
Mendengar kalimat yang diucapkan putranya, baik Santi maupun Irfan terlihat begitu kaget. Apa mereka tidak salah dengar? Putranya telah melamar wanita yang saat ini adalah pacarnya? Perasaan bahagia pun menyelimuti pasangan paruh baya tersebut. Hal yang ditunggu-tunggu sejak lama pun akhirnya mereka dengar hari ini, di mana Santi sangat menginginkan Alina untuk menjadi menantunya.
"Bang? Kenapa kenapa tiba-tiba sekali?" tanya Santi kemudian kepada Rico.
"Sebenarnya nggak tiba-tiba kok, Ma. Abang memang sudah merencanakan semua ini sebelum Alina wisuda."
"Lalu kenapa baru memberitahu Mama dan Papa sekarang?"
"Karena Abang ingin memberi kejutan untuk Mama dan Papa," jawab Rico.
"Astaga." Santi menggelengkan kepalanya pelan. "Mama senang banget tahu nggak sih, Bang."
Kemudian Santi menatap kepada Alina dan menggenggam kedua tangannya.
"Selamat ya, Sayang. Bibi jadi nggak sabar melihat kalian menikah," ucap Santi dengan excited.
"Ma." Santi menatap kepada suaminya yang memanggilnya. "Kenapa masih Bibi manggilnya? Bukannya Alina sebentar lagi akan jadi anak kita."
Mendengar perkataan suaminya, Santi pun terkekeh. Benar, sebentar lagi Alina akan menjadi menantunya, menjadi anaknya, seharusnya wanita itu tidak lagi memanggil dia dengan sebutan bibi, tapi Mama.
"Baiklah, jadi sekarang kamu harus manggil kita Papa dan Mama oke, Alina?" ucap Santi kepada Alina.
Alina tersenyum mendengarnya, lalu dia menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Baik, Ma," ucapnya kemudian.
"Oh my God, Mama senang banget mendengarnya."
Santi melepas genggaman tangannya pada tangan Alina dan langsung memeluk tubuh ramping wanita itu. Dia benar-benar sangat senang akan kabar baik ini. Alina adalah wanita yang baik. Meski belum satu tahun mengenal dan jarang bertemu juga, tapi dia bisa melihat dengan jelas sisi baik wanita itu. Dan menjadikannya seorang menantu adalah salah satu keinginannya saat wanita itu menjalin hubungan bersama putranya.
Walaupun juga Rico bukan putra kandungnya, darah dagingnya, tapi Santi amat sangat menyayangi Rico lebih dari apapun. Meski waktu cepat berlalu, tapi rasa sayangnya kepada Rico tak akan pernah lekang dimakan waktu.
"Oh ya, Al. Kapan orang tua kamu ke sini? Kata Rico mereka akan pindah ke sini setelah kamu lulus ya?" tanya Santi. Dia yang sudah tidak sabar ingin menjadikan Alina menantunya lantas ingin segera cepat bertemu dengan orang tua Alina. Berharap proses pernikahan bisa segera dilaksanakan dalam waktu dekat.
"Em, mungkin beberapa minggu lagi, Ma. Soalnya masih ada yang harus diurus di sana."
Santi hendak menanggapi jawaban Alina, namun tiba-tiba saja dia teringat akan wajah Alfian yang mirip dengan seseorang yang dia kenal. Entah kenapa Santi sangat ingin menanyakan keingintahuannya itu kepada Alina. Dia sangat ingin tahu siapa orang tua Alina, atau lebih tepatnya dia ingin tahu apakah benar jika Alina anak dari pria yang pernah dekat dengannya dulu.
Namun belum sempat bertanya, seorang pembantu rumah tangga di sana menghampiri mereka dan mengatakan jika salah satu teman arisan Santi menelpon. Dengan terpaksa Santi mengabaikan pertanyaannya itu dan memilih untuk menjawab telepon dari temannya.
Setelah hampir lima menit menjawab telepon, Santi kembali menghampiri keluarganya yang masih di ruang keluarga.
"Pa," panggil Santi saat dia mendudukkan tubuhnya di samping Alina.
"Kenapa, Ma? Siapa yang menelpon?" tanya Irfan.
"Teman arisan. Mereka hanya mengingatkan kalau arisan nanti dilakukan di rumah kita."
"Oh, yasudah minta bu Ipah untuk belanja saja, Ma. Sekalian untuk stok minggu depan. Sepertinya buah dan susu di kulkas sudah mulai habis," ucap Irfan.
"Em, kalau Mama saja yang belanja boleh?" tanya Santi meminta izin.
"Boleh. Mau pergi sekarang?" tanya Irfan lagi.
