Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
65. Keisengan Morgan


"Alina?"


Rico terdiam menatap pacarnya yang keluar sambil menggendong seorang gadis kecil. Siapa gadis kecil itu? Berbagai pertanyaan kini memenuhi otak Rico, dia tidak bisa berpikir positif karena begitu banyaknya rasa yang dia rasakan didalam hatinya saat ini.


Berbeda dengan Rico yang terkejut melihat keberadaan Alina bersama gadis kecil itu, justru Alina tersenyum kepada pria di depannya itu.


"Hai."


Senyuman manis yang Rico rindukan selama satu minggu ini. Meski Alina masih tak percaya dan sangat penasaran kenapa Rico bisa mengetahui rumah abangnya, tapi Alina berusaha untuk menahan rasa penasaran itu.


Rico yang tak menyadari sapaan Alina karena pikirannya yang kacau membuatnya hanya terdiam di sana. Sampai gadis kecil yang digendong Alina turun dan menarik-narik celananya, barulah Rico tersadar.


"Eh?"


Rico menatap gadis kecil itu dan Alina dengan bergantian.


"Kenapa melamun?" tanya Alina.


"Siapa gadis kecil ini, Al?" tanya Rico yang mulai menunjukkan raut penasarannya.


Alina tersenyum. "Keponakanku."


"Keponakan?"


"Ya, anak bang Fian," ucap Alina lagi dengan meyakinkan.


Mendengar itu Rico seketika tersenyum lega. Dia pikir anak itu adalah rahasia Alina yang dia tutupi darinya selama ini, tapi ternyata tidak. Hampir saja dia senam jantung akan pemikiran negatifnya itu.


Namun meski hal itu berhasil membuatnya tersenyum, tapi Rico masih menyimpan begitu banyak pertanyaan di otaknya akan siapa Alina sebenarnya. Sepertinya Rico harus bertanya mengenai itu karena dia sudah sangat penasaran sekali.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Rico.


"Hah? Ini rumah bang Fian, Co."


"Bang Fian?" tanya Rico lagi dan diiyakan Alina.


Jadi rumah ini benar milik abang Alina? Jika hal itu benar, berarti benar juga dugaannya jika Alina adalah anak orang kaya? Apakah ini rahasia Alina yang selama ini ditutupinya?


Rico hendak bertanya kepada Alina, namun suara dari dalam sana berhasil membuatnya mengurungkan niatnya.


"Siapa, Al?"


Suara seorang wanita dari dalam sana membuat Alina mengalihkan pandangannya dari Rico sejenak.


"Teman, Kak."


Teman? Rico tercengang mendengar jawaban Alina. Kenapa Alina menjawab seperti itu, apa Alina sengaja menyembunyikan hubungan mereka atau malu memperkenalkan dirinya pada keluarganya? Rico tak habis pikir akan hal itu, namun dia tak mau berpikir negatif terlebih dahulu sebelum Alina menjelaskan semuanya padanya.


"Ajak masuk, Al. Kenapa berdiri di luar saja."


"Iya, Kak." Alina menatap ke arah Rico. "Ayo masuk."


Sambil membuka lebar kedua pintu rumahnya, Alina beranjak masuk ke dalam rumah sambil kembali menggendong keponakannya. Dari belakang, Rico mengikuti Alina dengan perasaan yang tak menentu. Antara kecewa namun harus terus berpikir positif kepada wanita yang dia cintai itu.


Sekali lagi, Rico harus mempercayai Alina karena dia yakin jika Alina tidak akan mungkin mengecewakannya.


"Selamat pagi," ucap Rico ketika dia bersitatap dengan seorang wanita cantik yang menghampiri mereka di ruang tamu.


"Pagi. Rico ya?" ucap wanita cantik itu.


Rico mengiyakan meski sebenarnya dia heran karena wanita itu mengetahui namanya. 


Rico pikir wanita ini adalah istri dari Alfian dan mungkin saja Alfian atau Alina menceritakan tentang dirinya kepada wanita itu. Namun jika wanita itu mengenalnya lalu kenapa Alina mengakuinya sebagai teman saat ada yang bertanya tadi?


Lagi-lagi Rico dibuat heran dengan pacarnya itu.


"Perkenalkan, saya Marisa, istri dari abang Alina. Panggil saja Kak Ica."


Rico mengiyakan, setelah itu dia mendudukkan tubuhnya setelah dipersilahkan oleh Ica.


"Mau minum apa, Co?" tanya Ica.


"Air mineral aja, Kak."


"Baiklah, tunggu sebentar ya. Kakak ambilkan dulu. Al, temani Rico ya," ucap Ica kemudian kepada adik iparnya.


"Tentu saja, Kak."


"Istri bang Fian ya?" tanya Rico.


"Iya, cantik, 'kan?"


"Cantik. Tapi masih cantikan kamu," jawabannya.


"Basi banget," sahut Alina dengan terkekeh pelan.


Rico tersenyum melihat wanita itu tertawa.


