Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
27. Berkata Jujur l (spesial Rena dan Andi)


Lima menit sebelum waktu menunjukkan jam sembilan tepat, taksi yang membawa Rena akhirnya telah tiba di kantor milik keluarga Andi. Rena diam sejenak di depan kantor itu sebelum berjalan pelan masuk ke dalam sana menuju ruangan Andi yang berada di lantai dua puluh tiga.


Para karyawan yang melihat kedatangan Rena menunduk sopan. Hubungannya dengan Andi yang telah berjalan bertahun-tahun jelas saja membuat semua karyawan di sana mengenalnya. Meski sikap Rena sering menyebalkan, tapi tak ada satupun dari semua karyawan di sana yang berani padanya.


Setiba di lantai dua puluh tiga, Rena langsung di sambut dengan seorang pria yang menjadi sekertaris pribadi Andi yaitu, Raka. Raka yang melihat kehadirannya segera menyapanya dengan sopan, layaknya tamu penting bos-nya.


"Selamat pagi, Bu Rena. Apa Ibu mencari Pak Andi?" tanya Raka.


"Ya, apa Andi ada di dalam?" tanya Rena balik.


"Tentu, Bu. Pak Andi sejak tadi belum keluar dari ruangannya. Mari saya antar," ucap Raka bermaksud mengantarnya ke ruangan Andi.


"Nggak usah. Aku bisa sendiri," tolak Rena dengan wajah tanpa ekspresinya.


Ekspresi itu bukan mengartikan dirinya yang cuek seperti biasanya, namun ekspresi itu melambangkan jika dirinya saat ini sedang diliputi rasa ragu, takut, dan sedih. Perasaannya campur aduk saat akan bertemu dengan Andi, dia takut jika apa yang akan dikatakannya nanti justru akan membuat Andi marah padanya.


Pikirannya dibuat bingung, antara ingin melanjutkan niatannya yang akan bicara jujur dengan Andi atau justru menundanya hingga dia benar-benar siap. Tapi kapan dia bisa siap jika tidak dipaksakan saat ini juga? Seperti kata Alina kemarin, dia tidak mau Andi sampai mendengar kabar buruk melalui foto dan video dari Alvin sebelum dia sendiri yang menceritakannya lebih dulu. Dia tidak mau Andi salah paham padanya karena perbuatan buruk Alvin padanya.


Rena memejamkan matanya, berusaha meyakinkan dirinya untuk berani berkata jujur kepada Andi. Setelah itu dia segera membuka pintu ruangan Andi yang tertutup rapat itu. Saking cemasnya, dia bahkan lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Tapi untungnya Andi tak mempermasalahkan itu karena saat ini dia sedang tidak ada tamu di dalam ruangannya.


"Sayang."


Andi terlihat terkejut dengan kedatangan Rena, apalagi dengan penampilannya yang tidak terlihat seperti biasanya. Dia mendekati Rena yang berjalan ke arahnya dengan tak bersemangat.


"Ada apa? Kenapa kamu lemas sekali, kamu sedang sakit?" tanya Andi dan dijawab Rena dengan gelengan kepala.


Andi membawa Rena duduk di sofa yang ada di tengah-tengah ruangan. Tak lupa dia meminta salah satu pegawainya untuk mengantarkan minuman hangat ke ruangannya melalui panggilan suara.


"Kenapa, Sayang? Ada apa dengan kamu? Nggak biasanya kamu seperti ini," ucap Andi dengan heran.


Rena adalah salah satu wanita yang ceria dengan segala sifat menyebalkannya. Melihatnya diam seperti ini dengan wajah lesu, Andi jelas merasa ada yang aneh dengan pacarnya itu.


"Sayang, katakan, ada apa denganmu?"


"Ada yang ingin aku ceritakan padamu, Ndi," ucap Rena dengan suara yang terdengar ragu.


"Mau cerita apa?" tanya Andi penasaran.


Sebelum bercerita, Rena kembali meyakinkan dirinya dalam hati untuk berkata jujur pada Andi. Setelah dirasa jika dirinya sudah siap untuk itu, Rena mulai menceritakan permasalahannya yang saat ini sedang terjadi bersama Alvin.


