Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
107. Pulang


Mengetahui jika dirinya tengah berbanding dua, Alina dan Rico sangat senang sekali. Meskipun masih tak percaya karena apa yang diberikan Tuhan sangat cepat, namun di dalam hati mereka, mereka sangat bahagia. Hal yang mereka nantikan akhirnya kini telah tiba.


Sepanjang hari meskipun dengan rasa lemahnya, Alina terus mengusap perutnya yang masih rata itu dengan tersenyum bahagia. Ternyata apa yang dia keluhkan selama beberapa hari ini adalah awal dari tumbuhnya benih cinta dia dan suaminya di dalam rahimnya itu. Dengan berusaha Alina menahan rasa lemah di tubuhnya demi semangat baru untuk menyambut kehadiran sosok yang mereka semua nantikan dalam 9 bulan mendatang. Walaupun masih lama, namun semua harus dipersiapkan sejak awal dan Alina tidak mau kalah dengan rasa sakitnya sehingga tidak bisa merasakan kenikmatan yang telah diberikan Tuhan saat ini padanya.


Rico pun tak kalah bahagianya dengan Alina, dia bahkan tidak mengizinkan istrinya itu melakukan hal yang akan membuatnya lelah, meskipun hanya sekedar menuruni anak tangga sebanyak satu lantai. Jika tidak menggunakan lift, maka dia akan menggendong Alina layaknya seorang pengantin baru.


Ya, walaupun saat ini mereka masih termasuk pengantin baru.


Malam ini Alina hanya diperbolehkan Rico untuk melihat Aurora sampai pukul 11.00 malam. Tidak boleh lebih karena Rico mau istrinya beristirahat lebih awal. Dia tidak mau istrinya itu terlalu lelah sehingga membuat kondisinya semakin menurun, apalagi saat ini Alina tengah mengandung anak mereka, jadi Rico tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan kepada salah satu ataupun dua dari orang yang dia cintai itu.


"Sayang, aku mau pulang besok."


Perkataan Alina saat itu berhasil membuat Rico menoleh ke arahnya.


"Besok? Bukankah kita pulang dua hari lagi?"


"Aku sudah nggak sabar memberikan kejutan kepada orang tua kita tentang kehamilanku ini. Mereka pasti sangat senang sekali mengetahui kalau aku sedang hamil, apalagi 'kan selama ini mereka selalu menanti-nanti kehamilanku."


"Sayang, aku tahu itu, tapi bukankah kamu ingin menikmati Aurora ini lebih lama? Lalu kenapa memutuskan untuk pulang tiba-tiba begini?" tanya Rico yang tak mengerti. "Kita bisa memberitahu mereka dua hari lagi saat pulang loh, ataupun bisa memberitahu mereka sekarang melalui telepon."


Alina menggelengkan kepalanya. 


"Aku mau memberi kejutan untuk mereka, nggak mau nunggu dua hari lagi. Aku mau pulang besok, aku juga sudah minta Louis dan Sasha untuk nggak memberitahu mama dan papa tentang kehamilanku ini."


Ya, Alina memang sudah mewanti-wanti Louis dan Sasha untuk tidak memberitahu kedua orang tua mereka tentang kehamilannya. Dia berencana ingin memberikan kejutan kepada kedua orang tua mereka tentang kehamilannya ini saat pulang nanti. Dan Alina ingin pupang secepatnya untuk memberikan kejutan itu. Alina sangat yakin jika kejutan ini akan sangat membuat orang tua mereka bahagia, karena inilah yang mereka nanti-nantikan sejak lama. Terlebih untuk orang tua Rico yang sejak awal tidak memiliki anak, mereka pasti sangat bahagia saat mengetahui jika satu-satunya anak mereka akan memiliki anak. 


"Bagaimana dengan auroranya?" tanya Rico lagi.


Beberapa hari lalu istrinya itu selalu membanggakan fenomena alam yang saat ini tengah mereka lihat, bahkan istrinya itu selalu mengatakan ingin mantap di sini lebih lama jika bisa. Namun sayangnya mereka tak bisa melakukan itu karena terhalang pekerjaan yang mereka tinggalkan. Dan saat ini justru Alina ingin meminta pulang secepatnya, apa dia telah bosan atau lupa dengan perkataannya beberapa hari lalu?


Sebelum menjawab pertanyaan Rico, Alina memandang langit cantik yang ada di atas sana dengan tersenyum.


"Aku memang ingin terus melihat pemandangan indah ini, tapi…" Alina menatap ke arah perutnya yang masih rata. "Aku lebih mencintai keluarga kita. Aku ingin segera memberikan kejutan kecil ini kepada mereka."


