
Satu minggu berlalu, kini Alina harus menepati janjinya kepada Rico untuk mempertemukan saudara laki-lakinya kepada pacarnya itu. Saat ini dia bersama seorang pria yang adalah saudara laki-lakinya sedang dalam perjalanan ke salah satu restoran yang akan menjadi tempat bertemu mereka.
Seperti biasa, saudara Alina yang bernama Alfian itu masih terlihat dengan penampilan misteriusnya yang memakai masker dan juga topi. Meski berada di dalam mobil, dua atribut di wajahnya itu tak akan pernah dilepasnya, kecuali jika mereka berada di dalam ruangan yang tidak ada orang lain selain mereka berdua di dalamnya.
Setiba di restoran, baru saja Alina hendak turun dari mobil, tiba-tiba saja ponselnya yang ada di tangannya berdering. Sembari turun dari mobil, dia menekan tombol hijau pada layar ponselnya untuk menjawab panggilan yang ternyata dari Rico.
"Halo, Co?" ucap Alina lebih dulu.
"Al, aku sudah di restoran. Kamu di mana?" tanya Rico.
"Aku di depan. Tunggulah di sana."
Rico mengiyakan dan mereka segera menutup panggilannya satu sama lain.
"Dia sudah datang, Al?"
Alina menoleh saat saudaranya dari arah samping kanan menghampirinya.
"Sudah, Bang. Ayo masuk."
Alfian mengiyakan dan mereka segera masuk ke dalam restoran secara bersama-sama. Setelah memberitahu nama reservasi mereka, pelayan di sana segera mengantar mereka menuju sebuah pribate room yang berada di samping meja bar. Sebelum masuk ke dalam, Alina menahan tangan saudaranya itu terlebih dahulu.
"Abang jangan bicara macam-macam ya. Cukup memperkenalkan diri Abang sebagai Abangku saja."
"Iya Adik Abang yang paling cantik." Alfian mengusap kepala adiknya dengan gemas. "Lagian kenapa sih pakai rahasia-rahasia segala. Kalau kamu sudah yakin dengan dia, ya harus jujur dong."
Alina memajukan bibirnya mendengar perkataan abangnya.
"Iya, tapi nanti. Aku masih mau lihat–"
"Lihat apa? Ketulusan dia?"
Alina menghela nafasnya mendengar tebakan abangnya yang 90% benar.
"Alina, Adik Abang yang paling cantik, dengerin Abang ya." Alfian meletakkan jari telunjuknya dibawah dagu Alina, agar adik kecilnya itu menatap matanya. "Kamu boleh saja berhati-hati, tapi … jangan sampai masa lalu membuat kamu kehilangan seseorang yang tulus mencintai kamu. Apapun alasannya, kebohongan tetaplah kebohongan. Nggak akan menyelesaikan masalah sama sekali. Apa kamu mengerti?"
"Alina mengerti, Bang," ucap Alina dengan suara yang terdengar ragu.
Alfian yang mendengar keraguan itu hanya bisa tersenyum tipis. Dia tidak menyalahkan apa yang ditakutkan adiknya itu serta kebohongan yang Alina buat. Dia sebagai abang yang paling dekat dengan adik perempuannya itu hanya bisa memberi sedikit nasehat agar Alina tidak salah dalam mengambil keputusan. Alfian sangat menyayangi Alina, dia tidak mau Alina sampai terluka karena kejadian buruk yang bukanlah salah dirinya.
"Yasudah, jangan sedih dong. Ayo sekarang kita temui pacar kamu. Kasihan dia menunggu lama di dalam."
Alfian kembali mengusap pelan kepala adiknya, kemudian dia merangkul pundak Alina sembari memutar knop pintu untuk masuk ke dalam private room yang telah dipesan.
*
Pintu terbuka, Rico yang melihat sosok pria dan wanita yang masuk ke dalam ruangan dengan tangan pria yang merangkul pundak seorang wanita yang tak lain adalah pacarnya, terlihat tidak senang. Dia beranjak dari duduknya dengan ekspresi yang jelas sekali menunjukkan raut ketidaksukaan.
Masih dengan maskernya, Alfian tersenyum melihat ekspresi Rico, bahkan dia tidak melepas rangkulannya dari pundak Alina dan terus melanjutkan langkahnya hingga berada di hadapan Rico.