Karena tidak mungkin dia menanyakan semua yang membuatnya penasaran tentang Alina sekarang, jadi Rico berusaha untuk bersabar sampai mereka memiliki waktu berdua. Saat ini dia ingin melepas rindu dengan pacarnya itu dan berkenalan dengan keluarganya lebih dulu.


Melihat Alina begitu akrab dan telaten menggendong gadis kecil yang saat ini sedang dalam pengakuannya, membuat Rico seketika tersenyum senang. Sejenak dia sempat membayangkan jika suatu saat nanti gadis kecil yang bermain bersama wanita cantik itu adalah anak mereka berdua. Mengingat hal itu Rico pun jadi sudah tidak sabar untuk mempersunting Alina sebagai kekasihnya. Semoga saja niat baiknya ini segera terlaksana tanpa hambatan apapun. 


Alina yang melihat Rico tersenyum dengan menatapnya lantas menaikkan salah satu alisnya. 


"Kamu kenapa?" tanya Alina membuyarkan lamunan Rico. 


"Kamu cocok banget."


"Cocok apanya?" tanya Alina karena tak mengerti maksud Rico.


"Cocok menjadi seorang ibu."


Alina tampak salah tingkah mendengar ucapan Rico, kemudian dia tertawa kecil dibuatnya. Apakah dia sudah seperti ibu-ibu, pikirnya.


"Apa aku sudah seperti ibu-ibu?" tanya Alina kemudian.


"Hah? Mana ada, aku cuma bilang kalau kamu sudah cocok menjadi seorang ibu, bukan berarti kamu seperti ibu-ibu, Sayang."


Alina yang mendengar kata sayang dari mulut Rico membuatnya segera membelalakkan matanya dan meminta Rico untuk mengecilkan volume suaranya. 


"Kenapa?" tanya Rico heran.


"Aku malu, nanti didengar sama keluargaku."


"Kamu malu aku panggil sayang?"


"Rico, pelan-pelan ngomongnya."


"Kenapa, Al? Kenapa kamu harus malu? Di depan orang tuaku saja kamu nggak malu saat aku panggil seperti itu."


"Ya tapi 'kan ini beda, Co. Keluargaku belum pernah bertemu dengan kamu sama sekali, aku takut akan canggung dan digoda oleh abangku."


"Abang kamu bukannya sudah sering mendengar aku memanggil kamu dengan sebutan itu?"


"Bukan bang Fian, tapi bang Morgan."


Belum sempat Rico menyahuti perkataan Alina, tiba-tiba suara seorang pria dari arah samping kanan mereka membuat mereka mengalihkan pandangannya.


"Kenapa bawa-bawa Bang Morgan?"


Seorang pria tampan terlihat berjalan mendekati sofa ruang tamu. Pria tampan itu terlihat menampilkan wajah datarnya dan menatap Rico tanpa berkedip. Hal itu membuat Rico tak nyaman dan mengira jika abang Alina yang diyakininya bernama Morgan itu tidak menyukainya.


"Bang Morgan kenapa ke sini?" tanya Alina kepada abangnya itu.


"Kenapa memangnya, nggak boleh Abang ke sini?" tanya Morgan kepada Alina.


"Dih, bukan gitu. Abang nggak mau istirahat?" 


"Nggak. Abang nggak bisa istirahat saat melihat adik Abang sedang berduaan dengan pria asing di sini."


Mendengar perkataan Morgan pun Rico merasa tersinggung, seolah jika pria itu benar-benar tidak menyukainya. Ada apa ini, kenapa abang Alina terlihat seperti tidak suka padanya, apakah Alina mengatakan sesuatu tentang dirinya yang membuat pria itu membencinya atau ada sesuatu yang dirinya tidak sengaja lakukan sehingga membuat pria itu tersinggung? 


Namun setelah dipikir-pikir sepertinya tidak mungkin karena ini adalah pertemuan pertama mereka. Bagaimana dia menyinggung pria itu sementara mereka saja tidak pernah bertemu dan dia pun tidak pernah menyakiti Alina. Lalu apa yang membuat pria itu tidak menyukainya? Rico sangat heran, namun dia tidak mau tergesa untuk bertanya karena tidak mau mencari masalah. Di sini dialah tamunya, yang di mana harus bersikap sopan kepada tuan rumah.


"Abang apaan sih, gak usah acting gitu deh, nyebelin banget."


Kini Alina bersuara sembari melempar tisu bekas keponakannya kepada Morgan. Dia jelas saja tak suka melihat abangnya itu menjahili Rico yang kini mulai terlihat tidak nyaman.


"Astaga, Al, ini ingus. Kenapa kamu melemparnya ke Abang, ih jorok banget sih."


Beberapa detik yang lalu jika wajah Morgan yang terlihat datar, kini seketika wajah pria itu berubah 180 derajat. Saat ini wajah pria itu tidak terlihat seperti orang yang dingin lagi, melainkan seperti orang yang ramah.


Rico yang melihat itu jelas sekali dibuat terheran karenanya. Apa maksud semua ini? Dia tidak mengerti, kenapa Morgan tiba-tiba bisa merubah raut wajahnya secepat itu dan … entahlah, dia benar-benar tidak mengerti.