Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
77. Alasan ke London ll


"Halo, siapa ini?"


"Halo?"


Kalimat pertama dan kedua yang Zara ucapkan tak langsung dijawab oleh Zaki karena dia sangat speechless dan masih tak percaya jika wanita yang dia sukai menjawab panggilannya. Namun pada kalimat ketiga yang Zara ucapkan dengan mengancam akan menutup panggilan, barulah Zaki membuka suaranya.


"Em, halo Zara."


"Ini siapa?" tanya Zara kemudian.


*Ini Zaki. Apa aku boleh berkenalan denganmu?" tanya Zaki.


"Maaf, ada perlu apa?" tanya Zara tanpa basa-basi.


"Em, nggak papa. Aku hanya ingin berkenalan dengan kamu, apa boleh?"


"Maaf aku sudah punya pacar. Bukannya aku nggak mau kenalan sama kamu, hanya saja aku ingin menghormati pacarku dengan tidak berkenalan sama pria lain."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Zara langsung menutup panggilannya. Membuat Zaki terdiam karena ucapan wanita itu. Zara tidak mau berkenalan dengan pria lain karena ingin menghargai Thomas sebagai pacarnya?


Di satu sisi Zaki sempat kagum dengan kalimat tersebut karena dia pikir Zara adalah wanita yang setia, namun di sisi lain dia terlihat sedih sekaligus kesal karena pria istimewa yang Zara maksud bukanlah dirinya, melainkan orang lain.


Karena sempat dilema dengan obrolan singkatnya bersama Zara, beberapa hari setelah itu Zaki mencoba untuk mendekati Zara saat di kampus. Dia mendekati Zara saat teman-temannya sedang tidak ada di samping wanita itu. Seperti saat jika Zata sedang berada di perpustakaan, maka dia akan berpura-pura untuk membaca buku di sana dan duduk di sampingnya.


Zara yang tidak mengenal Zaki hanya menganggap biasa saja saat pria itu duduk di sebelahnya. Namun saat dia sedang meregangkan tubuhnya, saat itu juga Zaki tertangkap basah sedang menatap ke arahnya. Awalnya Zara mengabaikannya karena dia pikir Zaki hanya sekilas melihatnya, namun saat beberapa kali melihat Zaki yang melirik ke arahnya, Zara mulai terlihat risih dengan tatapan lelaki itu dan membuatnya terpaksa harus pergi karena tak nyaman.


Hampir setiap hari Zaki selalu mendekati Zara di perpustakaan. Zara tak pernah merespon kehadiran pria itu dan selalu pergi jika mereka duduk berdekatan. 


Pada suatu hari, Zaki mulai berani menegur Zara karena wanita itu hendak meninggalkannya untuk kesekian kali. 


"Mau ke mana?" tanya Zaki.


Zara sempat bingung dengan pertanyaan Zaki. Dia menunjuk dirinya sendiri dan saat Zaki mengiyakannya, barulah dia menjawab pertanyaan pria itu.


"Kembali ke kelas," jawab Zara singkat.


Zaki tersenyum, memuat Zara merasa aneh dan risih dengan senyumannya.


Kemudian Zara langsung meninggalkan Zaki begitu saja tanpa berpamitan karena merasa tak mengenal pria itu.


Karena merasa jika Zaki menguntitnya selama ini, sejak saat itu Zara tidak lagi datang ke perpustakaan seperti biasa. Kini dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar di dalam kelas atau di taman bersama beberapa temannya yang menemani. Dia benar-benar terlihat tidak nyaman dengan kehadiran Zaki yang selalu mengikutinya dan mencuri pandang pada dirinya.


Saat di mana Zara harus terpaksa pergi ke perpustakaan kembali, lagi-lagi Zaki mendekatinya dan mengajaknya bicara. Kali ini pria itu terlihat lebih aktif dari biasanya. Zara yang merasa tidak nyaman hanya mendiamkan pria itu dan mengatakan perkataan terakhirnya, jika dia ingin fokus belajar dan tidak mau ada yang salah paham pria itu yang mendekatinya.


"Tolong jangan dekati aku lagi. Aku nggak mau orang-orang salah paham dengan kedekatan kita. Kamu tahu sendiri 'kan kalau aku sudah punya pacar," ucap Zara mengingatkan. 


"Aku hanya mau berteman. Apa kamu juga nggak mau berteman sama aku hanya karena punya pacar doang?" ucap Zaki. 


