
"Bang, Mama dari tadi nggak mau makan. Abang bujuk Mama untuk makan ya."
Perkataan Irfan yang menyela pembicaraan anak dan istrinya membuat Rico menoleh ke arahnya. Kemudian Rico pun menoleh ke arah mamanya dengan tersenyum lembut.
"Mama kenapa nggak mau makan? Mau Rico suapi?" tanya Rico.
Santi tersenyun dan langsung menganggukkan kepalanya. Perasaannya kini sudah lebih baik setelah berbicara dengan putranya.
"Bang," ucap Santi sebelum Rico memasukkan bubur ke dalam mulutnya.
"Ada apa, Ma?" tanya Rico.
"Sekarang kamu boleh melakukan semua keinginan kamu, termasuk dengan persiapan pernikahan kamu. Mama nggak akan memaksakan kehendak Mama lagi, maafin Mama ya, Bang."
Lagi-lagi mendengar perkataan Santi mengenai pernikahan, membuat Rico meletakkan sejenak mangkuk bubur ke atas nakas.
"Kita sudah sepakat, Rico yang akan menuruti semua kemauan Mama. Jadi jangan dipikirin lagi oke?"
Santi menggelengkan kepalanya.
"Mama ingin kamu bahagia dengan setiap piliha kamu, Bang. Weeding dream atau apapun yang membuat kamu dan Alina bahagia, Mama akan ikut bahagia. Yang penting kamu masih tetap anak Mama."
"Rico akan tetap menjadi anak Mama dan Papa, Ma."
Rico tersenyum senang mendengar keputusan akhir mamanya itu. Tak ada yang perlu dipikirkan lagi, baik Santi ataupun Rico sendiri sudah sepakat untuk menyerahkan semua keperluan pernikahan kepada Rico dan Alina. Namun Rico yang tak ingin egois, dia ingin kedua orang tuanya serta orang tua Alina ikut andil dalam sesi kerepotan menjelang pernikahan mereka. Mereka akan membagi tugas agar semua bisa berpartisipasi dalam acara pernikahan putra tunggal Irfan Renaldi dan Santi.
...**...
Beberapa hari ini Alina sangat sibuk di kantor. Ini minggu pertamanya bekerja di kantor yang dipimpin oleh abangnya sendiri yaitu, Alfian. Alina bertugas sebagai asisten kedua abangnya sendiri yaitu, Morgan. Dia sengaja ditugaskan di sana karena selain dia yang ingin memulai karirnya dari jabatan rendah, juga karena agar Morgan bisa leluasa mengajari adiknya itu berkarir. Selama ini Alina sibuk dengan kuliahnya dan jauh dari urusan perusahaan jadi, dia harus banyak belajar dari Morgan.
Awalnya Alina tidak mau menjadi asisten Morgan karena tahu jika abangnya itu akan lebih sering mengejeknya, namun tak mungkin juga jika dia menjadi asisten Alfian karena pria itu akan sangat sibuk dengan pekerjaannya. Di tambah seringnya terbang untuk bertemu klien di luar kota membuat Alfian akan kesulitan untuk mengatur waktu mengajari adiknya itu. Apalagi sebentar lagi mereka tidak akan tinggal satu rumah lagi karena Alina akan ikut tinggal bersama Morgan dan orang tua mereka di kediaman barunya.
Malam ini Alina memilih tidur cepat karena rasa lelahnya akibat pekerjaan yang diberikan Morgan tak main-main. Bukan hanya kejahilannya saja, keseriusan pria itu dalam bekerja pun benar-benar membuat Alina kewalahan.
Baru akan terlelap, Alina kembali membuka matanya ketika mendengar ponselnya yang berdering. Dia mengeluh hendak mengabaikan dering ponsel tersebut, namun karena takut jika ada panggilan penting, jadi Alina menunda tidurnya untuk melihat siapa yang menelponnya.
Saat melihat nama Rena di layar ponselnya, Alina langsung menghela nafasnya. Dia membanting tubuhnya ke atas kasur sembari memejam kembali matanya dengan mode speaker pada ponselnya yang telah diaktifkan.
"Halo, Al?" ucap Rena di seberang sana.
"Em, kenapa, Ren?" sahut Alina dengan tak bersemangat.
"Kamu di mana? Besok kita ketemu yuk," ucap Rena.
"Mau ke mana?" tanya Alina.
"Mall gimana? Kita shoping, kudengar ada berita mengejutkan nih dari temanku satu ini," ucap Rena dengan penuh arti.
Dia baru mengetahui jika Alina anak dari pengusaha sukses yang baru saja kembali ke kota ini dari Andi. Dia dan Andi memang tidak menghadiri acara peresmian perusahaan Alina karena saat itu Rena sedang menemani Andi bertemu klien penting di luar kota. Andi juga baru tahu berita itu dari orang tuanya yang mengatakan jika Rico akan menikah dengan anak dari seorang pebisnis sukses.
"Jangan besok ya, Ren. Aku lagi sibuk banget di kantor. Weekend aja gimana?"
