Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
30. Gara-gara Kue Coklat


Hampir satu jam berlalu dan akhirnya Rico datang dengan sebungkus makanan gurih berupa bubur ayam. Tanpa ragu Alina menghabiskan makanan itu tanpa mengingat perkataannya setelah menutup telepon dari Rico satu jam lalu tadi. Dia yang awalnya tidak selera untuk memakan makanan selain kue coklat, entah kenapa tiba-tiba jadi sangat tergiur dengan bubur ayam yang dibawakan Rico. Membuat Rico terheran sekaligus senang melihatnya karena Alina begitu lahap memakan makanannya.


"Makan kue coklat nya nanti malam saja ya. Di masukin ke dalam kulkas saja dulu," ucap Rico kemudian.


Alina mengiyakannya dan segera masuk ke dalam rumah untuk meletakkan dua box kue coklat yang belum dia sentuh itu ke dalam kulkas. Setelah itu Alina kembali menghampiri Rico yang sejak tadi duduk di kursi teras rumahnya.


Ya, Rico sengaja menunggu Alina di teras rumahnya karena tidak enak jika harus masuk ke dalam rumah wanita itu seorang diri. Sudah cukup dia mendengar gosip tak sedap dari beberapa warga di sana tentang Alina yang sering diantar jemput oleh pria yang berbeda, dan Rico tidak mau jika gosip itu semakin menjadi meski besok Alina sudah tidak akan tinggal di sana lagi.


Alina juga terpaksa memakan bubur ayamnya di teras rumahnya karena tak mungkin dia meninggalkan Rico sendirian di depan, sementara dia sendiri dengan enaknya makan di dalam rumah.


...*...


Keesokan harinya, sekitar pukul delapan pagi Rico berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk membantu Alina pindahan. Santi ingin sekali ikut anaknya itu membantu Alina, tapi sayang sekali weekend ini dia sudah berjanji untuk menemani sang suami ke sebuah acara pernikahan teman lamanya.


"Mama titip salam saja untuk Alina ya, Sayang. Besok atau kalau Mama nggak sibuk, Mama akan berkunjung ke kediaman Alina," ucap Santi kepada Rico.


"Iya, Ma. Nanti Rico sampaikan sama Alina. Kalau begitu Rico pergi dulu ya, Ma. Assalamu'alaikum."


Rico mencium kedua pipi mamanya dan setelah itu dia segera melaju ke kediaman Alina. Di perjalanan, Rico menghubungi Andi untuk segera berangkat sekarang. Mereka akan bertemu di rumah kontrakan Alina karena Rico meminta Andi untuk membawa mobilnya sendiri.


Satu mobil tidak akan cukup untuk semua barang-barang Alina. Sementara mereka tidak ingin menghabiskan waktu dan tenaganya hanya untuk melakukan pekerjaan berulang kali. Rico juga sengaja tidak membawa mobil khusus untuk mengangkut barang karena memang yang akan dibawa bukanlah barang besar jenis lemari dan teman-temannya.


Jalanan pagi di awal weekend membuat Rico tiba lebih cepat di kediaman Alina. Dia tak keluar dari mobilnya sampai mobil milik Andi tiba di sana.


Rico keluar dari mobil dan menghampiri mobil milik Andi. Saat Andi keluar bersama seorang wanita, Rico terlihat heran melihat sosok Rena yang ada di sana.


"Ngapain Rena ikut ke sini?" tanya Rico dalam hati.


Dia memang belum mengetahui jika Rena dan Alina sudah berdamai sejak beberapa hari lalu karena Alina tidak sempat cerita padanya. Jadi wajar saja jika Rico bertanya-tanya akan kehadiran wanita itu di kediaman pacarnya.


"Sudah dari tadi, Co?" tanya Andi sembari memberi salam pertemanan ala mereka berdua.


"Lumayan, lima belas menit lalu," jawab Rico.


"Kamu nggak masuk?" tanya Andi lagi.