"Sorry," ucap Zara singkat.


Tanpa berniat untuk mengobrol lebih lanjut kepada Zaki, dia pun segera pergi dari perpustakaan itu dan memutuskan untuk membawa pulang buku yang ada di sana. Kegiatan rutinnya membaca buku di perpustakaan sekarang menjadi tak menyenangkan lagi semenjak kehadiran Zaki yang membuatnya merasa tidak nyaman.


Beberapa hari tak melihat kehadiran Zara di perpustakaan, Zaki pun akhirnya kembali menghubungi nomor ponsel Zara di waktu yang biasanya dia gunakan untuk mengirimnya pesan teks yaitu, jam delapan malam.


Saat itu panggilannya diabaikan oleh Zara sebanyak 3 kali, namun di pangeran keempat Zara langsung menjawab panggilannya sehingga membuat Zaki sangat senang. Namun kesenangannya tidak berlangsung lama karena dia mendengar kalimat yang sangat melukai hatinya dari mulut wanita itu.


"Aku minta tolong banget sama kamu, jangan dekati aku lagi. Aku dan Thomas akan segera menikah, tolong jangan merusak hubungan kami."


Bagaikan disambar petir mendengar kenyataan jika wanita yang disukainya selama ini akan segera menikah dengan pacarnya. Sejak malam itu Zaki terlihat banyak melamun karena dia benar-benar merasa kecewa jika apa yang diharapkannya tidak bisa dia gapai, bahkan sebelum memulainya. Zaki terlihat putus asa dan berusaha untuk mengikhlaskan Zara, namun rasa cinta yang begitu besar kepada wanita itu membuat Zaki kesulitan untuk melupakannya.


Saat Santi mengadakan party ulang tahun di kediamannya, Zaki memutuskan untuk datang ke rumah saudaranya itu. Dia yang biasanya tidak pernah mau mengikuti kegiatan keluarga kini terpaksa pergi hanya untuk melihat sosok Zara. Mungkin dengan dia melihat wanita itu akan membuat hatinya tenang walaupun hatinya akan kembali terluka saat melihat wanita itu bersama calon suaminya yaitu, Thomas. Sepanjang acara, Zaki hanya melihat Zara dari kejauhan. Sebagian dari hatinya merasa senang saat melihat wajah cantik wanita itu, namun sebagiannya lagi merasa sakit dan kecewa saat melihat Zara yang terlihat tersenyum bahagia dengan pria lain di ujung sana. 


Hati Zaki benar-benar terasa sangat sakit saat melihat Thomas melamar Zara di depan banyak orang. Dia tidak menyangka jika momen bahagia itu dilakukan Thomas di acara ulang tahun saudaranya ini. Karena sudah tak tahan melihat pemandangan yang menyakitkan itu akhirnya Zaki berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk pulang lebih awal. Dia beralasan tidak enak badan dan ingin segera beristirahat. 


Saat Zaki hendak pergi dari sana, dia tak sengaja menabrak seorang pelayan yang sedang membawa nampan minuman dengan beberapa gelas terisi di atasnya. Suara pecahan gelas tersebut membuat pandangan orang-orang di sana menatap ke arahnya. Zara yang melihat kehadiran Zaki di sana sangat terkejut, dia mengira Zaki menguntitnya sampai ke sini, namun saat mengetahui jika Zaki adalah saudara Santi, keterkejutkan itu ternyata bertambah lebih dalam.


Semua masih berjalan normal bagi hubungan Zara dan Thomas. Namun saat pernikahan pasangan muda itu berlangsung, Zaki mulai hilang kendali. Setiap hari dia akan mengikuti Zara kemanapun wanita itu pergi, tak peduli jika Thomas mengetahui tindakannya itu karena dia sudah tidak tahan melihat Zara bahagia bersama pria lain. Dia bahkan tidak peduli jika harus merusak rumah tangga wanita itu demi terwujudnya keinginannya untuk menjadikan Zara kekasihnya.


Pada hari di mana Thomas mengetahui jika dirinya selalu menguntit Zara, pria itu langsung menghampiri Zaki karena tak terima dengan kelakuan pria itu. Dua kali diperingatkan oleh Thomas, ternyata itu tak membuat Zaki jera dan pria itu terus mengikuti istrinya. Sehingga untuk kesekian kalinya, Thomas kehilangan kesabaran dan terpaksa menghajarnya.


