
"Angel?" seru Rico kemudian.
Ya, wanita yang tak sengaja Rico tabrak tersebut tak lain adalah Angel. Mantan pacarnya yang meninggalkannya satu hari sebelum dia mengenal Alina.
Angel menatap Rico dari atas hingga bawah, pria itu tampak lebih gagah dari biasanya, sepertinya kebahagiaan tengah meliputi dirinya. Vibes positif tersebut sempat membuat Angel sedikit tertarik memandangnya, namun saat mengingat jika Rico hanyalah seorang anak angkat yang dulunya merupakan anak dari sepasang pembantu, dia pun langsung memasang wajah juteknya kepada mantan pacarnya itu. Kemudian memeluk lengan pria yang ada di sampingnya. Angel bermaksud ingin membuat Rico cemburu, namun sayangnya pria itu hanya menunjukkan wajah datarnya saja.
"Permisi, aku mau lewat," ucap Rico kemudian saat Angel dan pria yang ada di sebelahnya menghalangi jalannya. Tak ada niat untuk berbasa-basi karena baginya, Angel bukanlah sosok penting yang wajib diajak untuk sekedar bertegur sapa.
Angel pun yang diabaikan oleh Rico merasa tersinggung, dia tidak terima diabaikan begitu saja oleh seorang pria yang sempat dia tinggalkan itu.
"Anak pembantu doang sombong banget," ucap Angel dengan menaikkan salah satu sudut bibirnya. Kemudian dia menggeser sedikit tubuhnya, memberi jalan untuk Rico.
Dia berharap Rico menanggapi perkataan pedasnya itu, namun lagi-lagi ternyata Rico kembali mengabaikannya, seolah tak tertarik untuk berbicara dengannya. Hal itu sungguh membuat Angel panas, namun daripada harus mengurusi anak pembantu itu, lebih baik dia fokus kepada gebetan yang ada di sebelahnya.
Angel hendak mengajak gebetannya itu mencari tempat duduk, namun pria di sampingnya itu justru menahannya dan membuatnya terheran.
"Ada apa?" tanya Angel.
Bukannya menjawab, pria yang ada di sebelahnya itu melepaskan tangan Angel dari lengannya dan berjalan mendekati meja yang saat ini diduduki oleh Andi dan Rena.
"Hai, Ren," ucap pria itu kepada Rena dengan senyum penuh arti. Membuat Angel maupun Andi yang melihat itu dibuat heran.
"Dia siapa, Sayang? Kamu mengenalnya?" tanya Andi kepada Rena.
"Itu Alvin," ucap Rena dengan suara samar.
Ya, pria yang bersama Angel tersebut adalah Alvin, teman masa kecil Rena yang selama ini mengganggunya dan membuatnya tak tenang.
Sejak Rico bertabrakan dengan Angel tadi, Rena sangat terkejut melihat sosok Alvin di sana. Dia terdiam, sampai Alvin menatap ke arahnya lalu Rena menundukkan kepalanya dengan jantung yang berdegup kencang.
Meski Andi sudah mengetahui semua cerita antara dirinya dan Alvin, tapi rasa takut akan pria itu tetap ada pada dirinya. Padahal Rena sudah sangat tenang ketika Alvin tak lagi mengganggunya dalam beberapa bulan ini karena ancaman Alfian. Namun entah kenapa mereka bisa bertemu hari ini.
Andi yang tadinya sedang fokus pada Rico dan juga Angel, tak menyadari jika dirinya tengah membeku dalam diam. Saat Alvin menegurnya dan melihat dirinya terdiam menunduk, barulah pacarnya itu menyadari jika ada yang aneh dengan dirinya. Apalagi saat dia mengatakan jika pria itu adalah Alvin, seketika Andi menajamkan matanya ke arah pria itu.
Andi hendak bangkit dari duduknya, namun dengan cepat Rena menahan tangannya. Emosi yang terlihat di wajah Andi membuat Rena takut jika pacarnya itu akan membuat masalah di sana. Bukannya dia bermaksud ingin membela Alvin, hanya saja dia tidak suka dengan yang namanya kekerasan. Apalagi jika Andi memulai keributan, hal itu akan memalukan diri mereka berdua sendiri.
Andi berusaha mencoba menahan emosinya demi Rena. Dia tidak mau membuat pacarnya itu takut, apalagi Rena selama ini hidup jauh dari yang namanya kekerasan. Dia tidak mau membuat pacarnya itu tidak nyaman.
Alvin pun yang melihat hal itu lantas menarik salah satu sudut bibirnya. Dia pikir pacar Rena tidak berani dengannya. Sesuatu yang sangat menarik, pikirnya.
