
"Kok kamu ketawa sih? Aku serius loh, Sayang," ucap Rico yang masih terbawa suasana melownya.
"Rico, kamu nggak perlu sekhawatir itu denganku. Aku sudah terbiasa dengan kesibukan ini. Justru aku akan merasa sangat bosan kalau nggak ada kegiatan. Kamu tahu sendiri 'kan aku nggak punya teman jadi, bekerja adalah salah satu kegiatanku mengusir kebosanan," ucap Alina memberi pengertian.
Ya, Rico juga baru menyadari itu jika Alina tidak memiliki teman selain Andi dan juga rekan kerjanya di resto dan cafe. Entah kenapa wanita itu tidak memiliki teman, padahal dia sangat cantik dan juga pintar. Bukankah kebanyakan orang akan memilih seorang teman yang sempurna seperti Alina, lalu kenapa wanita ini malah tidak punya teman?
"Yasudah, tapi jangan terlalu lelah ya, Sayang. Aku nggak mau kamu sampai sakit karena sibuk bekerja."
Alina tersenyum mendengar nasehat pacarnya itu, kemudian dia mengiyakannya.
Setelah makanan di piring Alina habis, Rico segera meminta pelayan restoran untuk membersihkan meja mereka.
"So, apa yang mau kamu bicarakan? Aku sudah sangat penasaran sejak kemarin tahu," ucap Alina setelah pelayan di sana pergi membawa piring kotornya.
Mendengar pertanyaan Alina, Rico menghela nafasnya.
"Al, aku mau tanya. Apa kamu punya teman pria selain aku dan Andi?" tanya Rico.
"Baru saja aku bilang 'kan, kalau aku nggak punya teman, Co. Hanya Andi teman baikku sejak di bangku kuliah."
"Jadi, pria yang sering menemui kamu itu benar saudara kamu?"
Alina menghela nafasnya mendengar pertanyaan tersebut. Sepertinya Rico masih menyimpan curiga atas dirinya, pikirnya.
"Kamu masih nggak percaya dengan aku, Co?" tanya Alina.
"Bu–bukan begitu, Al."
"Co," sela Alina dengan wajah yang sudah berubah menjadi sedikit serius.
"Aku nggak pernah berbohong sama kamu. Pria yang sering menemui aku itu memang benar saudaraku."
"Kenapa saudara kamu selalu memakai masker dan topi? Seperti sedang bersembunyi dari sesuatu," ucap Rico. Kini dia mulai menunjukkan rasa penasarannya.
"Co, aku belum bisa cerita sekarang. Kenapa kamu masih bertanya tentang hal ini? Bukankah aku sudah berjanji akan menjadikan kamu orang pertama yang tahu semua rahasiaku."
"Aku tahu, Al. Tapi papa…"
Alina mulai mengernyitkan keningnya mendengar Rico menyebut kata papa.
"Saat papa mengantar kamu pulang sore itu, dia mendengar berita buruk dari tetangga kamu. Tetangga kamu bilang, banyak pria dengan mobil mewah yang keluar masuk rumah kamu. Bahkan papa dikira sebagai pria hidung belang setelah mengantar kamu pulang."
Alina membelalakkan matanya mendengar itu. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Rico. Apa para tetangganya benar berkata begitu?
"Ka–kamu serius, Co?" tanya Alina dengan mata yang tak bisa berkedip.
"Apa menurut kamu papaku berbohong, Al?"
Selama bertahun-tahun tinggal di sana, Alina tak pernah sedikitpun mendengar berita yang tidak mengenakkan. Dia bahkan mengira jika lingkungan tempatnya tinggal sangatlah ramah dan baik. Mereka selalu menegurnya jika bertemu pandang, bahkan saling sapa satu sama lain. Benar-benar tak menyangka jika berita buruk itu keluar dari mulut para tetangganya.