Mata Rico fokus pada tangan Alfian, membuat Alina yang menyadari itu langsung melepas tangan abangnya dari pundaknya dengan perlahan.
"Co, kenalin, ini abangku."
Senyum tipis kembali Alfian layangkan meski tak nampak oleh Rico, kemudian dia mengulurkan tangannya ke hadapan Rico untuk berjabat tangan. Tak butuh waktu lama untuk Rico menerima uluran tangannya dan mereka pun saling berkenalan dengan menyebutkan namanya masing-masing.
"Mari," ucap Alfian sembari mengarahkan tangannya ke kursi, meminta agar Rico kembali duduk.
Rico mengangguk dan segera duduk kembali ke kursinya. Diikuti Alfian dan Alina yang duduk bersampingan di hadapan Rico.
Alfian belum melepas maskernya sampai pelayan datang dan membawa minuman untuk mereka, setelah itu barulah Alfian melepas topi dan juga maskernya. Wajahnya yang tampan dengan rambut hitam kecokelatan membuat Rico mengernyitkan keningnya dengan heran.
Dalam hati, Rico bertanya-tanya apakah benar pria di hadapannya ini adalah abang kandung Alina. Jika dilihat dari penampilannya, mereka tidak mirip sama sekali. Bahkan Alfian terlihat tidak seperti penduduk lokal asli.
"Co?"
Fokus Rico terganggu saat mendengar suara Alina yang memanggilnya. Dia menatap ke arah wanita itu dengan penuh tanya.
"Dia benar Abang kamu, Al?" tanya Rico to the point.
"Apa menurut kamu adikku berbohong?" timpal Alfian dengan sebuah pertanyaan kepada Rico. Membuatnya seketika menatap ke arah Alfian.
"Maaf, tapi kalian…"
"Tidak mirip?" tebak Alfian dan langsung dibenarkan Rico.
"Rico, tidak semua yang bersaudara memiliki kemiripan fisik seperti yang kamu lihat. Tapi kalau kamu bisa melihat dengan benar dan ingin memastikan lebih detail dari fisik kita, coba kamu perhatikan baik-baik. Ada satu kemiripan di wajah kita yang tidak kamu sadari."
Rico mengernyitkan keningnya. Tanpa memikirkan perkataan Alfian sebelumnya, dia langsung memasati wajah kedua kakak beradik itu untuk mancari kemiripan yang Alfian maksud. Satu persatu dari bagian wajah mereka berdua di tatap oleh Rico dengan fokus, hingga dia melihat bentuk mata yang sama dengan warna bola mata yang sedikit berbeda pada kedua bersaudara itu.
Ya, dia melihat itu. Bentuk mata Alina dan juga Alfian sangatlah mirip.
Rico memejamkan matanya selama beberapa detik, dan saat membukanya kembali dia langsung bisa menyadari kemiripan itu tanpa harus menatapnya dengan intens lagi.
"Kamu melihatnya?" tanya Alfian saat menyadari raut wajah Rico yang berubah.
Rico menatap ke arahnya.
"Ya, mata kalian sangatlah mirip. Hanya saja matamu terlihat lebih cokelat dari mata Alina."
"Bentuk mata kita berdua sangatlah identik. Bahkan semua orang bisa melihat itu tanpa harus diberitahu terlebih dahulu."
"Bagaimana bisa aku nggak menyadari kemiripan yang bahkan tanpa harus aku cari sudah terlihat jelas?" ucap Rico dengan heran.
Alfian kembali menerbitkan senyum tipisnya.
"Kamu terlalu fokus dengan keraguanmu. Mencurigai sesuatu yang nggak seharusnya kamu curigai. Mungkin jika kami sepasang saudara kembar pun, kamu juga nggak akan menyadari itu karena rasa curiga dan cemburu kamu itu terlalu besar.
Rico menatap ke arah Alina yang sedang tersenyum padanya, kemudian dia palingkan kembali pandangannya kepada Alfian.
"Maafkan aku sudah curiga denga…"
"Panggil saja Bang Fian," ucap Alfian menyela.
"Maafkan aku, Bang Fian."
"Its okay," sahut Alfian.