"Em, Mama mau pergi sama Alina saja, Pa. Apa Papa keberatan?" tanya Santi balik.
"Boleh saja kok, asal Alina mau."
"Alina mau ikut Mama belanja?" tanya Santi pula ke Alina tanpa menyahuti perkataan suaminya.
Alina yang ditodong pertanyaan seperti itu pun seolah tak memiliki pilihan lain selain mengiyakan.
...**...
Setiba di mall, Santi langsung mengajak Alina menuju market yang terdapat di lantai satu.
Ya, Santi sengaja mengajak Alina belanja di market mall karena dia berencana untuk mengajak Alina berbelanja kebutuhan lainnya. Salah satu hal yang sangat dia impikan sejak dulu jika memiliki seorang anak perempuan adalah melakukan kegiatan wanita bersama seperti saat ini, mengajaknya shopping bersama. Sayang sekali dia mendapatkan Rico yang seorang pria, jadi keinginan itu tidak bisa dia lakukan.
Namun tak apa, dia tidak menyesali apa yang sudah dia dapatkan karena dengan mendapatkan seorang anak saja dia sudah sangat senang sekali. Dan kini meskipun Alina bukanlah anaknya, namun dia akan menganggap Alina sama seperti Rico yaitu, anak kandungnya. Apalagi Alina sebentar lagi akan menikah dengan putranya itu dan menjadi menantunya.
Di dalam market Santi hanya membeli apa yang dia butuhkan untuk keperluan dapur saja serta cemilan. Dia juga meminta Alina untuk mengambil apa yang wanita itu butuhkan untuk di apartemennya.
"Nggak usah, Ma. Alina di apartemen juga jarang masak. Biasanya bang Fian yang sering membawakan sarapan atau Alina memesan makanan via online jika lapar."
"Ambil cemilan saja sayang. Biar kalau kamu lapar, kamu nggak perlu menunggu lama untuk memesannya dulu."
"Ini buat kamu ya. Ayo, kita cari snack dan makanan yang lain."
Seolah apa yang dikatakan wanita paruh baya itu adalah sebuah keharusan, jadi Alina hanya bisa pasrah dan mengikuti jejak wanita itu sembari ikut mendorong keranjang yang ditarik Santi dari depan.
Mereka berkeliling market selama satu jam. Keranjang dorong pun kini tampak penuh akan sayuran, daging, bumbu masak, serta cemilan berupa roti, susu, nugget dan lainnya. Setelah merasa jika yang mereka inginkan telah berada di keranjang, Santi mengajak Alina menuju mesin kasir untuk membayar pembelanjaan mereka. Tak lupa Santi meminta petugas kasir untuk memisahkan barang-barang yang dia pilihkan untuk Alina dengan kantong yang berbeda.
Selagi petugas kasir mengemas belanjaannya, Santi menelpon sopirnya yang menunggu di bawah untuk membantu mereka membawa belanjaannya ke dalam mobil. Dan saat belanjaan berhasil dibawa, Santi mengajak Alina untuk berkeliling mall. Dia akan mengajak Alina menghabiskan waktu untuk berbelanja kebutuhan sosial mereka.
Mulai dari toko baju yang ada di bawah hingga atas mereka masuki. Dan tak sedikit juga yang membuat Santi melakukan pembayaran karena dia merasa pakaian tersebut cocok untuknya maupun Alina. Tak hanya memikirkan diri mereka berdua saja, Santi juga membeli beberapa kemeja untuk sang suami dan putranya.
Setelah dari toko baju, Santi mengajak Alina memasuki toko jam pria yang ada di lantai tiga. Dia membeli dua buah jam tangan untuk dua orang pria tersayangnya yaitu, Irfan dan Rico. Kemudian dia mengajak Alina menuju toko jam lainnya untuk membelikan Alina. Meski Alina selalu menolak pemberiannya, namun Santi terus memaksa hingga wanita itu tak kuasa untuk menolak lagi.
Toko tas, sepatu, dasi, hingga make-up telah mereka datangi, kini Santi mengajak Alina memasuki toko perhiasan. Dia ingin mengajak Alina untuk melihat-lihat perhiasan di sana. Namun sebelum itu, dia meminta sopirnya kembali untuk membawa belanjaan mereka karena kini tangan mereka telah penuh dengan berbagai paper bag dari berbagai jenis barang.
Setelah semua belanjaan telah dibawa, Santi langsung mengajak Alina masuk ke dalam toko perhiasan yang sudah ada di samping mereka. Di dalam sana mata mereka langsung dimanjakan oleh berbagai jenis kerlap-kerlip perhiasan yang sangat indah. Mulai dari cincin, anting, kalung, hingga gelang pun tersedia di sana.