Alina terdiam dengan pikirannya. Jika begitu sifat seorang manusia yang suka memandang sesuatu dari apa yang mata mereka lihat, mungkin Alina akan memaklumi kecurigaan tetangganya itu menganai pria yang sering keluar masuk rumahnya. Dia membenarkan itu karen memang begitula kenyataannya.
Tapi jika sampai menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat? Dia tidak membenarkan itu. Apalagi mereka menuduh orang tua Rico yang tidak-tidak. Apa mereka tidak mengenal seorang Irfan Renaldi?
Alina merasa sangat bersalah atas apa yang Rico dan papanya dapat dari perkataan tetangganya.
"Maaf. Karena aku, papa kamu jadi dituduh yang tidak-tidak dengan mereka, Co," ucap Alina dengan suara terendahnya. Dia bahkan menundukkan kepalanya karena merasa tidak enak hati dan bersalah kepada Rico.
Rico pun yang melihat wanitanya bersedih lantas tak kuasa. Dia bangkit dari duduknya dan berpindah ke kursi samping Alina.
"Sayang."
Rico memegang pundak Alina, kemudian dia tangkup wajah wanita itu agar menatap ke arahnya. Wajahnya yang terlihat tak seceria sebelumnya, membuat Rico merasa bersalah karena sudah membahas hal ini. Namun jika tidak dia bahas pun, dia akan terus dibuat curiga dengan Alina dan dia tidak mau seperti itu.
"Jangan sedih, Al. Aku dan papa nggak nyalahin kamu kok. Aku hanya mau memastikan saja agar nggak terus curiga sama kamu. Aku nggak mau punya perasaan curiga dengan wanita yang aku cintai, Al. Dan aku juga mau membuktikan kepada papa kalau kamu tidaklah seperti yang tetangga kamu itu katakan."
"Walaupun kami percaya kalau kamu nggak seperti itu, tapi kami tetap harus memastikannya dengan kamu secara langsung. Aku, papa, dan kamu, kita semua adalah manusia biasa, Al. Ada masanya perasaan curiga ini akan hadir dengan berbagai macam cara. Dan saat ini, perkataan tetangga kamu beberapa hari lalu berhasil membuat rasa curiga ini timbul."
Alina masih diam. Di dalam hatinya dia membenarkan apa yang Rico katakan. Semua orang memang berhak memiliki perasaan curiga, apalagi terhadap orang terdekat mereka.
Selain tuduhan terhadap orang tua Rico, Alina tidak menyalahkan tetangganya yang curiga kepada dirinya, karena apa yang dia lakukan bersama saudaranya memang berhak untuk dicurigai. Dan dia juga tidak menyalahkan Rico yang telah menaruh curiga terhadapnya karena sebuah rahasia yang belum bisa dia ceritakan.
Setelah sekian menit berperang dengan pikirannya, akhirnya Alina memilih untuk memberitahu sedikit rahasianya kepada Rico. Dia melakukan itu agar Rico dan keluarganya tak lagi merasa ada hal buruk yang ditutupi olehnya. Dan Alina juga melakukan itu karena rasa cintanya kepada Rico. Walaupun rasa cinta itu belum begitu besar, namun dengan semua kebaikan dan ketulusan Rico padanya, Alina cukup yakin dengan perasaannya.
"Pria yang sering tetanggaku dan kamu lihat itu memang benar saudara lekakiku, Co."
"Begitu banyaknya?" tanya Rico.
"Hanya satu, tapi dia memang sering gonta-ganti mobil."
"Hah?" Rico memasang raut wajah bingungnya. Gonta-ganti mobil?
"Em, dia gonta-ganti mobil karena itu mobil rental," ucap Alina yang mengerti maksud dari ekspresi Rico.
"Minggu depan abangku akan mengunjungiku ke sini. Aku akan mengenalkan dia denganmu," lanjut Alina.
"Minggu depan?"
"Ya. Tapi aku nggak bisa cerita banyak sampai orang tuaku tiba di sini."