Dia menceritakan semuanya kepada Andi tanpa ada sedikitpun yang ditutupi. Persis seperti apa yang dia katakan kepada Alina kemarin.


Sepanjang menceritakan semua kebodohannya itu, air mata Rena dengan sendirinya keluar dari kelopak matanya. Dadanya terasa sesak saat menceritakan hal itu kepada Andi, berbeda dengan saat dia bercerita kepada Alina kemarin yang hanya merasa bersedih saja. Kali ini bukan hanya bersedih, dia juga merasa sangat bersalah kepada Andi dan juga merasa sangat bodoh akan ketakutannya kepada Alvin. Tangisnya bahkan terasa semakin menjadi saat dia mengatakan jika Alvin pernah menciumnya tanpa seizinnya.


Di sana dia benar-benar merasa bersalah kepada Andi. Dia bahkan tidak berani menatap wajah Andi karena takut jika pria itu akan marah padanya. Memang benar jika Andi pantas untuk marah, namun dia tetap tidak siap jika harus menerima amarah Andi untuk kedua kalinya setelah sifat cemburunya yang berlebihan beberapa waktu lalu.


Sepanjang Rena bercerita, Andi tak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Dia hanya diam dan menjadi pendengar yang baik untuk Rena. Ekspresinya terlihat datar, tak tahu apa yang sedang dirasakannya sendiri.


Andi meletakkan tangannya pada kedua pipi Rena. Menuntun wanita itu untuk menatap ke arahnya. Dia mengusap pipi tirus yang semakin mengurus itu dengan lembut. Rasanya sangat tidak tega melihat wanita yang dia cintai menangis tersedu seperti itu.


Dari tangisannya itu, Andi bisa merasakan jika Rena tidak berbohong kepadanya dalam setiap kalimat yang dia ucapkan. Dia yang tidak bisa marah lama kepada Rena lantas saja bergetar hatinya melihat wajah sayu itu.


"Jangan menangis lagi. Aku nggak suka melihat kamu bersedih seperti ini," ucap Andi dengan suara rendahnya.


Tookk… tookk…


Suara ketukan pintu membuat suasana di ruangan itu sedikit terganggu. Andi yang merasa jika itu adalah pegawainya yang akan mengantarkan minuman segera memintanya masuk.


"Maaf Pak, kalau lama. Tadi gelasnya pecah, jadi harus dibuat ulang."


Andi menganggukkan kepalanya tanpa suara. Dia segera meminta pegawainya itu keluar dari sana setelah meletakkan minuman ke atas meja. Tak lupa Andi menitipkan pesan untuk sekretarisnya jika saat ini dia sedang tidak menerima tamu ke ruangannya. Dia tidak mau ada yang mengganggu pembicaraannya bersama Rena.


"Minumlah dulu."


Rena menerima gelas jus jeruk dari Andi dan meneguknya sebanyak dua kali. Setelah itu dia memberikannya kembali kepada Andi dan kembali menundukkan pandangannya.


"Sayang, lihat aku," ucap Andi sembari meletakkan tangannya dibawah dagu Rena.


"Kenapa kamu nggak jujur dari awal? Kenapa kamu menutupinya dari aku? Apa kamu nggak menganggapku lagi sebagai pacarmu?"


"Aku hanya takut, Ndi. Aku takut kamu marah karena aku pernah mengiyakan ajakan Alvin pergi. Apalagi saat itu hubungan kita sedang nggak baik," ucap Rena dengan takut.


Mendengar itu Andi menghela nafasnya.


"Baiklah. Sekarang lupakan pria itu. Sekarang bagaimana dengan keadaanmu? Apa dia melukaimu?" tanya Andi.


Rena menggelengkan kepalanya pelan.


"Dia hanya menarik tanganku saja kemarin, tapi sudah lebih baik kok. Untung saat itu Alina dan abangnya datang menolongku, aku sangat berterima kasih pada mereka."


"Kamu menginap di rumah Alina?" tanya Andi.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Rena penasaran.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.