico belum juga turun dari kamarnya. Dia yang harus pergi ke kantor pagi ini dibuat salah tingkah oleh istrinya itu, namun untuk memulai lebih dulu pun dia tidak bisa karena sudah menjadi kebiasaan mereka makan bersama.
"Sabar, Pa. Tadi bu Ipah sudah memanggil mereka kok. Mungkin Alina masih bersiap saat ini, kita 'kan setelah sarapan mau ke rumah sakit.
Irfan kembali menghela nafasnya, lagi-lagi dia harus bersabar menunggu tibanya waktu sarapan mereka yang entah harus berapa menit lagi menunggu. Namun belum satu menit istrinya itu berkata, terlihatlah Alina dan Rico yang turun dari anak tangga dengan pakaian yang sudah rapi. Sepertinya benar apa kata istrinya, Alina dan Rico terlambat turun karena memang mereka sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit bersama mamanya setelah sarapan ini.
"Nah, itu mereka," ucap Santi dengan wajah berseri, seolah melihat emas permata yang sedang berjalan ke arahnya.
Begitu Alina dari Rico tiba di meja makan, mereka segera mendudukkan tubuhnya di sana, tepatnya berhadapan dengan kedua orang tua mereka.
"Sayang, kamu mau makan apa? Mama tadi minta koki memasakkan makanan sehat untuk kamu loh. Ada salmon, lele, atau sup ayam?" tanya Santi dengan bersemangat.
Melihat semangat mamanya itu yang begitu besar, Rico dan Alina pun saling pandang.
"Mama kenapa? Tumben semangat banget hari ini," ucap Rico dengan herannya.
"Memangnya kenapa? Apa Mama nggak boleh bersemangat untuk sarapan bersama anak dan menantu kesayangan Mama ini," ucap Santi.
Rico pun menggaruk lehernya tidak gatal.
"Nggak salah sih, Ma. Cuma aneh saja," ucap Rico dengan suara rendah.
"Mama kamu itu terlalu excited dengan kehamilan Alina. Jangan dihiraukan, ayo makan, Papa sudah lapar sejak tadi. Mana ada meeting di kantor pagi ini," ucap Irfan kemudian.
Rico dan Alina pun yang baru menyadari itu dari perkataan papanya hanya bisa tersenyum geli. Ternyata itu yang membuat mamanya begitu bersemangat di pagi hari ini.
Sepanjang menikmati sarapannya pagi itu, senyum semangat Santi tak pernah pudar sedikitpun. Bahkan dia sangat efforts sekali melayani menantunya itu, seperti mengambilkan makanan untuk Alina ke dalam piring dan menawarkan berbagai makanan lainnya kepada menantunya itu.
Tak ada yang berani melarang apa yang dilakukan wanita paruh baya itu, apalagi apa yang dilakukan Santi semuanya bersifat positif. Mereka hanya menikmati rasa bahagia wanita itu di pagi yang cerah ini. Terlebih Alina yang sangat menikmati layanan ramah bintang sepuluh dari mama mertuanya itu.
**
Setelah menyelesaikan sarapannya, Santi, Rico dan Alina segera pergi ke rumah sakit yang ada di kota itu. Sejak semalam Santi sudah memberi janji kepada salah satu dokter obgyn di sana dan saat mereka tiba di sana, mereka langsung menuju ruangan dokter Siska tanpa harus mengantri seperti pasien lainnya.
Lagi lagi Santi yang paling bersemangat untuk melihat hasil dari pemeriksaan dokter tersebut, bahkan saat Alina melakukan USG mata Santi terlihat begitu berbinar memandang layar monitor di sana.
"Dok, jadi kapan kita bisa mengetahui jenis kelaminnya?" tanya Santi yang benar-benar tidak sabar mengetahui gender dari cucunya tersebut.
Semuanya ada di sana menahan tawanya mendengar pertanyaan Santi. Santi bertanya seolah orang awam yang tak faham akan hal itu, padahal hal seperti ini dia seharusnya mengetahuinya meski tak memiliki akan sekalipun. Namun tak ada yang berani tertawa dengan lantang di depan wanita paruh baya itu, mereka hanya menahannya dan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang seharusnya diberikan seorang dokter kepada pasiennya.
Setelah mengetahui jika gender dari cucunya itu baru bisa diketahui di usia kehamilannya memasuki 6 bulan, Santi pun menghela nafasnya, merasa kecewa karena tak bisa mengetahuinya dalam waktu dekat.
"Masih lama banget ya. Satu bulan saja belum, apalagi 6 bulan," gumam Santi dengan pelan, namun masih bisa didengar semua yang ada di ruangan itu.