Rico mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Alina. Dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan wanita itu, namun sekali lagi, dia harus mempercayai wanitanya itu karena dia yakin jika Alina tidak akan mungkin mengecewakannya.
Baiklah, minggu depan dia akan memastikan bahwa apa yang digosipkan para tetangga Alina selama ini tidaklah benar. Dengan begini juga, dia bisa membuktikan kepada papanya jika Alina adalah wanita baik sepetri yang dia janjikan.
*
Baru saja hendak masuk ke dalam cafe, Alina tak sengaja melihat sosok wanita yang dikenalnya yaitu, Rena. Di seberang sana, tepatnya di restoran depan cafe tempatnya bekerja, Rena terlihat sedang bertengkar dengan seorang pria yang entah siapa. Alina tak pernah melihat sosok pria itu karena memang dia yang tidak dekat dengan Rena.
Sebenarnya Alina tidak ada niatan untuk mencampuri urusan Rena bersama teman prianya, namun karena nalurinya sebagai wanita mengatakan jika Rena sedang tidak baik-baik saja, maka dengan sangat terpaksa dia menghampiri wanita itu.
Belum juga tiba di hadapan wanita itu, Alina sudah bisa mendengar jika pria yang bersama Rena tersebut sedang memaksanya untuk ikut bersamanya. Tentunya pertengkaran itu terjadi karena Rena yang tidak mau mengiyakan ajakan pria itu.
"Hai, Ren," sapa Alina setiba dia di sana. Alina mencoba bersikap ramah dan terkesan sok akrab agar dia bisa masuk di antara kedua orang itu.
"Alina?" Rena terlihat terkejut dengan kehadiran Alina di sana.
Fokus Rena dan juga teman prianya itu tentu saja beralih kepada Alina dengan seketika.
"Ngapain di sini? Ini siapa? Saudara jauh kamu ya?" tanya Alina yang masih berusaha sok asik.
"Em…"
Belum juga Rena menjawab pertanyaannya, Alina sudah lebih dulu membuka suara kembali.
"Ikut aku ke cafe sana yuk."
Alina menunjuk cafe tempatnya bekerja di sebrang sana.
"Maaf ya, Bang. Rena-nya aku pinjam sebentar. Pacar dia juga tadi bilang, kalau mereka sudah janjian di sana. Kamu nggak lupa sama janji Andi 'kan, Ren?"
Rena terlihat bingung dengan semua perkataan Alina. Siapa yang janjian di cafe itu? Dan lagi pula kenapa Alina sok asik dengannya, pikirnya.
Namun saat pikirannya tiba-tiba bekerja lebih cepat dan mengerti maksud dari kode Alina, Rena segera mengiyakan perkataan wanita itu. Dia bahkan berusaha untuk ikut dalam drama dadakan yang Alina ciptakan. Dia coba kesampingkan dulu egonya yang masih tidak menyukai sahabat pacarnya ini, yang penting dia bisa terbebas dari pria yang saat ini ada di hadapannya.
"Ah iya, aku memang ada janji dengan Andi. Makasih sudah mengingatkan, Al."
Tanpa basa-basi Rena berjalan cepat menjauhi pria yang tadi memaksanya untuk ikut itu. Sementara pria itu terlihat tidak suka dengan kehadiran Alina yang mengganggunya.
"Rena!" teriak pria itu saat Rena pergi dari sana.
Dia hendak mengejar Rena, namun pandangannya yang bersitatap dengan Alina membuatnya tak bisa berkutik. Tatapan Alina yang sangat tajam dan terkesan seperti sedang memberi ancaman, membuatnya dengan paksa melepaskan Rena begitu saja.
Saat kedua wanita itu sudah masuk ke dalam cafe, Rena langsung berbalik menatap Alina. Tatapannya kini sudah tak seramah sebelumnya, namun juga tak sedingin biasanya. Dia terlihat ragu untuk sekedar mengucapkan terima kasih karena egonya yang terlalu tinggi.
