
Setelah sarapan selesai dan keadaan Alina juga sudah lebih baik, kini Alina dan Rico bersiap untuk pergi ke kantor. Meskipun sudah berjanji akan melakukan cuti, namun hari ini dia harus tetap masuk bekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak bisa begitu saja mengambil cuti dadakan meskipun perusahaan tempatnya bekerja saat ini milik abangnya sendiri. Dia harus profesional dalam setiap apa yang dilakukannya termasuk pekerjaannya saat ini.
"Kalau tubuh kamu nggak enak lagi, cepat telepon mama atau Rico ya, Sayang. Jangan dipaksakan bekerja, abang kamu pasti mengerti dengan kondisi kamu saat ini," ucap Santi saat menantunya itu hendak pergi.
"Iya, Ma, Alina pasti akan menelpon mama atau mas Rico kalau sudah nggak kuat."
Sebenarnya Santi sangat menyayangkan jika Alina hari ini harus kembali pergi ke kantor, namun dia juga tidak bisa memaksa wanita itu yang ingin menyelesaikan pekerjaannya. Mungkin hari ini dia harus membiarkan Alina pergi bekerja, namun besok dia harap Alina benar-benar memenuhi janjinya untuk mengambil cuti dan beristirahat dengan baik sampai keluhan pada kehamilannya ini berakhir.
Di dalam perjalanan menuju kantor, tak henti tangan Alina mengusap perutnya yang sedikit membuncit itu. Dengan tubuh lemahnya, Alina tersenyum saat merasakan perutnya yang sudah tak rata lagi itu.
Rico pun yang meskipun merasa bersedih dengan istrinya yang terlihat lemah, namun di sisi lain dia juga bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.
"Sayang."
Alina menoleh kepada suaminya itu yang bersuara.
"Ada apa?" tanya Alina dengan suara lembutnya.
"Kamu hari ini nggak usah bekerja saja ya. Ikut aku ke kantor dan istirahat di ruanganku. Aku akan menelpon Morgan dan bang Fian untuk izin kamu," ucap Rico.
"Sayang, aku nggak mau. Aku 'kan sudah berjanji akan cuti mulai besok, jadi biarkan aku bekerja hari ini ya," ucap Alina meminta pengertian.
"Tapi, Sayang, aku benar-benar enggak tega kalau harus melihat kamu muntah-muntah seperti itu lagi. Apalagi di kantor nggak ada aku, aku benar-benar nggak tenang bekerja kalau kamu seperti ini. Atau kamu mau pulang saja? Setidaknya di rumah 'kan ada mama yang akan membantu kamu," ucap Rico lagi dengan posesifnya.
"Sayang, aku benar-benar enggak apa-apa kok. Di sana 'kan ada bang Morgan sama bang Fian. Aku nggak sendiri-sendiri banget kok. Kak Marissa juga sering berkunjung ke sana sama Lala, aku bisa minta temani dia kalau tubuhku mulai nggak enak."
"Tapi aku benar-benar nggak tenang meninggalkan kamu dengan keadaan yang seperti ini," ucap Rico lagi.
Alina tersenyum sembari mengusap lembut lengan suaminya yang sedang menyetir. Kemudian Ricoko melepas tangannya yang disentuh oleh istrinya itu dari setir dan menggenggam tangan istrinya.
"Kamu tenang saja, pokoknya kalau aku mengalami keluhan sedikit saja, aku pasti akan menelpon kamu. Aku janji nggak akan memaksakan diriku bekerja terlalu keras sehingga membuat anak kita ini terluka."
Rico diam sejenak sebelum menanggapi perkataan istrinya.
"Tapi kamu janji 'kan akan terus menelpon aku meskipun hanya pusing ringan?"
"Iya, Sayang. Kamu nggak usah khawatir, aku pasti akan menelpon kamu kok."
Rico menghela nafasnya, tak bisa memaksa lagi dan hanya bisa menuruti kemauan istrinya itu. Baiklah, mungkin hari ini adalah hari terakhir dia merasa tak tenang karena harus membiarkan istrinya itu bekerja dengan keadaan yang seperti ini. Namun besok, sepertinya dia sudah mulai bisa tenang karena Alina akan aman bersama mamanya di rumah. Dia harus memastikan Alina mengambil cuti untuk besok sampai keadaannya kembali normal.
Rico pun tersenyum lembut kepada istrinya itu, dia mengusap lembut kepalanya dan kemudian kembali fokus pada kemudi yang akan mengantarkan mereka ke gedung ZW Corps, tempat Alina bekerja, sebelum dia menancapkan gasnya menuju kantor tempatnya bekerja, Rena Group.
...**...
Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Alina kembali terlambat datang ke kantor. Karena morning sickness yang terjadi padanya setiap pagi, membuat dia kesulitan untuk datang tepat waktu. Kedua abangnya pun memaklumi keterlambatan Alina karena mereka tahu adiknya itu saat ini sedang hamil muda.