"Kamu mau yang mana, Al?"
Alina tampak kaget mendengar pertanyaan Santi. Apa wanita itu bertanya kepadanya?
Alina masih diam, belum menjawab pertanyaan Santi. Sehingga membuat wanita itu menoleh kepadanya dan kembali bertanya.
"Sayang, kamu mau yang mana?"
"Ah?" Setelah tersadar akan pertanyaan kedua, akhirnya Alina pun menjawab pertanyaan Santi. "Em, nggak usah, Ma. Alina nggak perlu perhiasan kok," jawab Alina dengan tidak enak hati.
Bukannya bermaksud menolak, namun dia benar-benar tidak enak hati jika harus menerima hadiah dari Santi dengan begitu banyak. Sebelum ini saja Santi sudah memberikan begitu banyak belanjaan kepadanya, tidak mungkin dia harus menerima perhiasan yang harganya tidaklah murah itu. Alina sangat tahu betul berapa harga semua perhiasan yang ada di toko ini dan dia benar-benar tidak mau menerima sesuatu di luar batas.
Ya, menurut Alina, Santi sudah kelewat batas berbuat baik kepadanya dan dia tidak bisa menerima begitu saja kebaikan Santi secara cuma-cuma seperti ini.
"Ayolah, Al. Mama sangat ingin kita memiliki perhiasan couple. Ayo pilih, kalau kamu nggak mau milih, biar mama yang pilihkan untuk kamu," ucap Santi yang terdengar memaksa.
Dan seperti sebelumnya, Alina pun kembali menolak dengan alasan jika dia benar-benar tidak membutuhkan perhiasan itu.
"Baiklah, kalau begitu biar Mama saja yang pilihkan, oke? Kalau sudah dibayar, berarti kamu nggak bisa menolaknya."
Kini Alina sudah tidak memiliki pilihan lain jika Santi sudah berkata seperti itu dan akhirnya Alina benar-benar hanya bisa pasrah dengan pilihan Santi. Baiklah, jika sudah begini suatu saat nanti dia harus membalas semua kebaikan Santi padanya.
Ya, suatu saat, karena saat ini dia belum bisa melakukan apa-apa.
Satu set perhiasan sudah berada di atas etalase, di mana Santi terlihat puas saat memilihkan perhiasan itu untuk mereka berdua. Namun sebelum melakukan pembayaran, Santi meminta Alina untuk mencoba cincin yang ada di dalam kotak dan tanpa diduga, ternyata cincin yang dia pilih ternyata sangat pas di jari lentik Alina.
Setelah semua yang diinginkan berhasil didapat, barulah Santi melakukan pembayaran di meja kasir. Mendengar harga yang disebutkan oleh petugas kasir, Alina tidak terlalu terkejut karena dia sudah tahu harga perhiasan di sana. Namun dia merasa sangat tidak enak hati karena ada orang lain yang mau mengeluarkan uang begitu banyaknya untuk dirinya yang belum menjadi siapa-siapa di keluarga mereka.
"Sepertinya kebaikan dari Rico selama ini berasal dari kedua orang tua angkatnya," gumam Alina dalam hati.
Memikirkan hal itu, entah kenapa tiba-tiba saja Alina teringat akan orang tua kandung Rico.
Bagaimana dengan orang tuanya kandung pria itu? Apakah mereka sebaik Santi dan Irfan juga, pikirnya.
...**...
Di hari yang berbeda, saat itu salah satu perusahaan baru yang bernama ZW corps, kini resmi dijalankan. Pagi ini perusahaan itu sudah mulai beroperasi dengan ratusan pegawai baru dan beberapa pegawai lama yang dipindahtugaskan. Juga ada beberapa orang kepercayaan yang diutus untuk mengurus perusahaan itu sampai pemiliknya datang untuk memperkenalkan diri, sekaligus untuk meresmikan perusahaan tersebut.
Seorang pria yang berada di dalam sebuah ruangan saat ini tampak sedang menghubungi seseorang yang diyakini adalah atasannya. Dia terlihat serius mendengar penuturan sang atasan tanpa berniat memotongnya sedikitpun.
"List undangan sudah saya kirim via email. Saya nggak mau ada kekurangan di acara pertama ini."
"Baik, Pak Fian. Akan saya lakukan semaksimal mungkin," sahutnya.
Setelah pria bernama Fian tersebut mengiyakan, mereka pun sama-sama menutup panggilannya.
Ya, Fian yang di maksud oleh tangan kanan ZW corps tersebut adalah Alfian Wilson. Anak dari Thomas Wilson yang merupakan abang kandung Alina.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.