
Tak terasa waktu cepat sekali berlalu, kini hari kelulusan Alina pun telah tiba. Setelah berbulan-bulan berjibaku dengan laptop dan juga buku, akhirnya semua usai pada hari ini. Kelulusan dengan nilai terbaik tentunya membuat Alina bangga kepada dirinya sendiri. Ternyata tidak sia-sia dia belajar dengan sangat sungguh-sungguh karena hasil yang diraihnya pun sangat memuaskan.
Di tengah rasa bahagianya itu, Alina merasa ada kehampaan saat melihat teman-temannya yang lain bisa tertawa gembira bersama anggota keluarganya. Sementara dirinya hanya bisa bertemu dengan keluarganya yang lain –selain Alfian– melalui panggilan video saja.
"Selamat ya, Sayang. Maaf banget kita nggak bisa menghadiri acara wisuda kamu," ucap Zara di sebrang sana.
"Maafkan kita ya, Sayang. Semoga kehadiran Abang kamu di sana bisa mewakili rasa bahagia kami atas kelulusan kamu dengan nilai terbaik." Kini giliran Thomas yang memberi ucapan selamat kepada putrinya.
Alina tersenyum mengiyakan. Meski pun di sini Alfian menemaninya sepanjang acara, tapi rasanya sungguh tak puas karena abangnya itu selalu menutupi wajahnya dengan topi dan juga masker. Tak ada foto special yang bisa diambil sebagai kenang-kenangan dengan penampilan abangnya yang seperti itu. Namun mau bagaimana lagi, semua ini sengaja Alina lakukan sampai waktunya tiba.
"Al, kito foto di studio saja yuk," usul Alfian. Dia tidak tega saat merasa jika tidak ada momen berharga di hari bahagia adiknya itu.
"Nanti saja, Bang. Kita tunggu yang lain ke sini saja. Biar fotonya rame-rame gitu, sekalian bareng bang Morgan juga," ucap Alina.
"Lama dong, Al. Sekarang kita foto berdua dulu saja, nanti setelah mereka kemari baru kita foto lagi," seru Alfian lagi memberi masukan.
Alina mengernyitkan keningnya sembari menatap pada abangnya itu. Sepertinya tidak salah jika mereka foto berdua lebih dulu. Lagi pula rasanya akan beda jika berfoto di hari yang berbeda daripada hari bahagia itu berlangsung.
"Yasudah, oke deh. Tapi tunggu Rico dulu ya, Bang. Tuh anak nggak tahu ke mana, kok nggak sampe-sampe ya dari tadi," ucap Alina sembari menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sejak dia tiba di sini tadi pagi, Alina sangat menanti kehadiran pacarnya itu untuk menemaninya di acara pentingnya ini. Namun sejak dua jam lalu Rico mengatakan sudah dalam perjalanan, tapi entah kenapa pria itu belum juga tiba. Panggilannya pun tidak dijawab sejak tadi dan pesannya juga tidak dibacanya.
Alina yang awalnya kesal, kini menjadi cemas. Dia takut jika terjadi sesuatu dengan pacarnya itu dalam perjalanan ke sini. Alina kembali menghubungi Rico, namun sama seperti sebelumnya, Rico tak juga menjawab panggilan teleponnya. Alina berjalan kesana kemari, menanti sang kekasih yang entah sedang di mana.
Alfian yang melihat adiknya seperti setrika berjalan itu pun merasa pusing. Tak bisakah adiknya itu menunggu dengan tenang? Alina menunggu dengan begitu harap seolah Rico adalah orang penting.
Namun ya, begitulah kenyataannya. Rico merupakan salah satu orang penting di hati Alina saat ini.
"Mungkin Rico terjebak macet, Al. Ayo kita duluan saja, nanti suruh dia susul ke studio saja," ucap Alfian memberi usul.
Mereka sudah lebih dari satu jam menunggu Rico di luar dan hari pun semakin panas, membuat mereka semakin berkeringat. Sebenarnya tidak masalah jika hanya Alfian yang kepanasan, tapi Alina? Dia tidak tega melihat adiknya itu menahan terik hanya demi seorang pria.
"Tunggu sepuluh menit lagi ya, Bang. Kalau Rico belum juga ada kabar, kita langsung pergi saja."
Alfian menghela nafasnya. Tak ingin mendebat, dia pun mengiyakan perkataan Alina. Akhirnya mereka kembali menunggu kehadiran Rico yang tak pasti. Namun karena melihat Alina yang mengipas tubuhnya dengan toga yang dia pakai, akhirnya Alfian mengajak Alina untuk menunggu Rico di mobil.
"Kita tunggu di mobil saja, Al. Di sini panas banget," ucap Alfian kemudian.
Dia benar-benar tidak tega melihat adiknya itu kepanasan di bawah terik matahari. Meski mereka berada di sisi gedung, namun terik matahari tetap membuat hawa panas menyelimuti tubuh mereka. Setidaknya di dalam mobil ada AC yang bisa mendinginkan tubuh.
Alina dan Alfian menatap ke arah kanan mereka dan di sana terlihat Rico berlari ke arahnya dengan sebuah buket bunga berukuran cukup besar di tangannya. Setiba di hadapan Alina dan abangnya, Rico tersenyum samar sembari mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Maaf ya, Al, aku terlambat. Tadi–"
"Nanti saja jelasinnya," sela Alfian dengan cepat. "Di sini panas, kita temuan di studio foto saja."
"Mau foto studio ya, Bang?" tanya Rico dengan bodohnya.
"Mau makan seblak." Rico telrihat heran dengan jawaban Alfian. "Ya mau foto lah, masih nanya sih." Kemudian Rico menyengir kuda mendengarnya. Cuaca panas dan juga lelah karena mengejar waktu membuatnya jadi tak fokus.
Alfian memasang wajah datarnya. Ini pertama kalinya dia bersikap tak ramah kepada Rico. Bukan tanpa alasan, karena dia sangat tidak suka jika ada pria yang membuat adik kesayangannya itu harus menunggu sampai kepanasan seperti ini. Tidak, dia tidak marah, hanya saja sedikit kesal dengan keterlambatan Rico.
Meski wajah Alfian saat itu tertutup topi, namun sorot matanya yang sedikit terlihat membuat Rico menyadari itu. Dia jadi tidak enak hati karena sudah membuat mereka menunggu kehadirannya. Namun dia pun bukan tanpa alasan terlambat sampai lebih dari dua jam. Dia memiliki alasan yang tepat dan sepertinya akan dia jelaskan nanti saat mereka sudah berada di studio foto.
"Maaf ya, Al," ucap Rico dengan perasaan bersalah.
"Kamu harus memberikan alasan yang bisa diterima, Co. Kalau nggak, aku nggak akan memaafkan kamu," seru Alina pula. Dia tak bermaksud men seriusi perkataannya, hanya saja Alina sedikit kesal sama seperti abangnya.
Rico menganggukkan kepalanya. Kemudian dia memberikan buket bunga yang dia pegang kepada Alina.
"Selamat ya, atas kelulusannya. Semoga ilmu yang kamu peroleh bisa menjadi bermanfaat untuk diri kamu sendiri dan orang lain."
Alina pun menerbitkan senyum tipisnya.
"Thanks. Ayo pergi, panas banget di sini," ucap Alina kemudian setelah menerima buket bunga dari Rico.
"Ayo. Biar aku bawakan ya," ucap Rico sembari meraih kembali buket bunga dari tangan Alina. Membuat pacarnya itu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.