Kemudian Alina kembali menatap ke arah Rico dengan tersenyum. 


"Kita pulang besok ya. Setelah anak kita lahir, kita bisa kembali ke sini."


Rico kini tersenyum mendengar perkataan istrinya itu.


"Tentu saja, Sayang. Apapun yang kamu inginkan. Keluarga memang nomor satu dibanding segalanya. Baiklah, besok kita pulang ya, nanti aku minta Louis dan Sasha untuk mengurus kepulangan kita."


Alina tersenyum mengangguk.


"Sebentar lagi jam sebelas, ayo kita masuk."


Rico beranjak dari duduknya, kemudian dia mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Biasanya Alina selalu menolak jika diajak masuk oleh suaminya itu sebelum Aurora menghilang. Namun kali ini dia tidak melakukan itu, Alina langsung menuruti perkataan Rico tanpa membantahnya terlebih dahulu. Dia tahu suaminya itu mengkhawatirkan kehamilannya dan dirinya pun sangat sangat mengerti itu. Dia juga sangat menyayangi anak yang masih menjadi janin ini, dia tidak mau memaksakan dirinya hanya karena pemandangan alam yang mungkin bisa dia lihat di lain kesempatan. Meskipun kesempatan itu akan sangat lama dia temui, namun tak ada yang bisa menggantikan keluarga, baginya.


Rico membantu istrinya masuk ke dalam kamar. Dia membawa istrinya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sementara Rico sendiri segera menghubungi Louis untuk mengurus kepulangan mereka.


Seperti yang sudah Alina katakan kepada kedua orang itu, Rico pun kembali mengingatkan Louis dari Sasha untuk tidak memberitahu orang tua mereka tentang kehamilan istrinya. Dia juga meminta Louis dan Sasha untuk merahasiakan kepulangannya ini. Mereka benar-benar akan memberi kejutan kepada orang tuanya saat tiba di Indonesia nanti.


"Oh ya Louis," ucap Rico sebelum Louis dan Sasha pergi dari depan kamarnya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Louis.


"Saat kami tiba di Indonesia nanti, aku mau kamu menghubungi papa dan mamaku. Bilang sama mereka untuk berkumpul karena kami akan menelponnya. Kami akan memberikan kejutan secara langsung kepada mereka di sana." 


Tanpa bertanya, Louis pun mengiyakannya. Setelah itu dia mengajak Sasha untuk pergi dari sana untuk segera mengurus kepulangan Rico dan Alina.


**


Setelah selesai mengurus keperluan pulang Rico dan Alina, Louis dan Sasha mengantar kedua atasan mereka itu menuju bandara untuk segera pulang. Rico dan Alina sengaja memilih penerbangan malam agar bisa tiba di Indonesia pada siang hari dan segera memberi kejutan kepada keluarga mereka saat malam hari. 


Saat akan meninggalkan hotel, pemandangan saat itu Aurora belum muncul sepenuhnya. Hanya sedikit cahaya hijau yang terlihat di langit cerah di atas sana. Sebenarnya Alina sangat menyayangkan jika harus meninggalkan tempat itu dengan cepat, namun dia juga sudah tidak sabar ingin memberitahu keluarganya mengenai kabar bahagia ini. 


"Baiklah, tahun depan aku bisa ke sini lagi. Sabar Alina," ucapnya kepada diri sendiri. 


Perjalanan menuju bandara tak terlalu jauh, hanya beberapa menit dan kini Alina dan Rico sudah tiba di airport terdekat.


Dengan dibantu Louis dan Sasha, setelah satu jam menunggu akhirnya Rico dan Alina kini masuk ke dalam pesawat yang akan segera terbang. Namun sebelum itu mereka berpamitan terlebih dahulu kepada Louis dan Sasha yang sudah banyak membantu setiap kebutuhan mereka selama berada di Eropa. 


"Tuan,Nona, apa tidak apa-apa kalau kami meninggalkan kalian di sini?" tanya Sasha kepada Rico dan Alina sebelum mereka berpisah. 


Louis dan Sasha adakah orang kepercayaan Thomas saat di London. Mereka saat ini ditugaskan untuk membantu segala keperluan anaknya saat berlibur. Sama halnya dengan Thomas, Sasha merasa jika Alina dan Rico sangat baik kepada mereka. Dia kini terlihat ragu saat harus membiarkan Rico dan Alina yang sedang hamil muda pulang berdua saja tanpa pendamping. Bahkan dia dan Louis harus menggantikan sisa waktu liburan kedua orang itu selama dua hari di sini.


