Hanya Anak Angkat

Hanya Anak Angkat
44. Hanya Anak Angkat


Sembari menikmati makan siangnya, Rico pun tak ingin membuang waktu untuk bertanya kepada Andi mengenai rasa bingungnya beberapa hari ini. Tanpa rasa malu, dia bertanya bagaimana cara melamar seorang wanita dengan sederhana namun sangat berkesan.


Andi pun yang mendengar itu terdiam sejenak dengan makanan yang masih berada di dalam mulutnya. Tak lama dari itu dia langsung tertawa terbahak-bahak sampai tersedak dengan makanannya. Membuat Rico harus memutar bola matanya malas karena dia sudah bisa menebak jika Andi akan mengejek pertanyaannya ini.


"Kamu mau melamar Alina?" tanya Andi di sela tawanya.


"Menurut kamu?" tanya Rico balik dengan wajah datarnya.


Andi kembali tertawa, namun tak sampai terbahak lagi. Setelah itu dia menegakkan kembali duduknya dan menghela nafas untuk mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat tawanya.


"Sorry-sorry," ucapnya. "Jadi gimana? Kamu beneran mau melamar Alina?"


"Ya. Kita nggak mau lama-lama pacaran. Aku juga sudah berjanji akan melamarnya setelah dia wisuda," ucap Rico.


Mendengar itu, Andi kini tak lagi dalam mode bercanda. Dia terlihat serius menanggapi perkataan Rico yang juga terdengar serius.


"Kapan rencana kamu mau melamar Alina?"


"Aku masih belum menemukan waktu yang tepat. Aku juga nggak tahu gimana cara melamar dia agar terlihat berkesan, namun sederhana."


Andi terdiam menatap pria di depannya itu. Cukup lama dia terdiam memikirkan perkataan Rico, hingga sebuah ide muncul di kepalanya dan membuatnya tersenyum.


"Kita ada planning untuk liburan berempat, bukan? Gimana kalau kamu melamar dia saat liburan nanti? Kita cari tempat yang romantis dan di sana kamu bisa melamarnya."


Rico mengernyitkan keningnya mendengar saran Andi. Saat liburan? Sepertinya not bad, pikirnya.


"Mau ke mana?" tanya Rico.


"Italia?"


Mendengar saran Andi, Rico pun tersedak dengan makanannya dan seketika melempar tisu yang ada di tangannya ke arah pria di depannya itu.


"Gila ya? Kamu kira kita mau bulan madu di sana?" ucap Rico. Dia menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan apa yang ada di otak temannya itu.


Andi pun terkekeh geli melihat respon Rico yang sangat terkejut itu. Memang terkesan romantis jika melamar seorang wanita di negara tersebut. Namun bukan seperti itu maksud Rico.


Italia terlalu mewah untuk Alina yang menginginkan sebuah kesederhanaan dalam momen lamarannya. Lagi pula dia tidak memiliki cukup uang untuk terbang ke sana di saat banyak kebutuhan yang akan memerlukan banyak uang.


Dia tidak mungkin menggunakan harta orang tuanya hanya untuk berlibur ke sana. Dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk membiayai semua kebutuhan pribadinya dengan hasil keringatnya sendiri. Karena bagaimanapun, Rico merasa tidak memiliki hak penting untuk menggunakan harta dari keluarga Renaldi demi kesenangannya. Apalagi dia sadar diri akan posisinya yang hanya sebagai anak angkat. Sudah cukup kebahagiaan yang mereka berikan kepadanya dan dia tidak mau menyusahkan lebih banyak lagi.


Namun dibalik rasa tahu dirinya itu, Rico tidak akan mengira jika Santi dan Irfan justru akan kecewa dengan keputusannya itu.


"Jadi mau ke mana? Prancis? Swiss?" tanya Andi lagi.


"Apa bedanya kalau itu," ucap Rico sembari kembali melempar sesuatu kepada temannya itu. Kali ini dia melempar lemon yang menjadi hiasan pada minumannya.


"Lalu kamu maunya gimana, Rico? Padahal Italia sudah sangat tepat untuk momen romantis kalian."


"Alina mau dilamar dengan sederhana, sementara Italia terlalu mewah, Ndi. Lagi pula tabunganku nggak cukup untuk membawa dia ke sana. Dalam waktu dekat kita akan menikah, banyak yang harus dipersiapkan dan aku ingin memberikan semua yang terbaik untuk dia. Mungkin aku baru bisa membawa dia ke luar negeri saat honeymoon nanti. Lebih baik kita liburan di dalam negeri saja dululah," ucap Rico terdengar tak bersemangat.


Padahal dia pun sangat menginginkan sesuatu yang mewah untuk diberikan kepada Alina di setiap momen berharga mereka, termasuk saat melamarnya. Namun apa mau di kata, selain tak memiliki banyak uang, Alina juga menginginkan momen yang sederhana.


Andi pun terdiam mendengar penjelasan singkat Rico. Uang yang menjadi kendala? Bukankah keluarga Renaldi adalah seorang pebisnis hebat, lalu kenapa Rico sampai memikirkan masalah biaya? Apa pria ini sudah tidak waras, pikirnya.


"Co, keluarga Renaldi bukan orang sembarangan loh. Kenapa kamu takut sekali dengan kendala biaya?" tanya Andi dengan heran.