"Nunggu kamu. Nggak enak masuk sendirian, nanti dikira warga sini mau ngapain lagi," ucapnya.


Andi menganggukkan kepalanya dan setelah itu mereka berjalan menghampiri rumah Alina. Rena yang lebih dulu berjalan membuat Rico menyikut lengan temannya itu dengan pelan.


"Ngapain dia ikut?" tanya Rico yang sudah sangat penasaran sejak tadi.


"Kamu belum tahu?" tanya Andi balik.


Rico tampak heran dengan pertanyaan Andi. Apa ada sesuatu yang dilewatkannya, pikirnya.


"Belum tahu apa?"


"Alina dan Rena 'kan sudah berdamai. Bahkan Rena pernah menginap di rumahnya ini beberapa hari lalu."


Tapi tak jadi masalah, yang penting berita yang dia dengar ini bukanlah berita buruk. Dia justru senang karena Alina sekarang sudah ada temannya. Karena selama ini dia tidak pernah melihat Alina berteman dengan siapapun kecuali teman-teman yang ada di kampusnya dan juga temannya saat di cafe. Itu juga mereka tidak berteman dekat seperti dia dan Andi, bisa dikatakan hanya sebatas rekan di dalam sebuah lingkup sekolah atau pekerjaan.


Saat tiba di depan pintu rumah Alina yang terbuka, mereka tidak mendapati keberadaan Alina maupun Rena di ruangan itu. Mereka terlihat heran saat rumah itu tampak sepi dan sunyi.


"Rena sama Alina ke mana? Kenapa sepi sekali?" tanya Andi.


"Entahlah."


Rico mengetuk pintu rumah itu sebanyak tiga kali dan tak lama pun Rena muncul dari balik pintu kamar.


"Kenapa sepi sekali? Mana Alina?" tanya Rico.


"Alina ada di kamar, dia sedang sakit."


Mendengar kata 'sakit' dari mulut Rena, Rico dan Andi pun sangat terkejut. Bahkan Rico sempat tak percaya karena baru saja kemarin mereka bertemu dalam keadaan Alina yang masih sehat. Semalam pun mereka masih telponan sebelum tidur dan suara Alina juga masih terdengar normal.


"Kamu jangan bercanda ya, Ren. Alina sakit apa? Semalam saja dia masih baik-baik saja kok," ucap Rico.


"Nggak tahu, perutnya terasa mual sejak pagi. Badannya lemas sekali, Co. Coba kamu lihat ke dalam," ucap Rena.


Tanpa memikirkan jika ini adalah rumah seorang wanita, Rico bergegas masuk ke dalam kamar Alina setelah diberi izin oleh Rena. Di dalam sana dia melihat Alina yang sedang berbaring dengan posisi miring.


Dia menghampiri Alina dan mendudukkan tubuhnya di lantai pinggir kasur. Wajah Alina yang terlihat pucat membuat Rico sangat sedih. Kenapa dengan wanitanya, padahal semalam Alina masih baik-baik saja.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rico perhatian. Dia mengusap keringat di kening Alina dengan lembut dan penuh kehati-hatian.


"Perutku mual," ucap Alina dengan suara yang seperti sedang menahan sesuatu.


"Kenapa bisa? Bukankah semalam kamu baik-baik saja?" tanya Rico dengan heran.


Alina menggelengkan kepalanya, perutnya yang kembali mual membuat wanita itu bangkit dari rebahannya dengan cepat dan berlari ke toilet.


Alfian yang saat itu baru saja tiba di kediaman adiknya sangat terkejut saat melihat Alina berlari dengan wajah pucat dari dalam kamarnya. Apalagi saat melihat Rico yang ikut keluar dari sana dengan wajah cemas, membuatnya berpikir jika adiknya sedak tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Alina!" pekiknya membuat Andi dan Rena yang ada di ruang tamu terkaget akan kehadirannya.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.