"Al." Rico kembali memalingkan wajahnya kepada Aliana. "Maafkan aku karena sempat menaruh curiga denganmu. Aku benar-benar nggak bermaksud untuk nggak percaya sama kamu. Aku hanya–"
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Rico kemudian kepada Alina dan Alfian.
"Apa?" tanya Alina.
"Kenapa Bang Fian selalu memakai masker dan topi? Apa Bang Fian sedang menghindar dari seseorang?" tanya Rico yang sudah sangat penasaran sejak tadi.
Jika Alfian memang benar abang dari Alina, lalu kenapa pria itu seperti sedang bersembunyi, pikirnya. Pertanyaan itu sejak tadi selalu berputar di kepala Rico dan kini akhirnya dia bisa mengatakannya juga.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Rico, Alfian dan Alina saling tatap sejenak. Kemudian Alina yang memilih untuk menjawab pertanyaan Rico.
"Maaf, Co, aku belum bisa cerita banyak sama kamu mengenai keluargaku. Untuk sekarang, kamu cukup tahu kalau Bang Fian adalah Abang kandungku. Kamu tenang saja, aku masih dengan janjiku kok. Kamu akan menjadi yang pertama yang mengetahui semua rahasiaku yang kusimpan selama ini."
Rico menghela nafasnya, ternyata bukannya jawaban yang dia dapat, dia justru kembali dibuat penasaran dengan perkataan Alina. Bukan hanya dengan Alina saja, bahkan dia sangat penasaran dengan keluarga wanita itu.
Alina penuh dengan misteri baginya.
Rico jadi kembali menaruh curiga kepada Alina. Apalagi Alina mengatakan jika dia berasal dari desa, sementara wajah Alfian sama sekali tak mencerminkan wajah warga lokal. Apa orang-orang di desa tempat Alina tinggal memiliki wajah seperti ini? Atau Alina ada keturunan warga inter? Atau jangan-jangan Alfian bukan abang kandung Alina?
Semua kecurigaan kembali berputar di otak Rico. Dia tak tahu harus mempercayai kebenaran yang mana di saat semua masih dengan teka-teki baginya. Sampai suara Alina menyadarkannya dari lamunannya dan membuatnya menatap wanita itu.
"Co, kamu kenapa? Kamu nggak percaya denganku?"
"Em, maaf, Al. Aku hanya bingung."
"Bingung kenapa?" tanya Alina penasaran.
Rico hendak mengatakan semua keraguannya kepada Alina, namun setelah dipertimbangkan lebih jauh, akhirnya Rico mengurungkan niatnya untuk mengatakannya. Dia harus mempercayai Alina, dia yakin jika Alina berkata jujur padanya dan tidak akan mengecewakannya. Dia ingin percaya dengan Alina dan tak ingin membuat Alina justru kecewa dengannya yang tak mempercayainya.
"Eh, nggak papa. Aku percaya kok sama kamu," ucap Rico sembari tersenyum tipis.
"Rico." Rico menatap ke arah Alfian yang memanggilnya. "Kalau masih ada yang ingin kamu tanyakan, katakan saja. Selagi kita bisa menjawab, kita akan menjawabnya."
Rico tersenyum tipis. "Aku akan percaya dengan Alina, Bang. Aku akan menunggu sampai dia benar-benar siap untuk menceritakan semuanya padaku."
"Co, aku janji," ucap Alina kemudian.
"Jangan berjanji, Al. Aku nggak mau buat kamu berhutang janji denganku. Aku yakin, semua yang kamu lakukan pasti ada alasannya dan aku memilih untuk percaya sama kamu."
Mendengar ucapan Rico, Alina seketika tersenyum senang. Meskipun dia yakin dengan Rico yang akan mempercayainya, namun tetap saja dia sangat senang saat mendengar langsung ucapan pria itu. Perkataan Rico benar-benar terdengar dewasa di telinganya. Semoga saja apa yang pria itu lakukan dan ucapkan padanya saat ini tak akan pernah berubah.
Setelah merasa cukup dengan pembahasan yang meski tak melegakan hati Rico, kini mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang. Sambil berbincang santai, lambat laun Rico dan Alfian sudah mulai terlihat akrab satu sama lain. Bahkan Rico merasa jika Alfian adalah pria yang pintar, terlihat dari caranya berbicara dan menanggapi perkataannya. Persis seperti kesan pertama dia saat mengobrol bersama Alina dulu.
