
23.juli
Hari terus berganti, kini kondisi Alina pun sudah mulai membaik. Tak ada lagi morning sickness yang biasa dia rasakan setiap pagi hingga menjelang siang. Kini wanita itu sudah bisa lebih leluasa beraktifitas dengan bebas. Namun meski begitu, semua anggota keluarganya tak senggang untuk selalu posesif padanya.
Hari ini Alina juga sudah mulai bekerja kembali. Seperti janjinya kepada keluarganya, dia akan mulai kembali bekerja jika kondisinya sudah membaik. Perut Alina pun kini sudah mulai membesar, dengan pakaian apapun semua orang akan mengetahui jika wanita itu saat ini sedang hamil.
Saat Alina berjalan memasuki kantornya, semua karyawan menatap terkejut ke arahnya dengan penampilan yang telah berubah. Mereka yang sejak awal bertanya-tanya kenapa Alina sering terlambat dan tiba-tiba mengambil cuti hampir dua bulan akhirnya mendapatkan jawabnya hari ini juga. Mereka yang telah berburuk sangka kepada Alina kini sedikit merasa bersalah karena telah berpikir yang tidak tidak tentang wanita itu.
Namun sebagian kecil juga masih ada yang tidak merasa bersalah atas pikiran buruknya terhadap Alina. Mereka tetap terlihat tidak suka karena menurutnya Alina hanya memanfaatkan statusnya dengan seenak jidat hanya karena kehamilannya.
"Nona Alina. Anda sedang hamil? tanya salah satu karyawan di san saat Alina berjalan melintasinya.
Alina menghentikan jalannya dan tersenyum mengiyakan.
"Wah, selamat ya Nona atas kehamilan pertamanya. Sudah berapa bulan Nona?"
"Sekitar 4 bulan."
"Wah, sudah masuk trimester kedua dong. Kok kita nggak tahu ya kalau Nona sedang hamil?"
Alina hanya tersenyum menjawab perkataan wanita itu. Dia yang tak berniat untuk menanggapi perkataannya lebih lanjut lantas berpamitan untuk segera menuju ruangannya bersama sang suami yang selalu setia mengantarkannya hingga dalam.
Setelah kepergian Alina, orang-orang yang mendengar percakapan tersebut pun mulai berbisik. Mereka kini semakin yakin jika alasan dari keterlambatan serta cuti mendadak yang Alina lakukan selama ini semata karena wanita itu sedang hamil.
"Tuh, kalian kemarin yang menjelekkan Alina rasain."
"Iya, makanya kalau punya mulut dijaga. Jangan sembarang bicara."
"Untung pak Morgan dan pak Alfian nggak mendengarnya. Kalau mereka berdua sampai tahu kalian menjelekkan adiknya yang sedang hamil, bisa-bisa kalian akan diberi surat peringatan seperti Noni dan Widya."
"Iya. Aku jadi merasa bersalah dengan Alina. Gimana ya, mau minta maaf tapi gengsi."
"Sudahlah, lupain aja. Jangan dibahas lagi, yang ada nanti kita yang kena imbasnya."
"Ya sudah, bubar yuk. Kalau pak Alfian melihat kita berkumpul begini dia pasti marah."
Para karyawan di sana pun membubarkan diri untuk segera melanjutkan kembali pekerjaannya yang baru saja akan dimulai.
*
Di depan ruangannya saat Alina hendak memasuki ruangannya, tiba-tiba dua orang wanita memanggilnya dari arah belakang. Membuat Alina mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan dan menoleh ke arah mereka."
"Alina."
Alina tersenyum ramah. "Ada apa?" tanyanya.
Kedua wanita itu saling pandang dengan wajah terlihat ragu untuk berbicara dengannya. Apalagi Rico berada di sana, mereka semakin ragu untuk berucap sesuatu.
"Ada apa?" tanya Alina lagi dengan heran.
Namun karena tak punya pilihan lain, mereka akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Alina dan mengatakan apa yang seharusnya mereka katakan.
