
Dua jam menunggu kedatangan Rena, akhirnya wanita itu pun datang juga. Alina terlihat kesal karena harus menunggu dengan sangat lama temannya itu untuk datang ke rumahnya. Dia bahkan sangat merasa bosan hingga tertidur sejenak di selang waktunya saat bermain ponsel.
"Sorry, Al, aku lupa kalau tadi ada meeting sama anak kantor, jadi aku terpaksa harus menyelesaikan meeting dulu, baru bisa datang ke sini."
Alina menggelengkan kepalanya, pantas saja temannya itu lama sekali datang, ternyata dia melakukan pertemuan terlebih dahulu. Karena berusaha untuk mengerti, akhirnya Alina melupakan kekesalannya. Dia segera mengajak Rena untuk mulai belajar memasak bersama koki yang sejak tadi sudah menunggu.
"Maaf ya, Pak, sudah membuat menunggu lama," ucap Alina dengan tidak enak hati.
Koki itu pun mengangguk mengiyakan, lagi pula siapa dia yang berani marah kepada nona Wilson itu.
Sesuai apa yang Alina inginkan, koki di sana hanya memberi instruksi dan melihat apa yang Alina dan Rena kerjakan. Seperti saat ini, koki itu meminta Alina untuk menyediakan bahan-bahan terlebih dahulu yang akan mereka gunakan untuk memasak. Sebagai pemula, Alina dan Rena akan memasak sesuatu yang sangat mudah yaitu, ayam goreng tepung dan juga sup jamur.
Setelah semua bahan masakan tersedia di atas meja, koki pun meminta kedua wanita itu untuk mencuci dan mengiris sayur serta daging ayam di sana. Meskipun irisan kedua wanita itu tidak rata dan terkesan lambat, tapi hal itu tak membuat kopi di sana merasa bosan. Dia tahu untuk mengajari seseorang memasak harus membutuhkan kesabaran yang tinggi dan untungnya dia sudah terbiasa akan hal itu saat menjadi senior koki di salah satu restoran.
"Nona, memegang pisangnya jangan seperti itu," ucap koki di sana saat melihat Rena memegang pisau dengan cara yang salah.
Namun sebelum Rena menghentikan gerakan, tiba-tiba saja wanita itu berteriak karena tangannya tergores oleh pisau sehingga membuat orang-orang di sana kaget.
"Astaghfirullah, kamu kenapa, Ren?" tanya Alina dengan terkejut. Dia segera meninggalkan kerjaannya untuk melihat temannya yang terluka.
"Tanganku teriris, Al. Perih banget," seru Rena sambil mengaduh.
Salah satu pelayan di sana berlari mengambil kota P3K yang tersedia di samping kulkas, sementara koki yang tadi menasehati Rena mengambil tangan wanita itu untuk dibasuh dengan air.
"Cara memasang pisau anda tadi salah, Nona, jadi kemungkinan besar tangan anda akan tergores saat mengiris."
"Kenapa nggak bilang dari awal? Tanganku sekarang sudah terluka, kamu terlambat," ucap Rena mengomel.
Koki tersebut pun hanya diam saja, tak berani menyahuti perkataan wanita itu yang sedang kesal.
Setelah tangan Rena diperban, mereka pun kembali melanjutkan memasaknya. Kini Rena lebih berhati-hati dan melakukan semuanya sesuai perintah koki yang sudah profesional itu.
Zara yang saat itu baru saja datang untuk melihat kegiatan putrinya bersama Rena yang sedang belajar memasak itu tersenyum-senang. Namun saat melihat tangan Rena yang di beban, raut wajahnya pun mulai berubah. Dia mendekati Alina dan melihat tangan wanita itu.
"Mama kenapa?" tanya Alina dengan heran.
"Apa kamu terluka, Sayang?" tanya Zara kepada putrinya.
"Bibi, Alina nggak terluka. Hanya Rena yang terluka karena mengiris ayam tadi," sahut Rena.
"Kenapa bisa teriris, Ren?" tanya Zara sembari menghampiri teman anaknya itu untuk melihat kondisi tangannya.
"Hanya salah cara menggunakan pisau saja. Kokinya juga sihnggak mengingatkan sejak awal," ucap Rena sembari memanyunkan bibirnya dengan menatap koki yang ada di sana, seolah menyalahkannya atas insiden kecil tersebut.
"Lain kali harus hati-hati ya, Sayang," ucap Zara dan diiyakan oleh Rena.
Kemudian Zara membiarkan kedua wanita itu untuk melanjutkan memasaknya dan melihat dari kejauhan. Dia juga tidak berniat untuk menegur koki yang ada di sana karena dia tahu jika hal kecil seperti ini pasti akan terjadi untuk seseorang yang sedang belajar memasak. Untuk koki profesional saja mungkin sering tidak sengaja mengalami kecelakaan di dapur, apalagi yang baru saja mau belajar, pikirnya.