Mendengar pertanyaan temannya itu Rico lantas menghela nafasnya.


"Tapi orang lain itu keluargamu, Co," ucap Andi dengan cepat.


"Aku tahu," seru Rico dengan cepat pula. Mereka terdiam sejenak sebelum Rico kembali berucap.


"Tapi kamu harus mengerti kondisiku, Ndi. Aku di sini hanyalah anak angkat. Aku harus tahu batas menggunakan fasilitas dari mereka. Mendapatkan kasih sayang yang sangat luar biasa seperti ini saja aku sudah sangat bersyukur sekali. Aku nggak mau menuntut lebih banyak atas apa yang aku inginkan dari mereka. Bagaimanapun juga, aku nggak punya hak atas semua harta mereka."


Andi kembali terdiam mendengar semua itu. Apa Rico merasa terbebani dengan semua yang dia dapatkan selama ini, pikirnya.


Dia tidak tahu bagaimana berada di posisi Rico. Padahal dia pikir Rico sangat beruntung karena hidupnya yang semula bukan siapa-siapa, tiba-tiba saja menjadi anak dari seorang pebisnis hebat seperti Irfan Renaldi. Bahkan dia sempat iri melihat kehidupan Rico yang sangat dikelilingi orang tua hebat yang sangat menyayanginya lebih dari apapun.


Namun dia tidak tahu ternyata dibalik semua yang dia pikirkan itu, ternyata Rico menyimpan sebuah beban yang cukup berat. Membuatnya merasa jika selama ini dia kurang bersyukur karena telah mengabaikan kekayaan alami yang telah dia dapat sejak lahir, percintaan yang selalu berhasil. Bahkan Andi baru menyadari jika selama ini dia tidak pernah kekurangan sesuatu dalam segi apapun.


"Sorry, Co. Aku nggak tahu kalau kamu selama ini memikirian semua itu. Aku pikir kamu–"


"Sudahlah," sela Rico dengan tak minat. Dia sangat malas sekali membahas sesuatu yang bersifat sensitif seperti ini, apalagi di saat yang tidak tepat. Bukankah tujuannya bertemu Andi saat ini untuk meminta pendapat temannya itu untuk hari bahagianya?


"Kembali ke pembicaraan awal saja. Kamu ada ide mengenai lamaran sederhana nggak?"


"Ingat ya, sederhana, berkesan, dan di dalam negeri," ucap Rico lagi dengan sebuah penekanan sebelum Andi menjawab pertanyaannya.


"Iya bawel," seru Andi kemudian.


Andi nampak berpikir mengenai permintaan temannya itu. Sederhana? Apakah mereka tidak ingin mengadakan acara lamaran seperti pasangan jaman sekarang pada umumnya, pikir Andi.


Berkesan? Semua hal yang didatangkan dari hati pasti akan menjadatangkan kesan yang baik.


Lalu di dalam negeri? Huh, di sini dia bingung.


Memang banyak tempat indah di negaranya ini yang cocok untuk dijadikan momen spesial. Namun dia bingung, tempat seperti apa yang cocok untuk dijadikan objek liburan mereka sekaligus temannya itu melamar Alina. Andi memutar otaknya, mencari tempat terbaik yang pernah dia kunjungi. Namun setelah hampir sepuluh menit tak mendapatkan ide, akhirnya pria itu meminta bantuan mbah google dengan kata kunci, tempat liburan romantis di Indonesia.


Tak butuh waktu lama untuk Andi mencari, saat semua list kota yang sesuai dengan kata kuncinya keluar, Andi langsung tertuju pada satu kota yang pernah dia kunjungi sebelumnya. Kota yang terkenal akan keindahan alamnya, yang tak ada duanya dibanding kota-kota lain, bahkan luar negeri sekalipun.


"Hah, kenapa nggak kepikiran dari tadi ya," gumam Andi dalam hati.


Andi menarik salah satu sudut bibirnya, membuat Rico heran melihatnya. Kemudian dia menyebutkan nama kota yang menjadi pilihannya kepada Rico.


"Gimana? Kamu bisa melamar Alina di atas bukit. Kamu tahu 'kan kalau pemandangan di sana sangat indah? Sesuai permintaan kamu juga, sederhana, berkesan, dan di dalam negeri," ucap Andi dengan bersemangat.


Lagi pula sudah lama sekali dia tidak berlibur ke sana. Terakhir pergi ke sana beberapa tahun lalu saat dia merayakan hari kelulusannya bersama teman-teman kampusnya. Kini dia sangat rindu berkunjung ke sana. Menikmati keindahan alam yang tiada duanya. Best of the best untuk list tempat wisata favoritnya.


Rico berpikir sejenak akan saran Andi. Dia terlihat membayangkan keindahan kota itu dan setelah beberapa detik kemudian, Rico langsung mengiyakannya.


"Boleh deh."


Karena lokasi yang tepat untuk berlibur sekaligus melamar Alina sudah dapat, kini Rico dan Andi harus mencocokkan waktu mereka kepada pacarnya masing-masing.


***


.


Jangan lupa tinggalkan LIKE, KOMEN, VOTE, dan RATE ⭐ ya teman-teman. Biar Authornya rajin up. Terima kasih sebelumnya🥰


.


.