Sebenarnya mereka juga kasihan melihat Alina datang bekerja dengan keadaan yang lemah seperti ini, namun mereka tak bisa memaksa karena Alina yang begitu keras kepala ingin tetap bekerja.
Alina berjalan masuk ke dalam kantor bersama dengan Rico. Rico sengaja ikut mengantar istrinya itu sampai ke ruangannya karena dia sangat khawatir dengan keadaan istrinya itu. Meskipun Alina sudah melarangnya untuk turun dari mobil, namun Rico tetap ingin mengantar istrinya itu sampai masuk ke dalam ruangannya.
Keterlambatan Alina bukan lagi hal baru dalam satu bulan terakhir ini. Sebagian karyawan ZW Corps memang tidak peduli dengan keterlambatan wanita tersebut karena mereka yang hanya memikirkan dirinya masing-masing. Namun sebagian lainnya terlihat tidak menyukai hal itu. Mereka beranggapan jika Alfian dan Morgan tidak adil atas keterlambatan Alina.
"Enak ya jadi anak yang punya perusahaan. Datang siang nggak jadi masalah, gaji juga nggak akan dipotong."
"Mentang-mentang Abangnya yang punya perusahaan, dia jadi seenak jidat saja datang siang. Kalau kita yang terlambat, pasti ada saja punishment-nya."
"Pak Fian dan Pak Morgan nggak adil banget, masak hanya karena anggota keluarga, keterlambatan bisa dimaklumi dan berujung jadi sebuah kebiasaan."
Semua celotehan itu tak luput dari pendengaran Alina setiap dia datang terlambat. Bahkan jika dia sedang makan di kantin sendirian pun, telinganya itu selalu saja mendengar perkataan yang tidak mengenakkan telinganya.
Saat ini memang belum ada yang tahu tentang kehamilan Alina. Perut Alina yang sudah mulai membuncit itu belum begitu terlihat jelas karena memang saat ini kehamilannya baru saja memasuki bulan kedua. Alina juga sengaja tidak mau mengumumkan kehamilannya, biar semua orang tahu dengan sendirinya tanpa dia beritahu karena menurutnya tak ada yang spesial dari dirinya sehingga semua orang harus mengetahui jika dirinya saat ini sedang hamil. Alina juga tidak mau dikasihani karena kehamilannya ini yang membuat tubuhnya lemah.
Setiba di ruangan Alina, Rico pun meninggalkan istrinya itu untuk bekerja. Sementara dia harus segera pergi ke kantornya untuk melakukan pekerjaannya pula.
"Sayang, ingat ya, jangan memberi reaksi atas bisikan orang-orang tentangku. Berpura-puralah untuk tidak mendengar apapun," ucap Alina sebelum Rico keluar dari ruangannya.
Suaminya itu sejak awal mendengar asumsi para karyawan di sana tentang dirinya tentu saja tidak senang. Rasa ingin membela dan menegur pun muncul, namun Alina melarang Rico untuk berbuat lebih karena dia tidak mau mencari ribut di kantor abangnya itu. Seperti kata mamanya, Alina harus berusaha untuk tenang dan tidak memikirkan perkataan orang lain agar tidak mengganggu kesehatan dan juga kondisi kandungannya.
Jika Rico membelanya di depan para karyawan abangnya dan membuat kerusuhan, hal itu jelas akan membuat Alina kepikiran. Dia tidak boleh memikirkan hal yang berlebihan karena tidak mau terjadi sesuatu kepada kandungannya.
Rico pun yang diingatkan oleh istrinya itu mengangguk mengerti. Meski sebenarnya dia tidak tahan mendengar para karyawan di sana berbisik tentang istrinya, namun dia lebih tidak mau sampai membuat masalah yang akan membuat istrinya lebih terluka.
...**...
Seperginya Rico, saat itu Morgan dan Alfian hendak menghampiri adiknya setelah mengetahui jika adiknya itu baru saja sampai di kantor. Selain ingin memberikan pekerjaan, mereka juga ingin memastikan keadaan adiknya itu jika Alina saat ini sedang baik-baik saja.
Pintu diketuk dari luar, dan saat Alina bersuara Morgan dan Alfian pun langsung masuk ke dalam ruangan. Mereka menghampiri adiknya yang saat ini sedang duduk di kursi kerjanya.
"Sayang, kamu baru datang?" tanya Alfian lebih dulu.
Alina bangkit dari duduknya, ingin menghampiri kedua Abang itu.
"Iya, Bang, Alina baru datang. Tadi pagi Alina nggak berhenti mengalami mual, jadi gak bisa datang lebih awal ke kantor."
Alfian menuntun adiknya itu untuk duduk di atas sofa dan diikuti Morgan yang di sampingnya.
