
"Kamu nggak ada baju seperti itu dan setahuku, baju yang kamu pakai adalah baju milik Alina."
Rena sangat heran kenapa Andi begitu hafal jika ini adalah baju milik Alina. Padahal Alina sendiri mengatakan jika baju ini baru sekali dipakainya saat di Oxford dulu. Tidak mungkin jika Andi mengingat hari itu yang telah berlalu beberapa tahun lalu.
"Em, ini memang baju Alina. Dia meminjamkannya padaku."
Mengingat jika Andi pernah memberikan sebuah dress yang dipakainya semalam kepada Alina, Rena jadi curiga jika baju yang sedang dipakainya saat ini juga pemberian Andi kepada Alina. Dia jadi penasaran, berapa banyak baju yang Andi berikan kepada Alina, pikirnya. Namun dengan situasi yang sedang terjadi, Rena tidak mungkin membahas tentang baju ini saat ini. Dia hanya ingin fokus pada tujuan awalnya datang ke sini yaitu, menyelesaikan satu dari beberapa masalahnya.
"Ndi," seru Rena setelah mereka terdiam beberapa saat. "Apa kamu marah dengan semua yang sudah aku lakukan dibelakang kamu?"
Mendengar pertanyaan Rena, Andi meraih kedua tangan wanita itu.
"Aku kecewa karena kamu nggak cerita semuanya denganku sejak awal." Andi menjeda kalimatnya sejenak. "Tapi aku nggak bisa marah sama kamu, Rena. Di sini kamu nggak sepenuhnya salah, justru karena keputusanku yang meninggalkanmu waktu itu harus membuat kamu berurusan dengan pria itu. Aku minta maaf ya, Sayang."
Rena menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Andi. Andi tidak bersalah, dia tidak boleh meminta maaf seperti itu.
"Kamu nggak salah, Ndi. Di sini memang semuanya salahku," ucap Rena.
"Sayang," seru Andi membuat Rena diam.
"Sudahlah, jangan memperdebatkan yang nggak penting. Kita semua pernah melakukan kesalahan dan itu wajar. Yang nggak wajar itu, jika kita melakukan kesalahan tapi nggak pernah mau berubah. Itu baru salah," ucap Andi.
"Sekarang semua sudah terjadi. Lain kali, aku mau kamu menceritakan semua masalahmu padaku. Jangan lagi ada yang ditutup-tutupi dariku oke," lanjut Andi dengan menunjukkan jari kelingkingnya di hadapan Rena.
Bukannya ikut menautkan jari kelingkingnya pada jari Andi, Rena justru menghambur memeluk Andi dengan terharu.
"Maafin aku," ucapnya dengan suara terbenam.
Rena merasa sangat beruntung mendapatkan Andi yang sangat sabar dalam menghadapi segala macam sifat dan sikapnya. Dia benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pria sempurna seperti pacarnya ini. Dia merasa sangat beruntung dicintai oleh Andi, benar-benar sangat beruntung.
*
Setelah merasa lebih baik, Rena memilih untuk beristirahat di ruangan pribadi Andi yang ada di dalam kantornya. Dia sengaja tidak pulang ke rumah karena saat ini dia masih belum siap bertemu kedua orang tuanya. Apalagi dia masih takut jika Alvin akan mendatanginya ke rumah. Dia juga sudah meminta izin kepada papanya sejak semalam jika dirinya sedang bersama Alina, sahabat baik Andi. Dan papanya tentu tidak mempermasalahkannya karena Rena juga sudah mengatakan jika dirinya dan Alina sudah berbaikan.
Lima belas menit sebelum waktu makan siang tiba, Rena membuka matanya. Dia terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak setelah kesulitan tidur di rumah Alina semalam. Sejenak Rena berdiam diri sembari menatap kosong langit-langit ruangan itu, setelah kesadarannya terkumpul seutuhnya barulah dia bangkit dari duduknya dan keluar dari sana. Namun sebelum itu Rena mengintip sejenak keluar ruangan, takut jika Andi sedang kedatangan tamu di ruangan kerjanya. Merasa hanya ada Andi seorang di ruangannya, Rena segera keluar dari ruang istirahat itu menghampiri Andi.
Andi pun yang menyadari kehadiran Rena lantas mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Hey, sudah bangun?"
Andi tersenyum kepada pacarnya itu dan memintanya untuk duduk di sofa, sementara dia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu yang hampir selesai itu.
Tak sampai lima menit Andi sudah menutup laptopnya, dia menghampiri Rena yang masih duduk di sofa sambil berkutat dengan ponselnya.
"Ayo makan siang," ucap Andi setelah mendudukkan tubuhnya di samping Rena.
"Kerjaan kamu sudah selesai?" tanya Rena.
"Sudah. Ayo, aku sudah lapar banget. Kamu pasti juga sudah lapar, bukan?"
Rena tersenyum dan mengiyakan perkataan Andi. Dia memang sudah sangat lapar sekali, bangun tidur selalu membuat perutnya terasa kosong dan minta segera diisi.
"Sayang."
"Ya?" ucap Rena sembari menatap Andi.
"Lusa aku mau membantu Rico untuk pindahan Alina ya. Nggak papa, 'kan?" ucapnya seolah meminta izin.
"Oh ya, Alina sudah bilang tadi, katanya Rico minta dia buat pindah dari sana. Memangnya kenapa Rico minta Alina pindah, Sayang?" tanya Rena yang ternyata juga penasaran.
"Aku juga nggak tahu, Sayang. Dia nggak cerita apa-apa sama aku."
"Pindah ke mana?" tanya Rena lagi.
"Apartement milik Rico."
Rena mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Andi. Apartemen Rico? apa dia tidak salah dengar? Yang benar saja, pikirnya.
"Jangan berpikir buruk dulu," ucap Andi kemudian saat melihat raut wajah Rena yang terlihat kebingungan. "Apartemen itu sudah lama Rico sewakan dengan temannya karena Rico yang malas tinggal di sana sendirian. Apalagi bibi Santi nggak bisa jauh darinya, jadi terpaksa dia menyewakan apartemen nya itu. Nah, dua minggu lalu temannya itu sudah pindah ke rumah pribadinya, jadi Rico iseng-iseng minta izin paman Irfan untuk menyewakan apartemen nya untuk Alina. Eh ternyata paman Irfan mengizinkan."
Rena membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Dia pikir Rico ada niat jelek dengan meminta Alina pindah ke apartemennya, ternyata begitu alasannya. Hampir saja dia menuduh Rico dengan pikiran buruknya.
"Apa aku boleh ikut membantu pindahan Alina?"
Andi terlihat heran mendengar pertanyaan pacarnya itu. Kenapa tiba-tiba, pikirnya?
"Kamu nggak lagi becanda 'kan, Sayang?"
"Apaan sih. Aku serius tahu. Aku sama Alina 'kan sudah berteman sekarang."
"Hah, berteman?"
Andi terlihat menahan tawanya mendengar kata 'berteman' dari mulut pacarnya itu. Apa dia tidak salah dengar?
"Kenapa? Memangnya ada yang salah ya?" Tanya Rena dengan heran. Dia menyadari jika Andi ingin tertawa akan perkataannya.
"Bukan begitu, Sayang. Aku justru senang kalau kalian sudah berdamai. Apa itu artinya kamu suda percaya denganku dan Alina?" tanya Andi kemudian.
"Tentu," jawab Rena yakin. Dan saat itu juga Andi langsung tersenyum senang.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.