"Nggak apa-apa. Kita bisa mengurus semuanya sendiri kok," ucap Alina.


"Tapi Nona, Nona 'kan sedang hamil. Kita takut Nona kecapean dan Tuan Wilson marah pada kami jika terjadi sesuatu pada Nona."


"Kamu tenang saja, aku bisa mengurus istriku dengan baik tanpa kalian. Sekarang nikmati saja waktu kalian berdua di sini. Anggap saja semua ini hadiah untuk kalian karena sudah banyak membantu kami selama berlibur," ucap Rico kemudian.


"Tapi Tuan, yang kami lakukan sudah menjadi kewajiban karena inilah pekerjaan kami. Tuan Wilson juga sudah memberikan imbalan yang cukup besar untuk pekerjaan ini. Kalian tidak perlu melakukan apapun untuk kami."


"Tidak masalah, Louis. Lagipula tidak seharusnya kita pulang sekarang, jadi sayang sekali jika hangus begitu saja. Pokoknya nikmati waktu kalian berdua selama dua hari di sini."


"Ingat, jangan beritahu apapun kepada papa dan mama tentang kepulangan kami. Kalian bisa mengatakan jika kami sedang tidak ingin diganggu di dalam kamar. Mereka pasti akan mengerti dan percaya," ucap Alina yang mengajarkan kedua orang itu untuk berbohong, namun Sasha dan Louis jelas menurutinya. Tak masalah berbohong untuk hal baik menurut mereka. Setelah selesai berpamitan, barulah mereka berpisah di sana.


**


Dalam perjalanannya pulang menuju Indonesia, tak henti Alina mengusap perutnya yang rata itu dengan perasaan bahagia. Rico juga meminta istrinya itu untuk selalu menyebut nama Tuhan agar mereka diberi keselamatan dalam perjalanan dan diberi perasaan gembira yang tak ada hentinya karena hadirnya buah hati mereka ini.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 15 jam, kini Rico dan Alina segera menuju hotel terdekat untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Sebelum pulang, mereka sengaja menyewa hotel untuk istirahatnya siang itu karena ingin memberi kejutan saat malam nanti ketika keluarga mereka telah berkumpul. 


Setiba di hotel, Rico meminta istrinya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum mengistirahatkan tubuhnya, sementara dia sendiri menghubungi Louis untuk meminta pria itu segera menghubungi keluarganya untuk berkumpul.


Louis pun langsung mengiyakan perkataan mereka tanpa bertanya karena sebelum ini mereka sudah membicarakannya.


**


Di ZW Corps, Thomas saat itu sedang berbincang santai bersama teman lamanya yang saat ini menjadi rekan kerja putranya. Canda tawa membuat kedua pria paruh baya itu melupakan waktu untuk pertemuannya yang sudah berlangsung cukup lama. Untungnya saat itu sudah tidak ada rapat lagi di kantor, sehingga Thomas dan teman lamanya itu bisa leluasa menghabiskan waktu di ruang meeting dengan cukup lama.


Thomas sengaja memilih ruang meeting untuk pertemuannya bersama temannya itu karena ruangan pribadi anak-anaknya sedang digunakan untuk bekerja. Temannya itu juga tidak mau mengganggu aktivitas anak-anak Thomas di sana dengan pertemuannya ini.


"Aku bener-bener nggak nyangka kalau kamu akan pensiun secepat ini. Aku kira kamu akan melanjutkan bisnismu di sini setelah menghilang puluhan tahun," ucap teman Thomas yang bernama Randy saat itu. 


"Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan bisnisku di sini, tapi anak-anak memaksa untuk aku istirahat dan menemani Zara di rumah."


"Kenapa Zara tidak bekerja, Tom? Padahal dia sangat pintar saat kuliah dulu. Perusahaan kalian akan semakin besar loh kalau dia ikut andil dalam perusahaan ini," ucap Randy.


Thomas terkekeh mendengar pujian itu.


"Kalau aku mau, mungkin saat ini dia masih menjadi wanita karir, Ren. Tapi sayangnya aku lebih suka dia menjadi ibu rumah tangga saja. Walaupun di rumah tidak melakukan apapun, tapi setidaknya dia tidak akan kelelahan memikirkan sesuatu yang cukup berat."


"Kamu memang benar-benar sangat mencintainya ya. Bahkan sampai kalian sudah mempunyai cucu pun kamu masih memiliki perasaan yang sama dengan Zara. Aku kagum sekali dengan kepribadian kamu sobat," ucap Rendy dengan bangganya.


Mereka kembali tertawa bersama dan saat itu suara dari ponsel berhasil menjeda percakapan mereka.