"Alina, maafkan kami kalau selama ini kami sering membicarakanmu dari belakang. Kami….*
Alina yang tadinya penasaran dengan kedua wanita itu yang memanggilnya, kini akhirnya mengerti. Ternyata kedua wanita itu adalah orang yang ketahuan oleh kedua abangnya karena telah berbicara buruk tentangnya dua bulan lalu.
Saat itu Noni dan Widi sengaja meminta maaf kepada Alina karena perintah dari Morgan. Morgan sudah menjelaskan kepada kedua orang itu jika alasan adiknya selalu datang terlambat karena gejala kehamilan. Namun selain perintah dari Morgan juga, kedua wanita itu pun juga merasa bersalah karena telah berbicara buruk kepada Alina yang ternyata sedang mengandung.
Salah satu dari mereka adalah seorang ibu beranak satu. Dia sangat tahu bagaimana sulitnya menahan diri dari rasa tak nyaman yang dirasakan seorang wanita hamil. Terlebih jika kandungannya yang lemah yang akan membuat wanita itu tidak bisa melakukan apapun. Dengan hal itu juga membuat mereka merasa bersalah kepada Alina.
Karena kedua abangnya sudah melakukan tindakan atas sikap kedua wanita itu, maka Alina pun hanya bisa memaafkan perbuatan mereka padanya. Lagi pula Alina sadar jika apa yang mereka lakukan itu di luar kendalinya. Mereka pasti tidak tahu jika dirinya sedang hamil sehingga membuatnya berasumsi buruk seperti itu.
Selesai dengan kedua wanita itu, Alina pun mengajak Rico untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Sayang, kalau begitu aku pergi sekarang ya," ucap Rico berpamitan.
Alina mengangguk. "Terima kasih ya, Sayang. Kamu hati-hati di jalan."
"Tentu," ucapnya sembari mengusap wajah istrinya itu dan mencium keningnya.
Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan istrinya itu, Rico berjongkok di depan perut istrinya terlebih dahulu untuk mengusap perut Alina yang terdapat buah hatinya itu. Tak lupa dia juga memberikan kecupan hangat pada perut istrinya dan berbisik seolah sedang mengatakan sesuatu kepada anaknya yang masih di dalam perut.
"Papa pergi dulu ya, Sayang. Kamu baik-baik di dalam sana, jangan membuat Mama kamu kesulitan, oke."
Alina tersenyum melihat hal itu. Rico selalu saja memiliki cara untuk membuatnya tersenyum dengan segala perlakuan sederhananya.
**
keesokan harinya Alina dan Rico bersiap untuk menghadiri acara pernikahan teman dekat mereka yaitu, Rena dan Andi. Sejak pagi mereka telah bersiap untuk penampilan terbaiknya di acara temannya itu. Terlebih Alina yang diminta Rena untuk mengiringinya membuatnya dengan harus datang sebelum acara dimulai.
Namun karena saat ini kondisi Alina yang tidak bisa bergerak dengan cepat, membuatnya sedikit terlambat datang ke lokasi acara. Bahkan saat di perjalanan pun, Rena tak henti-hentinya menghubungi wanita itu untuk menanyakan keberadaannya.
"Iya, kita sudah di jalan Ren. Tunggu sebentar, sekitar setengah jam lagi sampai kok."
"Iya sabar, kamu tahu sendiri 'kan kondisiku sekarang gimana. Aku nggak mungkin untuk memaksakan bergerak cepat, kamu mau kandunganku jadi kenapa-napa gara-gara terburu-buru?"
Rena pun menghela nafasnya, tak bisa berkata lagi saat mengingat temannya itu yang sedang berbadan dua. Daripada terjadi sesuatu dengan temannya itu atas kemauannya, dengan terpaksa Rena meminta MC yang membawa acaranya untuk menunda acara sakralnya itu sampai Alina datang.
Sekitar 35 menit kemudian, mobil yang Alina tumpangi kini telah tiba di lobby hotel. Dia bersama Rico segera masuk ke dalam sebuah ruangan untuk menemui Rena yang berada di sana.
"Sayang, hati-hati. Jangan terburu-buru semua orang menunggu kita loh."
"Justru semua orang menunggu kita, Sayang. Aku nggak enak sama Rena, kita sudah telat setengah jam lebih loh."