"Memang masih lama, Ma. Mama yang sabar ya. Kita nikmati saja prosesnya, nanti juga nggak akan terasa kok tiba-tiba sudah enam bulan saja," ucapan Rico dan langsung dibenarkan oleh Alina dan dokter yang ada di sana.
Santi pun kembali menghela nafasnya, sepertinya dia memang harus bersabar untuk menunggu waktu enam bulan itu. Em, tidak, bukan enam bulan, tapi delapan bulan tepatnya. Dia bukan hanya penasaran dengan gender cucunya aaja, namun dia juga sudah tidak sabar untuk menanti kedatangan cucunya itu ke dunia ini dan dia butuh kurang lebih delapan bulan lagi untuk menanti hari itu tiba.
Pagi ini Zara seharusnya ikut ke rumah sakit juga bersama anak dan menantunya untuk melihat hasil pemeriksaan dokter akan kehamilan anaknya itu, namun karena pagi ini tiba-tiba teman dekat Thomas yang sudah lama tak bertemu berkunjung ke rumahnya, dia pun terpaksa menemani suaminya itu di rumah untuk menyambut tamunya. Sebenarnya Zara sangat ingin meninggalkan tamunya itu dan ikut menemani anaknya yang akan mengecek kehamilannya, namun dia bisa tidak seegois itu untuk meninggalkan suaminya sendirian di rumah. Lagi pula juga bukan hanya hari ini saja Alina pergi ke rumah sakit untuk mengecek kehamilannya dan mungkin di lain waktu dia yang akan menemani putrinya itu ke rumah sakit.
"Sayang, maaf banget ya Mama nggak bisa ikut kamu ke rumah sakit. Teman lama Papa tiba-tiba saja datang pagi ini ke rumah. Mama nggak mungkin meninggalkan Papa kamu sendirian di rumah bersama tamunya," ucap Zara di seberang sana.
"Iya, nggak apa-apa, Ma. Ada Mama Santi dan juga Mas Rico yang menemani Alina ke rumah sakit. Lagi pula masih ada lain kesempatan untuk Mama menemani Alina ke rumah sakit."
Zara tersenyum dengan lega begitu mendengar perkataan putrinya itu. Sebenarnya dia takut jika Alina akan merajuk padanya karena tidak bisa menemaninya ke rumah sakit, namun ternyata putrinya itu bisa mengerti dirinya dan tidak mempermasalahkan ketidakhadirannya.
***
Satu bulan kemudian…
Kehamilan pertama yang terjadi pada Alina membuat wanita itu sangat kewalahan. Berbeda dengan kakak iparnya yang tidak banyak mengalami keluhan pada kehamilan pertamanya, pada kehamilan Alina ini, dia justru selalu merasa pusing yang on off sejak awal. Dan di bulan kedua ini, Alina mulai merasakan morning sickness yang membuat tubuhnya sangat lemah. Dia bahkan hampir tidak bisa pergi bekerja karena kondisinya yang benar-benar buruk di pagi hari.
Seperti pagi ini, Alina sangat banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi karena rasa mualnya yang tak juga reda. Rico yang sejak tadi menemani istrinya di dalam sana merasa sangat kasihan akan keadaannya. Dia tidak tahu harus melakukan apa karena apa yang dia lakukan sejak tadi tak membuat istrinya menjadi lebih baik.
ketukan pintu kamar yang terdengar membuat Rico terpaksa meninggalkan istrinya untuk membuka pintu. Saat pintu dibuka, dilihatnya sang mama berdiri di sana dengan raut khawatir. Rico sudah tak heran lagi dengan situasi ini karena mengingat kehamilan Alina yang penuh dengan kenikmatan, mamanya itu pasti akan selalu mendatangi kamarnya dengan wajah khawatir jika dalam waktu setengah jam mereka belum juga turun untuk memulai sarapan bersama.
"Apa Alina masih muntah-muntah, Bang?" tanya Santi.
"Iya, Ma. Seperti sebelumnya, sudah hampir setengah jam Alina berada di kamar mandi. Rico jadi sangat kasihan dengannya, apa kita bawa dia ke rumah sakit saja?" ucap Rico dengan khawatir.
Dia benar-benar tidak tega melihat istrinya itu terus muntah-muntah dengan tubuh yang lemah seperti ini. Bukan hanya satu hari, bahkan hampir setiap hari dia harus melihat istrinya itu tak berdaya seperti ini.