"Aku menghargai kamu karena aku tahu kalau kamu saudara Santi, adik angkatku. Tapi kali ini kamu sudah keterlaluan, kamu menguntit seorang wanita yang sudah menjadi istriku dan aku tidak terima dengan kelakuan kamu ini," ucap Thomas setelah pukulan pertamanya.


Zaki yang tidak terima dipukul oleh pria itu lantas membalas pukulannya dan saat itu juga terjadilah sebuah perkelahian diantara kedua pria itu.


Sejak Thomas mengetahui jika Zaki menyukai istrinya dan selalu mengikuti kemanapun Zara pergi, akhirnya Thomas mengambil keputusan untuk selalu mengantar Zara kemanapun istrinya itu pergi. Rntah ke tempat kerja, ke rumah orang tuanya, bahkan sekedar ingin pergi ke minimarket terdekat pun dia selalu melakukan itu agar Zaki tak melakukan lebih daripada itu.


Di kehamilan pertama Zara, Zaki kembali garam karena tak terima jika Zara mengandung buah hati dari pria lain. Obsesinya kepada Zara membuat pria itu kehilangan akal, dia terus mencoba mendekati Zara namun Thomas selalu menjadi garda terdepan untuk melindungi istrinya tersebut.


Sampai anak mereka lahir dan berusia 1 tahun, saat itu Thomas dan Zara sedang bersama putrinya yang cantik di sebuah taman. Pada saat itu Thomas sedang membeli minuman yang tak jauh dari istri dan anaknya itu.


Zaki yang tidak mau melewatkan kesempatan yang tidak akan pernah dia mendapatkan setelah ini pun langsung mendekati Zara dan putrinya. Zara terlihat takut akan kedatangan Zaki, sehingga membuat tangannya gemetar dengan putrinya yang berada dalam gendongannya.


Saat itu Zaki sudah sangat kelewatan karena dia berusaha untuk menggenggam tangan Zara yang sedang menggendong Aura. Zara tidak berani berteriak karena dia merasa Zaki tidak akan berani macam-macam padanya di tempat umum dan dia juga tidak mau mengundang keributan di sana, namun ternyata dia salah. Zaki sudah benar-benar kehilangan akal, pria itu memaksa menggenggam salah satu tangannya yang membuatnya kehilangan kendali menggendong Aura. Zaki menyeret tangan Zara untuk mengajaknya pergi dan saat itu Zara langsing berteriak karena dia sudah sangat ketakutan.


Thomas yang mendengar teriakan istrinya lantas menoleh dan dia langsung terkejur saat melihat Zaki sedang menarik istrinya menuju jalan raya.


"Zara," teriaknya kencang.


Melihat Thomas yang berlari mendekati mereka, Zaki pun menarik lebih keras lebgan Zara sehingga tak menyadari jika seorang pria yang sedang membawa motor dengan ugal-ugalan menabrak tubuh Zara bagian kiri yang saat itu sedang menggendong Aura.  Dalam sekejap mata, Aura terlepas dari gendongan Zara yang membuat semua orang yang berada di taman itu menjerit saat melihat seorang bayi berusia 1 tahun itu terpental di atas batu kerikil yang cukup tajam.


Zaki yang menyadari itu lantas melepaskan genggaman tangannya dari Zara. Meskipun dia tak suka melihat bayi itu, namun dia juga sama terkejutnya dengan orang-orang di sana saat melihat bayi itu terjatuh dan menghasilkan begitu banyak darah pada bagian kepalanya. Zaki yang sangat ketakutan dengan keadaan tersebut memilih untuk meninggalkan lokasi dengan tangan gemetar. Dia melajukan mobilnya meninggalkan taman yang berhasil membuat orang-orang meneriaki kepergiannya.


Thomas dan Zahra yang hanya fokus kepada anak mereka yang terjatuh lantas tak mempedulikan kepergian Zaki. Mereka terlihat ketakutan saat melihat kondisi putrinya yang tampak berlumuran darah dan tak sadarkan diri. Jantung mereka berdegup kencang, takut jika sesuatu yang buruk terjadi kepada putri mereka itu.


Salah satu orang yang berada di taman itu berinisiatif menelpon polisi, namun Thomas yang mendengar itu lantas melarangnya.


"Jangan telepon polisi, nanti biar aku yang mencarinya," ucapnya dengan mata memerah.


Karena tak bisa berbuat apa-apa, orang-orang yang ada di taman itu hanya bisa melihat kepergian Thomas bersama Zarah dengan perasaan yang berkecamuk.