"Al, kalau kamu nggak kuat, lebih baik kamu nggak usah masuk kerja dulu saja. Kita nggak tega melihat kamu datang ke kantor dengan keadaan lemah seperti ini. Keadaan kamu seperti ini membuat kami semua khawatir tahu nggak," ucap Morgan.
Semenjak Alina hamil dan mengalami keluhan seperti morning sickness dan lainnya, pria itu yang biasanya usil kepada adiknya kini tak begitu menunjukkan keusilannya lagi. Entah apa yang membuat pria itu berhenti mengusili Alina, namun sepertinya karena rasa sayang yang membuat dirinya tak tega melihat kondisi adiknya itu.
"Maaf, Bang, kalau Alina membuat kalian khawatir. Alina bukannya sengaja membuat kalian khawatir, tapi Alina nggak enak saja kalau harus cuti lagi, padahal Alina baru masuk satu bulan setelah cuti panjang.
" Kamu jangan memikirkan semua itu, Al. Yang harus kamu pikirkan itu adalah kesehatan kamu. Nggak penting kamu cuti sebulan atau dua bulan, yang penting kamu sehat. Kami semua nggak mau melihat kamu memaksakan diri untuk bekerja seperti ini."
"Iya Bang, Alina tahu. Maaf ya," ucap Alina lagi dengan tertunduk.
Alfian dan Morgan yang melihat Alina tertunduk pun lantas tak tega.
"Ya sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Sekarang bagaimana kabar kamu, apa masih mual dan pusing?" tanya Morgan.
"Untuk sekarang sudah nggak mual lagi, nggak terlalu pusing juga. Alina bisa kok mengerjakan pekerjaan kantor."
"Kalau pusing jangan dipaksakan, Al. Ingat, abang nggak mau kamu sampai kenapa-napa hanya karena mengurus pekerjaan ini," ucap Alfian lagi dengan penuh penegasan.
"Iya, Bang, Alina janji nggak akan memaksakan diri Alina untuk bekerja terlalu keras."
Setelah berbincang singkat kepada adiknya itu, Morgan pun memberikan sedikit pekerjaan kepada Alina, seperti tugas wanita itu pada umumnya. Namun Morgan sengaja mengurangi sedikit pekerjaan Alina karena bagaimanapun juga dia adalah abang kandung Alina. Dia sangat menyayangi adiknya dan tidak ingin Alina terlalu lelah dengan pekerjaannya.
"Ingat ya, Al, kalau pusing berhenti bekerja. Jangan dipaksakan. Abang nggak akan meminta kamu untuk segera menyelesaikannya dengan cepat," ucap Morgan sebelum keluar dari ruang itu.
"Iya, Abang. Bawel banget sih, keluar sana, aku mau bekerja," ucap Alina kemudian.
Dia sangat heran kenapa semua keluarganya selalu mengingatkan hal yang sama secara berulang, padahal dia sudah sangat bosan mendengar hal itu secara berulang setiap harinya. Dia saat ini sedang hamil dan mengalami gejala kehamilan seperti wanita hamil pada umumnya, bukannya seorang yang sedang sakit parah. Dia rasa tidak perlu diperlakukan sedemikiannya, apalagi saat keadaannya sedang berlangsung normal.
...**...
Setelah keluar dari ruangan Alina, Morgan dan Alfian hendak kembali ke ruangannya masing-masing. Namun saat itu telinga Alfian yang sangat sensitif tak sengaja mendengar bisik dari beberapa karyawan. Dia mendengar beberapa karyawan tersebut mengatakan hal buruk tentang dirinya dan juga Alina.
"Benar. Enak banget ya jadi Alina, mentang-mentang abangnya direktur dan pemilik perusahaan, pekerjaannya jadi dipermudah. Bahkan terlambat pun tidak apa-apa."
Untuk pertama kalinya Alfian mendengar hal itu keluar dari mulut karyawannya. Selama ini dia tidak pernah mendengarnya karena semua karyawan yang ada di sana sudah mendapatkan peringatan dari asisten Morgan untuk tidak berbicara sembarangan tentang Alina ataupun keluarga Wilson di dalam sini. Bahkan Bayu saja tak pernah mengungkit tentang gosip yang menjelekkan nama Alina kepada Morgan ataupun Alfian. Dia sengaja tidak mau memancing keributan yang akan membuat bosnya itu marah nantinya. Dia tahu sekali apa yang akan terjadi jika gosip tak jelas itu sampai ke telinga Morgan dan Alfian.
Namun siapa sangka jika pagi ini Alfian akan mendengar langsung dari mulut para karyawannya yang sedang menggosipi Alina di jam kerja. Alfian dan Morgan yang sangat menyayangi adiknya itu lantas tak terima mendengar perkataan karyawannya tentang Alina. Tanpa berpikir panjang mereka mendekati karyawan itu untuk mendengar lebih jelas perkataan yang samar dia dengar barusan tadi.