**
Satu jam telah berlalu, kini Rena mengembangkan senyumnya saat semua hidangan telah tersedia di atas piring. Dia sangat bangga kepada dirinya sendiri karena sudah bisa memasak dua menu masakan yang selama ini hanya bisa dirasakannya saja.
Dengan senyum mengembang Rena membawa kedua masakannya itu ke meja makan, sementara Alina dan kedua orang tuanya sudah menunggu di sana sejak tadi.
Sejak setengah jam lalu, Alina sudah meninggalkan dapur karena tiba-tiba saja dia merasa mual yang begitu sangat ketika Rena tak sengaja menumpahkan begitu banyak lada ke dalam sayurnya.
Zara yang melihat putrinya itu sudah mulai melemah lantas mengajaknya untuk beristirahat. Tidak bisa menolak Alina pun menuruti perkataan mamanya itu.
Awalnya Rena juga ingin berhenti karena melihat Alina yang tak lagi belajar memasak, namun setelah salah satu hidangannya selesai dibuat, rasa malas itu tiba-tiba hilang begitu saja. Dia semakin bersemangat untuk melanjutkan masaknya hingga selesai.
Saat makanan sudah terhidang di atas meja, Rena pun dengan tak sabar ingin mendengar l kejujuran dari tiga orang yang ada di depannya atas masakan pertamanya ini.
"Bibi, Paman, bagaimana masakan Rena, apa enak?" tanya Rena kepada orang tua Alina saat mereka masih mengunyah masakannya.
"Al, gimana, enak nggak?" tanyanya pula kepada temannya.
Mereka masih diam karena saat ini mulutnya masih mengunyah makanan yang dibuat oleh Rena. Dan saat makanan berhasil ditelan, mereka pun tersenyum dan memuji masakan Rena sehingga membuat wanita itu tersenyum senang.
Karena penasaran dengan masakannya sendiri, Rena pun mengambil piring untuk mencicipi rasa dari masakannya itu. Saat satu sendok sup jamur masuk ke dalam mulutnya, lagi-lagi Rena tersenyum dengan bangga. Ternyata rasanya cukup enak, meskipun sedikit campah karena dia tadi memang kebanyakan memasukkan air.
"Wah, ternyata aku pintar memasak juga ya. Nggak salah Andi memilihku sebagai calon istrinya."
Alina yang mendengar kata 'calon istri' yang dikatakan oleh temannya itu melebarkan matanya dengan heran.
"Calon istri?"
Rena menetapkanlah Alina yang berucap. Dia pun tersenyum dengan lebarnya.
"Ya. Dua bulan lagi kami akan menikah," ucap Rena dengan menaik turunkan alisnya.
"Wah, kamu serius? Kenapa baru bilang sekarang sih, Ren," ucap Alina dengan excited.
"Andi baru mengatakan minggu lalu kalau dia mau menikahiku. Kemarin kami baru melakukan pertemuan dua keluarga dan hari ini aku langsung memberitahu kamu. Kamu orang pertama yang tahu tentang beruta ini loh, Al," ucap Rena.
"Astaga, aku turut senang mendengarnya, Ren. Selamatnya."
"Wah, selamat ya, Rena. Semoga niat baiknya diperlancar sampai hari pelaksanaan tiba," ucap Zara kemudian.
"Terima kasih, Bibi."
"Oh ya, Ren, tapi kenapa waktunya cepat sekali ya? Hanya dua bulan untuk mengurus pernikahan. Kita yang tiga bulan saja sudah pusing karena serba mendadak," ucap Alina yang penasaran.
"Nggak mendadak juga kok. Sebelum ini memang Andi sudah mempersiapkan pernikahan kita sejak jauh-jauh hari. Katanya, dia sengaja ingin memberikan kejutan untukku."
"Waw. Aku kira Andi nggak mau nikah sama kamu, ternyata pria itu sudah memiliki rencananya sendiri untuk masa depannya dengan kamu ya," ucap Alina dengan sedikit candaan di awal kalimatnya.
"Enak saja. Kalau dia nggak mau nikah sama aku, ngapain kita pacaran bertahun-tahun lamanya."
Alina pun tertawa. Benar juga jika Andi tidak berniat menikahi Rena, untuk apa mereka masih bisa bertahan sampai sekarang. Alina jadi salut dengan teman yang satu itu. Dibalik sifatnya yang acuh terhadap hubungannya ternyata pria itu memiliki pemikirannya sendiri untuk masa depannya.
"Sudah siap dong menjadi seorang istri? Cantik dan pintar memasak, nggak salah Andi memilih kamu sebagai istrinya," ucap Alina dengan diiringi kekehan kecil.
"Tentu saja," sahut Rena dengan percaya dirinya.