Karena mendengar suara Alina yang seperti tak bersemangat, Rena berpikir jika temannya itu memang sedang kelelahan akibat pekerjaannya. Rena pun akhirnya mengiyakan saja pekerkataan Alina.
Setelah itu tak ada suara lagi dari Alina, membuat Rena mengernyitkan keningnya. Dia terlihat bingung, namun setelah itu langsung mematikan panggilannya.
...**...
Siang hari di waktu libur, Rena sudah berada di parkiran mall untuk bertemu Alina. Mereka sudah janjian akan bertemu di salah satu restoran untuk lunch bersama. Rena meraih ponselnya untuk menelpon Alina dan mengabarkan jika dirinya sudah sampai di mall.
"Al, kamu di mana? Aku sudah di parkiran nih."
Rena mengiyakan setelah itu mereka langsung menutup panggilannya untuk bertemu di restoran yang sudah disepakati.
Begitu tiba di restoran, Rena langsung disuguhi dengan buku menu oleh pelayan di sana. Dia memesan makanan lebih dulu sambil menunggu kedatangan Alina.
Rena meraih ponselnya untuk membalas pesan Andi, namun sebelum itu dia melihat Alina baru saja masuk ke dalam restoran.
"Al," seru Rena sambil melambaikan tangannya kepada Alina.
Alina yang melihat itu pun segera menghampiri Rena dan mendudukkan tubuhnya di depan temannya itu.
"Wah, sudah lama nggak ketemu kamu masih keren saja," ucap Rena sembari memerhatikan penampilan Alina.
Panampilan Alina memang sudah tak seperti biasanya karena semua pakaian yang biasa dia pakai masih tersimpan di apartemen Rico, sementara dia memakai pakaian yang dibawanya dari London dan yang baru saja dibelinya bersama orang tuanya saat tiba di sini.
"Oh ya? Perasaan biasa aja deh," ucap Alina.
"Biasa apanya. Kamu 'kan biasa pakai pakaian pinggir jalan, tapi sekarang pakaian kamu bermerek semua. Memang orang kaya beda ya," ucap Rena memuji.
"Orang kaya apanya," ucap Alina dengan tertawa kecil. "Oh ya, kamu sudah pesan makanan?"
"Sudah, tapi aku lupa memesan minuman untuk kamu."
Alina mengiyakannya dan segera memanggil pelayan di sana untuk dia memesan minuman.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Rena kembali melayangkan berbagai pertanyaan kepada temannya itu. Dia sangat excited karena mengetahui jika teman sederhananya itu ternyata anak dari seorang pebisnis hebat. Dia sangat penasaran kenapa Alina menyembunyikan statusnya selama ini.
"Jadi gimana?"
Alina mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Rena yang tak jelas.
"Gimana apanya," tanyanya heran.
"Ya kenapa selama ini kamu menyembunyikan status kamu yang menyatakan bahwa kamu anak dari seorang Thomas Wilson?"
Alina tersenyum miring mendengar itu.
"Kamu tahu dari mana," tanya Alina.
"Al, please deh ya. Berita beginian tuh cepat banget loh nyebarnya."
Rena membuang nafasnya cepat.
"Oke, sebelumnya aku minta maaf karena nggak bisa hadir di acara peresmian perusahaan keluargamu. Aku saat itu sedang keluar kota bersama Andi, dan kita juga nggak tahu kalau ZW Corps itu punya keluarga kamu. Jika saja kita tahu, mungkin kita akan…" Rena menghentilan perkataannya dengan tiba-tiba. Membuat Alina menaikka salah satu alisnya.
"Akan apa? Membatalkan kepergian kalian?" tanya Alina.
Rena menyengir kaku. "Andi ada klien penting, nggak mungkin bisa di batalkan gitu aja."
"Tapi aku masih penasaran banget, kenapa kamu berpura-pura miskin dan menutupi status kamu ini, Al?" tanya Rena lagi dengan penasarannya.
"Hanya ingin hidup mandiri saja, sekaligus ingin melihat siapa yang benar-benar tulus berteman denganku," jawab Alina singkat tanpa menyebutkan permasalahan keluarganya.
Rena yang mendengar itu lantas terdiam tak percaya. Apa Alina serius? Perkataan wanita itu seperti sebuah cerita yang ada di novel-novel saja. Orang kaya berpura-pura miskin demi mendapatkan kekasih yang tulus. Tidak masuk akal, pikirnya.
"Bukannya yang seperti itu hanya ada di novel-novel dan film romantis saja ya?" ucap Rena.
"Terkadang novel dan film juga berasal dari kisah nyata, Ren. Sudah ah, ngapain bahas itu sih. Mana nih makanan kita, kenapa nggak datang-datang," ucap Alina sembari menatap sekitarnya untuk melihat pelayan yang sedang mengantarkan makanan.
Rena awalnya tak percaya dengan perkataan Alina, namun setelah dipikir-pikir, sepertinya ada benarnya juga apa yang Alina katakan. Terkadang semua cerita yang ada di sebuah novel ataupun film merupakan kisah nyata dari seseorang yang tak mereka ketahui. Lagian sudah banyak juga produser yang mengangkat kisah nyata menjadi sebuah film.