
Meski sangat ingin menuruti perkataan Alina karena dia juga sangat lapar, tapi rasanya sangat sulit untuknya hanya sekedar membuka mata. Tapi daripada dia ditinggal di sini dalam keadaan lapar, lebih baik dia melawan rasa kantuknya dan bangkit dari tidurnya walaupun dengan sangat terpaksa.
"Aku ikut," ucap Rena dengan suara yang terdengar tak bersemangat.
Kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya membuat Rena hanya bisa duduk diam di ujung kasur. Membuat Alina dengan terpaksa membasahi tangannya dan mencipratkan air ke wajah Rena agar wanita itu segera membuka mata dan bergegas untuk besiap.
Meski sedikit kesal, Rena tetap menuruti perkataan Alina untuk segera bersiap. Jangan sampai abang Alina datang dan dia ditinggalkan seorang diri di rumah kecil ini dalam keadaan lapar.
Setelah Rena membasuh mukanya dan kesadaran pun sudah pulih sepenuhnya, Alina memberikan sebuah dress selutut kepada Rena. Wanita itu menerima dress dari Alina dan melihatnya cukup lama sebelum bergegas memakainya.
"Kenapa?" tanya Alina saat melihat Rena belum juga mengganti pakaiannya.
"Ini baju kamu?" tanya Rena.
"Menurut kamu?" tanya Alina balik tanpa menjawab pertanyaan Rena.
"Ini baju bermerek, kamu membelinya sendiri?"
Bukan bermaksud untuk merendahkan Alina, hanya saja dia yang mengetahui berapa harga baju yang saat ini dia pegang terlihat heran, kenapa Alina bisa memiliki baju bermerek seperti ini.
"Itu hadiah ulang tahunku dari Andi saat kita masih di Oxford dulu," ucap Alina.
Mendengar jika baju itu pemberian dari pacarnya, perasaan Rena sedikit terusik. Namun dia tetap tenang karena sebelumnya dia sudah berjanji untuk tidak akan lagi cemburu kepada Alina.
"Jangan salah paham. Aku memberikan baju itu untukmu karena hanya itu baju yang cocok untuk kamu gunakan," seru Alina lagi sebelum Rena salah paham dengan maksudnya.
Rena membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Tanpa berkata-kata dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti t-shirt nya dengan dress milik Alina dari pemberian pacarnya beberapa tahun lalu.
Setelah mengganti pakaiannya, Rena kembali menghampiri Alina ke kamarnya.
"Cocok," ucap Alina dengan tersenyum.
Dress itu memang terlihat sangat cocok untuk tubuh ideal Rena. Ya … bisa dibilang kedua wanita itu memiliki bentuk tubuh yang sama-sama ideal. Bahkan aura yang mereka miliki pun sama-sama memiliki ketertarikan yang sangat tinggi. Jadi, apapun pakaian yang mereka pakai akan terlihat cocok dengan tubuhnya.
"Thanks," seru Rena.
Mereka berkutik terlebih dahulu dengan alat make-up di depan cermin sebelum Alfian datang. Hanya sedikit polesan agar wajah mereka terlihat lebih fresh walau di malam hari.
Setelah selesai dengan kegiatan singkatnya, bersamaan saat itu suara mesin mobil yang diyakini milik Alfian terdengar di telinga mereka berdua. Mereka segera bergegas untuk keluar karena sudah tak sabar ingin menuntaskan rasa lapar yang sudah teramat sangat itu.
Begitu mereka memasuki mobil, Alfin tampak mengernyitkan keningnya melihat kedua wanita yang ada di kursi penumpang dari spion dalam mobil.
"Kalian berdandan secantik ini mau ke mana? Kita cuma mau makan malam loh, Al," ucap Alfian yang terlihat heran dengan penampilan adik serta temannya itu.
Alina dan Rena saling pandang sejenak.