"Apa yang kalian bicarakan tentang adik saya?" tanya Alfian tanpa basa-basi.
Dua orang karyawannya saat itu yang terlihat sedang berada di salah satu meja terlihat terkejut melihat Alfian dan Morgan yang datang dengan mata yang tajam menatap ke arah mereka.
"Pak Fian, Pak Morgan?" ucap mereka dengan terkejut.
"Katakan langsung pada saya apa yang sudah kalian katakan tentang adik saya tadi," ucap Alfian untuk kedua kalinya kepada karyawannya itu.
"Ka–kami tidak mengatakan apa-apa, Pak," ucap salah satu karyawan di sana dengan berbohong. Namun bukan Alfian jika mempercayai begitu saja perkataan karyawannya, terlebih dia merupakan orang yang cukup serius dalam menanggapi sesuatu.
"Kamu kira telinga saya sudah tuli? Tidak bisa mendengar gosip yang sudah kalian katakan tadi hah?" ucap Alfian yang kini mulai menunjukan emosinya.
"Pak Fian, maafkan kami, Pak. Kami benar-benar nggak sengaja," ucap salah satu karyawan lainnya yang kini mulai gemetar ketakutan saat melihat atasannya itu yang menunjukkan rasa emosionalnya.
"Nggak sengaja? Kalian bergosip di depanku dan kalian bilang nggak sengaja? Apa menurut kalian saya ini sudah bodoh? Katakan secara langsung apa yang kalian katakan tadi!" teriak Alfian kemudian yang sudah tak bisa mengontrol emosinya. Dia benar-benar tidak terima melihat adik kesayangannya digosipkan oleh karyawannya sendiri.
Morgan yang berada di sana lantas memundurkan abangnya itu. Dia takut jika Alfian akan meledak lebih dari ini karena dia tahu apapun yang terjadi dengan Alina, maka abang pertama mereka itu yang akan menjadi garda depan untuk melindungi adik tersayang mereka itu.
"Bang, sudahlah, biar ini menjadi urusanku. Abang masuklah ke ruangan, tenangkan diri, sebentar lagi Abang mau menemui klien dari luar negeri, bukan?" ucap Morgan mengingatkan.
Sebentar lagi abangnya itu akan melakukan meeting bersama klien dari luar negeri yang sempat menjalin kerjasama dengan papanya saat di London. Morgan tahu jika kliennya satu ini merupakan seorang yang profesional dan perfeksionis. Dia tidak mau Alfian larut dalam emosinya dan terbawa sampai saat meeting mereka sehingga membuat semuanya menjadi kacau.
Alfian yang baru teringat jika dia sebentar lagi akan melakukan meeting dengan klien penting, lantas mendengus kesal. Dia menghela nafasnya berulang untuk mengatur emosinya yang sedang tidak stabil. Jika saja dia sedang tidak ada janji meeting bersama klien penting maka kedua karyawannya itu akan habis di tangannya. Bahkan dia tidak akan segan untuk memberi peringatan terakhir kepada mereka berdua karena sudah macam-macam kepada adik tersayangnya.
Sepergimya Alfian, Morgan terdiam sejenak sebelum membalikkan tubuh menghadap kedua karyawannya yang saat ini masih ketakutan. Dia menatap kedua karyawannya itu dengan tatapan datar. Meskipun Morgan tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya kepada Alina secara langsung seperti Alfian, namun dia tidak akan tinggal diam jika seseorang sampai berani menyentuh salah satu anggota keluarganya.
"Apa kalian masih ingin bekerja di perusahaan ini?" tanya Morgan dengan suara datarnya.
"Ma–masih, Tuan," ucap kedua orang itu hampir bersamaan.
"Baiklah. Saya akan kasih kalian satu kali kesempatan lagi untuk bekerja di perusahaan ini."
Setelah berkata seperti itu, Morgan berbalik hendak pergi dari sana. Membuat kedua karyawannya itu bernafas dengan lega karena mereka pikir saat ini mereka sudah aman karena Morgan tidak memarahinya seperti yang Alfian lakukan barusan. Namun belum 2 detik mereka bernafas lega, Morgan kembali berbalik dan mengatakan sesuatu yang membuat mereka terduduk tak berdaya.
"Setelah ini HRD akan memberikan kalian surat peringatan terakhir. Jika kalian berbuat macam-macam lagi, nama kalian akan saya blacklist dari negara ini. Saya akan pastikan tidak akan ada perusahaan yang mau menerima kalian lagi setelah keluar dari sini."
Begitulah Morgan. Seorang pria yang cerdas, tak perlu terlalu banyak mengeluarkan energi untuk menunjukkan emosinya, namun langsung bertindak dengan cepat.