"Iya, aku tahu, tapi dengan kamu terburu-buru begini juga nggak akan membuat semuanya lebih baik. Yang ada nanti terjadi sesuatu dengan kandungan kamu."
Alina yang baru tersadar jika saat ini dia sedang mengandung pun lantas menghentikan jalannya.
"Astaga, aku baru ingat kalau sedang hamil. Ya ampun, Sayang, maafin Mama ya. Mama nggak bermaksud kok untuk mencelakai kamu," ucap Alina sembari mengelus perut buncitnya.
Kini dia pun melambatkan laju jalannya namun dengan perasaan yang sedikit cemas karena tak enak hati dengan Rena yang telah menunggu lama dan tamu undangan yang telah menunggu dimulainya acara sejak tadi. Setiba di ruangan Rena, Rico pun meninggalkan istrinya bersama calon pengantin itu. Dia memilih untuk menunggu istrinya di ballroom tempat acara dilaksanakan, sementara Rena saat ini terlihat menekuk wajahnya gara-gara temannya itu yang terlambat hampir satu jam.
"Ya udah maaf kali, Ren. Aku sudah semampunya lo untuk cepat, tapi mau bagaimana lagi, kondisiku saat ini benar-benar nggak memungkinkan untuk bergerak lebih cepat dari ini. Kamu jangan merajuk gitu dong, kamu akan merasakan sendiri saat kamu hamil nanti. Nggak bisa bergerak dengan cepat dan leluasa."
Lagi-lagi Rena harus menghela nafasnya mendengar perkataan temannya itu. Dia melirik kepada perut Alina yang semakin membesar, kemudian mengelusnya dengan lembut.
Maafkan aunty ya, Sayang. Aunty cemas dengan pernikahan Aunty, sampai-sampai nggak mamadulikan kamu yang ada di dalam sana."
Alina tersenyum melihat Rena yang seperti itu.
"ya sudah, ayo duduk, akadnya sudah mau dimulai," cap Alina sembari mengajak calon pengantin itu untuk mendudukan tubuhnya di sofa yang ada di sana.
Akad nikah pun dimulai, saat kata sah terucap dengan jelas di telinga semua orang, Alina segera mengajak Rena untuk keluar dari sana menuju ballroom tempat acara dilaksanakan melalui pintu yang sudah disediakan. Dengan diiringi alunan musik romantis, Rena masuk ke dalam ballroom bersama sahabat baiknya yang kini tengah menggandeng tangannya dengan perut yang terlihat besar.
Senyum sumringah tak pernah pudar dari wajah cantik Rena maupun Alina. Mereka merasa bahagia dengan perasaannya masing-masing.
Saat Rena telah diambil alih oleh Andi, Alina pun memutar tubuhnya untuk menghampiri suaminya yang saat ini ternyata telah menunggunya tak jauh dari posisinya berdiri.
"Sayang, aku jadi teringat hari pernikahan kita 4 bulan lalu loh," ucap Rico dengan sedikit berbisik di telinga istrinya. Namun Alina hanya menanggapi perkataannya itu dengan tersenyum geli.
**
Kurang dari dua jam, acara resmi pun telah selesai dilaksanakan. Kini semua para sambungan undangan dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah disediakan.
Dengan kondisi istrinya yang sulit bergerak, Rico meminta Alina untuk menunggu di kursi mereka bersama Marissa yang sedang menyuapi Lala kue coklat. Sementara dia bergegas menuju meja makan untuk mengambilkan makanan untuk mereka berdua.
Saat sedang mengambil makanan, suara seorang wanita dari belakang tubuhnya membuat Rico menoleh. Wajahnya terlihat datar saat menyadari Calista yang menyapanya dengan tatapan penuh arti.
"Hai, Co," ucap Calista menyapa.
Rico tak menjawab sapaannya. Dia hanya diam sembari menatap penuh tanya pada wanita itu yang menegurnya.
Calista pun yang tak mendapat sahutan dari pria yang ada depannya lantas saja dibuat malu. Namun dia tak mungkin menunjukkan rasa malunya saat itu. Calista berusaha untuk terlihat biasa saja dengan tersenyum manis.