Alina pun yang melihat keraguan di wajah Rena lantas tersenyum tipis.
"Aku akan telpon Andi untuk menjemput kamu di sini," ucap Alina kemudian.
Alina hendak berjalan melewati Rena, namun wanita itu terhenti saat Rena memegang lengannya.
"Al, kamu nggak akan kasih tahu Andi 'kan kalau aku bersama teman priaku?"
Alina melihat sorot penuh harap di mata Rena.
"Kamu melarang Andi berteman denganku, tapi kamu sekarang malah pergi berdua dengan pria lain, bahkan tanpa sepengetahuan Andi. Jangan egois, Ren," ucap Alina. Dia berbicara selembut mungkin agar Rena tidak merasa jika dia sedang disalahkan.
"Aku–"
"Sudahlah," sela Alina cepat, "kamu nggak perlu jelasin apa-apa ke aku. Aku juga nggak akan bilang ke Andi tentang kejadian tadi. Kamu tenang saja."
Alina kembali melangkah untuk menghampiri temannya yang sudah menunggu dia untuk tampil. Namun suara Rena kembali membuatnya berhenti.
"Makasih ya, Al."
Alina mengangguk dan setelah itu dia segera berlalu dari sana. Menaiki lantai dua dan diikuti Rena dari belakang.
Sambil menunggu Andi datang menjemputnya, Rena mendudukkan tubuhnya di kursi pengunjung sembari menyaksikan live music yang sedang berlangsung dengan Alina sebagai pengisi suara di sana. Ini pertama kalinya Rena datang ke cafe kecil seperti ini dan dia cukup menikmati suasana di sana yang tidak terlalu ramai seperti bayangannya.
Setengah jam lebih menunggu, Rena mulai terlihat tidak nyaman karena orang-orang mulai berdatangan dan cafe menjadi semakin ramai. Bau rokok mulai tercium dan asap rokok pun berterbangan di sekitarnya. Rena terlihat kesal dan rasanya ingin segera berlari dari sana, namun karena masih takut jika teman prianya masih ada di luar sana, jadi dia terpaksa tetap stay di cafe itu sampai Andi datang.
Tak sampai sepuluh menit, Rena terlihat sangat senang saat sosok pria tampan dengan setelan jas hitam muncul dari anak tangga. Dia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Andi.
"Sayang," seru Rena sembari menggandeng lengannya.
"Kamu kenapa bisa ada di sini, Ren?" tanya Andi dengan heran.
Tempat yang penuh dengan asap rokok dan juga berisik akan suara gaduh para pria dan wanita yang berbicara sembarangan bukanlah tempat yang pas untuk seorang Renata. Wajar saja jika Andi sangat heran melihatnya berada di sini. Apalagi cafe ini adalah tempat di mana Alina bekerja. Sangat mustahil bagi Rena untuk bisa berada di sini jika tidak karena terpaksa ataupun dipaksa.
"Em, nanti saja ceritanya. Sekarang ayo antar aku pulang. Di sini bau sekali," ucap Rena dengan wajah ditekuk. Dia benar-benar sangat ingin segera pergi dari sana karena sudah tak tahan mencium bau asap rokok yang semakin malam semakin menyengat.
"Yasudah, ayo pulang."
Sebelum mereka pergi dari sana, Andi terlebih dahulu berpamitan kepada Alina yang masih bernyanyi bersama rekan kerjanya.
"Al, makasih ya. Kita pulang dulu," ucap Andi tanpa bersuara.
Begitupun yang dilakukan Rena, meski tak menunjukkan ramahnya, tapi dia berusaha tersenyum kepada Alina sebagai ucapan terima kasih padanya. Meski senyumnya terasa kaku, tapi dia berusaha untuk melawan egonya itu.
Alina yang saat itu sedang bernyanyi hanya bisa membalas sapaan Andi dan Rena dengan senyum tipis dan lambaian tangan.
***
.
Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰
.
.