*
Sepulang dari pertemuannya bersama Alina dan abangnya, Rico memutuskan untuk pulang dan dia tiba di rumahnya hampir pukul sepuluh malam. Meski masih meninggalkan rasa penasaran dari pertemuannya malam ini, namun setidaknya dia bisa sedikit lega karena pria misterius yang menjadi pertanyaannya selama ini adalah abang kandung Alina. Jujur atau bohongnya Alina, Rico tetap bersyukur karena Alina sudah mau mempertemukannya dengan Alfian, sosok saudara laki-lakinya.
Baru saja Rico menaiki anak tangga, tiba-tiba suara berat sang papa berhasil menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap sang papa sedang berjalan ke arahnya.
"Papa."
Rico kembali menuruni anak tangga dan mendekati Irfan.
"Ada apa, Pa?" tanya Rico.
"Kamu dari mana, Bang?"
"Rico baru saja bertemu dengan Alina, Pa."
"Bagaimana kabar Alina?"
Rico mengajak papanya untuk duduk di meja makan yang tak jauh dari sana.
"Baik, Pa. Oh ya, tadi Rico juga bertemu dengan abang Alina, Pa."
"Abang Alina?" tanya Irfan dengan terkejut.
"Ya. Ternyata pria yang sering datang ke kontrakannya itu memang benar saudaranya, Pa. Namanya Alfian."
Irfan tersenyum seketika. "Alhamdulillah kalau begitu, Bang. Sampaikan maaf Papa kepada Alina ya, Nak. Papa nggak bermaksud mencurigai dia."
"Sudah Rico wakilkan, Pa. Alina dan abangnya nggak mempermasalahkan itu, mereka orang baik, Pa."
"Papa lega mendengarnya, Bang. Kapan-kapan ajak Alina dan abangnya untuk dinner bersama ya, Bang. Papa ingin minta maaf secara langsung sama mereka," ucap Irfan.
Seketika raut wajah Rico terlihat ragu saat mendengar permintaan papanya itu. Bagaimana mungkin dia mengajak Irfan untuk dinner bersama mereka, sementara untuk dia bertemunya saja sulit sekali.
"Kenapa, Bang?" tanya Irfan saat melihat Rico yang diam saja.
"Em, maaf, Pa. Bukannya Rico nggak mau, tapi abang Alina belum bisa bertemu dengan kita."
Irfan mengernyitkan keningnya dengan heran.
"Kenapa?"
Rico menggelengkan kepalanya. "Rico juga nggak tahu, Pa. Em, mungkin abang Alina sangat sibuk. Mereka 'kan nggak tinggal di sini."
Rico berusaha untuk tidak berbohong kepada papanya, namun dia juga tidak bisa mengatakan alasan yang jelas. Sebenarnya Rico juga tidak tahu kenapa Alina menyembunyikan identitas Alfian, jadi dia terpaksa harus memberi kemungkinan yang dia sendiri tidak yakini kepada papanya.
"Yasudah, nggak papa. Kamu istirahatla, besok harus ke luar kota 'kan, Bang?"
"Iya, Pa. Kalau begitu Rico ke atas dulu ya."
Irfan menganggukkan kepalanya dan seketika itu juga Rico beranjak dari duduknya, meninggalkan Irfan seorang diri duduk di meja makan sembari memandang kepergiannya. Tidak ada rasa curiga sedikitpun darinya mengenai Alina, bahkan Irfan merasa jika Alina adalah wanita yang pantas untuk putranya. Meski perkataan sampah tetangga Alina waktu itu masih sering mengganggunya, tapi Irfan berusaha untuk mempercayai putranya. Memang saat ini dia masih penasaran dengan para pria kaya yang di maksud ibu-ibu di sana, namun tidak ada pilihan lain baginya selain mempercayai putranya. Ya, dia sudah memikirkan hal itu baik-baik untuk mempercayai Rico sepenuhnya atas pilihannya.
Rico memang bukan darah dagingnya, tapi rasa sayangnya kepada putranya itu mungkin lebih besar dari pada itu.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.