"Selamat ya atas kehamilan anak pertama kalian. Aku baru tahu kalau istri kamu sudah hamil 4 bulan, soalnya nggak ada berita apapun tentang kehamilan Alina selama ini."
Calista masih berusaha untuk ramah kepada Rico, meski sebenarnya dia tahu jika pria yang ada di depannya itu tak menyukai kehadirannya. Namun mau bagaimana lagi, keinginannya untuk menegur Rico tak bisa dia hindari begitu saja. Terlebih saat ini Rico sedang tidak bersama istrinya.
Dia cukup malu untuk menegur Rico jika Alina mengetahuinya karena sebelum mereka menikah, dia sempat menjelekkan Rico dan meminta Alina untuk mundur dari hubungannya. Dia sangat malu kepada Alina jika mengingat hal itu, sementara kini dia justru mendekati Rico kembali untuk bersikap baik padanya.
"Terima kasih. Kami memang sengaja nggak mengumumkan kehamilan istriku karena Alina ingin privasinya tetap terjaga."
Calista tersenyum. Dia hendak melanjutkan obrolannya bersama Rico, namun saat itu Rico lebih dulu berpamitan kepadanya dengan alasan jika Alina sudah menunggu makanan yang sedang dia ambil.
Karena tak bisa memaksa juga yang akan membuat dirinya lebih malu, Calista pun mengiyakannya dan merelakan Rico pergi dengan piring yang telah terisi penuh dengan makanan. Calista terdiam di ujung meja makan, dia menatap Rico yang berjalan menjauh sembari meratapi perasaannya yang menyesal.
Sejak awal Calista memang terlihat ragu untuk melepas kepergian Rico dari sisinya, namun egonya yang ingin mendapatkan pria kaya membuatnya terpaksa mengakhiri hubungannya bersama pria itu. Dan saat mendapatkan kabar jika Irfan Renaldi akan mewariskan semua hartanya kepada pria itu, entah kenapa hati Calista menjadi sangat sakit sekali. Di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Calista masih memiliki perasaan kepada Rico. Namun apa daya semua telah berlalu, tak ada yang bisa dia lakukan kecuali pasrah dan merasakan penyesalan karena telah melepaskan seorang pria yang begitu baik demi egonya sendiri.
Saat Calista hendak pergi menuju mejanya, tiba-tiba suara seorang pria dari arah samping membuatnya menghentikan langkahnya. Dia melirik ke arah pria itu yang terlihat asing baginya.
"Kamu menyukai Rico?" tanya pria itu sembari menatap Calista dari atas hingga bawah, membuatnya merasa tak nyaman karena ditatap dengan sedemikian olehnya.
"Bukan urusan kamu," jawab Calista dengan acuh.
Pria itu menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Kamu nggak akan bisa mendapatkan Rico dan merusak rumah tangganya, karena pria itu sudah sangat mencintai istrinya."
Meski sudah mengetahui akan hal itu, namun Calista tetap tak suka mendengar kalimat yang diucapkan pria itu padanya. Pria itu berkata seolah mengejek dirinya yang tak akan pernah bisa mendapatkan Rico. Karena merasa tak mengenal pria itu, Calista pun meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan dengan perasaan yang tak karuan. Sementara pria itu yang melihat kepergian Calista hanya tersenyum dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Dasar wanita. Kamu nggak akan bisa mendapatkan Rico dan merusak rumah tangga adikku," gumamnya dengan pelan.
Ya, pria yang berbicara dengan Calista itu tak lain adalah Morgan. Dia datang ke acara pernikahan Rena dan Andi karena orang tua Rena yang merupakan rekan kerjanya di kantor bersama Alfian. Dia tadi tidak sengaja melihat Calista yang berbicara dengan Rico sepanjang pria itu mengisi piringnya dengan makanan.
Awalnya Morgan ingin mengabaikannya saja karena dia pikir Calista adalah rekan kerjanya yang tak sengaja bertemu di sana, namun saat melihat tatapan Calista yang penuh arti pada Rico, dia pun mulai curiga dan mengira jika wanita itu ingin mendekati Rico. Saat itu juga Morgan segera mendekati Calista ketika Rico telah pergi meninggalkannya.