"Ren, kenapa kamu diam saja? Apa kamu nggak mau menyapa teman lamamu ini?" ucap Alvin saat melihat Rena hanya diam saja sejak tadi.
Karena merasa tidak nyaman dengan kehadiran Alvin, Rena menarik tangan Andi dan hendak mengajaknya pergi. Jika Alvin terus mengganggunya, dia tidak yakin jika perkelahian ataupun perdebatan antara pria itu dan pacarnya akan bisa dihindari nantinya
"Maaf, kita sudah mau pergi," ucap Rena tanpa menatap ke arah Alvin.
"Mau ke mana?" tanya Alvian. Dia pun dengan gerakan cepat merih lengan Rena yang saat itu sedang menggenggam lengan Andi.
Andi dan Rena menghentikan langkahnya dan saat melihat tangan Alvin yang menggenggam lengan Rena, Andi pun lantas menepisnya dengan tak ramah.
"Jangan sekali-sekali menyentuh tubuhnya meski seinci pun," ucap Andi dengan tatapan tajamnya.
"Sorry," ucap Alvin dengan wajah tanpa dosa. "Aku hanya ingin menyapa teman lamaku saja," lanjutnya.
"Pacarku tidak memiliki teman pria selain diriku. Jadi, jangan pernah mengganggunya lagi," sahut Andi penuh peringatan.
Andi melepas genggaman tangan Rena dan kini bergantian dia yang menggenggam tangan wanita itu. Kemudian dia mengajak Rena melanjutkan langkahnya untuk pergi dari sana. Namun belum dua langkah mereka berjalan, perkataan Alvin selanjutnya berhasil membuat Andi dan Rena kembali menghentikan langkahnya.
"Rena, apa kamu nggak ingat dengan c1um4n pertama yang kamu berikan padaku waktu itu?"
Emosi menguasai diri Andi. Meski Rena telah menceritakan semuanya kepadanya, namun perkataan pria itu sungguh berhasil membuat hatinya panas. Andi hendak melepaskan genggaman tangannya dari Rena dan membuat perhitungan kepada pria bernama Alvin itu, namun ternyata Rena lebih cepat menghentikan aksinya yang belum dimulai.
"Please," ucap Rena sambil menggelengkan kepalanya.
Andi memejamkan matanya, berusaha menahan emosi yang sebenarnya sudah tak bisa ditahan. Baiklah, kali ini dia harus bersabar demi Rena. Tapi di lain kesempatan, jika dia bertemu kembali dengan pria itu dengan kejadian yang serupa, maka tak segan dia akan menghabisi pria itu dengan tangannya sendiri.
Alvin pun yang awalnya merasa jika Andi terpancing emosinya, seketika langsung tersenyum senang. Namun saat sepasang kekasih itu mengabaikan perkataannya dan pergi begitu saja meninggalkannya, dia lantas memukul angin dengan sembarang sambil mengumpat.
Angel yang sedari tadi hanya menjadi penonton dan tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi hanya bisa diam. Kini mood Alvin sedang tidak baik-baik saja. Sebaiknya dia diam saja jika tidak mau mendapat amukan dari gebetannya itu. Meski baru kenal satu bulan, tapi Angel sangat tahu betul bagaimana jika pria itu sedang emosi. Jika saja bukan karena kekayaannya, tentu saja dia tidak akan mau dekat dengan pria emosian seperti Alvin.
...*...
Tak lama dari kepergian Andi dan Rena, Rico terlihat kembali dari kamar mandi. Dia yang melihat tak ada seorangpun di mejanya tentu saja dibuat bertanya-tanya.
Seorang pelayan resto yang baru saja hendak membersihkan meja itu dia dekati.
"Maaf, teman saya di meja ini ke mana ya?" tanya Rico.
"Mereka sudah pergi, Pak."
Rico mengernyitkan keningnya dengan heran. Tidak biasanya sekali Andi pergi tanpa berpamitan kepadanya. Ada apa lagi dengan mereka, pikirnya.
Rico hendak pergi juga dari restoran itu, namun pelayan yang sedang membereskan meja pun menghentikan langkahnya.
"Maaf, Mas, ini tagihannya."
Rico melongo melihat secarik kertas yang diberikan pelayan itu padanya. Yang benar saja, sudah pergi tanpa pamit, Andi juga meninggalkan restoran tanpa membayarnya terlebih dahulu.
"Kebangetan banget tuh anak," gumam Rico pelan.
Sebenarnya juga bukan masalah uang, hanya saja dia kesal karena Andi meninggalkan dirinya begitu saja.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.