Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
51. Terlanjur Menyukai Alina


Bukannya membalas senyuman itu, Calista justru memalingkan wajahnya dan memilih untuk berpamitan kepada Irfan dan Santi.


"Paman, Bibi, Calista dan Papa pulang dulu ya. Terima kasih atas jamuan lezatnya malam ini," ucap Calista dengan ramah.


Dia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam, setelah itu diikuti oleh Darius yang juga berpamitan pada teman lamanya itu. Kemudian Darius menepuk pelan bahu Rico sebagai salam perpisahannya.


"Kapan-kapan main ke rumah, Paman ya, Co. Kita ngopi bersama."


Rico tersenyum mengiyakan. Saat pandangannya tak sengaja kembali bertemu dengan Calista, wanita itu lagi-lagi membuang pandangan darinya. Rico mengabaikan saja apa yang wanita itu lakukan, terserahlah mau apa wanita itu karena dia juga sebenarnya tidak peduli.


Seperginya Calista dan Darius, Rico masuk ke dalam rumah bersama kedua orang tuanya. Saat itu Santi mengatakan kepada Rico jika Calista mencarinya saat makan malam tadi.


Rico mengernyitkan keningnya mendengar perkataan mamanya. Untuk apa Calista mencarinya, pikirnya. Apa wanita itu mau menyindirnya di depan kedua orang tuanya? Jika itu benar, maka tidak akan dia biarkan Calista berkata seenaknya. Namun setelah dipikir-pikir, sepertinya tidak, karena saat mereka bertemu di teras tadi Calista bahkan tak mengeluarkan suaranya sepatah pun pada dirinya. Jika diperhatikan sekilas juga, sepertinya wanita itu ingin cepat-cepat pergi. Lalu untuk apa Calista mencarinya?


"Bang, apa kamu masih berhubungan baik dengan Calista?" tanya Santi yang membuyarkan lamunan Rico.


"Perusahaan kita 'kan sedang ada kerjasama dengan perusahaan Paman Darius, Ma."


"Bukan begitu, Bang," sela Santi cepat. "Maksud Mama, apa kamu masih berteman dengan dia?"


Rico tersenyum dan merangkul bahu mamanya sembari melanjutkan langkah mereka memasuki rumah. 


"Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja sama, Ma. Memangnya kenapa?" tanya Rico kemudian.


"Nggak papa sih. Mama cuma mau mengingatkan saja, kalau kamu berteman dengan wanita lain, jangan terlalu dekat ya. Jangan memberi ruang sedikitpun untuk wanita lain masuk di antara hubungan kamu dan Alina. Kecuali, jika kamu dan Alina sudah nggak sama-sama lagi."


Rico mengernyitkan keningnya mendengar kata mamanya itu.


"Ma, Mama kok gitu sih ngomongnya? Rico dan Alina akan baik-baik saja, Ma. Rico juga nggak mungkin memberi celah sedikitpun untuk wanita lain merusak hubungan Rico bersama Alina."


"Mama kok aneh banget sih ngomongnya," lanjutnya.


"Mama cuma nggak mau kalau hubungan kalian terhenti karena pihak ketiga. Calista memang anak yang manis, tapi Mama sudah terlanjur suka sama Alina, Bang."


Anak yang manis? Rico menarik salah satu sudut bibirnya, rasanya sangat menggelikan saat mamanya menyebut Calista wanita yang manis. Namun dia memilih untuk tidak membahas hal itu karena menurutnya tak penting juga membuka topeng seseorang.


Di sisi lain juga Rico amat senang saat mamanya mengatakan jika dia menyukai Alina. Jika orang tuanya menyukai Alina, itu artinya kejutan yang akan dia berikan sepulang dari liburan nanti pasti membuat mereka senang, khususnya Santi. Rico jadi tidak sabar menunggu momen bahagia itu.


...**...


Empat hari berlalu begitu cepat, besok waktu liburan pun tiba. Malam ini Rena memutuskan untuk menginap di apartemen Alina. Mereka akan bersenang-senang sekaligus untuk mempersiapkan semua kebutuhan yang akan dibawa besok.