"Aisshh." Alfian menggelengkan kepalanya mendengar jawaban sang adik. Sepertinya dia sudah salah bertanya.
"Baiklah-baiklah, mari kita berangkat. Abang sudah sangat lapar banget," ucap Alfian kemudian.
"Kita pun begitu," ucap Alina sembari menatap ke arah Rena yang tersenyum tipis kepadanya.
*
Setiba di salah satu restoran terkenal di kota itu, mereka segera turun dari mobil untuk masuk ke dalam restoran. Restoran yang cukup merogoh kocek itu berhasil membuat Rena mengernyitkan keningnya. Dia menatap ke arah Alina dan juga Alfian yang berjalan mendahuluinya. Bagaimana bisa abang Alina mengajak mereka makan di restoran mahal seperti ini, pikirnya.
Setelah mereka masuk ke dalam restoran, mereka langsung dipandu menuju meja yang telah dipesan Alfian. Di sana sudah tersaji berbagai jenis makanan yang terlihat sangat lezat. Mulai dari jenis seafood, ikan, hingga daging yang aromanya sangat harum di penciuman.
Meski tak tahu persis berapa harga makanan di sana, tapi yang jelas semua makanan yang dijual di restoran ini pastinya tidaklah murah. Hal itu jelas membuat Rena curiga kepada Alina dan abangnya. Apa benar pria di hadapan mereka ini adalah abang kandung Alina? Jika itu benar, bagaimana bisa abang Alina memiliki uang sebanyak itu untuk memesan semua makanan di sini?
Jika dilihat dari cara makan Alina dan Alfian yang sangat berkelas, serta mobil yang Alfian gunakan bukanlah jenis mobil murahan, Rena merasa jika sebenarnya Alina adalah orang kaya. Namun jika benar Alina adalah orang kaya, namun kenapa wanita itu tinggal di rumah kecil dengan lingkungan yang seperti itu? Bahkan Alina sampai harus bekerja sebagai penyanyi cafe dan juga supervisor di sebuah restoran. Atau jangan-jangan Alfian bukanlah abang kandung Alina? Apakah Alfian adalah pria asing kaya yang hanya berpura-pura menjadi abang kandung Alina? Jika benar begitu, lalu ada hubungan spesial apa Alina dengan pria bernama Alfian itu? Dan lalu bagaimana dengan Rico?
Pikiran negatif Rena mulai bermunculan di otaknya. Dia bahkan sampai tak menikmati makan malamnya meski makanan lezat di sana terus masuk ke dalam mulutnya karena sibuk memikirkan sesuatu yang dia curigai.
Alina yang melihat Rena seperti sedang tak fokus lantas dibuat heran. Dia menyentuh pundak Rena dan membuat wanita itu tersadar dengan sedikit terkejut.
"Kamu kenapa makan sambil melamun?" tanya Alina heran.
"Ah?"
Rena menatap ke arah Alina dan Alfian yang sedang menatap ke arahnya secara bergantian.
"Em, maaf, aku kepikiran dengan masalahku tadi," ucapnya beralasan. "Aku hanya takut jika Alvin datang ke rumahku atau memberitahu Andi tentang foto itu."
Alina mengusap punggung tangan Rena dengan lembut.
"Jangan dipikirkan. Dia nggak akan berani melakukan hal itu secepat ini. Kamu tenang saja ya. Besok pagi kamu harus jujur dengan Andi, setelah itu temanmu bernama Alvin itu pasti nggak akan berani lagi dekatin kamu," ucap Alina.
Rena tersenyum mendengar perkataan Alina. Dia menganggukkan kepalanya dan memilih percaya dengan apa yang Alina katakan. Entah kenapa dia bisa semudah ini percaya dan merasa nyaman dengan Alina, padahal selama ini dia sangat tidak mempercayai perkataan Andi mengenai wanita ini. Dia sangat heran dengan dirinya sendiri, padahal belum ada 5 jam mereka bersama.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.