"Sayang, bukan hal baru untuk para wanita hamil mengalami morning sickness. Biar Mama lihat ya," ucap Santi dengan suara tenangnya, namun tak meninggalkan raut khawatir pada wajahnya. Belajar dari Zara, Santi kini perlahan mulai bisa bersikap sedikit tenang akan menghadapi kehamilan Alina. Tak seperti beberapa minggu lalu yang selalu heboh dan membesarkan hal kecil.
Rico menganggukkan kepalanya dan segera membiarkan mamanya masuk ke dalam kamar. Dia mengikuti dari belakang mamanya itu yang berjalan menuju kamar mandi di mana Alina berada.
Dari pintu kamar mandi, dia melihat sang mama mengusap lembut belakang leher Alina sembari mengucapkan sesuatu yang tidak begitu dia dengar dengan jelas. Rico benar-benar merasa kasihan kepada istrinya itu meskipun hal seperti ini wajar dialami oleh wanita hamil.
Rico kemerdekaan nafasnya, melihat yang seperti ini saja dia sudah tidak tahan, bagaimana dia menyaksikan istrinya melahirkan nanti? Jika dia harus setres seperti ini dengan kehamilan Alina, lebih baik dia melupakan keinginannya yang ingin memiliki anak banyak. Rasanya sangat egois jika dia menginginkan anak banyak sementara istrinya harus menderita sepanjang hari seperti ini.
*
"Sayang, sebaiknya kamu cuti bekerja dulu saja ya. Kalau kondisi kamu masih seperti ini dan dipaksakan untuk pergi bekerja, Mama khawatir kamu nggak akan fokus bekerjanya. Yang ada tugas kamu akan berantakan dan tubuh kamu juga akan semakin lemah karena nggak istirahat dengan baik," ucap Santi sembari memijat kecil leher belakang Alina.
Alina menggeleng lemah.
"Nggak bisa, Ma. Kasihan bang Morgan, kalau Alina cuti pasti kerjaannya menumpuk."
"Astaga, Sayang. Jangan pikirkan pekerjaan. Sekarang kondisi kamu yang lebih penting. Morgan itu calon pebisnis hebat, pekerjaan seperti itu saja pasti bisa dia handle."
"Tapi Alina nggak enak kalau harus terus menyusahkan bang Morgan, Ma," ucap Alina lagi. Karena bercanda Morgan yang mengatakan jika dirinya kerepotan gara-gara Alina pergi honeymoon kemarin, kini Alina merasa jika dia akan semakin merepotkan karena telah meninggalkan pekerjaan untuk abangnya.
Karena efek dari kehamilannya ini juga mungkin yang membuat Alina sensitif dengan perkataan Morgan yang seharusnya tak perlu dia pikirkan.
"Kalau begitu, nanti Mama minta papa untuk mencarikan pengganti kamu untuk sementara ya. Kalau memang kamu nggak mau merepotkan abang kamu, Mama akan minta untuk dicarikan pengganti yang akan menemani abang kamu di kantor. Setidaknya sampai kamu sudah nggak mengalami keluhan lagi pada kehamilan kamu ini."
Alina berdiam sejenak, dia memikirkan perkataan mertuanya itu. Sepertinya tidak ada salahnya jika dia kembali meminta cuti untuk beberapa minggu ini untuk menjaga kesehatannya. Sebaiknya dia meminta abangnya untuk mencarikan pengganti dirinya selama dia cuti agar abangnya itu tidak kesulitan melakukan pekerjaan double.
Dia benar-benar tidak enak hati jika harus membebani Morgan lebih banyak lagi dengan pekerjaannya. Meskipun sebenarnya dia tahu jika Morgan hanya bercanda dengan perkataannya dan bisa menghandle sama pekerjaan dengan mudah, apalagi abangnya itu sudah berpengalaman menghadapi para klien saat di London bersama papanya dulu.
**
Setelah mual Alina mereda, Santi mengajak putrinya itu untuk segera melakukan sarapan. Melihat kondisi Alina yang semakin melemah, dia harus memaksa putrinya itu untuk makan agar perutnya tidak kosong dan membuatnya jatuh sakit nantinya. Semua makanan yang sudah tidak hangat lagi kembali dipanaskan oleh pelayan yang ada di rumah. Alina harus memakan makanan yang hangat, begitupun dengan minumannya agar tidak membuat perutnya kembali mual.
"Sayang, kamu jangan nggak makan ya. Walaupun sedikit, setidaknya kamu harus mengisi perut kamu. Tubuh kamu akan semakin melemah kalau kamu nggak makan," ucap Santi menasehati sembari memasukkan beberapa makanan ke dalam piring untuk menantunya itu. Sementara Rico hanya melihat pemandangan itu sembari menikmati sarapannya di depan istrinya itu.