Rena bukanlah tipe orang yang mau direpotkan dengan pekerjaan. Dia termasuk orang yang sangat santai mengerjakan pekerjaannya. Tapi tidak untuk kesenangan pribadinya. Untuk hal itu pengecualian bagi Rena. Bahkan dia bisa dibilang sangat ribet dalam urusan di luar pekerjaan.


Seperti saat ini, Alina dibuat pusing dengan keribetan Rena yang membawa begitu banyak barang serta cemilan ke apartemennya. Entah wanita itu mempersiapkan semua ini untuk berlibur, untuk piknik, atau untuk pindahan, dia benar-benar tidak tahu.


"Semua ini pasti kita butuhkan, Al. Kamu nggak pernah liburan apa? Gitu saja kok nggak paham sih."


Begitulah tanggapan Rena atas perkataannya mengenai semua barang-barang itu. Alina memijat tipis pelipisnya, pusing atas kelakuan temannya satu itu. Apa selama ini Rena selalu ribet seperti ini jika ingin liburan?


"Yaudah, terserah kamu saja. Ayo kita bereskan ini semua sekarang, biar besok nggak ribet lagi," ucap Alina kemudian.


Rena mengiyakan perkataan Alina. Mereka pun mulai mengemas barang-barang yang akan dibawa ke dalam koper. Masing-masing dari mereka membawa satu koper, namun untuk Rena, wanita itu membawa tas travel tambahan untuk barang-barang lainnya yang sudah tidak ada tempat lagi di dalam koper.


Cukup lama mereka mengemas barang-barang itu karena diselingi dengan candaan dan juga sesi curhat yang memakan waktu. Waktu yang sudah menunjukkan pukul satu malam membuat mereka tak sadar jika waktu tidur telah berlalu jauh. Saat cemilan yang menemani malam mereka habis, barulah kedua wanita itu tersadar jika saat ini mereka sudah terlambat dari jadwal tidur yang telah direncanakan.


"Gimana dong, Al. Kita bisa telat bangun nih nanti," ucap Rena setelah meneguk air soda terakhirnya.


"Yaudahlah, set alarm aja. Lagian barang-barang kamu juga banyak banget," ucap Alina sembark berjalan menuju dapur untuk mengambil kantong kresek.


Saat Alina kembali ke kamarnya, matanya yang menangkap Rena hendak naik ke atas tempat tidur langsung mencegahnya.


"Mau ngapain?" tanyanya lebih dulu.


"Tidurlah, ngapain lagi?" jawab Rena tanpa pikir panjang.


"Nanti tidurnya, bantu aku bersihin ini dulu," ucap Alina sembari menunjuk sampah bekas bungkus cemilan serta minuman mereka yang berserakkan di atas lantai.


"Besok saja, Al. Aku ngantuk banget nih. Kita 'kan harus bangun pagi besok, nanti kalau terlambat gimana? Waktu penerbangan nggak bisa di schedule loh," ucap Rena dengan penuh harap. Dia saat ini benar-benar sangat mengantuk, padahal sepuluh menit lalu, sebelum mengetahui jika waktu telah menunjukkan pukul satu, matanya masih sangat segar.


"Nggak ada besok-besok. Minuman manis banyak yang tumpah, cemilan juga banyak yang berserakkan di lantai. Kalau menunggu besok, bisa-bisa lantai kamarku penuh dengan semut merah. Lagi pula aku nggak yakin walaupun tidur cepat bisa bangun tepat waktu."


Rena menghela nafasnya mendengar omelan Alina. Kenapa Alina tiba-tiba jadi cerewet sekali, pikirnya.


Dengan sangat terpaksa dan mata yang hampir terpejam, Rena kembali turun dari kasur dan membantu Alina membersihkan lantai kamar yang kotor. Hampir sepuluh menit berlalu, akhirnya Rena bisa bernafas lega dan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu.


"Akhirnya," gumam Rena dengan mata tertutup.


Tak menunggu waktu lama, wanita itu pun mulai kehilangan kesadarannya.