Thomas yang melihat ponselnya berdering pun langsung meraihnya. Dia melihat nama kontak Louis yang tertera pada layar ponselnya.


"Sebentar ya Ren, aku angkat telpon dulu."


Rendy mengangguk dan setelah itu Thomas beranjak untuk menjawab panggilan telepon itu.


"Ada apa Louis?" tanyanya setelah panggilan terhubung.


"Tuan Wilson, maaf sudah mengganggu waktu luang anda. Tuan Rico dan nona Alina mengatakan kalau mereka ingin berbicara sesuatu yang penting kepada keluarganya. Apa kalian bisa berkumpul bersama hari ini?"


Thomas pun yang mendengar perkataan Louis lantas mengernyitkan keningnya. Hal penting apa yang ingin dikatakan anak mereka sehingga harus membuat dua keluarga berkumpul? 


"Hal penting apa, Louis?" tanya Thomas.


"Maaf Tuan, saya sendiri nggak tahu apa yang ingin tuan Rico dan nona Alina sampaikan. Mohon untuk mendengar langsung dari mereka jika Tuan ingin mengetahuinya."


"Bisa saya bicara dengan mereka sekarang? Saya sangat penasaran apa yang ingin mereka katakan."


"Maaf Tuan, tuan Rico dan nona Alina saat ini sedang berada di kamarnya. Mereka bilang sedang tidak ingin diganggu sekarang."


Thomas menghela nafasnya.


"Baiklah, kapan mereka akan menghubungi kami?"


"Nanti sore, Tuan. Mungkin saat waktu makan malam di kota Anda."


Thomas pun yang sangat penasaran dengan apa yang Louis katakan lantas mengiyakannya saja. Tidak tahu hal penting apa yang ingin kedua anaknya itu katakan sehingga harus membuat mereka berkumpul bersama. Namun karena tak mau banyak berpikir, Thomas segera mengakhiri panggilannya dan berpamitan kepada Rendy untuk memberitahu anak-anaknya serta besannya tentang pertemuan ini. Mungkin mereka harus melakukan makan malam bersama sembari menunggu telepon dari Rico nanti malam.


**


Kabar untuk pertemuan malam ini telah Thomas sampaikan kepada anak serta besannya. Sama halnya dengan mereka, Sanri dan Irfan pun sangat penasaran tentang hal penting yang ingin anak mereka sampaikan. Jika memang penting, kenapa Louis dan Sasha tidak memberitahu mereka secara langsung, agar mereka bisa memberi tindakan jika hal itu buruk untuk anak mereka. 


Irfan yang saat itu sudah kembali ke rumah sejak 1 jam lalu mengajak istrinya untuk menghubungi kedua anaknya yang saat ini diketahuinya masih berada di Norwegia. Mereka ingin berbicara langsung dan mengetahui apa yang saat ini sedang terjadi. Mereka takut telah terjadi hal buruk kepada putra dan juga putri baru mereka di sana. 


Sudah dua kali mereka melakukan panggilan kepada anak-anak mereka, namun tak ada satupun panggilan yang direspon sama sekali. Bahkan nomor ponsel Rico dan Alina saat ini sedang tidak aktif.


Hal itu membuat Santi semakin curiga jika telah terjadi hal buruk kepada Rico dan Alina.


"Sayang, bagaimana ini, aku sangat takut kalau terjadi hal buruk kepada Rico dan Alina," ucap Santi kepada suaminya.


Wanita itu memang selalu memiliki firasat yang benar jika sudah merasakan kecemasan seperti ini. Namun sayangnya, sepertinya kali ini insting Santi harus salah karena putranya saat ini sedang baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka. 


"Sayang, sabarlah. Nggak mungkin terjadi sesuatu yang buruk kepada putra kita ataupun Alina. Jika pun telah terjadi sesuatu yang buruk pada mereka, maka Louis dan Sasha pasti sudah memberitahu kita lebih dahulu," ucap Irfan yang berusaha menenangkan istrinya.


Jika dipikir dengan logis, memang benar, jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Alina dan Rico, maka Louis akan melaporkannya terlebih dahulu, tidak dengan cara seperti ini. Karena tidak mau menduga-duga yang akan membuat mereka kepikiran, Irfan pun mengajak istrinya untuk berpositif thinking. Mungkin saja Rico dan Alina ingin memberi kabar baik pada mereka, itu kenapa mereka diminta untuk berkumpul. 


Yah, Irfan meminta istrinya untuk berpikir positif seperti itu. Meskipun tidak yakin karena kemarin baru saja menghubungi anaknya, namun tak ada yang bisa mereka lakukan selain berpikir positif seperti itu.